
" Hai Naura....aku kangen banget sama kamu nih... bagaimana magangmu? Lancar kan?” teriak Abel saat melihat Naura memasuki pintu gerbang kampus.
“ Pelan aja dong Bel! Kayak di kejar setan aja. Atur dulu tuh nafas agar tidak kehabisan.” Omel Naura saat tubuh Abel hampir menabraknya.
“ Yeahhh,, aku kan kangen banget tahu! Selama satu semester kita gak ketemu. Apa kau gak kangen dengan sahabat comel mu ini hah? Pulang nanti ke kafe yuk!” ajak Abel.
“ Ya kengen juga sih! Uda sekian purnama gak dengar suara cemprengmu itu?” ucap Naura.
“ Ah dasar kau ya, ohya bagaimana persiapan judul skripsimu? Apa sudah kau siapkan?” tanya Abel serius.
“ Sudah! Besok aku mau menemui dosen Pembimbing Skripsi ku.” Jawab Naura.
“ Ah.....kau benar – benar beruntung Ra! Mendapat dosen Pembimbing Skripsi nya masih muda uda gitu ganteng lagi, yang paling membuat iri beliau adalah dosen yang selama ini menjadikan kau sebagai asistennya. Hah dasar tidak adil.” Oceh Abel kesal.
“ Hei sudahlah! Aku juga tidak tahu, itu kan sudah menjadi keputusan pihak dekan. Tapi aku dengar pak Rangga sedang tidak ada di tempat, beliau akan di gantikan oleh asisten nya yang lain.” Jelas Naura.
“ Yang benar Ra! Wah sayang sekali ya! Tidak bisa bertemu secara langsung! Ah tidak jadi iri deh....” cetus Abel.
“ Dasar mata cogan!”
“ Biari..uekkkkk. ohya lalu bagaimana tahap pembimbingannya Ra!” tanya Abel.
“ Kan bisa secara virtual Abel? Yang jelas aku harus banyak korban paket internet neh...” jelas Naura.
“ Kau juga beruntung kan Bel! Mendapat dosen Pembimbing yang masih muda.” Sambungnya.
“ Iya enak, tapi bukan cowok. Tapi bu Bintang yang terkenal cerewet sekali.” Dengus Abel.
“ Sudahlah! Jangan banyak mengeluh, yang penting kita selesaikan dengan baik skripsi ini dan lulus bareng dari kampus ini dengan nilai yang sangat memuaskan. Ok!” ucap Naura menyemangati Abel.
“ Iya ya... gini kalau uda pintar dari lahir, sangat mudah ngomongnya.
“ Iya dong! Naura gitu... hahahahhaha.” Ledek Naura.
“ Ish, sombong sekali!”
“ Biari....ueeeekkkkk.”
“ Awas kau ya Ra! Kalau kau dapat ku tangkap, traktir aku makan yang enak...” teriak Abel mengejar Naura.
“ Coba saja!” tantang Naura yang sudah berlari di depan Abel.
Tak ayal, mereka seperti anak kecil yang sedang bermain kejar – kejaran di lingkungan kampus yang sudah mulai ramai oleh mahasiswa lainnya.
Mereka terus berlari tanpa menghiraukan orang – orang di sekitar mereka dengan tatapan yang aneh.
“ Hosh....hosh....hoshhh.....cepat juga kau larinya Ra!” ucap Abel terengah – engah dengan nafas yang naik turun tidak beraturan.
“ Tentu dong! Selama magang aku rajin olahraga lari!” ucap Naura setelah duduk di bangku kelasnya.
“ Ah,,,, pantes aja...capek banget Ra!”
__ADS_1
“ Nih, minumlah!” sodor Naura memberikan sebotol air mineral kepada Abel.
“ Terima kasih Ra!” balas Abel langsung meneguk air mineral sampai setengah botol.
Hari ini hanya ada satu kelas, karena Naura sudah di semester akhir hanya tinggal menyusun skripsi saja. Jadi perkuliahan di kelas sudah tidak begitu aktif. Mereka harus menyelesaikan penelitian untuk menyusun skripsi sebagai syarat dalam kelulusan perkuliahan mereka.
Tinggg....sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone Naura.
[ Jam berapa selesai kelasmu?]
[ 15 menit lagi kak!]
[ Ok, aku jemput! Temani aku makan siang]
[ Baiklah!]
“ Siapa? Kok senyum – senyum begitu melihat handphone mu hah?” tanya Abel penasaran melihat tingkah aneh Naura.
“ Ah, tidak siapa – siapa Bel, hanya teman!” jawab Naura bohong.
“ Yakin teman!dari ekspresi mu seperti chat dengan pacarnya. Ah... kau sudah punya pacar?” tebak Abel.
“ Apa sih! Pacar apaan sih! Gak ada tuh...” bohong Naura. ‘ Tapi calon suami.’ Sambung Naura dalam hati.
“ Ish awas kalau ada yang kau sembunyikan.” Ancam Abel.
Ya Naura memohon kepada Arlan dan keluarganya, tidak untuk mempublikasikan pertunangannya pada khlayak umum. Naura belum siap hubungan asmara Arlan diketahui publik. Hanya orang – orang terdekat mereka saja yang mengetahuinya. Dan hal itu tidak masalah bagi mereka asalkan membuat Naura nyaman.
“ Tapi aku masih tidak yakin lho, siapa sih Ra!” rongrong Abel tidak percaya dengan Naura dengan melihat wajahnya yang terus – menerus tersenyum seperti orang yang sedang kasmaran.
“ Benar ya! Awas kalau kau bohong.” Ucap Abel.
“ Ok bos....”
“ Ohya Bel, aku pulang duluan ya! Aku baru ingat ada janji.” Ucap Naura.
“ Janji? Dengan siapa?” tanya Abel semakin penasaran.
“ Teman...” ucap Naura berlari meninggalkan Abel begitu saja di bangkunya.
“ Awas kalau besok kau tidak cerita..” teriak Abel.
“ Ah dasar! Sahabat seperti apa tuh! Sudah satu semester tidak ketemu main hilang aja. Siapa sih yang ingin di temuinya? Jadi penasaran deh?” oceh Abel juga bergegas meninggalkan kelas untuk mengejar Naura agar dapat melihat siapa yang akan ia temui.
Dengan mengendap – endap, Abel melihat ke pintu gerbang dan menangkap sosok yang sangat ia kenal memasuki sebuah mobil sedang hitam dengan seorang pria.
Tap...sebuah tangan mendarat di pundak Abel.
“ Ngapai sih Bel.” Tanyanya.
“ kyaaaaaa.....” teriak Abel terkejut.
__ADS_1
“ Apaan sih? Abis kayak nengok setan aja.” Ucap pemilik tangan tersebut.
“ Iya, kau setannya. Bikin kaget aja sih.” Ucap Abel kesal saat mengetahui pemilik dari tangan yang sudah membuatnya terkejut.
“ Ya habis, ku lihat dari jauh kau ngapai mengendap – endap kayak maling aja.” Ucap Nadia.
“ Ah, aku bukan maling tahu, aku memantau Naura. ia pergi dengan siapa?” jelas Abel.
“ Oh,,, emang kenapa kalau Naura pergi dengan orang lain.” Tanya Nadia.
“ Kepo aja, tadi waktu di kelas dia senyum – senyum gitu waktu berbalas chat dengan seseorang. Kayak orang yang lagi kasmaran aja. Terus kau tahu Nad, bahkan Naura berani menolak ajakan ku demi orang itu.” Jelas Abel.
“ Masak sih Bel! Tidak biasanya Naura kayak gitu. Bahkan selama ini dia sangat cuek ya dengan cowok.” Ucap Nadia yang jiwa mengghibahnya mulai bergejolak.
“ Terus, kau melihatnya?” sambungnya.
“ Lihat dong! Naura masuk ke mobil sedan mewah dengan seorang pria. Tapi aku tidak lihat wajahnya karena dia memunggungiku..” ucap Abel.
“ Ah sayang sekali ya. Kira – kira siapa ya pria tersebut?” tanya Nadia mengerutkan dahinya memandang ke arah Abel.
“ Au ah.” Balas Abel dengan mengangkat kedua bahunya.
“ Besok kalau jumpa, akan ku interogasi tu anak. Sudah berani dia ya bertemu dengan pria tanpa sepengetahuan kita.” Ucap Nadia dengan tampang detektifnya.
“ Kau benar Nad! Besok kita buat Naura tidak berkutik. Kita paksa dia berkata jujur.” Timpal Abel.
“ Ah, kita seperti akan menangkap penjahat saja deh!...” ucap Nadia.
“ Iya benar.”
“ hahahahhahahahaha...” gelak tawa pun bergelegar dari kedua wanita biang gosip tersebut.
“ Dasar Kepo kau Nad....” ucap Abel.
“ Kau juga kan Bel.” Balas Nadia.
“ Iya benar juga.”
“ Hahahahhahahahaha......” mereka pun saling tertawa dengan kekepoan mereka yang tidak tahan mencium bau – bau gosip dari sahabatnya.
Hai - hai readers Othor yang terkasih...😊
Othor ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2023!🥳🥳🥳🥳🥳
Semoga tahun kita semua tetap di beri kesehatan, umur yang panjang serta dii beri rasa syukur kepada Allah swt....
Terima kasih juga sudah tetap setia mengikuti karya othor dari bab pertama sampai bab 100 ini.....
__ADS_1
Tanpa kalian,othor bukanlah apa - apa....
selalu di tunggu ya untuk up selanjutnya...😘