
Melihat suasana yang sudah tidak memungkinkan, Arlan segera menarik tangan Naura untuk meninggalkan ruangan tersebut. “ Maaf semuanya, saya akan mengantarkannya pulang.” Pamit Arlan bergegas pergi tanpa sempat bicara Naura hanya menundukkan kepalanya kearah mereka. Merekapun hanya saling menatap dan tersenyum melihat tingkah Arlan yang menurut mereka begitu posesif.
“ Terima kasih Kak, sudah menolongku.” Ucap Naura bernafas lega setelah sampai di parkiran restoran. Ia merasa lega dapat keluar dari situasi yang bisa membuatnya mati kutu.
“ Masuklah.” Titah Arlan setelah membukakan pintu depan mobilnya.
“ Tapi Kak aku bisa pulang sendiri, kakak tidak perlu repot-repot.” Ucap Naura yang hanya langsung mendapat tatapan tajam dari Arlan seketika nyali Naura menciut dan langsung masuk ke dalam mobil. ‘ Ya Allah, kalau seperti ini, tidak ada bedanya dengan situasi di dalam bahkan lebih gentingan ini bisa-bisa jantungku meledak dibuatnya.’ Gumam Naura yang mengelus dadanya.
“ Jangan lupa sabuk pengamanmu.”
“ Baik Kak.”
Melihat Naura yang seperti itu entah kenapa membuat Arlan merasa senang dan berdebar. Apalagi penampilan Naura malam ini membuatnya tidak bisa berpaling dari wajahnya. Meskipun demikian,Arlan dapat menyembunyikan perasaannya di depan Naura. Ia pun segera menyalakan mobil dan segera meninggalkan restoran.
Sepanjang perjalanan, Naura hanya menatap jalanan kota yang begitu riuh dan ramai. Di sepanjang trotoar jalan begitu banyak etalase-etalase para pedagang yang menjajakan berbagai ragam makanan. Spontan membuat Naura menelan air liurnya begitu melihat makanan yang dijajakan. Kriukkkkk.....seketika ia merasa mati kutu kenapa perutnya berbunyi di waktu yang salah.
“ Maaf Kak.” Ucap Naura menahan malu dan mengelus perutnya
Melihat hal itu, Arlan segera menepikan mobilnya dan memarkirkannya. Arlan melepaskan jasnya dan menggulung kemeja navy nya sampai di atas sikunya. Ia pun segera turun dan membukakan pintu untuk Naura.
“ Ayo turunlah.”
Melihat penampilan dan sikap Arlan membuat wajah Naura langsung memerah,ia sangat kagum dengan tubuh Arlan yang membuatnya cukup traveling.
‘ Sadarlah Naura, kendalikan dirimu. Jangan terbawa suasana.’ Gumam Naura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Ayo cepat, kau akan menyesal nanti.”
Tanpa bisa membantah, Naura segera turun dan kagum melihat yang ada di sekitarnya. Ini bagaikan surga tempatnya berbagai macam makanan.
“ Kenapa kita kemari kak?”
“ Aku masih lapar, temani aku makan. Pilihlah mana yang kau suka aku akan ikut.” Ucap Arlan
“ Benarkah ini, kakak tidak bohong?” tanya Naura
“ Ehm.”
“ Baiklah, kalau begitu kakak jangan menyesal telah menyerahkan ini kepadaku.” Ucap Naura tanpa sungkan.
Ia bergegas berjalan ke depan untuk memilih semua makanan kesukaannya. Tanpa menghiraukan Arlan, Naura asyik mendatangi etalase para pedagang satu persatu. Arlan hanya mengekori Naura dari belakang sembari mengawal dari para pria yang menatapnya.
__ADS_1
Begitu juga para kaum hawa yang menatapnya dengan kagum. Mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung lokasi tersebut. Namun tidak dihiraukan oleh Naura, ia sibuk memilih-milih makanan. Setelah membeli martabak manis, siomay, pentol bakar, roti bakar, ia menuju ke pedagang rujak ulek. Setelah berputar-putar akhirnya ia menemukannya.
“ Pak, rujaknya dua ya. Yang satu pedas dan yang satu tidak.” Ucap Naura
“ Baik Neng,” melihat pasangan yang membeli rujaknya pedagang tersebut hanya tersenyum.
“ Sudah berapa bulan Neng?” tanya pedagang rujak. Yang membuat Naura dan Arlan terkejut dan saling pandang.
“ Maksud bapak gimana ya?” tanya Naura bingung.
“ Ya elah neng, masa gak tau sih. Neng membeli rujak malam-malam begini karena sedang mengidamkan. Kalian pasangan suami istri yang serasi.” Jawab pedagang rujak
“ Haaaah...” jawab Naura dan Arlan serentak. Mereka tidak menyangka hanya gara-gara membeli rujak pada malam hari dikira sedang mengidam. Mereka menjadi salah tingkah apalagi dikatakan sebagai pasangan suami istri.
“ Memangnya harus yang sedang mengidam ya pak beli rujak ini?”
“ Iya atuh Neng, hampir 90 persen mereka sedang mengidam. Apalagi saya sudah 12 tahun berdagang di sini. Ya saya tahu atuh, apalagi ini sudah larut dan neng di temani dengan suaminya.”
“ Tapi... kami bukan..”
“ Cepat sedikit ya pak. Ini sudah larut.” Potong Arlan yang membuat wajah Naura seperti tomat yang siap di petik.
“ Baik.” Ia pun bergegas membungkus dua rujak pesanan Naura.
“ Baik pak, terimakasih. Ini uangnya.” Ucap Arlan sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah. “ kembaliannya ambil saja pak.” Timpal Arlan langsung pergi dan di ekori oleh Naura.
“ Terimakasih banyak ya Tuan. Semoga istri dan calon bayi anda selalu sehat.” Ucap pedagang rujak sedikit berteriak karena mereka sudah agak jauh.
Sesampai di mobil, Naura hanya terdiam, ia merasa bersalah telah membuat Arlan malu hanya gara-gara membeli rujak telah menimbulkan kesalahpahaman.
“ Maaf kak, aku tidak tahu akan jadi seperti ini.”
“ Sudahlah jangan kau pikirkan, Ini tidak buruk. Sekarang makanlah jangan tidak dihabiskan.” Ucap Arlan menyodorkan beberapa bungkusan makanan
“ Haah, sebanyak ini kak?” jawab Naura terkejut dengan banyaknya bungkusan makanan yang ada di depannya.
“ Iya, kenapa kau terkejut. Kan kau sendiri yang memilihnya.”
“ Iy..aa kak.” Jawab Naura malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia baru menyadari hasil dari perbuatannya. Ia tidak sadar telah membeli begitu banyak makanan. Dengan perlahan iapun mulai melahap makanannya dan tak lupa juga memberikan kepada Arlan.
“ Ini kak, tadi kan kakak yang minta di temani makan.” Kata Naura sambil menyodorkan roti bakar seres keju srikaya. Arlan pun menerimanya dan langsung melahapnya.
Setelah 30 menit, mereka selesai menghabiskan makanannya meskipun masih tersisa banyak.
“ Selebihnya makan di kosmu saja. Aku sudah kenyang.” Ucap Arlan sambil menyalakan mobilnya dan melesat di jalan raya.
__ADS_1
Setelah tiba di pintu gerbang, Arlan memarkirkannya di pinggir jalan. Ia pun bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Naura.
“ Terima kasih kak,”
“ Ayo masuk.”
“ Kakak tidak perlu mengantarku sampai ke dalam.”
“ Sudahlah, ayo masuk. Aku hanya ingin menyapa pak satpam itu.”
“ Malam Pak. Maaf saya telat mengantarkan Naura pulang.” Sapa Arlan ramah.
“ Malam Tuan, oh tidak apa-apa. Tadi Neng Naura juga sudah berpamitan.”
“ Kalau begitu saya permisi pulang ya pak. Dan terimakasih.”
“ Baik Tuan.”
“ Terimakasih kak.”
“ Ehm...” ucap Arlan sambil berlalu keluar dari pintu gerbang.
“ Wah, Neng Naura cantik sekali malam ini.” Puji Pak Bowo
“ Ah, bapak. Biasa aj dong pak, kan Naura jadi malu.”
“ Benar lho neng, bapak jadi tenang orang yang membawa neng Naura orang yang bertanggungjawab meskipun yang menjemput dan mengantar pulang berbeda orang.”
“ Iya pak, ternyata Naura diundang ke acara makan malam keluarga konglomerat lho pak. Makanya penampilan saya jadi seperti ini.” Jelas Naura
“ Ohhh,, Pemuda tadi sepertinya menyukai neng Naura deh.”
“ Ah bapak bicara apa sih, mana mungkin dia menyukai Naura.”
“ Benar lho neng, Bapak sudah berpengalaman melihat ekspresi dari seseorang. Dia memperlakukan neng Naura sangat spesial.”
“ Itu karena keluarganya merasa berhutang budi pada Naura Pak yang sudah menyelamatkan keponakannya. Jadi mereka semua memperlakukan Naura sangat baik ya termasuk kak Arlan itu.”
“ Meskipun begitu, tetap beda lho neng. Perlakuannya sangat terlihat mencolok.”
“ Ah sudah lah pak, semakin lama bapak bicaranya ngawur. Kalau Naura masuk ya pak.” Pamit Naura. “ Ohya, ini ada martabak untuk bapak.” Seru Naura menyodorkan bungkusan martabak ke pak Bowo.
“ Terimakasih ya Neng."
“ Sama-sama pak.”
__ADS_1