Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 115 Selangkah Menuju Halal


__ADS_3

Para tamu saling berbisik – bisik setelah melihat secara langsung penyerahan uang seserahan dari nyonya Nissa ke tangan bu Tanti secara tunai.


Naura merasa sangat terkejut akan uang kasih sayang yang di berikan keluarga Kusuma yang begitu sangat menghargai keluarga Naura.



“ Hebat ya kak! kakak merupakan orang pertama yang membuka sejarah terbaru di kampung ini. 500 juta? Aduh gak bisa kebayang deh kak! Bisa beli ladang kak!” bisik Naya juga terkejut akan jumlah nominal yang sangat fantasi.


“ Kakak juga gak tahu Nay! Padahal kakak sebelumnya sudah memberitahu mas Arlan untuk acara di sini sederhana saja. Juga penampilan dan mobil yang mereka gunakan harus yang biasa saja. Tapi tetap saja masih menarik perhatian para warga di sini.” Jelas Naura.



“ Mungkin bagi mereka itu sudah hal yang sangat sederhana kak! Kakak lihat mobil yang mereka pakai. Bagi warga kampung itu sudah sangat di luar batas kemampuan mereka. Apalagi mobil yang sehari – hari mereka pakai di sana ya kak yang bisa menanggung hidup warga kampung untuk 10 tahun ke depan.” Kata Naya.



“ Kau benar Nay!” ucap Naura.



Benar kata Naya, mobil yang sudah terparkir rapi sudah membuat kehebohan para warga yang berlalu lalang, baik dari kalangan orang tua, anak remaja dan anak – anak yang sudah mengerumuni delapan mobil yang tersusun rapi.



Mereka mengambil kesempatan untuk mengabadikan momen yang jarang terjadi dengan sibuk berselfi di depan mobil.



“ Alhamdulillah! Semoga acara selanjutnya pada minggu depan dapat berjalan dengan lancar! Untuk acara selanjutnya acara lamaran putri kedua kami dengan putra sulung tuan Maulana.” Ucap pak Zeinal



“ Amin.” Ucap mereka serentak



Acara selanjutnya adalah lamaran Naya yang secara langsung penyematan sebuah cincin dari nyonya Jasmin ke jari manis Naya sudah melingkar dengan sangat indah.


Selain menyematkan sebuah cincin di jari manis Naya, nyonya Jasmin juga memberikan bagian perhiasan yang lain seperti kalung, anting dan gelang yang merupakan satu set perhiasan dengan cincin tersebut.


Nyonya Jasmin sangat terharu bercampur senang doa yang ia panjatkan selama ini sudah terjawab lebih dari yang ia bayangkan.



“ Terima kasih Nay! Sudah bersedia menerima lamaran Galih dan menjadi bagian keluarga Mama.” Ucap nyonya Jasmin yang langsung memeluk Naya.



“ Iya Tan..”



“ Kok masih panggil tante sih! Mulai sekarang panggil saya mama.” Titah nyonya Jasmin.

__ADS_1



“ Baik Ma! Naya juga merasa bersyukur dengan kak Galih dan mama yang sudah menerima keluarga Naya apa adanya.” Balas Naya yang mengeratkan pelukannya.



Para tamu yang hadir juga tidak kalah terkejutnya melihat perhiasan pertunangan Naya yang diberikan oleh calon suaminya. Perhiasan yang di gunakan merupakan berlian yang berkisar memiliki berat 1 sampai 3 karat. Mulai dari cincin, anting, gelang dan kalung memiliki berat yang bervariasi.



“ Benar – benar hebat ya! Masih lamaran saja,


perhiasannya mahal banget malah berlian lagi. Apalagi nanti acara seserahannya.” Bisik bik Hasna kepada Welas yang turut menyaksikan acara Naura dan Naya.


“ Benar mpok! Ini terbukti mereka benar – benar anak yang berharga dan sholeha makanya mereka di beri jodoh oleh Allah yang benar – benar menghargai mereka.” balas Welas yang dianggukkan bik Hasna.



Setelah penyematan cincin dan perhiasan lainnya, mereka pun membahas lebih lanjut waktu pernikahan Naya dan Galih juga akan di selenggarakan setelah Naya menyelesaikan kuliahnya. Mereka yang hadir dan di antara kedua belah pihak menyetujuinya akhirnya kesepakatan sudah di ambil yang membawa ke acara selanjutnya yaitu berdoa bersama agar mendapat keberkahan dari Allah untuk acara yang sedang mereka laksanakan maupun yang direncanakan.


“ Alhamdulillah! Serangkaian acara kita ini akhirnya dapat selesai dengan lancar. Semoga rencana kita ke depannya di lancarkan oleh Allah swt. Setelah acara doa kita ini berakhir acara selanjutnya dengan segala hormat kami mempersilahkan seluruh keluarga mempelai laki – laki bersedia menyicip hidangan yang telah kami sediakan.” Ucap paman Zeinal mempersilahkan keluarga tuan Kusuma dan tuan Maulana beserta rombongan menyantap hidangan makan siang yang sudah disediakan dengan cara prasmanan.


“ Terima kasih pak Zeinal yang sudah berkenan menyambut kedatangan kami dengan hidangan – hidangan khas dari kampung ini. Dengan senang hati kami akan menyantap hidangan ini.” Balas tuan Kusuma yang memberi kode kepada yang lain untuk menyantap makan siang.



Dengan wajah yang terpancar bahagia, semua tamu yang hadir turut meramaikan menyantap makan siang dengan lahap.




“ Terima kasih mbak, sudah menyempatkan hadir di acara ini. Padahalkan mbak masih di luar negeri.” Ujar Naura sambil mengambil alih Vienna dari gendongan Aran.



“ Mbak silahkan makan, biar Vienna sama Naura. kangen banget udah lama gak gendong.” Sambungnya.



“ Baiklah! Terima kasih mbak gak akan sungkan lagi.” Ucap Aran semangat mengambil makan siangnya yang sejak tadi sudah menggugah seleranya.



“ Mbak sih kapan ada sungkannya!” ejek Arlan.



“ Ish kau ini ya! Awas kalau kau sudah menjadi seorang ayah.” Balas Aran tak menghalangi niatnya.



“ Dasar! Kelak jangan kau tiru kelakuan mama mu itu ya!” ucap Arlan yang berlagak menasehati keponakannya yang berada dalam pangkuan Naura.

__ADS_1



“ Baik paman!” balas Naura yang menirukan suara Vienna.



“ Ah,,sudah gak sabar!” ucap Arlan dengan tatapan genitnya ke arah Naura.



“ Ish apaan sih Mas! Lihat – lihat situasinya dong!” ujar Naura.



“ Biarin. Mereka juga bakal menyusul.” Ucap Arlan tanpa menghiraukan temannya yang lain.



“ Dasar narsis!” cebik Galih.



Sementara yang lain hanya tertawa melihat kerukunan yang tengah mereka rasakan. Setelah saling mengucapkan selamat dari sahabat yang terempong mereka juga tak ketinggalan untuk menyantap hidangan makan siang mereka.



“ Ah, ternyata sahabat kita yang berasal dari kampung ini yang sold out terlebih dahulu. Ini membuktikan kualitas anak kampung tidak di ragukan lagi.” Ucap Abel sambil mengacungkan jempol.



“ Benar, kau curang Ra! Selama ini kau tidak pernah membahas tentang cogan – cogan bahkan terkesan cuek eh malah dia nya yang perdana sold out.” Sambung Nadia.


“ Ya namanya rezeki anak sholeha. Langsung di turunkan seorang jodoh yang baik juga.” Bangga Naura sambil melirik Arlan yang terlihat tersipu malu.


“ Cieeee ciiee...sekarang udah mulai bar – bar ya! Uda gak malu – malu lagi.” Goda Frans


“ Jelas dong! Kan selangkah lagi menuju yang halal.” Ujar Naura tanpa sungkan.



“ Iya Iya...yang bau – bau calon pengantin. Bikin yang jomblo gigit jari saja.” Timpal Andreal.



“ Iri bilang bos!” bela Arlan



“ Hahahahahhaahhahaaa......” mereka pun tertawa bersama merasa bersyukur akan momen spesial yang di rasakan oleh salah satu sahabat mereka.



Semua para tamu dan para warga yang sengaja di undang dalam hajatan pak Ahmad juga merasakan kebahagian yang terpancar dalam keluarga ini.

__ADS_1



Meskipun kedua putri pak Ahmad mendapat calon suami dari keluarga yang kaya tapi sikap dan acara yang mereka adakan terkesan sederhana tanpa bersikap angkuh dan sombong telah berbesankan dari keluarga yang terkemuka dan terkenal di kota besar.


__ADS_2