
Suasana ruang keluarga terlihat ramai tidak seperti malam – malam sebelumnya. Tiga keluarga besar sedang berkumpul dalam satu ruangan untuk membahas beberapa masalah yang penting.
Keluarga Tuan Kusuma, keluarga Pak Ahmad, dan keluar Tuan Maulana beserta anak – anak mereka.
“ Ini suatu berkah yang tak terkira, tiga keluarga kita di satukan dengan ikatan yang lebih erat lagi. Terutama pengikatnya berasal dari anak – anak pak Ahmad, dua gadis yang cantik dan sholeha.” Ucap nyonya Nissa merasa bersyukur di mana ia tidak menyangka akan tiba hari di mana ia benar – benar mendapat seorang menantu yang selama ini ia idamkan.
“ Benar Mbakyu, aku juga bersyukur bisa mendapat menantu seperti mbakyu.” Timpal nyonya Jasmin senang.
“ Kalian berlebihan, ini semua berkat nikmat Allah yang sudah mempertemukan keluarga kita menjadi satu keluarga.” Jelas bu Tanti emaknya Naura.
“ Ah, Teh Tanti benar – benar seorang ibu sekaligus besan yang sempurna. Masih tetap merendah, pantas saja Naura dan Naya berakhak mulia ternyata didikan dari teh Tanti sangat baik.” Puji nyonya Jasmin yang mendapat anggukan dari nyonya Nissa.
“ Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Saya berharap niat yang baik ini segera kita laksanakan agar terhindar dari fitnah.” Ucap pak Ahmad.
“ Saya sangat setuju, apa yang pak Ahmad katakan benar! untuk waktu pernikahan saya akan dilaksanakan bulan depan, sesuai aturan di tempat tinggal pak Ahmad akan di adakan seserahan seminggu sebelum hari H. Dan saat itu bisa sekaligus acara lamaran Naya dan Galih. Bagaimana tuan Maulana dan pak Ahmad?” Usul tuan Rahardi.
“ Saya setuju, hal tersebut dapat menghemat waktu dan tempat.” Ucap tuan Maulana.
“ Saya juga tidak masalah, jika seperti itu. Dan saya sangat berterima kasih tuan Rahardi dan tuan Maulana berkenan acara tersebut di adakan di rumah saya.” Ucap pak Ahmad.
“ Sudah seharusnya pak Ahmad, karena kita masih menjunjung adat timur kami sebagai pihak pria harus secara baik – baik meminta anak gadisnya yang rela meninggalkan keluarganya demi orang yang baru ia kenal.” Ucap tuan Rahardi.
Semua yang berada di ruangan tersebut, mengangguk setuju dan terharu akan ucapan tuan Rahardi yang menunjukkan sikap bijaksana.
“ Alhamdulillah, saya lega dapat menyerahkan kedua putri saya kepada orang yang tepat. Semoga niat kita semua di berkahi dan di Ridhoi oleh Allah SWT. Amin.” Doa pak Ahmad penuh haru dan bersyukur.
“ Amin...” timpal mereka semua mengaminkan.
“ Baiklah, kesepakatan hari ini sudah kita setujui. Pernikahan Arlan dan Naura akan di adakan di kampung tempat tinggal pak Ahmad, yaitu akad dan resepsinya. Sebelumnya akan di adakan acara seserahan sekaligus lamaran antara Galih dan Naya.” Ucap tuan Maulana dengan mantap.
“ Benar! untuk selanjutnya acara ngunduh mantu akan saya laksanakan di sini.” Imbuh tuan Rahardi.
“ Saya setuju, tapi untuk acara resepsinya saya ingin di adakan secara sederhana saja sebagai syarat mengumpulkan keluarga di kampung.” Ujar pak Ahmad.
“ Kalau itu permintaan pak Ahmad saya tidak keberatan. Yang penting acara kita ini berjalan dengan lancar.” Ucap tuan Rahardi.
“ Bagaimana menurut kalian?” sambungnya.
__ADS_1
“ Aku setuju Yah!”
“ Aku setuju Pa!”
Ucap Arlan dan Galih serentak dengan senyum yang terkembang di wajah mereka. sementara Naura dan Naya hanya menunduk menahan malu dengan pikiran mereka masing – masing.
“ Baiklah! Karena semuanya sudah mendapat kesepakatan untuk niat hajatan kita bersama. Mari kita mulai mempersiapkan seluruh kebutuhan untuk mendukung acara ini berlangsung.” Ucap tuan Rahardi.
“ Kalau masalah, persiapan serahkan saja pada kami Yah!” tawar nyonya Nissa sambil menunjuk ke nyonya Jasmin.
“ Benar! kalian jangan khawatir. Semua akan kami persiapkan dengan matang.” Dukung nyonya Jasmin bersemangat.
" Masalah gaun pernikahan, kita serah kan saja kepada Aran, dan WO nya aku akan menghubungi Zoya rekan arisan. Nanti bunda bisa minta potongan diskon padanya." Ucap nyonya Nissa senang.
" Ah, mbakyu benar! Zoya bisa kita andalkan. aku juga akan booking duluan untuk Galih." Seru Nyonya Jasmin tak ingin kalah.
" Mamah apa - apaan sih! masih lama kali Ma!" Sangkal Galih.
" Memangnya kenapa! kau jangan ikut campur urusan orang tua tahu!" kesal nyonya Jasmin.
" Kalau aku gak sabar gimana Ma! Mama mau tanggung jawab." tantang Galih.
" Tidak masalah, mama akan semakin senang jika kau juga secepatnya bisa menikahi Naya." balas nyonya Jasmin melirik ke arah Naya.
Blushhh...sontak wajah Naya memerah ketika mendengar perdebatan antara anak dan ibu yang ada di depannya.
" Sudahlah Ma! jangan terburu - buru. kita hargai pendapat Naya yang ingin menyelesaikan kuliahnya." Timpal tuan Maulana menengahi isteri dan anaknya.
" Iya Pa, maaf! mama terlalu senang dan bersemangat." ucap nyonya Jasmin.
“ Alhamdulillah, terima kasih dik Nissa dan dik Jasmin! ” ucap bu Tanti.
“ Begitu ya....”
Setelah memakan waktu selama beberapa jam dalam mengambil kesepakatan, akhirnya mereka menemukan titik temu yang membawa kabar bahagia untuk ketiga pihak.
Para orangtua, masih berkumpul di ruang keluarga untuk membahas hal – hal receh lainnya. Sementara para anak muda mereka lebih baik memisahkan diri pergi ke taman belakang rumah tuan Rahardi yang terdapat sebuah gajebo yang cukup besar.
“ Alhamdulillah, berjalan dengan lancar. Semoga ke depannya terus lancar sampai hari H nya. Selangkah lagi menuju kehalalan.” Ucap Arlan.
“ Ish apaan sih! Masih sebulan lagi kali. Lebay banget sih!” cetus Galih.
“ Mending sebulan lagi, daripada beberapa tahun lagi.” Balas Arlan.
Dukk. “ dasar kau!” cebik Galih sambil meninju lengan Arlan.
__ADS_1
“ Hahhahhahahaha.... lihat wajahmu!” ejek Arlan.
“ Sudahlah Mas! Jangan ganggu kak Galih lagi. Kasihan tuh!” bujuk Naura.
“ Kenapa kau malah membelanya!” tanya Arlan cemburu.
“ Siapa yang membela kak Galih? Hanya kasihan saja nanti kak Galih akan merengek ke tante Jasmin untuk segera menikahi Naya lho.” Jelas Naura.
“ Hari ini juga aku bisa membawa Naya ke penghulu.” Tantang Galih.
“ Kak! Aku gak mau secepat itu!” tolak Naya dengan wajah yang kesal.
“ Buahahahahhahahaa......” tawa Arlan dan Naura meledak saat mendengar penolakan dari Naya.
“ Ckkk. Dasar kalian memang benar – benar pasangan yang serasi ya!” ketus Galih.
“ Tentu saja, pilihanku gak salah dong!” ucap Arlan bangga.
“ Iya benar, sangat serasi dalam membully temannya sendiri.” Kesal Galih.
“ Puftttttt...” tahan Naya melihat perdebatan receh yang ada di depannya.
“ Tentu saja, apalagi korbannya itu kau. Korban bucin selanjutnya. Hahahahha....” ejek Arlan puas.
“ Awas kau ya....” kesal Galih reflek menimpuk Arlan dengan bantal yang ada di gajebo.
“ Lari Ra!” teriak Arlan agar bantal yang melayang ke arah mereka tidak mengenai mereka.
Dengan di iringi tawa mengejek, Arlan dan Naura lari menjauh dari gajebo.
“ Gak kena.....hahhahahahaha..” teriak Arlan yang sudah menjauh.
Dengan wajah yang kesal, Galih meminum habis jus jeruk yang ada di gajebo dengan sekali teguk untuk meluapkan kekesalannya.
" Sudahlah kak! kakak yang mulai kakak pula yang kesal sendiri...untuk saat ini percuma saja kalau melawan mereka. kita tunggu saja celahnya." ucap Naya menenangkan.
" Kau benar! ternyata kau sangat cerdik. Tidak salah aku mendapatkanmu." puji Galih.
" Ish, kakak apaan sih!"
__ADS_1
melihat wajah malu - malu Naya membuat Galih tertawa senang karena sudah terhibur akan kata - kata dari calon isterinya..