Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 57 Mengikuti Kegiatan Amal


__ADS_3

“ Assalamualaikum Pak Bowo, Naura pamit ya pak!” ucap Naura menghampiri pak Bowo di pos jaganya.


“ Wah neng Naura cantik banget, benar – benar seperti seorang nyonya dari isteri pengusaha. Sederhana tapi terlihat elegan dan mewah.” Puji pak Bowo ketika melihat Naura memakai gaun berwarna mocca maxi cotton aplikasi dada dan ikat pinggang mutiara tembak.


“ Ah pak Bowo bisa aja deh! Sebelum jadi isteri pengusaha, Naura sudah cantik dari lahir lho.” Canda Naura sambil nyengir.


“ Percaya kok neng! Selamat menikmati acara amalnya ya neng!” ucap pak Bowo.


“ Ok pak, terima kasih. mari pak!” pamit Naura berlalu menyampiri pak supir yang sudah menunggu di mobil.


“ Iya Neng!” balas pak Bowo.


Sebelum mobil melaju, sang supir menganggukan kepalanya ke arah pak Bowo untuk berpamitan yang di balas anggukan juga oleh pak Bowo.


Pukul 10.37, Naura dan tante Nissa telah tiba di salah satu Panti Asuhan tempat di selenggarakannya kegiatan amal perusahaan.


Suasana di Panti kali ini terlihat ramai di kunjungi oleh isteri – isteri para pengusaha yang tergabung dalam kelompok kegiatan amal yang rutin mereka lakukan setiap sebulan sekali.


Melihat suasana yang di penuhi oleh wanita – wanita sosialita yang menunjukkan status sosial mereka masing – masing membuat Naura tidak nyaman dan merasa canggung.


“ Kau jangan gugup gitu dong sayang! Kan ada tante di sini.” Ucap tante Nissa memegang pundak Naura untuk memberikan semangat bagi Naura.


“ Iya tan, Naura hanya tidak terbiasa saja dengan situasi seperti ini. Naura merasa ini tidak cocok bagi Naura.” ucap Naura merendah.


“ Siapa bilang kau tidak pantas, kau sangat cantik sayang! Tante bangga lho membawa kamu. Kenapa kamu sendiri yang tidak percaya diri gitu. Mana Naura yang tante kenal selama ini?” seru tante Nissa.


“ Baiklah tante, Naura akan menjadi fathner tante yang bisa di andalkan. Terima kasih ya tan sudah percaya dengan Naura.” seru Naura bersemangat.


“ Nah gitu dong, iya sama – sama sayang.

__ADS_1


Sekarang mari tante kenalkan dengan teman – teman tante.” Ajak tante Nissa.


“ Ayo tan.”


Mereka pun berjalan menghampiri kumpulan para wanita – wanita yang memakai pakaian berwarna mocca. Karena dresscode kali ini mereka harus memakai pakaian yang berwarna mocca. Di antara para wanita tersebut, jika diperhatikan terlihat berbagai usia dari usia 30 an sampai 50an, namun karena mereka memperhatikan penampilan, wajah dan usia mereka terlihat bertolak belakang. Mereka terlihat sangat cantik dan anggun serta awet muda.


“ Assalamualaikum jeng!” sapa tante Nissa kepada sesama temannya yang sedang duduk berkumpul di aula panti. Selain para wanita – wanita penggalak amal, di aula juga terdapat ketua pengurus Panti, dan sebagian anak – anak panti yang hadir menyambut acara amal ini.


“ Ah, walaikumsalam nyonya Nissa. Anda selalu tetap terlihat cantik dan awet muda ya.” Balas Nyonya Widuri Ginanjar yang merupakan salah satu teman dekat nyonya Nissa yang lebih muda dua tahun dari nyonya Nissa. Meskipun Nyonya Widuri isteri dari seorang pengusaha namun ia memiliki sifat yang rendah hati dan dermawan.


“ Ah, kau bisa saja deh Widuri. Kau juga sama cantiknya. Aku dengar kau belakangan ini sering sakit ya.” Balas tante Nissa.


“ Ah masalah itu sangat panjang ceritanya. Nanti kalau ada waktu luang, aku akan cerita kepada mbak. Ohya , ngomong – ngomong siapa gadis cantik ini mbak?” tanya nyonya Widuri.


“ Ya ampun, aku hampir saja lupa. Kenalkan jeng, ini Naura yang pernah aku ceritakan, gadis yang menolong Vino waktu itu.” Jelas tante Nissa.


“ Halo nyonya!” sapa Naura sambil menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat.


“ Baiklah tante.” Ucap Naura sedikit canggung.


“ Nah gitu dong, kan enak lho di dengar.” Timpal nyonya Jasmin.


“ Benar Naura, kau jangan sungkan – sungkan kepada kami. Orang – orang yang berada di naungan keluarga Kusuma pasti bukan orang yang sembarangan secara keluarga Kusuma merupakan pribadi yang tertutup.” Jelas nyonya Catrin yang dianggukkan oleh teman – temannya.


“ Ah, jeng Catrin berlebihan deh, saya merasa tidak seperti itu lho. Kebetulan Naura ini adalah gadis yang sangat sulit lho di dapat di masa ini. Makanya saya sangat beruntung bertemu dengannya.” Ucap tante Nissa merendah.


“ Tuhkan Mbak Nissa selalu merendah. Tapi benar lho yang dikatakan mbak, Naura ini gadis yang memiliki kepribadian yang menarik. Pantes saja mbak Nissa memperkenalkannya kepada kami.” Ucap tante Widuri.


“ Kamu benar Widuri, saya berpikir Naura ini adalah calon menantunya. Heheheehe.” Timpal tante Lani.

__ADS_1


“ Ya saya juga berharapnya begitu sih, tapi anak saya masih payah.” Jelas tante Nissa.


Mendengar percakapan tante Nissa dan teman – temannya membuat wajah Naura memerah dan ia pun menjadi salah tingkah. Apalagi mendengar ucapan tante Nissa yang seperti memberi lampu hijau kepadanya.


Untuk menutupi kegugupan Naura, ia pun berpamitan keluar untuk mencari angin.


“ Maaf tante, saya permisi mau ke toilet!” ucap Naura sedikit gugup.


“ Ah, ini akibat percakapan kita sehingga membuat Naura menjadi malu.” Kata tante Catrin.


“ Pergilah Ra! Maaf sudah membuatmu tak nyaman. Mereka kalau sudah kumpul pasti ujung – ujungnya mengghibah.” Ucap tante Nissa.


“ Tidak apa – apa tante, Naura hanya perlu membiasakan diri saja. Baiklah Naura permisi dulu ya tan.” Ucap Naura yang dianggukkan yang lain.


“ Ah benar – benar gadis yang menarik ya Mbak. Sayangnya sudah keduluan dengan Arlan, coba kalau bertemu dengan Dennis terlebih dahulu saya pasti akan mengambilnya sebagai menantu saya.” Harap tante Senja.


“ Ah, Jeng Senja bisa aja. Saya juga berharap Naura bisa menjadi menantu saya. Tapi saat ini Arlan belum juga menyatakan perasaannya padahal selama ini dia selalu mendekati Naura. memang Arlan payah. Nanti kalau keduluan dengan cowok lain baru tahu rasa dia.” Oceh tante Nissa sedikit kesal.


“ Sudah lah mbak, kalau mereka jodoh pasti akan bersatu juga kok. saya doakan mereka berjodoh.” Doa tante Jasmin yang sejak tadi masih mendengarkan obrolan mereka.


“ Amin. Terimakasih atas doanya ya Jeng Jasmin. Kalau begitu mari kita lanjut acara kegiatan amal ini.” Ajak tante Nissa.


“ Ayo silahkan.” Ucap yang lain.


Mereka pun memasuki acara kegiatan selanjutnya. Dalam kegiatan amal ini, mereka selalu mendonasikan uang mereka dalam pengoperasian Panti Asuhan ini. Meskipun mereka merupakan kalangan konglomerat tetapi sifat kedermawanan mereka tidak di buang begitu saja. Mereka masih melihat kehidupan di luar sana yang nasibnya masih kurang bersyukur.


Dengan melihat secara langsung dengan kondisi dan nasib orang – orang yang kurang beruntung terutama orang yang berada di bawah naungan organisasi sosial seperti Panti Asuhan, Panti jompo dan kalangan orang – orang yang berada di bawah mereka. Membuat mereka selalu mensyukuri keadaan mereka yang jauh lebih beruntung sehingga mereka pun menyalurkan dan saling berbagi kepada sesama dalam naungan kegiatan amal yang mereka bentuk.


Sementara Naura yang baru keluar dari toilet tidak masuk ke dalam lagi. Ia pun berjalan menghampiri taman yang berada di samping Panti Asuhan. Naura duduk di bangku yang berada di sebuah pohon yang sangant rindang. Sambil melihat – lihat sekeliling Panti Asuhan tidak melihat anak – anak dari Panti Asuhan ini.

__ADS_1


Meskipun ia merasa penasaran, namun pertanyaan itu ia sembunyikan saja di dalam hatinya. Sambil memainkan ponselnya, Naura menikmati udara siang yang berada di Panti Asuhan ini.


__ADS_2