
" Apa? kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?" Ucap Andreal.
Andreal yakin Naura merasa kecewa bahwa bukan dirinya lah yang diharapkan oleh Naura. Tetapi Naura tidak tahu sejak ia dibawa ke tenda medis Arlan lah yang selalu di sisinya menjaga hingga Naura siuman. Namun, karena ada sesuatu hal, Arlan pergi meninggalkan tenda. Melihat hal itu, Andreal pun bergegas masuk ke tenda yang juga ingin melihat keadaan Naura
Melihat ekspresi Naura yang merasa kecewa, ia hanya menahan tawanya.
“ Kenapa? Kau kecewa? Bukan seseorang yang kau harapkan?” tanya Andreal. Ya, sudah 30 menit ia menunggu Naura yang tengah tertidur. Sejak jam istirahat ia langsung bergegas menuju tenda medis setelah melihat Arlan keluar dari tenda.
“ Tidaa...k, siapa yang kecewa. Memangnya siapa orang yang kuharapkan?” kata Naura gugup seraya bangkit dari tidurnya.
“ Kau berbaring saja, aku hanya ingin melihat keadaanmu saja kok.” Kata Andreal
“ Apa yang terjadi padaku Al? Seingatku kita sedang memainkan permainan kan? Kenapa aku membuka mata sudah berada di sini?” Tanya Naura sembari mengingat – ingat kejadian yang menimpanya.
“ Sudahlah, kau istirahat saja jangan memaksakan diri nanti kepala mu makin sakit.” Kata Andreal
“ Ah, tapi aku sudah tidak apa – apa kok. Lihatlah” ucap Naura sambil berusaha untuk beranjak dari ranjang. Melihat hal yang dilakukan Naura, sontak membuat Andreal menahan tubuh Naura agar jangan tiba – tiba berdiri, yang membuat jarak di antara mereka hanya beberapa centi lagi.
Melihat situasi yang membuat Naura merasa tidak nyaman, ia pun langsung duduk kembali ke ranjangnya.
“ Maaf Al!” kata Naura
“ Sudahlah tidak apa – apa. Jangan memaksakan diri istirahatlah dengan cukup kau sudah mendapat izin untuk tidak mengikuti semua kegiatan hari ini.” Jelas Andreal sambil menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya ke arah Naura.
“ Sekarang makanlah, agar kau bisa keluar dari tenda ini.”
Dengan rasa sungkan Naura menerima piring nasi dari Andreal. “ Terima kasih Al. Sebaiknya kau keluar aku malu kalau dilihati seperti itu.” Kata Naura pelan. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Andreal yang terus memperhatikan Naura.
“ Baiklah, waktu istirahat ada sejam lagi 30 menit ke depan aku akan balik ke sini lagi. Kau harus menghabiskan makananmu. Kalau tidak aku yang menyuapimu.” Ancam Andreal
“ Is apaan sih kau ini, aku bukan anak kecil lagi tau. Ya sudah ini aku makan.” Kata Naura sambil menyendokkan nasinya ke mulutnya.
“ Baiklah aku percaya,” kata Andreal tanpa di sadarinya ia mengusap kepala Naura yang tertutup hijab.
__ADS_1
Naura hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya. Sambil mengunyah Naura mengingat – ingat kembali kejadian yang baru dialaminya.
“ Astaghfirullahalazim, tadi aku ditabrak dari belakang oleh seseorang. Makanya aku berakhir di sini. Tapi kenapa bayangan kak Arlan selalu muncul di pikiranku sih, bahkan aku sempat melihat kak Arlan berlari ke arahku dan dengan samar – samar kak Arlan menggendongku.” Ucap Naura dengan dirinya sendiri.
“ Ah, tidak mungkin lah buktinya aku sadar orang pertama kali yang ku lihat si Andreal. Sudahlah Naura jangan traveling kemana – kemana pikiranmu itu. Karena terlalu memikirkan kak Arlan seakan – akan melihat kak Arlan dengan jarak yang sangat dekat. Ah Nauraaaaaaa kau sudah gila......aaaaa” Teriak Naura sambil memukul – mukul kepalanya
“ Ternyata kau sudah sangat sehat ya! Sampai berteriak seperti itu?” kata seorang pria yang datang dan menyingkapkan tirai
“ Ka...kk Arla..nnn” Ucap Naura gugup bercampur malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“ Kenapa kau tutupi wajahmu?”
“ Apa kak Arlan mendengar ocehanku?”
“ Dengan suaramu yang seperti itu jarak 1 kilometer saja kedengaran lho apalagi yang hanya berjarak beberapa meter saja.”
“ A...pppaaaa?” ucap Naura semakin malu dengan wajah memerah seperti udang yang direbus
“ Hemmmm, baiklah kak melihat kakak tertawa seperti itu membuat aku jadi lega. Ternyata rumor kakak manusia es itu hanya hoaks saja.” Kata Naura yang sudah menetralkan ekspresi wajahnya namun tidak dengan debaran jantungnya.
“ Kau mendengar rumor seperti itu darimana?”
“ Yeaa, semua penghuni di kampus bahkan sejagat ini sudah tahu sosok kak Arlan lho. Masa seorang Naura tidak tahu rumor yang begitu viral sih. Ckckckckc.” Ucap Naura bangga padahal baru – baru saja dia mengetahui rumor tentang Arlan itu pun tahu dari temannya Abel.
“ Terserah kau saja! Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?” Tanya Arlan
“ Alhamdulillah berkat kakak, rasa sakit perutku sudah reda dan hilang. Terima kasih ya kak.”
“ Ehm....”
“ Ohya kak, apa boleh aku bertanya agar aku merasa tidak salahpaham?” tanya Naura ragu
“ Apa?”
“ Apakah kakak yang membawaku kemari?”
“ Menurutmu?”
__ADS_1
“ Aku tidak tahu pasti kak, karena aku hanya sekilas melihat bayangan kakak yang berlari ke arah ku dan langsung menggendongku sebelum pemandanganku menjadi gelap semua.”
“ Kau inginnya siapa?”
“ Ya sesuai yang ada dalam pikiranku sih kak.” Kata Naura malu
“ Ehm, baiklah yakini saja yang ada dalam pikiranmu. Karena apa yang kau pikirkan itu yang akan terjadi.” Kata Arlan tersenyum manis ke arah Naura.
Melihat Arlan tersenyum dari jarak yng sangat dekat membuat hati Naura menjadi tidak menentu. Ia akan sangat malu jika debaran jantungnya terdengar oleh Arlan. Seperti terhipnotis dengan senyuman Arlan, Naura bergumam ‘ Ih Manisnya.’
“ Apanya?”
“ Senyuman itu” kata Naura sambil menunjuk wajah Arlan yang berada di sampingnya
“ Benarkah?”
“ Bena...rrr, eh ti...daak.” kata Naura baru tersadar dengan ucapannya yang keluar begitu saja. “ Kakak jangan salahpaham. Aku salah bicara kak.”
“ Hahahahahaha, sudahlah gak perlu merasa malu. Aku senang kok kalau kau menyukainya.” Kata Arlan
“ Sekarang istirahatlah, jangan terlalu memikirkan aku. Ok” Goda Arlan sambil mengusap kepalanya yang tertutup hijab dan berlalu pergi meninggalkan Naura yang masih terbengong dengan sikap dan perkataan Arlan.
“ Iy.....aa kak.” Kata Naura sendiri sambil memegang kepalanya yang diusap Arlan.
“ Ehmmm, aneh kenapa rasanya beda ya, padahal Andreal juga tadi mengusap kepalaku di bagian sini.” Gumam Naura masih memegangi kepalanya.
“ Kurasa aku benar – benar sudah gila. Kenapa aku selalu memikirkan kak Arlan sih. Dan anehnya setiap memikirkannya pasti orangnya langsung nongol.” Ucap Naura
“ Ah sudahlah, kau harus lebih fokus Naura dengan impian dan cita – citamu. Jangan mengecewakan bapak dan emak, Naya serta Nanda. Semangat Naura.” Ucap Naura sambil mengangkat tangannya yang tergenggam.
‘ Bismillahirahmanirahim.’ Gumam Naura sambil membaringkan tubuhnya di ranjang dan ia pun memejamkan matanya kembali.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Naura sudah terbang menuju alam mimpinya. Di dalam mimpi pun ia masih melihat bayangan wajah Arlan yang sedang tersenyum ke arahnya. Yah, namanya juga mimpi kan, selagi bermimpi tidak ada larangan maka bermimpilah sepuasmu ya Naura. Selagi engkau tertidur.
Dengan tersenyum dalam tidurnya, Naura begitu terlelap dan menikmati mimpi – mimpi indahnya.
__ADS_1