Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 51 Tari Lagi Tari Lagi


__ADS_3

" Tari..."


" Kak Tari..."


Ucap Naura dan Laras bersamaan ketika melihat wanita yang menegur mereka dengan kata - kata yang angkuh.



Lagi - lagi Naura bertemu lagi dengan Tari. Entah mengapa ia merasa sangat kesal jika bertemu dengan Tari.


"Kenapa kalian begitu terkejut melihat ku haahhh....” ucapnya dengan begitu angkuh.


" Oh, ternyata kau Laras! apa kabar hah! sepertinya kehidupan mu terlihat lebih baik lagi ya bila dibanding masih di kampung." Oceh Tari.


" Oh iya, aku hampir lupa, ternyata gosip itu benar ya, pantes saja kau semakin baik dan lebih betah tinggal di sini daripada pulang ke kampung." Lanjutnya.


Naura dan Laras masih diam tanpa merespon celotehan Tari yang terdengar seperti suara kicauan burung gagak.


" Kenapa kalian diam hah....."


Dengan segera Laras dan Naura mensterilkan diri mereka dan berusaha tetap tenang dalam menghadapi wanita yang telah menghalangi jalannya.


“ Ooohhh, aku tahu, kalian takutkan sudah ketahuan denganku. Karena kebongkar kebusukan kalian kan? Ah apa kalian pikir perbuatan kalian tidak di ketahui oleh orang – orang kampung?” Cerca wanita bernama Tari yang memergoki Naura dan Laras saat hendak meninggalkan meja mereka.


Naura tidak tahan lagi mendengar ocehan - ocehan Tari yang sudah memojokkan mereka, tanpa rasa takut dan segan lagi Naura pun segera membuka suara untuk mengimbangi lawannya.


“ Kenapa kami harus takut hah, apa kau melihat apa yang kami perbuat selama di sini? Hah...” Lawan Naura dengan berani. Melihat tingkah Tari yang begitu menyebalkan ia pun tidak segan – segan lagi untuk melawan.


“ Kau! Lancang sekali kau dengan ku hah, baru beberapa bulan kau tinggal di kota ini sudah berani melawanku.” Bentak Tari sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.

__ADS_1


“ Kenapa tidak berani? Apa selama ini kakak pernah bersikap baik padaku? Aku begini karena sikap kakak yang selalu menuduh ku yang tidak – tidak. Jadi untuk apa aku harus menghormati kakak meskipun kakak lebih tua dari ku. Dan jika kakak ingin di hargai maka hargai lah terlebih dahulu orang lain. Melihat sikap kakak yang seperti ini siapa pun pasti tidak tahan, semut saja jika di injak pasti akan menggigit." Jelas Naura panjang lebar meluapkan rasa kekesalannya.


“ Cih... jadi ini ajaran Laras kepadamu hah...” tuduh Tari.


“ Jaga mulut mu! Kau tahu apa tentang ku hah, atau jangan – jangan kau yang telah menyebarkan fitnah kepada orang – orang kampung hah, dasar kau picik sekali pemikiran mu itu?” Kata Laras bersuara karena sudah tidak tahan melihat tingkah Tari yang sudah melewati batas.


“ Hahahahahhah,,,ternyata besar juga ya pengaruh kehidupan kota ini yang sudah merubah pergaulan gadis udik seperti kalian.” Ejek Tari.


“ Sudah lah kak Laras, kita pergi saja dari sini, kasihan Hanni. Lagipula kalau kita meladeni kak Tari kita yang akan malu.” Ajak Naura.


Namun, lagi – lagi Tari mencekal mereka agar tidak pergi begitu saja.


“ Mau pergi kemana kalian hah... aku belum selesai bicara dengan kalian.” cekal Tari menghalangi mereka untuk keluar dari kafe.


“ Maaf kak Tari, sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Lagi pula kami akan membuang – buang waktu kami untuk hal yang tidak penting. Sekarang urus saja kehidupan kita masing – masing. dan satu lagi fokuslah pada tujuan hidup kakak jangan pernah mencampuri hidup orang lain.” Ucap Naura mengingatkan dengan jelas dan tegas.


“ Ka....u.....” seru Tari dengan wajah yang sudah mencapai 80 derajat celsius.


“ Awas kalian! tunggu saja pembalasanku. Berani sekali kalian mengabaikanku.” Geram Tari menghentakkan kakinya ke lantai dengan kuat.


Tari benar – benar tidak menyangka Naura semakin hari semakin berani melawan perkataannya. Di wajahnya tidak terlihat sama sekali ekspresi ketakutan.


Dengan hati yang sangat mendongkol, Tari juga bergegas angkat kaki dari kafe tersebut karena merasa malu yang dengan sekejap sudah menjadi pusat perhatian para tamu kafe tersebut.


Diantara tamu kafe yang sedang menikmati makan siang mereka, terlihat sepasang bola mata yang sejak tadi memperhatikan perdebatan mereka dari meja yang terletak di sudut kafe yang sedikit tertutupi dengan bunga hias yang tumbuh dengan subur dan rindang.


Dengan bibir yang terukir senyuman yang tipis, pria muda tersebut dengan rasa puas mengirim sebuah rekaman yang telah ia rekam sejak awal kepada seseorang yang berada nun jauh di sana.


Setelah selesai ia pun beranjak dari mejanya menuju ke mobil yang telah ia parkir di depan.

__ADS_1


“ Hahahahahahha.....kakak lihat ekspresinya tadi. Kak tari benar – benar mati kutu. Untung saja tidak ada kekasihnya.” Ucap Naura sesampainya di taman kembali merasa puas telah membuat Tari semakin emosi.


“ Kau ya Ra! Benar – benar berani sekali dengan Tari.” Tanya Laras.


“ Biar kan saja kak! Orang seperti kak Tari harus kita lawan tanpa belas kasih. seenaknya menuduh kita yang tidak – tidak.” Ucap Naura. “ Jangan – jangan kak Tari yang menyebarkan gosip yang tidak benar kepada orang – orang kampung kak.” Timpalnya


“ Jangan menuduh sembarangan lho Ra kalau tidak ada bukti bisa jadi fitnah.” Kata Laras mengingatkan.


“ Kan hanya menduga saja lho kak. Lagian kan kakak juga tadi bilang begitu kepada kak Tari.” Ucap Naura.


“ Itu juga kakak asal ngomong karena gak sabar juga mendengar ocehannya yang membuat orang emosi saja.” Jelas Laras.


“ Benarkan kak! Setiap berbicara dengan kak Tari pasti membuat emosi. Dan juga dia itu harus di lawan agar gak semakin menjadi.


“ Baiklah Ra! Ayo kita pulang, sudah jam 10.30 .” ajak Laras sambil melihat arloji yang ada di lengannya.


“ Ayo kak! Senang banget hari ini bisa bertemu dengan kakak. Apalagi kita sekampung ya kak.” Ucap Naura senang.


“ Begitu juga dengan kakak Ra! Akhirnya kakak bisa bertemu dengan seseorang yang bisa di ajak mengobrol apalagi yang sudah kakak kenal.” Kata Laras. “ Ayo Ra sekalian kakak antar pulang.” Tawar Laras.


“ Terima kasih kak, tapi Naura nasih ingin bersantai sebentar lagi. Karena memang Naura lagi senggang.” Ucap Naura.


“ Ya sudah kakak duluan ya?” pamit Laras yang mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya.


“ Iya kak, hati – hati ya kak!” balas Naura.


Laras pun pergi meninggalkan Naura menuju luar Taman yang sudah di tunggu oleh sang supir pribadinya.


Mobil pun melesat membelah jalanan raya yang selalu padat meskipun di hari minggu. Naura memandangi ke jalanan hingga mobil sedan berwarna hitam yang membawa pergi Laras tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Naura pun menikmati waktu senggangnya bersantai di taman sambil melihat aktivitas para pengunjung yang juga sedang menikmati waktu libur mereka.


__ADS_2