
“ Selamat datang tuan!” sambut beberapa staf restoran dengan ramah.
“ Reservasi atas nama tuan Maulana.” Ucap Galih
“ Mari tuan!” ajak seorang staf pria memandu ke ruangan yang sudah di reservasi oleh tuan Maulana.
Mereka berhenti di sebuah ruangan yang memiliki desain pintu yang di ukir dengan sangat indah. Perasaan tidak enak sudah menjalar ke tubuh Naya..
“ Ya Allah, lindungilah hamba dari situasi yang akan datang.” Doa Naya dalam hati.
Degub jantung Naya semakin kencang, rasanya ia ingin melarikan diri dari tempat asing tersebut. Kakinya terasa berat untuk di langkahkan dengan di iringi keringat dingin yang sudah menjalar di dahi dan punggungnya.
“ Silahkan tuan!” ucap staf restoran mempersilahkan Galih dan Naya untuk memasuki sebuah ruangan sambil membukakan pintu.
“ Terima kasih!”
Galih dan Naya melangkah masuk ke dalam ruangan dengan desain yang mewah dan nyaman. Di dalam ruangan terdapat sebuah meja bundar dengan enam kursi yang mengelilingi.
“ Maaf aku terlambat.” Ucap Galih menghentikan obrolan sepasang suami isteri yang sudah memasuki usia senja.
Mereka menatap ke arah asal suara yang berasal dari belakang mereka.
Melihat siapa yang datang, membuat nyonya Jasmin mamanya Galih terpana akan pesona Naya yang berdiri di samping Galih.
Nyonya Jasmin menatap tajam ke arah Naya yang membuat Naya tidak nyaman dan gugup.
“ Ah, kenapa menatap ku seperti burung elang yang akan memangsa anak ayam sih! Bikin merinding saja. Apa nyonya ini tidak menyukai kedatanganku. Sebenarnya mereka ini siapa?” ucap Naya dalam hati dengan tangan yang gemetar dan berkeringat.
“ Ah dasar kau ya! Kenapa kau terlambat hah... kau harus memberikan alasan yang tepat!” teriak nyonya Jasmin langsung berdiri dari kursinya.
“ Tenanglah Ma! Jangan teriak – teriak begitu. sesuai janji ku, aku membawa calon isteriku pada kalian. Dan tentunya untuk memperkenalkannya pada papa dan mama, aku juga harus butuh persiapan kan!” jelas Galih mantap penuh percaya diri.
“ Haaaahh. Maksud kak Galih apa?” tanya Naya terkejut.
“ Ah dasar anak nakal ini ya! Kenapa kau membuat seorang wanita cantik begini terkena serangan jantung sih! Apa tidak kau beritahu terlebih dahulu hah...” omel nyonya Jasmin sambil menjewer telinga Galih.
“ Auuuuuwww,, ampun Ma...lepas dulu dong.. bisa copot ne kuping.” Teriak Galih kesakitan.
“ Dasar payah! Bikin orang gregetan aja sih! Apanya yang bisa mandiri, kau lihat wanita yang kau bawa ini terlihat kebingungan dengan situasi di sini.” Sambung nyonya Jasmin kesal dan melepaskan jewerannya.
__ADS_1
Melihat tingkah Galih yang diperlakukan seperti anak kecil oleh wanita paruh baya yang ada di depannya, Naya memahami sepasang suami isteri yang ada di depannya adalah orangtua Galih.
Naya pun tidak dapat menyembunyikan tawanya, meskipun tersembunyi di balik telapak tangannya.
“ pufttttt.....”
“ Kau....bukankah kau adik dari tunangannya Arlan?” tunjuk nyonya Jasmin sambil memperhatikan wajah Naya dengan seksama dari jarak dekat.
Deg...degub jantung Naya tidak beraturan, ternyata mamanya Galih mengenali Naya. Hal ini membuatnya merasa tidak percaya diri.
Tentunya hal yang mustahil baginya dapat menjadi bagian dari keluarga Galih. Nasib kakaknya saja yang beruntung dapat di terima baik oleh keluarga tuan Kusuma.
Sementara nasib dirinya, belum tentu sama dengan kakaknya. Tak putus – putus Naya mengucapkan doa agar cepat terlepas dari situasi yang mencekam ini.
Pikirannya traveling, mengingat cerita novel yang pernah ia baca. Apakah ia akan di permalukan oleh ibu dari sang kekasih karena berbeda kasta sosial dan latarbelakang keluarga. Akan sama dengan cerita yang di alami sang tokoh utamanya?
“ Huft,,,bismillahirahmanirahim.” Doa Naya dalam hati.
“ Bena..r nyo..nya, saya Naya! Salam kenal!” ucap Naya mengumpulkan keberanian untuk memperkenalkan diri dengan santun.
“ Ternyata benar kau. Akhirnya!” ucap nyonya Jasmin yang tanpa aba – aba langsung memeluk Naya.
Dengan wajah yang tegang dan terkejut membuat tubuh Naya kaku mendapat pelukan yang tiba – tiba. Begitu juga dengan Galih dan papanya yang tidak mengerti akan sikap wanita yang mereka sayangi.
Hahahahahha....” ucap nyonya Jasmin dengan di iringi tawa kemenangan.
“ Maksud mama apa?” tanya tuan Maulana dan Galih bersamaan.
“ tentu menang taruhan dong!”
“ Taruhan?” ucap mereka bertiga serentak.
***
“ Lihat mbakyu Nissa, wajahnya terlihat sangat bahagia mendapat seorang menantu yang ia dambakan.” Ucap nyonya Jasmin kepada nyonya Senja yang berada dalam satu meja saat menghadiri peresmian hotel Green Mounth milik Arlan sekaligus acara pertunangan Arlan dengan Naura.
“ Benar Jeng! Jadi iri deh dengan mbak Nissa yang mendapat menantu seperti Naura. Sekarang tinggal menunggu Dennis dan Galih neh yang akan memperkenalkan calon menantu kepada kita.” Imbuh nyonya Senja yang satu pemikiran dengan nyonya Jasmin.
“ benar Jeng! Ohya, aku dengar Naura juga mempunyai seorang adik perempuan yang tak kalah dengan Naura lho.” Ucap nyonya Jasmin.
__ADS_1
“ Maksud Jeng Jasmin gimana? Apa hubungannya dengan adiknya Naura?” tanya nyonya Senja.
“ Kita kan sudah mengenal kepribadian Naura, biasanya kepribadian seorang kakak tidak jauh dengan adiknya. Nah! Aku berharap adiknya Naura bisa menjadi calon menantuku Jeng.” Jelas nyonya Jasmin.
“ Ah, belum tentu Galih dapat meluluhkan adiknya Jeng! Bisa saja Dennis yang beruntung.” Ucap nyonya Senja tak ingin kalah dari nyonya Jasmin.
“ Ok. Begini saja Jeng! Bagaimana kita Taruhan! Siapa yang berhasil mendapatkan adiknya Naura. nah siapa yang menang akan mendapatkan tas yang dia inginkan!” tantang nyonya Jasmin.
“ Ok siapa takut!” terima nyonya Senja.
***
“ Hahahahhaah, besok akan aku tagih tuh hadiahnya! Ah senangnya bisa mendapat keuntungan yang dobel.” Ucap nyonya Jasmin senang.
“ Ah Mama, bisa – bisanya mama menjadikan aku bahan taruhan! Aku juga harus mendapatkan bagianku neh!” ucap Galih memasang wajah tidak terima.
“ Kak Galih?” Naya menyenggol lengan Galih dengan tatapan yang tajam.
“ Kenapa mama membuat taruhan seperti itu sih?” tanya tuan Maulana.
“ Ya habisnya, melihat mbakyu mendapat menantu yang sholeha membuat kami merasa iri. Kami juga ingin mendapat menantu seperti Naura untuk anak bujang yang tak laku – laku ini.” Jelas nyonya Jasmin.
“ Enak saja mama mengataiku bujang yang tak laku – laku. Sekarang ini buktinya aku sudah membawakan menantu buat mama.” Ucap Galih tidak terima.
Melihat situasi di meja makan yang seperti anak kecil membuat Naya merasa lega. Suasana tegang yang sudah ia bayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Ia merasa nasibnya juga akan sama dengan kakaknya yang mendapat calon suami tanpa memandang harta dan latarbelakang keluarga ( itu sih harapan Naya lho!).
“ Ah, kau berharap terlalu tinggi Nay!” ucap Naya dalam hati.
Melihat Naya yang sedari tadi hanya diam, membuat nyonya Jasmin merasa bersalah karena sudah mengabaikannya.
“ Ah, tante minta maaf ya Nay! Sudah sibuk sendiri dari tadi sangking senangnya malah mengabaikanmu.” Sesal nyonya Jasmin.
“ ti...dakk apa – apa tante.”
“ Kau pasti merasa tidak nyamankan!”
“ Tidak tante, Naya hanya merasa takut dan gugup jika kehadiran Naya malah tidak diterima.” Jujur Naya.
“ Kenapa kau bicara seperti itu hah...”
__ADS_1
“ Maaf.”
“ Mama.”