
“ Apa kau senang hari ini?” tanya Arlan setelah mereka keluar dari akuarium Seaworld Blue.
“ Ah senang sekali Mas! Naura bisa pamer neh ke grup, karena tadi banyak juga ngambil fotonya. Hihihi....” jawab Naura senang.
“ Dasar kau ya! Sejak kapan sifat pamer mu itu muncul hah...”
“ sejak kakak melamar Naura.”
“ Ckckckck....” sentil Arlan ke dahi Naura.
“ Auww, sakit tahu mas!” pekik Naura mengusap dahinya.
“ Ayo...hari sudah larut, kita belum makan malam bukan!"
“ Iya Mas, sudah dari kampung tengah ini demon.” Ujar Naura memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
“ Dasar, selain tukang tidur ternyata kau tukang makan.”
“ Biari, kalau perut kenyang pikiran pun tenang....”
“ Motto apaan sih!” cebik Arlan berlalu mendahului Naura menuju parkiran.
“ Eh, tunggu Mas! Main tinggal aja sih!” teriak Naura mengejar Arlan yang sudah berjalan di depan.
“ Kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanya nyonya Jasmin.
“ Maaf tante, saya hanya takut karena keluarga saya hanya orang kampung jadi...”
“ Memangnya kalau dari kampung kenapa? Haah, dasar anak ini, mau bagaimanapun latar belakang keluargamu itu tidak menjadi masalah bagi tante, yang tante nilai untuk pendamping hidup Galih adalah seorang wanita yang memiliki akhlak yang bagus. Kalau masalah harta kami sudah cukup.” Potong nyonya Jasmin.
“ Maaf tante!”
“ Sudahlah Ma! Kapan kita mulai makannya, papa sudah lapar neh.” Ucap tuan Maulana.
“ Astaga, aduh maafkan tante ya Nay! Sangking senangnya tante sampai lupa.” Seru tante Jasmin.
“ Nah! Mari kita makan. Semoga kau menyukai makanannya.” Sambungnya.
“ Ah kenapa gak daritadi sih Ma!” oceh Galih.
“ Iya tante, ini sudah lebih dari cukup. Naya tidak pilih – pilih dalam hal makanan.”
“ Ah baguslah!”
Mereka berempat pun menyantap hidangan makan malam yang sedikit penuh drama.
Naya merasa lega, nyonya Jasmin benar- benar menerima Naya apa adanya tanpa memandang latar belakang keluarga yang di dukung oleh materi.
Naya menyantap makanannya dengan rasa senang tanpa merasa sakit saat menelan makanan yang masuk ke dalam tenggorokannya.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, hari sudah larut. Tuan Maulana dan nyonya Jasmin sudah meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
“ Ah,,, sekarang aku merasa lega. Terima kasih Nay sudah menerima permintaan mama.” Ucap Galih.
“ Kakak benar – benar membuat Naya jantungan tahu! Kenapa kakak tidak memberitahu sebelumnya kalau ingin bertemu dengan orangtua kakak.” Omel Naya.
__ADS_1
“ Aku tahu kau pasti bisa menghadapinya.”
“ Kenapa kakak yakin sekali?”
“ Tentu, itu sudah terbukti saat kau menangis sendirian di kafe dan...”
“ Sudah lah kak! Jangan di bahas lagi.” Potong Naya.
“ Ohya, kenapa kakak bisa kembali lagi?” tanya Naya penasaran.
“ Aku hanya ingin memastikannya saja, saat itu aku sengaja sedikit emosi dan pergi begitu saja. Aku ingin lihat bagaimana reaksimu.” Jelas Galih.
“ Ihh jahat sekali sih pake ngeprank – ngeprank segala.” Kesal Naya menimpuk pundak Galih.
“ Auw.....ternyata pukulanmu cukup kuat juga.” Rintih Galih mengusap pundaknya.
“ Biari.”
“ Terima kasih!”
“ Untuk apa?”
“ Ya untuk segalanya, kau menerima lamaran mama, menerima perasaanku dan satu lagi membuat mama menang dalam taruhan.”
“ Ish apaan sih! Kenapa menang taruhan itu dibawa – bawa sih! Ah tante bisa saja menjadikan aku sebagai objek taruhan.”
“ kau tenang saja, aku akan meminta bagianmu juga.”
“ Ishh apaan sih kak.. ehmm tapi boleh juga tuh... hahhahahaa.”
“ Sudahlah! Ayo kita pulang. Nanti kak Naura keburu sampai kos dan tidak mendapati Naya di sana.” Ajak Naya mengakhiri percakapan mereka.
“ Ayo. Aku gak sabar untuk menyusul Arlan. Haaah.”
“ Naya ingin menyelesaikan kuliah dulu kak! Sama seperti kak Naura.”
“ Ehm baiklah! Ngomong – ngomong kau sudah mendapat tempat untuk magang?”
“ Sudah kak! Lusa Naya akan membuat surat pengajuannya.”
“ Ehm baguslah! Rajin – rajin lah kau belajar agar segera cepat selesai.”
“ Issshhh dasar.... begitu juga dengan kakak! Lebih giatlah bekerja agar cepat mengumpulkan modal. Aku akan meminta yang banyak dan dalam jumlah yang besar.” Tantang Naya.
“ Kau jangan khawatir, dalam dua tahun apapun keinginanmu mudah – mudahan akan aku penuhi!” balas Galih.
“ Ok. Kita lihat saja nanti.”
“ Ehmm....”
Sepanjang perjalanan menuju parkiran mereka tak lepas bersenda gurau tanpa menghiraukan orang – orang di sekitar mereka.
Dari jarak beberapa meter, sepasang insan memperhatikan tingkah Galih dan Naya hingga menuju mobilnya.
Saat Galih membuka pintu depan mobil, terdengar seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
“ Hei bro!” panggil seorang pria dari arah belakang Galih.
Sontak Galih dan Naya mengurungkan niat mereka untuk masuk ke mobil saat seseorang memanggilnya. Secara serentak mereka pun melihat ke asal suara yang tidak asing di teling mereka.
“ Kau?” ucap Galih sedikit terkejut melihat sepasang insan berjalan menghampiri mereka.
“ Sedang apa kalian di sini?” tanya seorang wanita kepada Galih dan Naya.
“ Anuu...kak”
“ Ya pastinya makan dong! Namanya juga restoran Wood Natural.” Potong Galih.
“ Tanpa di beritahu aku juga tahu kalau kalian makan, tapi kenapa penampilanmu seperti ini Nay?” tanya nya yang tak lain adalah kakaknya Naya.
Naura memicingkan mata dan memperhatikan penampilan Naya secara seksama dari ujung kaki hingga ujung hijab.
Naura mengingatkannya saat pertama kalinya ia di make over oleh mbak Aran untuk menghadiri acara yang bersifat formal.
“ Aku melamar Naya!” ucap Galih to the point setelah melihat ekspresi Naya yang terlihat gugup.
“ Apa...?” ucap Naura dan Arlan serentak.
“ Benarkah itu Nay?” tanya Naura yang mendapat anggukan kepala dari Naya.
“ Lalu? Kau menerima lamaran kak Galih?” tanya Naura menginterogasi dan lagi – lagi Naya menganggukan kepalanya.
“ Haaah....benarkah itu? Kenapa selama ini kau tidak pernah cerita pada kakak sih. Bikin kesal saja tahunya kalian sudah menjalin hubungan yang serius.” Omel Naura.
“ Maaf kak! Naya tidak bermaksud menyembunyikannya. Karena Naya takut kalau perasaan Naya tidak pantas untuk kak Galih!” jelas Naya.
“ Jadi, selama ini kau menyembunyikan perasaanmu pada kak Galih? Dasar kau ya! Selama ini kau seperti tidak tertarik pada pria manapun termasuk kak Galih. Di balik sikapmu yang cuek dan jutek, ternyata kau menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya dengan sangat rapi. Aaah..aku seperti sudah gagal menjadi seorang kakak.” Celoteh Naura panjang lebar dengan di iringi isak tangis dan langsung memeluk Naya.
“ Hei! Sudahlah kak! Seperti anak kecil saja. Aku selama ini baik – baik saja kok. kakak saja yang tidak peka.” Cibir Naya.
“ Ah dasar kau...”
“ Selamat ya bro! Kau sudah mendapatkan belahan jiwamu. Dan siap – siaplah kau akan menjadi bucin seperti aku ini. Dan yang paling penting kau akan menjadi adik iparku..” ucap Arlan berjabat tangan dengan Galih dan merekapun juga saling berpelukan.
“ Ohya, kalian sendiri kenapa bisa ada di sini?” tanya Galih.
“ Ya sudah pasti kami makan malam dong! namanya juga restoran Wood Natural.” Jawab Naura.
“ Is dasar tukang plagiat.” Cebik Galih.
“ Kenapa kau tidak bilang akan keluar Nay, katanya mager di kos.” Tanya Naura.
“ Mendadak kak! Jam satu siang tadi, kak Galih tiba – tiba mengajak ketemuan. Karena Naya pikir ketemuan seperti biasa, Naya pun keluar apa adanya.” Jelas Naya.
“ Ooooo.. baiklah ayo kita pulang. Hari sudah semakin larut. Kau Nay! Persiapkan jawabanmu.” Ancam Naura seakan – akan menginterogasi sang penjahat.
“ Baiklah! Tu muka biasa aja kali.” Ujar Naya.
Mereka pun menuju mobil masing – masing.
karena mereka satu tujuan, mobil Arlan dan mobil Galih berjalan beriringan keluar dari parkiran menuju jalan raya yang terlihat masih ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.
__ADS_1