
DASAR PENCURI! SELAMA DUA TAHUN INI KAU TELAH MENCURI SESUATU DARI DALAM DIRIKU YAITU HATIKU.
SEKARANG SAATNYA AKU AKAN MENGAMBILNYA DAN MEMBERIKAN SANKSI SEUMUR HIDUP UNTUK MENEMANIKU SAMPAI AKHIR HAYATKU
NAURA! WILL YOU MARRY ME!
Terpampang jelas sebuah kata – kata yang romantis untuk lamaran ajakan menikah di akhir cuplikan video.
Melihat tulisan yang sangat besar dan jelas membuat Naura membatu di posisinya, anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan seakan – akan lumpuh seketika.
Lampu sorot yang ada dalam ruangan telah menyorot dan mengikuti langkah Arlan perlahan menuju meja Naura.
Sesampai di depan Naura, Arlan berlutut dengan menekuk salah satu lututnya sedangkan kedua tangannya sudah memegang sebuah kotak cincin yang sudah terbuka. Maka terlihat jelas lah sebuah cincin yang bermatakan blue sapphire.
“ Mau kah kau menikah denganku?” ucap Arlan dengan suara yang mantap dan tegas.
Melihat apa yang di lakukan Arlan membuat Naura syok, ia menutup mulutnya yang menganga cukup lebar.
“ Ka...k Arlan!” ucap Naura terbata.
“ Aku bingung, bagaimana izin dari bapak dan emak di kampung?” sambungnya.
Mengerti akan kekhawatiran Naura yang telah menyelimutinya, Arlan memberikan sebuah kode kepada seseorang. Dengan cepat, sebuah lampu menyala dengan terang telah menyoroti sebuah meja yang berada di barisan depan bagian Timur yang memperlihatkan sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang.
Ya, mereka adalah kedua orangtua Naura, Naya dan Nanda yang telah berdiri di balik meja.
Melihat sorotan lampu yang telah menyoroti orang – orang yang sangat berharga bagi Naura, tanpa terasa air mata Naura mengalir dengan sendirinya. Isak tangis yang ia tahan membuat suasana menjadi haru dan tegang.
Tanpa di komandoi, keempat orang tersebut menganggukkan kepalanya menandakan mereka telah merestui dan menyerahkan semua keputusan berada di tangan Naura.
Melihat reaksi mereka yang seperti sudah di rencanakan semakin membuat Naura tidak dapat menahan tangisnya. Ia tidak menyangka mendapat kejutan dan terjebak dalam suasana yang membuat hatinya bergejolak hebat. Selama ini, cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
Naura melihat sekeliling ruangan dan memperhatikan ekspresi para tamu dan keluarga Kusuma yang berwajah tegang.
“ Maaf kak Arlan! Aku tidak bisa menerima sanksi tersebut....”
__ADS_1
Seketika membuat lutut Arlan melemas mendengar penuturan dari Naura, ia mengira rencananya akan berhasil karena Naura juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Arlan menatap wajah Naura dengan lekat, dengan perlahan Arlan ingin berdiri namun terhalang dengan ucapan Naura berikutnya.
“ Tetapi aku akan bersedia dengan sanksi tambahan menemani kak Arlan dalam keadaan apapun baik dalam keadaan sakit mau pun sehat. Aku akan selalu berada di sisi kak Arlan sampai Allah memisahkan kita.” Sambung Naura.
Seketika raut wajah Arlan berubah menjadi cerah setelah di landa badai saat mendengar penjelasan Naura berikutnya. Tanpa di sadari oleh Arlan bibirnya terukir senyuman yang lebar membuat Naura semakin tidak bisa menahan hatinya yang sedang bergejolak hebat. Tanpa membuang waktu Arlan langsung menyematkan cincin yang ia pegang ke jari manis sebelah tangan kanan Naura.
Prok....prok.....prok.......prok..... terdengar suara tepuk tangan yang sangat meriah telah memenuhi isi dalam ruangan tersebut. Tak lama kemudian, lampu yang ada dalam ruangan menyala kembali.
“ Ah, selamat ya Arlan! Akhirnya kau menemukan pencuri hatimu!” ucap Aran menghampiri Naura dan Arlan sembari memeluk adik laki – laki kesayangannya.
“ Selamat juga ya Ra! Akhirnya kau menjadi adik perempuan ku.” Ucap Aran beralih memeluk tubuh mungil Naura.
“ Terima kasih mbak.” Ucap Naura dan Arlan bersamaan dengan wajah yang merona.
“ Selamat ya sayang! Doa Bunda akhirnya di kabulkan oleh Allah.” Ucap nyonya Nissa tak luput memeluk Naura dan Arlan secara bergantian.
Seluruh anggota keluarga Arlan langsung menghampiri meja mereka guna memberikan selamat atas kebahagian di hari yang spesial ini.
“ Selamat ya kak! Rencananya berjalan dengan lancar.” Ucap Naya memeluk kakaknya.
“ Hik...hik...hikkssss....kalian jahat sudah membuat jantung ini hampir meledak.” Ucap Naura dengan isak tangisnya.
“ Cup..cup...cupp.....nanti luntur lho tu make upnya.” Ujar Naya menepuk –nepuk punggung Naura.
“ Emakkkk.......sejak kapan emak dan bapak ada di sini?” tanya Naura langsung menghambur ke pelukan emaknya dengan suara tangis yang semakin kencang.
Emak hanya mengelus dengan lembut punggung anak sulungnya guna menenangkannya.
“ Nak Arlan secara langsung menemui emak dan bapak di kampung untuk menyelesaikan masalahmu dan meminta restu untuk mendekati dan melamarmu Ra!” jelas bapak.
“ Benarkah? Kenapa Naura tidak tahu apa – apa sih!” cebik Naura dengan wajah cemberut.
“ Yeaaah kalau kakak tahu dari awal bukan kejutan namanya...” imbuh Naya.
__ADS_1
“ Jadi, kau juga sudah mengetahuinya Nay! Sejak kapan?” serang Naura.
“ Tiga hari yang lalu. Saat Nanda mengirimkan video rekama kak Arlan yang langsung menyumpal mulut emak – emak di kampung yang sudah menyebarkan fitnah dan dengan jentlenya kak Arlan berbicara langsung dengan bapak dan emak untuk meminta restu.” Jelas Naya.
Naura melirik langsung ke arah Arlan yang di balas dengan sebuah senyuman.
“ Ah! Ini bagaikan mimpi.” Gumam Naura.
“ Auuuuwww, sakit Nay..” teriak Naura saat lengannya di cubit dengan kuat oleh Naya.
“ Hahahahah, kalau sakit berarti ini tidak mimpi dong kak...” ejek Naya puas telah mengerjai Naura.
“ Kau....”
“ Apa ...uekkk.” ucap Naya yang langsung meminta perlindungan dengan emaknya.
“ Sudah, sudah...kalian ini jaga sikap dong!” tegur emak.
“ Maaf Mak!” ucap Naura dan Naya serentak yang di iringi dengan gelak tawa yang lain.
“ Ayo Mbak, kita kembali ke meja depan, saya ingin mengobrol dan lebih mengenal keluarga nak Naura!” ajak nyonya Nissa kepada keluarga bapak.
“ Iya Nyonya!” ucap emak sungkan.
“ Eh kok nyonya sih Mbak! Panggil saja saya dengan panggilan yang lebih santai secara kita kan calon besan gitu.” Protes nyonya Nissa.
“ Maaf! Kalau gitu saya panggil dik Nissa saja. Boleh?” tanya emak ragu.
“ Ah tentu saja dong mbak! Nah kalau begini kan kita mengobrolnya tidak kaku. Mbak jangan merasa sungkan dengan saya ya.” Jelas nyonya Nissa.
“ Baik dik Nissa.”
Kedua keluarga besar itu pun meninggalkan meja Arlan dan Naura yang tertinggal hanya kaum muda – mudanya saja.
Semua para tamu dan rekan – rekan bisnis Arlan silih berganti memberikan ucapan selamat yang kedua kalinya. Mereka memuji dan mengagumi keberanian Arlan yang to the point memperkenalkan calon isterinya di hadapan para pengusaha tanpa mempermasalahkan latarbelakang dari sang wanita.
__ADS_1
Mereka selama ini tidak pernah mendengar kehidupan pribadi keluarga Kusuma yang sangat tertutup dan tidak suka mengumbar – umbar tentang kehidupan pribadi mereka. Bahkan mereka tidak pernah mendengar kehidupan asmara Arlan yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita selama ia menjadi seorang CEO dari perusahaan ayahnya maupun perusahaan miliknya sendiri.