
Tiingg.. sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone Naya.
[ Assalamualaikum! Nay, kakak mau memberitahukan mu kalau malam ini kakak tidak pulang. Karena kakak menjaga siswa kakak yang sedang di opname di rumah sakit. Nanti akan kakak jelaskan semuanya. jadi jangan khawatirkan kakak ya!]
“ Hah dasar, jadi orang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.” Gerutu Naya melanjutkan membaca dan mempelajari buku panduan kuliahnya setelah ia membalas pesan Naura.
[ Walaikumsalam. Iya kak! Kakak hati – hati dan jaga kesehatan juga. Jangan lupa makan dan shalatnya!]
Tok..tok..tok...selang beberapa menit terdengar pintu di ketuk oleh seseorang.
Ceklek....terlihat seorang wanita yang lebih tua dari kakaknya Naura, setelah pintu di buka oleh Naya.
“ Kau adiknya Naura?” tanya wanita yang masih berdiri tegak di depan pintu kamar Naura.
“ Benar kak! Kakak siapa ya?” tanya Naya.
“ Ah, maaf aku Dara yang menempati kamar sebelah. Boleh kakak masuk?”
“ Oh kak Dara adiknya bu Desi ya! Ayo masuk kak.” tanya Naya.
“ Iya benar! ternyata aku cukup terkenal juga ya. Hahhahahaha.” Canda Dara.
“ Naura belum pulang? Maaf ya, baru ini bisa mengabari mu, selama beberapa bulan ini kakak di pindah tugas kan ke cabang jadi tidak tahu dengan situasi dan kondisi di sini.” Jelas Dara.
“ Oh tidak apa – apa kak! Kebetulan kak Naura tidak pulang ini malam.” ucap Naya.
“ Gak pulang lagi? Kenapa?”
“ Lagi? Memangnya sebelumnya kak Naura pernah tidak pulang kak?” tanya Naya terkejut.
“ Ah, itu hanya sekali kejadiannya pun sudah dua tahun yang lalu. Itu pertama kalinya Naura membuat kakak sangat khawatir karena tidak ada kabar mengapa ia tidak pulang.” Tutur Dara.
“ Benarkah? Ah kak Naura kenapa tidak menceritakannya sih.” Kesal Naya.
“ Tapi kau jangan marah dulu Nay, waktu itu ternyata ia ketiduran di dalam mobil Arlan yang sering jalan ma Naura.” jelas Dara.
“ Mobil kak Arlan? Memangnya mereka kemana kak?” tanya Naya.
“ Jadi begini..........”
Dara pun menjelaskan peristiwa dua tahun lalu yang ternyata Naura ketiduran di dalam mobil Arlan yang sudah terparkir di depan kos. Mereka bercerita sambil menyantap roti bakar yang di bawa oleh Dara dengan di temani seteko teh hangat.
“ Selamat Tuan Gading atas pertunangan anda.” Ucap Arlan kepada salah satu rekan bisnisnya yang sedang menggelar pertunangannya dengan anak sesama rekan bisnisnya.
“ Terima kasih tuan Arlan, dan semoga anda menyusul saya. Agar kalau menghadiri acara seperti ini ada yang mendampingi.” Canda Tuan Gading.
“ Anda jangan khawatir, kalau waktunya tiba aku akan mengabari anda.” Ucap Arlan.
__ADS_1
“ Ah baiklah, aku tidak sabar menantikannya.” Seru Gading.
“ Silahkan nikmati pestanya Tuan Arlan.” Tawar Tuan Gading secara hormat kepada Arlan yang ia segani.
“ Terima kasih tuan Gading, semoga acaranya lancar sampai di hari pernikahan kalian.” Kata Arlan memberi ucapan selamat.
“ Terima kasih Tuan Arlan.”
Arlan pun undur diri ke mejanya yang sedikit terletak di sudut ruangan, karena ia tidak menyukai hal – hal yang terlalu ramai.
“ Silahkan di minu tuan!” tawar Axel sambil menyuguhkan segelas minuman.
“ Terima kasih Axel, lalu bagaimana jadwalku untuk esok hari?” tanya Arlan ingin memastikan jadwalnya agar mendapat waktu yang luang.
“ Besok jadwal anda tidak ada yang urgen tuan, hanya menandatangani beberapa dokumen saja.” Jelas Axel.
“ Baiklah, besok aku akan keluar. Jadi kau perintahkan Harry untuk menghandle urusan di kantor.” Titah Arlan
“ Baik tuan.” Jawab Axel.
“ Ini alamat yang akan aku kunjungi, mohon kau periksa alamat ini. Besok jam 08.00 kita berangkat.” Titah Arlan.
“ Baik tuan!” jawab Axel.
“ Halo tuan Arlan, apa kabar!” ucap seorang wanita yang memakai dress selutut berwarna silver dengan balutan mutiara yang memenuhi bagian dada menghampiri Arlan yang sedang duduk sendirian di mejanya.
“ Saya permisi tuan.” Undur Axel menjauhi Arlan yang mendapat anggukan dari Arlan.
“ Syukurlah anda masih mengingat ku tuan Arlan.” Ucap wanita yang sudah duduk di depan Arlan yang memiliki Franda Han Grazel.
“ Tentu saja saya masih mengingat seseorang yang pernah menolong saya.” Tutur Arlan yang terlihat menghormati wanita yang berada di depannya.
“ Ah anda bisa saja. Itu hanya kebetulan saja kok. ohya ngomong – ngomong anda datang sendirian?” tanya Franda.
“ Tidak, saya datang bersama asisten saya.” Ucap Arlan.
“ Ah maksud saya pendamping anda. Kenapa sampai sekarang belum ada pendamping sih!” ucap Franda.
“ Anda tenang saja nona Franda, untuk saat ini saya tidak ingin memberi tahu publik, tunggu kalau dia sudah siap. Baru akan saya umumkan.” Ucap Arlan berharap.
“ Ah benarkah! Saya sudah tidak sabar menantikan kabar tersebut.” Ucap Franda girang.
“ Anda tunggu saja nona Franda.” Ucap Arlan.
“ Lalu anda dengan siapa datang? mana suami anda Nona Franda?” tanya Arlan sambil melirik di sekelilingnya.
“ Ah anda seperti tidak tahu suami saya saja tuan Arlan, dia kalau sudah bertemu dengan rekan – rekan bisnisnya yang sudah lama tidak bertemu pasti bisa melupakan isterinya.” Seru Franda sedikit kesal.
__ADS_1
“ Hem, tuan Grazel memang dari dulu tidak pernah berubah selalu mengambil kesempatan walau pun itu berpeluang kecil.” Ucap Arlan
“ Anda benar, beliau selalu begitu dan tibanya di rumah ia akan selalu membawa sebuah kabar tentang perjanjian kerja sama lagi dengan rekan – rekannya.” Tutur Franda.
“ Kalau sudah jiwa bisnis, pasti tidak akan pernah melewatkan suatu kesempatan dan peluang.” Jelas Arlan.
“ Benar sekali! Makanya dimana pun beliau berada pasti selalu memanfaatkan peluang tersebut.” Ucap Franda.
Franda Han Grazel sudah dianggap oleh Arlan sebagai sosok seorang kakak yang selalu membimbing adiknya jika mengalami kesulitan. Franda merupakan sahabat Aran yang tinggal di Swiss karena suaminya kewarganegaraan Swiss yang merupakan seorang CEO perusahaan dalam bidang Fashion dan kosmetik.
Dalam kerumunan para tamu undangan, sepasang mata telah menangkap kemesraan sepasang sejoli yang sangat terlihat akrab dengan di selingi tawa – tawa renyah di antara kedua mereka.
“ Kak Arlan? Ternyata dia salah satu tamu di pesta ini! Baru kali ini aku melihat ia begitu dekat dengan seorang wanita selain dengan ku. Ia terlihat sangat senang sama seperti saat bersamaku. Ah ternyata aku memang salah paham.” Lirih Naura sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri dan sesak.
Nyuuuuuttttt. “ Kenapa dengan hati ini kenapa terasa sakit dan sesak. Sadarlah Naura, siapa dirimu!” gumam Naura masih melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Tanpa terasa air matanya terjatuh begitu saja.
“ Ah bodoh sekali, kenapa pake keluar segala sih ne air mata. Berhenti dong!” gumam Naura menekan dadanya agar rasa nyerinya segera hilang.
Namun, berkali – kali ia menepuk – nepuk dadanya tetap masih ia rasakan. Melihat temannya hanya berdiri mematung dengan tatapan yang lurus, Icha yang baru selesai melayani tamunya segera menghampiri Naura dan menepuk pundaknya.
“ Ra! Kau baik – baik saja?” tanya Icha.
“ Ah! Maaf Cha. Iya aku baik – baik saja.
Aku..mengagumi pasangan pemeran utama dalam acara ini.” Bohong Naura menutupi wajahnya.
“ Ah! Sykurlah.” Ucap Icha yang melihat arah pandangan Naura yang menangkap sepasang yang sedang bercengkerama dengan sangat akrab.
Sambil mengeleng – gelengkan kepalanya, Icha mengerti kalau Naura sedang berbohong.
“ Istirahat lah Ra! Pekerjaan kita sudah tidak terlalu padat. Setelah beberapa menit kau bisa kembali lagi.” Tawar Icha.
“ Baiklah Cha, aku permisi mau ke toilet sebentar.” Pamit Naura.
“ Iya. Hati – hati.” Ujar Icha.
Melihat Naura keluar dari ruangan melalui pintu belakang, Anis merasa penasaran ia pun menghampiri Icha yang masih berada di posisinya.
“ Naura mau kemana Cha? Apakah dia baik – baik saja?” tanya Anis.
“ Ia hanya ke toilet sebentar.” Jawab Icha.
“ Oh.” Ucap Anis yang mulutnya membentuk huruf O.
“ Ayo Nis, kita bekerja lagi.” Ajak Icha.
“ Ayo...”
__ADS_1