Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 75 Nyuuutttt


__ADS_3

Crasssshhhh..... Naura membasuh wajahnya yang sudah kering akan bekas air mata yang jatuh begitu saja. Dengan menatap bayangan wajahnya di cermin ia pun mulai merasa malu akan dirinya yang sudah lancang.


“ Ah! Ada apa sih dengan diriku? Apa aku pantas dengan rasa ini hah..! sadarlah Naura..kau lihat kan wanita yang berada di sisinya, ia sangat cantik, elegan dan tentunya selevel dengan kak Arlan. Hah...sedangkan kau bukanlah siapa – siapa? Kau kuliah pun karena mendapat beasiswa. Maka syukuri aja yang sudah kau miliki.” Gumam Naura kepada bayangannya sendiri.


Byuuurrrr...berkali – kali Naura membasuh wajahnya dengan air agar air matanya membeku tidak terjatuh lagi.


Setelah ia bisa mengendalikan dirinya, dengan rasa di dada yang ia tekan sekuatnya. Naura pun keluar dari toilet dan kembali ke ruangan ballroom agar segera menyelesaikan pekerjaannya.


Dengan jalan yang sedikit gontai, tanpa di sadarinya Naura menabrak seseorang yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya yang menyebabkan tubuh mungilnya terhuyung ke belakang. Dengan sigap sepasang lengan kekar dapat menahan pinggang Naura agar tubuhnya tidak menyentuh lantai.


Dengan wajah yang terkejut akan kejadian yang secar tiba – tiba seketika Naura tersadar dan melihat wajah pria yang masih menahan tubuhnya dengan lengannya. Dengan bola mata yang membesar Naura segera menyeimbangkan tubuhnya agar ia dapat berdiri tegak.


“ Paakk... Rangga! Maafkan saya!” ucap Naura sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.


“ Kau baik – baik saja?” tanya Rangga mengernyitkan kedua alisnya setelah memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Naura.


“ Kau...” tanya Rangga terputus..


“ Maaf Pak! Saya mohon bapak jangan salah paham, saya hanya bekerja cabutan saja sebagai staf pelayan hotel ini dalam acara pertunangan malam ini.” Jelas Naura karena ia tidak ingin dosen pembimbingnya sekaligus dosen yang selama ia kuliah bekerja padanya sabagai asisten dosen pak Rangga.


Tanpa banyak bicara, Rangga menarik lengan Naura menuju ke suatu tempat. Karena secara tiba – tiba Naura tidak bisa melawan ia pun mengikuti langkah Rangga dari belakang dengan lengan yang masih di pegang oleh Rangga.


Setelah melewati lobi, sepasang mata melihat sosok wanita yang sangat familiar di hatinya. Dengan tangan yang di kepal sangat kuat dan rahang yang mengeras pemilik dari sepasang bola mata tersebut masih mengikuti jejak mereka menuju keluar hotel.


“ Apa yang kau lakukan di sini?” desisnya dengan mata yang sedikit memerah.


Dengan langkah yang terburu – buru ia mengikuti jejak dari kedua sosok yang sangat ia kenal menuju sebuah taman yang berada di luar hotel.


“ Tenangkan lah dirimu!” ucap Rangga kepada Naura yang sudah duduk di bangku taman hotel yang di tata sangat indah dengan banyak di tumbuhi oleh bunga maupun pohon – pohon yang rindang.


“ Maaf pak! Saya baik – baik saja! Saya harus kembali ke dalam.” Ucap Naura beranjak dari duduknya namun lengannya kembali di cekal oleh Rangga.


“ Katakanlah! Jangan kau pendam sendiri.” Ucap Rangga seakan mengerti apa yang dirasakan oleh Naura .

__ADS_1


“ Maksud bapak apa? apa yang harus saya katakan. Saya baik – baik saja. Bapak jangan mengkhawatirkan saya.” Kekeh Naura berusaha menekan semua rasa yang ada di dadanya agar tidak meledak. Yang benar saja ia harus menangis di depan seorang pria yang selama ini tidak begitu dekat dengannya.


“ Jangan kau bohongi perasaanmu!” seru Rangga.


Naura masih terdiam mematung di posisinya, dengan wajah yang menunduk dan pundak yang sedikit bergetar. Rangga meraih kedua pundak Naura dan dengan perlahan Rangga memapah Naura agar kembali duduk di bangku taman.


Tanpa ia duga, suara tangis Naura langsung pecah tanpa bisa ia kontrol.


“ Keluarkanlah semuanya jangan kau tahan sedikitpun. Kosongkan semua rasa yang kau rasakan saat ini.” Ujar Rangga.


Mendengar ucapan Rangga, suar tangis Naura pun semakin menjadi. Saat ini perasaannya sudah tidak bisa lagi ia tahan. Ia ingin semua rasa selama ini keluar dari hatinya tanpa tersisa.


Dengan sabar dan setia Rangga mendengarkan dan menemani Naura meluapkan semua beban yang ada di hatinya. Dengan sedikit memberi tepukan halus di punggungnya agar Naura dapat menenangkan dirinya.


“ Hiks hiks hiks.....saya ingin menghapus semuanya pak! Saya tidak pantas untuk merasakannya!maafkan saya karena sudah serakah tanpa memandang asal saya.....hiks hiks hikssss...” ucap Naura terbata – bata dengan suara yang sesenggukkan.


“ Keluarkan semuanya.” ucap Rangga.


“ Saya sangat bodoh dan tidak tahu diri pak! Kenapa saya membiarkan rasa itu tumbuh subur di hati saya. Padahal saya tahu itu adalah hal yang mustahil terjadi mengingat siapalah diri saya ini...hiks hiks....” ucap Naura sambil terisak – isak.


“ Kau tidak salah, itu adalah hak mu yang tidak bisa di ganggu oleh orang lain.” Kata Rangga menenangkan Naura.


Setelah 30 menit Naura meluapkan rasa yang begitu nyeri dan sesak di hatinya, meskipun sedikit ia sudah dapat menenangkan dirinya.


“ Ah, maafkan saya pak! Sudah seperti anak kecil yang tidak di beri permen.” Ucap Naura sudah seperti semula dengan senyuman yang telah terukir di wajahnya.


“ Tidak masalah! Aku selalu bersedia menjadi tempat luapan mu itu.” Ucap Rangga.


“ Ah bapak bisa saja. Memangnya saya akan menangis untuk yang kedua kalinya. Hah..” kata Naura sedikit kesal.


“ Ya ku harap seperti itu. Awas saja kalau aku melihatmu seperti ini lagi. Cukup ini yang pertama dan terakhir.” Ucap Rangga.


“ Asiiaaap pak! Saya mohon anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi.” Mohon Naura.

__ADS_1


“ Ah baiklah! Saya berjanji.” Ucap Rangga meletakkan tangannya ke bibirnya dengan menggerakkan ibu jari yang menempel dengan jari telunjuk seolah – olah meresleting dan mengunci mulutnya rapat – rapat.


“ Ah bapak bisa aja. Hihi....” ucap Naura terlihat sudah seperti semula.


Drtttt....sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone Naura. Dengan merogoh handphone yang berada di saku rok panjangnya Naura melihat layar handphone.


“ Pesan dari dasar jaelangkung? Mau apa lagi sih?” gumam Naura dengan wajah yang sedikit sendu.


“ Kau baik – baik saja?” tanya Rangga yang sudah melihat warna wajah Naura sedikit berubah.


“ Ah iya pak, saya baik – baik saja.” Ucap Naura bohong. Ia pun membuka pesan tersebut.


[ Kau sudah tidur? Kau tidak sampai lembur kan?]


Dengan sedikit ragu, Naura pun berusaha membalas pesan dari Arlan.


[ Ini mau bersiap – siap untuk tidur kak! Tidak kok jam 15.30 tadi sudah kelar. Jadi bisa pulang lebih cepat.]


Balas Naura yang langsung memasukkan handphonenya ke saku roknya kembali.


Nyuttt...... seketika Arlan memegang dadanya yang terasa nyeri ketika melihat balasan yang dikirim oleh Naura, sementara tangan kanan Arlan menggenggam hanphone nya dengan sangat kuat.


Di sisi taman ia memperhatikan Naura dan Rangga sedang mengobrol tanpa rasa canggung dan dengan berani Rangga mengelus – elus punggung Naura yang hanya di balas senyuman oleh Naura.


“ Anda baik – baik saja Tuan!” tanya Axel yang sedikit mengkhawatirkan keadaan tuannya.


“ Hemm....” dehem Arlan yang segera meninggalkan taman menuju bascampe parkiran hotel.


“ Kau pulang lah dengan taksi. Aku ingin menyetir sendiri.” Titah Arlan ketika sudah berada di balik kemudi.


“ Baik tuan. Saya harap anda selalu berhati – hati.” Ucap Axel mengingatkan tuannya.


Tanpa mengindahkan ucapan Axel, Arlan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi untuk membelah jalan raya yang sedikit lengang karena hari sudah sangat larut, jarum jam yang berada di pergelangan tangan Arlan sudah menunjukkan ke angka 01.00 dini hari.

__ADS_1


__ADS_2