
"Kak Arlan... maaf aku tidak sengaja.” Ucap Abel terbata, ia begitu gugup melihat tatapan Arlan yang dingin tanpa ada berniat membantu Abel. Tanpa rasa bersalah, Arlan pergi melewati Abel yang masih terduduk begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Setelah jauh, Abel dengan perlahan berdiri sendiri dan berjalan dengan tertatih sambil memegang pinggangnya. ‘ Is memang dasar manusia es tanpa rasa bukannya di bantui kek, malah diam dan pergi begitu saja. Dia kan salah juga jalan kok gak lihat – lihat. Auw pinggangku sakit juga.’ Gumam Abel kesal menuju ke tenda.
“ Kenapa jalanmu seperti nenek ku yang sedang kena encok?” tanya Andreal yang masih rebahan sambil memainkan ponselnya. Ketika melihat Abel datang ke arahnya ia langsung bangun dan duduk.
“ Ini gara- gara kak Arlan. Aku tidak sengaja menabraknya waktu mau kemari. Dan bugh aku yang terpental. Bukannya bantui eh malah diam melihatku dan langsung pergi begitu saja. Is kesal banget tapi untung ganteng malah gak jadi marah deh...” Jelas Abel sambil nyengir kuda.
“ Kak Arlan, ngapai dia ada di sekitar sini?” tanya Andreal.
“ Au ah,, aku mau rebahan di dalam tenda. Ohya Al, Naura mana?” kata Abel hendak berjalan masuk ke tenda.
“ Katanya mau shalat gitu.”
“ Oh... yauda aku tinggal ya.”
Andreal hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang sulit untuk diartikan.
‘ Ehm, ternyata dugaanku benar, kau tertarik dengan Naura ya. Mari kita lihat bagaimana rasanya dikerjai. Akhirnya datang juga kesempatan ini untuk bisa mengerjaimu kak Arlan.’ Guma Andreal sambil tersenyum senang dan puas.
“ Ehm.... hati-hati jangan senyum-senyum sendirian. Kemarin ada orang yang seperti ini kerasukan jin lho.” Kata Naura melihat Andrea yang senyum – senyum sendiri.
“ Ah,,, gak kreatif, bisanya plagiat perkataan orang. Lagian mana ada jin yang mau masuk ke tubuh orang tampan sepertiku ini. Sebelum dia masuk sudah klepek – klepek duluan melihat pesona tampanku.” Ucap Andreal penuh dengan percaya diri.
“ Is narsis banget deh, jangan terlalu tinggi pedenya tu.”
“ Emang kenyataan kan”
“ Terserahlah. Ngomong – ngomong apa yang membuatmu bisa sampai tersenyum begitu. Baru kali ini aku melihatmu tersenyum.”
“ Kok baru ini sih, bukannya setiap bertemu denganmu aku selalu tersenyum ya.”
“ Masa sih”
“ Jadi kau tidak pernah melihatku tersenyum bila di dekatmu?”
“ Ehm,,, ya melihat dong kau selalu tersenyum kok tapi senyum yang mengesalkan. Dan kali ini senyumanmu itu seperti orang yang kerasukan jin.”
“ Kenapa kau melihatnya seperti itu, hanya kau yang mengatakan senyumanku jelek. Asal kau tahu Ra, semua gadis bahkan sampai klepek – klepek melihat senyumanku.”
" Ohya, tapi sayangnya aku tidak termasuk dari gadis – gadis yang pernah kau temui.” Ucap Naura
“ Baiklah, aku akan membuatmu mengakuinya nanti.” Kata Andreal percaya diri. Pasalnya selama ini belum pernah ada gadis yang menolak pesonanya. Ia cukup tertarik dengan sikap Naura yang ramah tetapi memiliki tameng yang kuat dalam bergaul. Ia menilai Naura merupakan gadis yang unik dan langka.
__ADS_1
“ Ya coba saja. Ohya Al, tadi Abel kenapa tuh jalannya seperti kakekku yang kena encok.” Tanya Naura
“ Oh, katanya tadi waktu menuju kemari ia tidak sengaja menabrak kak Arlan dan ia langsung terpental deh.” Jawab Andreal
“ Kak Arlan? Kenapa dia ada di sini?” kata Naura
“ Kau kenal?”
“ Eh, iya. Eh tidak...kan kak Arlan cukup populer di kalangan anak – anak.” Kata Naura gugup
“ Oh... aku pikir kau mengenalnya.”
“ Iya, heheheehe”
“ Baiklah Ra, sampai jumpa nanti malam. Aku mau balik ke tenda” pamit Andreal
“ Ok. Hati – hati jangan senyum - senyum sendirian.”
“ Kan ada kau Ra.”
“ Is apaan sih Al Sudah sana pergi.” Usir Naura
Andreal pun pergi meninggalkan tenda Naura menuju tendanya.
“ Selamat malam adik – adik mahasiswa, hari ini kita akan melaksanakan kegiatan ospek selanjutnya yang semester kali ini diadakan di alam terbuka. Nah untuk acara pembukaannya kita akan menyalakan api unggun. Yang akan dilanjutkan kegiatan bebas bagi mahasiswa yang ingin menyumbangkan suaranya untuk bernyanyi dan menari bersama.” Ucap Galih dalam rangka membuka kegiatan api unggun.
Semua mahasiswa berkumpul mengelilingi api unggun yang cukup besar dan tinggi. Dengan suara yang lantang dan bersamaan mereka menghitung mundur dalam menyalakan api unggun yang dipimpin oleh Arlan, Galih dan Dennis.
Tiga, dua, satu.... byaaaarrrrrr dalam sekejap api langsung menjalar ke seluruh kayu yang disusun menyerupai piramida. Suasana malam di alam terbuka menjadi sedikit terang dan hangat. Semua terlihat menikmati acara api unggun ini.
Setelah api unggun menyala, para mahasiswa baru akan menampilkan atraksi – atraksi dari tim mereka masing – masing. Ada yang ngedance, grup vokal, sulap dan yang lainnya. Semua mahasiswa menikmati pertunjukan tiap pertunjukan dari masing – masing tim.
Sementara di lain sisi Arlan selalu menatap Naura yang berada di depannya. Meskipun menahan kesal Arlan masih tetap bisa melihat Naura yang sedang berada dalam satu timnya. Dan posisi duduk Naura bersampingan dengan Andreal. Hal ini menjadi kesempatan bagi Andreal untuk mengerjai Arlan. Pasalnya ia juga memperhatikan Arlan yang sedang menatap diam – diam Naura dari kejauhan.
“ Pakai ini Ra, pasti kau kedinginan kan!” Kata Andreal sambil memasangkan jaketnya ke tubuh Naura
“ Apa yang kau lakukan Al, aku sudah memakai jaket kok. Kau sendiri bagaimana? Jangan terlalu memaksakan diri.” Ucap Naura berusaha menolak jaket pemberian Andreal
“ Sudahlah, pakai saja sekalian aku titip jaket ku.” Bujuk Andreal. Ia sengaja memberikan perhatian kepada Naura agar membuat Arlan semakin kesal.
“ Memangnya kau mau kemana?” tanya Naura
__ADS_1
“ Aku mau ke belakang sebentar ingin buang air.” Bisik Andreal ke Naura
“ Ehm, pergilah.”
Andreal pergi meninggalkan acara api unggun menuju tendanya. Melihat Andreal pergi, secara diam – diam Arlan juga pergi keluar dari formasi. Ia mencari keberadaan Andreal.
“ Ternyata kau belum selesai bermain – main ya Al.” Ucap Arlan menghampiri Andreal di tendanya.
“ Hai kak Arlan, bukannya menyapaku malah ketus begitu. Kau tetap tidak berubah ya kak” Kata Andreal
“ Sudahlah, saatnya kau menjadi dewasa dan lebih serius lagi untuk menjalankan rumah sakit paman. Jangan kau buang – buang waktumu lagi untuk bermain – main .”
“ Aku sudah tidak bermain – main lagi lho kak sejak kejadian tempo hari. Makanya aku sekarang memilih kuliah di sini daripada di luar negeri. Dan kakak jangan kwatirkan aku, aku pasti akan meneruskan rumah sakit Ayah kok.”
“ Baiklah, kau buktikan ucapanmu itu. Dan satu lagi jika aku melihatmu bermain – main lagi, kali ini aku yang akan turun tangan.” Kata Arlan
“ Maksud kakak gimana? Aku mempermainkan siapa? Owh, apa kakak kenal gadis yang memakai hijab dalam satu timku?”
“ Apa hubungannya denganku?”
“ Yah, karena kupikir kakak memperingatiku karena aku sedang mendekatinya.”
"Itu bukan urusanku kau mau dekat dengan siapa yang terpenting kau jangan mempermainkan perasaan seorang wanita lagi terlebih wanita yang baik – baik.”
“ Kakak tenang saja, berkat kakak aku sudah insyaf dan aku memang serius ingin mendekatinya.”
“ Ka..u”
“ Kenapa kakak terlihat kesal begitu, atau kakak tertarik dengannya juga?” Kata Andreal yang sengaja memancing amarah Arlan.
“ Sudah lah kak, jangan di pungkiri aku tahu kakak tertarik dengan Naura kan? Aku sudah mengenal sifat kakak. Melihat sikap kakak yang begitu santai bila bersama Naura itu sudah membuktikan bahwa kakak ada perasaan padanya.” Oceh Andreal yang tersenyum melihat ekspresi wajah Arlan
Meskipun wajah Arlan terlihat kesal, ia berusaha menutupinya agar tidak terlihat oleh Andreal.
“ Baiklah kak, terima kasih sudah menyapaku. Setelah kegiatan mos ini selesai aku akan berkunjung menemui tante dan om.” Ucap Andreal berlalu begitu saja meninggalkan Arlan menuju acara api unggun.
“ Dan satu lagi kak, jika ego kakak masih tinggi siap – siap saja kakak kecewa. Aku akan bergerak dengan cepat.” Timpal Andreal sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya.
Melihat Andreal pergi begitu saja, semakin membuat Arlan kesal dan menghempaskan tangannya ke udara.
“ Arghhhhh.”
Arlan pun meninggalkan tenda Andreal dengan suasana hati yang sangat dongkol. Baru kali ini ia serius meladeni tingkah Andreal apalagi berurusan dengan seorang wanita. Ia merasa hatinya tidak rela dan terbakar jika Andreal mendekati Naura entah itu hanya sekedar untuk bermain maupun serius.
‘ Ah sudahlah lama – lama aku bisa gila.’ Gumam Arlan
__ADS_1
Baru beberapa meter berjalan ia melihat seseorang berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya. Dengan menajamkan pandangannya ia memperhatikan sosok tersebut. Dan setelah tahu sosok tersebut berjalan ke arah tenda yang sudah ia hapal, Arlan langsung mengetahui sosok siapa itu. Tanpa berpikir panjang Arlan mengikuti sosok tersebut menuju tenda.