
“Ah akhirnya libur semester datang juga ya Ra! Hari ini kita nonton yuk, kita ajak Nadia.” ajak Abel sambil meregangkan otot – ototnya saat kelas terakhir mereka telah selesai.
“ Baiklah Bel, hitung – hitung kita refreshkan neh otak agar tak beku.” Ucap Naura.
“ Okay, let’s go.” Teriak Abel semangat.
Mereka pun, berjalan menuju gedung fakultas Nadia yang berada di sebelah gedung fakultas mereka. karena hari ini hari terakhir kuliah, kelas mereka hanya satu dan berakhir dengan cepat. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00, merasa masih banyak waktu mereka pun akan menghabiskan untuk menonton sebelum waktu kerja mereka dimulai.
“ Halo Nad, kelas mu uda selesai belum?” tanya Abel melalui handphonenya.
“ Sebentar lagi Bel, paling 15 menit lagi selesai. Kenapa Bel?” jawab Nadia.
“ Kita mau nonton, kau mau ikut kan? Kebetulan kelas kami sudah selesai.” Jawab Abel.
“ Ok. Tunggu aku ya.” Ucap Nadia.
“ Baiklah, kami tunggu di taman depan ya.” Kata Abel.
“ Ok.” Jawab Nadia.
Telepon mereka pun terputus, Naura dan Abel menunggu Nadia di taman depan fakultas Seni. Mereka memilih bangku sedikit di ujung yang di bawah pohon rindang.
“ Kau jadi pulang kampung Ra!” tanya Abel ketika bokongnya telah memenuhi bangku taman.
“ Jadi, tapi belum tahu kapan. Karena aku kan belum berbicara dengan kak Nizam, apakah aku boleh izin cuti selama tiga hari. Kangen juga ma keluarga di kampung selama 7 bulan gak jumpa.” Ucap Naura.
“ Nanti biar ku bantu meminta izin dengan kak Nizam. Lagian cuti mu kan belum pernah kau pakai selain cuti waktu kita masuk kuliah pertama.” Ucap Abel
“ Terima kasih ya Bel. Kau pengertian sekali.” Kata Naura
“ Gak masalah kali, kau minta cuti kan untuk bertemu dengan keluargamu bukan untuk yang tidak – tidak.” Ucap Abel
“ Ah, so sweet banget sih, beruntung sekali aku bertemu dengan mu Bel.” Teriak Naura sambil memeluk Abel dari samping.
“ Ah sudah Ra, lebay deh.”ucap Abel yang tidak keberatan di peluk oleh Naura.
Drrrtttt....drrttttt.....drtttttt, handphone Naura bergetar panjang yang menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan segera ia mengambil handphonenya dari tas dan terlihat nama Dosen Killer yang terter di layar.
Dengan cepat Naura langsung mengangkat panggilan masuknya agar ia tidak kena marah oleh sang dosen.
__ADS_1
“ Halo pak! Ada yang bisa saya bantu?” kata Naura setelah ia menggeser tanda hijau di layar handphonenya.
“ Selama libur semester ini, kerjakan nilai mahasiswa di kelas yang saya pegang. Nanti filenya akan saya kirim sekaligus uang lembur mu akan saya transfer di muka agar kau tidak lari.” Ucap Rangga to the point.
“ Baik pak!” ucap Naura yang langsung panggilan di akhiri secara sepihak.
“ Ah dasar dosen reseh, kenapa pula timing nya gak tepat sih.” Omel Naura.
“ Kenapa Ra! Kok tiba – tiba tu muka kayak jerut purut?” tanya Abel.
“ Ah, dosen reseh tu memberi ku tugas mengerjakan nilai mahasiswanya.” Ucap Naura
yang berbarengan dengan getaran dari handphonenya. Beberapa pesan telah tertera di layar dengan segera Naura membuka pesan dari Rangga satu persatu.
“ Ah data – data mahasiswanya dan format pengisian nilai.”gumam Naura membuka pesan pertama. Kemudian dilanjutkan dengan pesan berikutnya.
Dengan mata yang membelalak, dan wajah yang terkejut Naura membuka dan mengeja satu persatu kata seperti anak TK yang masih mengenal huruf. Dengan penuh seksama Naura membaca nominal yang tertera pada pesan dari Rangga.
“ Li..maa... juta ..rupiah” eja Naura.
“ Apa sih Ra! Wajahmu seperti mendapat nilai E saja sih.” Ucap Abel langsung menyambar handphone yang masih di genggaman Naura.
“ Whaaa.....t lima juta rupiah! Transferan uang apa neh Ra!” tanya Abel juga terkejut melihat nominal yang tertera di layar handphone Naura.
“ Jadi, kau tidak jadi pulang kampung?” tanya Abel.
“ Yah, mau gimana lagi Bel? Ini sudah menjadi tanggungjawabku. Untung ada uang lemburnya lumayan gede Bel. Jadi gak terlalu kecewa deh.” Ucap Naura
“ Yah sudah Ra! Jika kau butuh bantuan atau butuh hiburan kau bisa menghubungi ku meskipun aku masih berada di pulau kapuk.” Kata Abel cengengesan.
Merasa belum yakin dengan angka nominal yang tertera, Naura mengirim pesan kepada Rangga untuk memastikannya kembali.
[ Selamat siang pak! Saya mau tanya tentang uang transferan yang baru saja bapak kirim! Apa bapak tidak salah mengirim?]
Drrtt....tidak perlu menunggu lama, Naura mendapat balasan dari Rangga.
[ kenapa? Kurang?]
[ Tidak pak! Malah bagi saya itu terlalu banyak pak! Padahal saya hanya mengerjakan tiga kelas bapak saja]
__ADS_1
[ Itu tidak masalah buat saya]
[ Baiklah kalau begitu pak! Saya ucapkan terima kasih banyak pak! Selamat siang pak!]
Ketik Naura mengakhiri pesannya kepada Rangga. Merasa uang itu memang miliknya, maka Naura tidak sungkan lagi untuk memakainya. Ia merasa senang karena ia bisa menabung dalam jumlah yang cukup banyak.
‘ Alhamdulillah ya Allah atas rezeki Mu hari ini.’ Do’a Naura dalam hati.
“ Baiklah, karena hari ini Naura Eka Febriana mendapat rezeki nomplok, akan saya traktir menonton Abel dan Nadia yang merupakan sohib terhebatku.” Ucap Naura lebay.
“ Ish lebay deh......” ucap Abel.
“ Hai guys..... Ayo kita let’s go...” ucap Nadia bersemangat yang tiba – tiba nongol.
“ Ayo..........” Balas Naura dan Abel bersamaan.
Mereka bertiga pun langsung beranjak meninggalkan taman fakultas Seni menuju parkiran. Mereka bertiga pun memasuki mobil Nadia berwarna merah melesat laju menuju Mall terbesar di kota ini.
“ Aaaahhhhh, akhirnya libur telah tiba hore..hore...horeee........” ucap Nadia sambil dilagukan sesampainya di lantai tiga di salah satu Mall terbesar di kota ini.
“ Apa rencana kalian guys.” Sambungnya.
“ Tentu saja aku ingin berlibur untuk merefesh kan otak dan raga ini.” Ucap Abel
“ Terus kau sendiri apa rencana Nad.” Tanya Abel
“ Aku akan berkunjung ke rumah nenek yang ada di Luar Negeri.” Ucap Nadia.
“ Wah, senangnya bisa pergi berlibur ke luar negeri.” Seru Abel
“ Haahhh, semoga kalian bisa menikmati liburan kalian guys.” Ucap Naura.
“ Lha kau kenapa Ra! Kenapa berkata begitu?” tanya Nadia merasa heran melihat nada Naura sedih.
“ Ehm....liburan kali ini aku dapat tugas dari pak Rangga untuk mengerjakan nilai – nilai mahasiswanya.” Ucap Naura dengan wajah sedih yang dibuat – buat.
“ Yah,, sayang sekali Ra! Tetap semangat ya Ra! Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan – sungkan hubungi aku ya.” Ucap Nadia.
“ Terima kasih Nad, kalian benar – benar sahabat terbaikku. Ok lah, kali ini aku yang akan mentraktir kalian nonton. Kalian tunggu di sini ya, biar aku beli tiket dan cemilannya.
__ADS_1
“ Ok.” Ucap Abel dan Nadia bersamaan.
Naura pun pergi menuju tempat pembelian tiket lalu menuju stand yang menjual popcorn dan minuman ringan . karena Naura tidak menyukai minuman bersoda karena kurang baik bagi kesehatan Naura pun membeli jus sebagai minuman mereka.