Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 61 Menagih Janji


__ADS_3

“ Ah, akhirnya semua kelar ya Ra! Besok kita sudah langsung magang di sekolah ini!” Hela Hani sambil menjatuhkan bokongnya di bangku taman sekolah.


“ Iya Han, untung saja acaranya tidak berbelit – belit.” Ucap Naura sambil meneguk minuman mineralnya.


“ Kau lihat kan pak Arlan, benar – benar sangat tampan dan berkharisma jika bertemu langsung. Tapi aku heran ya, kenapa beliau melihat ke arah kita saja sih. Apalagi dengan wajah yang tersenyum alami begitu. Padahal ni ya, beliau memiliki wajah yang kaku, dingin dan datar terhadap orang lain. Pokoknya paket lengkap deh.” Seru Hani sambil mengerutkan dahinya yang berpikir keras.


“ Ah sudahlah Han, mungkin saja karena penyambutan mahasiswa magang dan perkenalan pemilik baru dari yayasan ini. Jangan baper gitu deh!” ucap Naura meyakinkan Hani agar tidak mencurigai Naura.


“ Ehm mungkin kau benar Ra! Ohya, aku pulang duluan ya Ra! Hari aku ada janji!” pamit Hani beranjak dari tempat duduknya.


“ Iya, duluan saja. Aku ingin 10 menit lagi.” Ucap Naura.


“ Dadah Ra! Assalamualaikum?” ucap Hani sambil melambaikan tangannya.


“ Walaikum salam” balas Naura dengan lambaian tangan.


“ Ah, kenapa pikiran itu muncul lagi sih! Kau benar – benar sudah tidak tahu diri.” Keluh Naura sambil memukul – mukul kepalanya.


“ Siapa yang tidak tahu diri.” Ucap seorang pria dari belakang dan tanpa izin langsung menduduki bangku kosong yang ada disebelah Naura.


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Naura semakin terkejut dan gugup melihat sosok yang sudah berada di sampingnya.


“ Kak Arlan!” ucap Naura spontan dengan wajah yang terkejut.


“ Apa kabar!” tanya Arlan


“ Alhamdulillah baik kak!” jawab Naura gugup.


“ Selamat ya kau berhasil sampai tahap ini!” ucap Arlan memberi selamat. Ekor matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda berwarna biru yang melingkar di pergelangan tangan kanan Naura. Dengan wajah yang tersenyum Arlan terlihat senang melihat benda tersebut di pakai oleh Naura.


Melihat arah pandang Arlan menuju tangannya, membuat Naura spontan menutupi pergelangan tangannya.


“ Terima kasih kau sudah menjaganya dengan baik.” Ucap Arlan.


“ Ah, kenapa kakak yang berterima kasih. Seharusnya aku yang berterima kasih kak sudah memberikan gelang ini. Ah ya, maaf terlambat mengucapkannya.” Kata Naura menyesal baru ini ia mengucapkan terima kasih atas pemberian gelang dari Arlan.

__ADS_1


“ Tidak masalah.” Ucap Arlan santai.


“ Kakak sendiri, gimana kabar kakak? Apakah study S2 kakak sudah selesai?” tanya Naura mencoba mencairkan suasana.


“ Ya berkatmu, Aku dapat menyelesaikannya dengan baik dan cepat. Dan sekarang aku akan menetap di sini lagi.” Kata Arlan.


“ Hah, kenapa berkat aku kak?” tanya Naura tidak paham.


“ Yah, pokoknya begitulah. Terima kasih!” seru Arlan.


“ Ish, kakak jadi semakin aneh deh katanya kuliah di Luar Negeri kenapa dari tadi mengucapkan terima kasih melulu sih. Memangnya apa yang sudah aku perbuat kak. Itu semua kan berkat diri kakak yang bersungguh – sungguh melaksanakannya.” Jelas Naura panjang lebar dengan wajah polosnya.


“ Hahahaaaahha, kau benar – benar ya.” Ucap Arlan sambil mengelus hijab Naura yang menutupi kepalanya.


“ Is apaan sih kak, kenapa sampai tertawa seperti itu? Apa yang lucu sih.” Kata Naura merasakan ketulusan Arlan.


Melihat wajah yang sangat ia nantikan, membuat Arlan tersenyum menatap wajah Naura yang sontak membuat wajah Naura memerah dan membuatnya menjadi salah tingkah.


“ Kenapa kakak melihatku seperti itu?” tanya Naura semakin gugup.


“ Janji? Janji apa kak?” tanya Naura bingung.


“ Kau akan mentraktirku makan dengan memakai gaji pertama mu kan?” ucap Arlan mengingatkan kembali akan janji yang pernah diucapkan Naura dua tahun yang lalu.


“ Astaghfirallahalazim... ya Allah kak! Aku benar – benar lupa akan janji itu. Untung saja kakak menagihnya kalau tidak....” belum sempat Naura melanjutkan ucapannya, Arlan langsung memotongnya.


“ Kalau tidak kenapa?” tanya Arlan.


“ Ya tentu saja akan menjadi hutangku seumur hidup kak, karena janji itu adalah sebuah hutang.” Jelas Naura.


“ Maka bayarlah hutangmu itu?” tagih Arlan.


“ Iya tentu saja kak, hutang memang harus dibayar, aku gak mau lho hutang tersebut akan menghambat jalanku di akhirat nanti.” Ucap Naura memberikan ceramahnya.


“Kau terlalu jauh.” Seru Arlan.

__ADS_1


“ Ish, biari.” Balas Naura.


“ Minggu ini, kau harus mentraktirku apa yang aku minta.” Kata Arlan


“ Memangnya kakak ingin makan apa? Meskipun sekarang tabunganku cukup banyak tapi tetap saja tidak bisa menembus restoran bintang 5.” Ucap Naura memelas.


“ Kau tenang saja. Aku hanya minta kau dapat menebus waktu yang sudah kujalani selama dua tahun yang abu – abu menjadi satu hari yang berwarna.” Jelas Arlan.


“ Ish permintaan macam apa itu? Bukankah kakak minta untuk ditraktir makan?” ucap Naura sama sekali bingung tidak mengerti apa yang di ingini oleh Arlan.


“ Kau harus mencarinya, kalau tidak sesuai aku tidak akan ikhlas menerima hutang mu.” Ancam Arlan.


“ Ish apaan sih kak! Kenapa kakak malah menakut – nakuti ku sih? Tinggal bilang saja kok repot sih.” Ucap Naura kesal.


“ Itu urusanmu. Sampai jumpa hari sabtu.” Ucap Arlan sambil beranjak pergi begitu saja meninggalkan Naura.


“ Lho kak! Kenapa pergi begitu saja sih tanpa bilang apa – apa. memangnya aku dukun apa bisa menebak isi kepala kakak.” Ucap Naura kesal sambil bersungut – sungut melihat tingkah Arlan yang masih saja sama.


“ Memang dasar Jaelangkung.” Gumam Naura.


Mendengar ocehan – ocehan Naura, Arlan hanya bisa melambaikan tangannya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh dan dengan senyuman yang terukir puas karena sudah mengerjai Naura.


Sementara Naura yang masih memasang wajah juteknya dengan dahi yang sudah berkerut seperti jeruk purut terus berpikir keras menebak – nebak apa yang di ingini oleh Arlan.


“ Ah.... ribet amat sih, tinggal makan aja kok di persulit sih. Dasar orang kaya, seleranya aneh – aneh.” Omel Naura masih terus berpikir.


“ Ah sudahlah daripada stres sendiri, mending pulang dan ajak aja si Naya agar ia juga membantu berpikir dan bisa stres sama – sama. Hahahhahahaha..” ucap Naura sambil tertawa membayangkan wajah Naya yang sedang kusut seperti benang.


Ia pun langsung menutup mulutnya dan melihat keadaan di sekitar taman.


“ Hah untungnya mereka cuek, jadi kan mereka tidak melihat aku yang tertawa sendirian. Mereka akan menganggap aku mahasiswa magang yang stres. Hihihi....pulang ah...” ucap Naura sambil bergegas pulang.


Naura pun berjalan meninggalkan taman sekolah menuju parkiran motornya. Dengan segera Naura menstater motornya dan melajukannya menuju pintu gerbang. Di sepanjang jalan, Naura tak henti – hentinya berpikir keras bagaimana caranya ia dapat membayar janjinya.


“ Ah, kak Arlan sekarang sudah menjadi seorang CEO, dan ia bilang selama dua tahun ini hari – harinya terasa abu – abu. Ia ingin hari sabtu ini menjadi berwarna untuk menggantikan harinya yang kelam tersebut. Ah, ya! Itu dia.... kak Arlan pasti butuh refreshing untuk menghibur dirinya yang sudah penat.” Ucap Naura sambil mengangguk – anggukan kepalanya.

__ADS_1


“ Iya itu dia, mungkin tempat itu akan cocok untuk menghibur diri yang sudah penat.” Imbuh Naura sambil tertawa senang sudah mendapat jawaban dari teka – teki Arlan. Ia pun semakin semangat menambah kecepatan motornya agar lebih cepat sampai ke kos tersayangnya.


__ADS_2