
“ Benarkah sekarang Naya sudah di terima di kampus yang sama dengan Naura?” tanya Bude Yati yang selalu kepo dengan urusan orang lain.
“ Iya, aku dengar begitu mbak yu. Dan sekarang dia sudah pergi ke kota dan tinggal satu kos dengan Naura.” jelas Warni yang selalu berusaha memasang antenanya agar mendapatkan gosip – gosip sebanyak mungkin.
“ Ah dasar sok sekali jadi orang, untuk makan saja pas – pasan belagu amat mengkuliahkan anaknya sampai ke kota.” Cibir Bude Yati dengan bibirnya yang sedikit maju.
“ Mbak yu benar, atau mungkin si Naura kerja sampingan seperti yang dikatakan oleh Tari. Makanya ia bisa membantu adiknya kuliah.” Ucap Warni mendukung pendapat Bude Yati.
“ Ah memang dasar ya, entahpun di sana mereka tidak kuliah.” Timpal Bude Yati.
“ Benar tu mbak, ah lebih baik jadi anak ku gak sekolah pun yang penting kerjanya halal.” Seru Warni.
“ Kau benar War, lebih baik anak – anak di kampung ini tidak ada yang sekolah sampai tinggi. Biar saja mereka kerja berladang daripada sok kerja di kota hanya menjadi simpanan laki – laki gatal.” Cibir Bude Yati.
“ Mbak bisa saja,” dukung Warni.
“ Hahahahahahahhaha..”
Mereka pun tertawa dengan serentak setelah puas mengghibahi orang lain.
Melihat keseruan Bude Yati dan Warni yang terlihat tertawa lepas di teras rumah Bude Yati, membuat dua orang emak – emak lewat jadi penasaran dan menghampiri mereka.
Setelah bertambahnya dua personil pengghibah bergabung dengan mereka, keseruan mereka terus semakin menjadi.
Mereka dengan tekun mendengarkan cerita dari Bude Yati yang di iyakan oleh personel lainnya.
“ Apa sih kak, kok teriak gitu?” tanya Naya yang merasa terganggu oleh suara berisik dari Naura.
Ia pun menghampiri kakaknya dan ikutan juga untuk melihat dan membongkar isi paper bag yang masih berada di tangan Naura.
“ Inikan buku dari toko buku yang baru dibuka itu kak? Naya sempat dengar juga hari ini adalah acara grand opening toko buku Semesta yang sangat bergengsi di kota ini?” timpal Naya juga terkejut.
“ Benarkah! Wah kakak benar – benar gak tahu Nay, tentang toko buku itu. Tapi kau lihat buku – buku ini? Buku ini benar – benar hebat dan sangat sesuai dengan mata kuliah yang sedang kakak jalani sekarang. Apalagi sangat bagus untuk referensi bagi skripsi kakak.” Ucap Naura senang.
“ Ah kakak beruntung bisa menghadiri acara tersebut.” Kata Naya sedih.
“ Kau jangan salah paham Nay, sebenarnya kakak tidak pergi ke sana. Ini pasti perbuatan dari kak Arlan. Tapi kapan ia menyiapkan semua ini?” tanya Naura bingung.
Sementara Naya tidak mendengarkan ocehan – ocehan kakaknya ia lebih tertarik untuk membongkar semua buku – buku yang ada di dalam paper bag. Dengan wajah yang berbinar bak menemukan sebuah harta karun, Naya membaca judul buku – buku yang berjumlah 10 buah.
Matanya langsung bersinar menemukan sebuah buku mengenai jurusan kuliah yang sedang di ampu oleh Naya. Buku yang berjudul Tahap Pemula Bagi Calon Desainer Baju.
“ Kak, buku – buku ini sangat hebat semua. Boleh kah buku ini untuk ku?” pinta Naya dengan memasang wajah memelas sambil menunjukkan buku yang ia inginkan.
__ADS_1
“ Kalau itu ambil saja Nay, buat kakak pun tidak nyambung. Kakak rasa kak Arlan juga memikirkan dirimu.”
“ Iya kakak benar, dan semua buku ini benar – benar bagus. Pastinya harga – harga buku di toko tersebut pastilah cukup buat mengoyak kantong ini sambil menjerit kesakitan untuk tidak di keluarkan.”
“ Aneh, kenapa kak Arlan bisa mendapatkan semua buku ini? Ah, memang dasar jaelangkung. Benar – benar tidak bisa di tebak.” Oceh Naura sambil membongkar dan menyusun buku – buku dari Arlan.
“ Ya elah kak, kakak gimana sih masalah ini kan sangat mudah bagi kak Arlan siapa tahu ia menghubungi temannya untuk membelikan buku yang ia minta. Gitu aja terlalu rumit dalam berpikir.” Jelas Naya sedikit kesal melihat tingkah kakaknya yang tidak peka sama sekali.
“ Ah, iya ya. Kau benar juga Nay.” Seru Naura sudah mengerti.
“ Gitu aja kok repot kak.” Ejek Naya yang melanjutkan membaca buku yang baru ia dapat.
“ Baiklah, kakak mau mandi setelah itu kita makan ya. Tadi kakak beli ayam goreng keju tuh.” Ucap Naura sambil berjalan menuju kamar mandi.
“ Wah senangnya yang habis kencan dengan seseorang yang spesial.” Goda Aran ketika Arlan memasuki ruang keluarga.
“ Apaan sih mbak, siapa juga yang kencan!” elak Arlan.
“ Eleh sok mengelak segala, jangan menggantung perasaan seorang wanita terlebih gadis seperti Naura.” ucap Aran sambil menyeruput segelas teh.
“ Mau sampai kapan kau membohongi perasaan mu sendiri hah.” Imbuhnya.
“ Mereka menghadiri acara pertunangan anaknya Om Defan.” Jawab Aran.
“ Mas Rozi dan Vino kemana? Kok mbak sendirian di sini?”
“ Mereka jalan – jalan ke taman. Untuk menyenangkan Vino.”
“ Mbak gak ikut?”
“ Malas, sepertinya belakangan ini mbak merasa gak enak badan. Inginnya malas – malasan aja di rumah.” ucap Aran.
“ Ehm, mbak sudah periksa ke dokter?”
__ADS_1
“ Ah malas, palingan pun mbak kecapekan karena minggu kemarin kan baru selesai butik mbak yang ada di Luar Negeri.”
“ Oh, ya semoga saja seperti itu.”
“ Memang kenapa?”
“ Ah gak papa mbak, hanya kasihan saja dengan Vino yang tidak ada kawannya.”
“ Maksudmu? Mbak hamil gitu?” tanya Aran terkejut.
“ Itu kan hanya dugaanku saja mbak, lebih pastinya mbak periksa saja ke dokter.” Saran Arlan.
“ Ehm, nanti saja lah. Mbak masih malas.” Elak Aran yang memang merasa dirinya mudah lelah dan sangat enggan untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa.
“ Ohya mbak, kenapa mbak berkata kalau aku kencan?” tanya Arlan
“ Andreal, dia datang di acara makan siang tadi.” Jelas Aran.
“ Oh....baiklah mbak, aku mau ke kamar.” Pamit Arlan.
“ Ehm..” seru Aran masih tetap dengan posisi awalnya sambil menikmati segelas teh dan cake susu favoritnya.
“ Dasar aneh, biasanya sangat cerewet masalah acara makan siang tadi. Tidak seperti mbak Aran. Tidak terlalu kepo dengan urusanku.” Seru Arlan merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Biasanya jika mereka bertemu akan seperti kucing dan tikus yang selalu berdebat.
“ Ah sudahlah, mungkin dia sudah berubah.” Imbuhnya langsung menyeburkan tubuhnya ke dalam buth up.
Arlan memejamkan matanya, kejadian hari ini selalu terbayang di dalam pikirannya. Ia benar – benar menikmati hari akhir pekannya dengan seseorang yang spesial di hatinya. Namun, ia belum juga menyatakan perasaannya kepada Naura.
Sesekali Arlan tersenyum jika ia mengingat peristiwa yang ia alami saat – saat bermain di taman bermain.
__ADS_1
“ Huffftttt. Semoga kau senang dengan titipan dariku.” Hela Arlan cukup panjang.