Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 96 Sebuah Kejutan


__ADS_3

Tok tok tok...pintu kamar kos Naura terdengar diketuk oleh seseorang dari dalam.


“ Iya sebentar!” Teriak Naya dari dalam sambil mengenakan kerudung instannya.


Saat membuka pintu, Naya dan orang yang mengetuk pintu tersebut terlihat sama – sama terkejut.


“ Anda?”


“ Kau?”


Ucap mereka bersamaan.


“ Ah, maaf apa benar inn kamar kosnya Naura?” tanya pria tersebut setelah mengontrol dirinya.


“ Ah ya benar! tapi maaf kak Naura nya belum pulang. Silahkan anda kemari lagi nanti.” Ucap Naya.


“ Saya tidak mencari Naura tetapi adiknya.” Ujarnya


“ Aku? Memangnya apa yang terjadi pada kak Naura? lalu anda siapa?” tanya Naya menelisik pria tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“ Naura baik – baik saja. Aku adalah teman dari Arlan yang ditugaskan untuk menjemput adik Naura. nama ku Galih.” Terang Galih memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangannya ke depan.


“ Oh. Lalu ada kepentingan apa anda dengan saya?” tanya Naya masih sedikit curiga.


“ Kau jangan takut. Sudah ku bilang aku hanya menjemput adik Naura, karena Naura sudah di sana. Nanti akan aku jelaskan di jalan. Bukankah sudah ku katakan, kita akan terus bertemu untuk yang kedua kalinya dan pertemuan - pertemuan berikutnya. Dan pada akhirnya kita akan menjadi teman.” Ucap Galih seperti seorang peramal.


“ Ehm, terserah anda saja lah. Lalu apa jaminannya jika anda benar – benar tidak akan berbuat yang jahat pada ku?” tanya Naya.


“ Ah kau tenang saja. Baiklah kalau kau ingin jaminannya.” Ucap Galih langsung menelepon seseorang.


“ Selamat malam tuan! Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita muda yang berpakaian jas hitam dengan rambut yang di kucir kuda setelah beberapa menit yang lalu di telepon oleh tuannya.


“ Ah, cepat juga kau! Aku ingin kau menemani


wanita ini ke acara tuan Arlan. Dia tidak nyaman jika hanya aku saja yang pergi bersamanya. Ku tunggu di mobil.” Ucap Galih berlalu meninggalkan mereka berdua.


Melihat wanita tersebut begitu hormat pada Galih membuat Naya memicingkan matanya.


“ Ehm ternyata dia bukan orang sembarangan.” Gumam Naya.


“ Maaf nona! Mari ikut saya. Nanti akan saya jelaskan saat di jalan.” Ucap wanita tersebut dengan tegas yang tidak lain adalah Keira yang merupakan orangnya Aran yang setia bekerja pada keluarga Kusuma.


“ Ah baiklah! Saya akan mengambil sweter dan tas.” ucap Naya berusaha mempercayai Galih dan wanita yang ada di depannya.


Sepanjang perjalanan, Keira pun menjelaskan maksud dan tujuan mereka menjemput Naya.


“ Baiklah kalau memang begitu rencananya, aku akan ikut andil dalam terlaksananya rencana tersebut.” Ucap Naya setelah mendengar penjelasan dari Keira.

__ADS_1


“ Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya.” Ucap Galih yang berada di kursi belakang sendirian.


Sementara Naya dan Keira berada di kursi bagian depan.


“ Kau...?” ucap wanita yang bernama Tari saat mengetahui bahwa Hardi tidak sendirian.


“ Ah, ternyata kau masih ada keberanian untuk muncul di hadapanku lagi?” seru Arlan menatap tajam ke arah Tari yang menunjukkan siapa dirinya.


“ Apa yang kau lakukan disini hah?” tanya Hardi berang.


“ Kenapa kau membentakku hah? Apa hanya karena pria ini?” ucap Tari lantang.


“ Jaga ucapanmu.” Seru Hardi mengingatkan.


“ Ada apa denganmu? Bukankah kau sudah pernah bertemu dengannya bahkan sudah mengancamnya?” tegur Tari tidak terima mendapat bentakan dari kekasihnya tepat dihadapan pria yang pernah ia rendahkan.


“ Kalau kau tidak bisa menutup mulutmu aku yang akan membungkamnya. Kau pikir keadaannya sama hah?” teriak Hardi.


“ Kau....” teriak Tari mengacungkan tangannya ke depan wajah Hardi. Melihat tatapan Hardi yang berbeda membuat Tari mengundurkan dirinya.


Dengan menghentakkan kakinya, Tari pergi meninggalkan mereka begitu saja.


Melihat pertengkaran sepasang kekasih yang abnormal di depannya membuat Arlan menyunggingkan senyuman kepuasan.


“ Saya mohon maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan ini tuan!” ucap Hardi penuh penyesalan. Seketika nada bicaranya berubah seratus delapan puluh derajat dibanding saat ia pertama kali bertemu dengan Arlan.


“ Kau uruslah masalahmu Tuan Ginanjar. Ku harap aku tidak berurusan lagi dengan wanita tersebut.” Ucap Arlan mengingatkan.


Meskipun harga dirinya jatuh di hadapan Arlan yang pernah bersikap Arogan kepada Arlan, namun Arlan tidak membalas perbuatannya yang sudah menyinggung kehidupan Arlan.


Arlan berlalu melewati tuan Hardi menuju ballroom dimana acara masih berlangsung.


“ Ah sial! Aku tidak bisa berbuat apa – apa. ternyata selama ini aku berurusan dengan orang yang berdarah dingin. Untung saja ia tidak membuat perusahaan ku bangkrut.” Gumam tuan Hardi setelah Arlan pergi.


Waktu terus berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Semua tamu menikmati hidangan dan pelayanan dari hotel yang telah di sediakan.


“ Kau dari mana saja?” tanya Aran melihat Arlan menghampiri mejanya.


“ Cari angin di luar. Mana Vino dan nenek?” tanya Arlan setelah melihat di sekitar meja.


“ Mereka ke kamar untuk istirahat.” Jawab Aran.


“ Naura?” tanya Arlan saat mengetahui keberadaan Naura tidak ada bersama keluarganya.


“ Ia ke toilet. Nah itu dia.” Ucap Aran menunjuk ke arah Naura yang berjalan menuju meja mereka.


Namun, langkah Naura terhenti saat seseorang menyapanya. Tidak lama mereka pun terlibat percakapan yang membuat Naura sedikit bingung.

__ADS_1


“ Halo Ra! Apa aku terlambat?” tanya seorang pria muda dengan setelan jas Slim fit berwarna hitam.


“ Al? Apa maksudmu?” tanya Naura tidak mengerti.


“ Ah syukurlah! Sepertinya aku tidak terlambat. Kau sangat cantik malam ini!” ucap Andreal


“ Kau bicara apa sih!”


“ Dasar tidak peka.”


“ Kau....” tunjuk Naura sambil menahan tangannya agar tidak mendarat di pundak Andreal.


Melihat Naura sudah kesal, Andreal berlalu meninggalkan Naura sendirian.


“ Awas kau ya! Jika bukan karena di acara seperti ini sudah ku hajar kau ya!” gumam Naura menahan rasa kesalnya yang terus menatap tajam ke arah Andreal yang sudah menjauh.


Naura menghirup nafasnya dalam – dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


“ Huft, tenang Naura! kau harus bersikap manis malam ini.” Ujar Naura berusaha menenangkan dirinya.


“ Ehm, kau sudah bersikap manis malam ini.” Ucap Arlan yang sudah berada di samping Naura.


“ Ah...kak Arlan bikin kaget saja. Sejak kapan kakak di sini?” tanya Naura.


“ Sejak tadi, kau saja yang tidak menyadarinya.” Ucap Arlan.


“ Masa sih kak!” tanya Naura.


“ Heemmm, ayo! Mau sampai kapan kau berdiri di sana hah!” ajak Arlan menuju meja yang terpisah dari meja keluarganya.


“ Duduklah! Kau belum makan kan?” ucap Arlan menarik kursi untuk Naura.


“ Terima kasih kak!”


“ Makanlah! Jika kau tetap bergabung dengan mereka, kau tidak akan dapat makan dengan tenang.” Ucap Arlan melirik ke meja keluarganya yang sudah menatap mereka secara bersamaan.


“ Ah iya kak! Tapi mengapa mereka memandangi kita terus sih kak?” tanya Naura yang merasa mendapat tatapan berjamaah.


“ Abaikan saja mereka.”


“ Baik kak!” Ucap Naura yang tanpa sungkan melahap hidangan yang ada di depannya untuk mengisi kekosongan lambungnya sejak sore tadi.


“ Kau makanlah dengan nyaman, aku ke sana sebentar.” Pamit Arlan


“ Iya kak!” ucap Naura tanpa menghiraukan kepergian Arlan yang terus melanjutkan aktivitasnya dengan hidangan yang begitu sulit di acuhkan.


Saat tengah asyik menikmati makan malamnya, Naura dan para tamu lainnya di kejutkan dengan lampu di ruangan tersebut tiba – tiba padam. Sontak membuat mereka semua terkejut apa yang sedang terjadi. Suasana menjadi hiruk pikuk dari suara – suara para tamu yang berbisik – bisik. Begitu juga dengan Naura yang aktivitasnya langsung terhenti.

__ADS_1


Tidak sampai di situ, mereka di kejutkan dengan sebuah layar putih yang ada di podium tiba – tiba menyala dan memperlihatkan cuplikan – cuplikan beberapa video dari seseorang yang terasa tidak asing bagi mereka.


“ Itu kan.....? apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Naura sangat terkejut melihat layar yang ada di depan podium...


__ADS_2