
“ Ah, kenapa kakak bisa menaklukkannya? Padahal hampir saja aku menang.” Ucap Naura sedih karena sudah kalah taruhan pada permainan lantai dance.
“ Kau belum melihat semua kemampuan yang aku miliki, ini masih salah satunya saja.” Ucap Arlan menyombongkan diri.
“ Ish ish ish,,,,sombong sekali. Dasar narsis...” ejek Naura.
“ Baiklah, kalau kau tidak percaya. Suatu saat akan ku tunjukan padamu.” Imbuhnya.
“ Ya ya ya, aku percaya pada kemampuan Tuan Arlan Putra Kusuma sang pewaris dari A.K Group.” Ucap Naura.
“ Ehmmmm.”
“ Baiklah kak, karena aku sudah kalah sekarang sebutkan permintaan kakak?” tanya Naura.
“ Kalau untuk sekarang, aku tidak ada permintaan. Tapi tenang saja, suatu saat akan aku tagih permintaan itu.” Kata Arlan
“ Ah, kakak payah kenapa aku harus berhutang lagi sih.” Seru Naura sambil menghabiskan ice creamnya. Melihat wajah Naura yang kesal Arlan hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Setelah puas seharian menghabiskan waktu akhir pekan mereka di taman bermain, Arlan benar – benar dapat merasakan suasana hati yang berwarna. Terbayar sudah hari – harinya selama dua tahun yang abu – abu dengan satu hari akhir pekan yang berwarna.
Meskipun rencana Naura yang sangat sederhana dan selalu dilakukan oleh orang lain pada umumnya. Ternyata benar – benar ampuh bagi Arlan karena baru pertama kalinya ia merasakan sensasi yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia bisa mengekspresikan emosinya dengan bebas.
Hari sudah beranjak senja, mereka pun memutuskan untuk menyudahi massa bermain mereka.
“ Baiklah kalau begitu, kalau kakak sudah ada permintaan katakan saja padaku kapan pun itu. Insya Allah aku akan melaksanakannya asal kan masih dalam batas kewajaran saja.” Ucap Naura.
“ Ayo kak, sekarang kita pulang saja. Bagaimana perasaan kakak apakah rencanaku sesuai dengan keinginan kakak?” tanya nya lagi.
“ Ehm.” Arlan hanya berdehem saja dan beranjak dari tempat duduknya.
“ Eh tunggui dong kak, main tinggal aja.” Teriak Naura sambil menyusul langkah Arlan yang sudah beberapa langkah di depan Naura.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore, mereka segera bergegas ke halte bus agar tidak terlambat naik bus tujuan mereka.
“ Terima kasih kakak sudah mendukung rencana ku yang mungkin membuat kakak lelah kan, aku hanya berpikir kalau tipe seperti kakak pasti membutuhkan hal yang tidak biasa kakak lakukan.” Ucap Naura saat mereka sudah tiba di parkiran kos Kencana Putri.
“ Tipe seperti ku? Memangnya aku orang yang seperti apa?” tanya Arlan
“ Sekarang kan kakak sudah merupakan seorang CEO yang memimpin perusahaan dan sebuah Yayasan pastinya hari – hari yang kakak lalui bersifat kaku dan formal. Makanya rencana seperti itu tiba – tiba muncul di pikiranku kak.” Jelas Naura panjang lebar.
__ADS_1
“ Ish dasar kau, pasti korban dari drama yang kau tonton kan?” seru Arlan.
“ Eh, kenapa kakak tahu.” Tanya Naura.
“ Itu juga salah satu kemampuanku yang lainnya.” Ucap Arlan.
“ Ah ya,, mulai lagi deh menyombongkan diri. Baiklah intinya apakah kakak merasa senang?” tanya Naura.
“ Ehm....” angguk Arlan
“ Terima kasih sudah membuat satu hariku berwarna.” Ucap Arlan
“ Sama – sama kak, asal kakak senang aku merasa puas sudah membayar utangku secara tunai. Dan jangankan satu hari, setiap harinya pun akan kubuat hari kakak berwarna.” Ucap Naura dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“ Ah, sekarang kau membalas menyombongkan diri hah..” seru Arlan
“ hehehehehe, sedikit kan tidak apa kak.” Ucap Naura malu – malu kucing.
“ Baiklah, aku permisi dan terima kasih untuk hari ini.” Ucap Arlan sudah bersiap – siap dengan motor sportnya.
“ Ohya, satu lagi tadi aku menitipkan sesuatu kepada pak Bowo untuk mu. Kau ambillah semoga kau menyukainya.” Kata Arlan sebelum menstarter motornya. Dan melajukan motornya keluar dari pintu gerbang kos.
Setelah Arlan sudah tidak terlihat, Naura pun langsung bergegas menuju pos jaga untuk menemui pak Bowo.
“ Assalamualaikum pak Bowo.” Sapa Naura kepada pak Bowo yang sedang duduk santai.
“ Walaikumsalam, eh neng Naura. bagaimana kencannya? Menyenangkan?” goda pak Bowo.
“ Ish apaan sih pak Bowo ini kan sudah Naura bilang ini bukan kencan tapi menebus utang.” Elak Naura.
“ Yah terserah neng Naura sajalah.” Ucap pak Bowo mengalah.
“ Ohya pak, apa ada titipan buat Naura?” tanya Naura penasaran tidak sabar. Pasalnya waktu Arlan datang kemari tidak membawa apa – apa. Nah sekarang malah ada titipan buat dirinya.
“ Oh ada neng, sebentar bapak ambilkan.” Ucap Pak Bowo mengambil titipan dari seseorang untuk Naura.
“ Nah ini neng!” imbuhnya sambil menyerahkan sebuah paperbag coklat yang berukuran cukup berat.
__ADS_1
“ Terima kasih pak! Tapi siapa yang memberi ini pak?” tanya Naura penasaran.
“ Tadi sekitar pukul 14.20 siang, ada seorang pria yang masih muda menitipkan ini atas perintah dari tuan Arlan.” Ucap Pak Bowo.
“ Siapa pak?”
“ Aduh neng bapak tadi benar – benar lupa menanyakan namanya. Dia hanya bilang seperti itu. Bapak pikir pria tersebut adalah orang suruhan tuan Arlan neng.” Jelas pak Bowo.
“ Baiklah pak, terima kasih. tapi ini apa ya, kok cukup berat.” Tanya Naura sambil menimbang – nimbang paperbag yang di tangannya.
“ Bapak juga tidak tahu neng, neng Naura buka saja kalau penasaran. Sebenarnya tuan Arlan itu siapa sih neng? Dari penampilan dan sikapnya ia benar – benar dari keluarga yang terhormat.” Seru Pak Bowo.
“ Ya begitu lah pak! Naura tidak sengaja bertemu dengan kak Arlan waktu registrasi ulang kuliah kemarin pak! Kak Arlan adalah senior Naura di kampus yang bergengsi tersebut. Ya tentunya ia dari keluarga yang tidak biasa.” Ucap Naura tidak ingin memberitahu identitas Arlan yang sebenarnya. Biar saj suatu saat nanti pak Bowo tahu dengan sendirinya.
“ Kalau begitu, saya permisi ya Pak! Kasihan Naya di dalam sendirian.” Pamit Naura
“ Iya neng sama – sama.” Balas pak Bowo.
“ Assalamualaikum Nay!” sapa Naura setelah pintu kamarnya terbuka.
“ Walaikumsalam, gimana kencannya kak? Berjalan lancar?” tanya Naya.
“ Ish apaan sih kau Nay, sama saja dengan pak Bowo. Kakak bukan kencan lho, kami tidak punya hubungan seperti yang kalian bayangkan.” Ucap Naura bersungut – sungut.
“ Yeah sama aja lho kak, menghabiskan waktu diakhir pekan hanya berdua saja kalau bukan kencan apa dong namanya.” Goda Naya yang juga peka akan perasaan Arlan tehadap Naura.
“ Kan kakak sudah bilang kakak hanya membayar utang kakak saja kok.” elak Naura.
“ Ah dasar modus. Kalian sama saja tidak peka.” Dengus Naya merasa kesal melihat kelakuan mereka.
“ Ah kau sama saja dengan pak Bowo” ucap Naura langsung duduk di samping Naya.
Naya hanya memanyunkan bibirnya sambil melanjutkan membaca buku, ia tidak ingin berdebat dengan Naura yang benar – benar tidak peka.
Melihat Naya sibuk dengan bukunya, Naura pun mengintip dari samping buku apa yang dibacanya.
“ Serius amat sih bacanya, sampai kakaknya sendiri di cueki.” Ucap Naura. namun tidak ada respon dari Naya. Naura mulai merasa kesal ia pun jadi teringat paperbag yang ia bawa tadi.
“ Ah ya, tadi kan aku penasaran apa isi dari paperbag dari kak Arlan.” Gumam Naura dengan kuat. Ia pun meraih paperbag yang ia letakkan di atas meja belajarnya dan dengan tidak sabar ia pun membukanya.
__ADS_1
“ Haaahh, ini kan.......” ucap Naura terpotong.