
“ Owh......begitu kah! Tidak karena ada hal yang lain. Semua sangat tahu bagaimana watak Pak Rangga, beliau sangat tertutup tidak ada satu orang pun yang dapat masuk ke dalam hidupnya. Bahkan sudah banyak mahasiswa senior yang jauh lebih berpotensi direkomendasikan menjadi asistennya tapi satu pun tidak ada yang mampu mengisi posisi tersebut.” Ucapnya yang semakin menyudutkan Naura.
“ Sudahlah bu Gisel! Jangan begitu dengan mahasiswa baru, kita tidak bisa menebak pak Rangga.” Ucap dosen paruh baya yang bernama bu Anjani menengahi.
Sementara dosen yang bernama Gisel hanya semakin sewot melihat Naura yang merasa di bela oleh bu Anjani.
“ Tapi benar lho bu, kita selama menjadi dosen di sini, tidak pernah tahu isi hati pak Rangga. Secara beliau pribadinya sangat misterius tidak ada yang tahu bagaimana kepribadian Pak Rangga yang sebenarnya. Aku saja yang berusaha ingin mengajak ngobrol saja selalu di cueki.” Jelas Gisel kesal.
Ya Gisel merupakan dosen wanita yang memiliki segudang prestasi di usianya yang terlihat masih muda ia sudah meraih gelar profesor. Di dukung dengan penampilannya yang sangat cantik bak seorang model. Ia termasuk salah satu dosen populer di kampus ini. Namun, sudah dua tahun terakhir ia berusaha mendekati Rangga namun selalu di cueki. Jadi, setelah ia tahu ada mahasiswa baru yang berhasil menjadi asisten Rangga sontak saja membuat hatinya semakin meradang. Mengapa dengan mudahnya Rangga berubah pikiran menerima seorang asisten.
Di tengah perdebatan yang tak berarti, muncullah sosok dosen pria muda yang memiliki kharisma yang kuat berjalan menuju mejanya. Sontak suasana ruangan menjadi hening dan hawanya terasa sejuk.
Semua yang ada di dalam ruangan begitu terkejut dan terperangah begitu dosen pria tersebut melewati mereka. Terutama Naura sangat terkejut melihat sosok tersebut.
‘ Kenapa dia ada di sini?’ ucap Naura dalam hati.
“ Ikut dengan ku!” perintahnya kepada Naura yang semakin membuat orang begitu terkejut.
“ Haaaa.... Iya pak!” ucap Naura terbata yang langsung tersadar dari lamunannya.
“ Apa? apa yang sebenarnya terjadi?” Ucap Gisel masih terperangah melihat Rangga tiba – tiba masuk dan langsung mengajak Naura keluar.
Sementara bu Anjani hanya menggeleng – gelengkan kepala melihat situasi yang ada di depannya.
Sepanjang menuju kelas tingkat enam, Naura berjalan sambil menundukkan kepala. Di benaknya tersimpan sejuta pertanyaan tapi apa daya, ia tidak ada keberanian untuk buka suara.
Pria yang berada di depannya benar – benar sangat misterius. Aura yang begitu dingin langsung menusuk ke relung hati Naura yang berada di dekatnya. Naura memegang tengkuknya yang dirasanya berdiri semua bulu kuduknya.
“ Sampai kapan suasana ini akan terjadi? Ya Allah, segera keluarkan hamba dari situasi seperti ini.” Gumam Naura di belakang. Sementara Rangga terus berjalan dengan santainya.
Tepat di bawah pintu tangga darurat Rangga tiba – tiba menghentikan langkahnya. Sontak saja hidung Naura menabrak punggung Rangga yang membuat tubuhnya sedikit oleng.
“ Auw......bilang dong pak! Kalau mau berhenti jadi saya bisa mengerem dari jauh juga. Sakit tau pak!” tanpa sadar Naura mengoceh.
__ADS_1
“ Ehm....” tatapannya yang tajam langsung membuat tubuh Naura berubah menjadi jelly.
“ Maaf Pak!” ucap Naura menundukkan kepala.
“ Mulai sekarang, siapkan mentalmu jangan pernah mundur jika kau ingin menang.” Tutur Rangga datar
“ Ha..hh! eh iya Pak?” ucap Naura gugup sangking bingungnya atas ucapan Rangga barusan.
“ Ya, mulai sekarang kau menjadi asistenku. Bersiap – siaplah.” Ucap Rangga dingin sambil meneruskan langkahnya menuju ke kelasnya.
“ Haa....h!” Ucap Naura terperangah. Hanya seperkian detik Naura membatu mencerna ucapan Rangga. Tidak ingin membuat kesalahan lagi, Naura mengekori Rangga dari belakang.
“ Selamat ya Ra! Kau telah menjadi Asisten dosen tetap dari pak Rangga.” Ucap Nadia memberi selamat ketika bokongnya mendarat di bangku kantin fakultas Seni.
“ Terima kasih ucapannya. Tapi kalian tahu tidak semenjak kabar ini tersebar suasan kampus ini berubah menjadi horor. Setiap aku jalan, semua mata memandang ke arah ku dengan tatapan yang penuh kebencian, dan kesyirikan.” Keluh Naura.
Pasalnya semenjak ia menjadi asisten dosen pak Rangga, hampir setiap hari ia mendapat tatapan yang tidak menyenangkan belum lagi bisikan – bisikan dari kalangan mahasiswa senior yang telah menuduhnya yang tidak – tidak. Seakan – akan hari – hari perkuliahan Naura penuh dengan rongrongan dan ancaman.
“ Pokoknya kau jangan pernah mendengarkan omongan – omongan mereka itu Ra! Mereka itu hanya iri saja padamu, karena kau telah berhasil mendapat kan simpati dari pak Rangga. Kami akan selalu mendukung dan mempercayai mu kok Ra!” ucap Abel penuh semangat dalam mendukung Naura.
“ Benar Ra! Mulai sekarang kau jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami jika kau sampai di kerjai oleh mahasiswa senior itu.” Timpal Nadia juga mendukug Naura.
Mereka sangat yakin dan percaya terpilihny Naura menjadi sisten dosen karena prestasi dan keuletannya dalam melakukan sesuatu. Tidak di dapat dengan cara yang instan seperti gosip – gosip negatif yang telah menyebar di seluruh kalangan kampus.
__ADS_1
“ Ahhhh, terima kasih semua. Kalian memang sahabatku yang paling baik.” Ucap Naura terharu atas dukungan yang diberikan dari kedua sahabatnya.
“ Baiklah untuk menghadapi gosip – gosip miring dari penyebar fitnah yang tidak bertanggungjawab mari kita bersulang agar tetap kuat dan sabar.” Ucap Abel sambil mengangkat tinggi gelas jus mangga nya untuk tos.
“ Semangaaaaatttt.... ting...ting....” ucap mereka serentak sambil mengangkat tinggi gelas jus mereka yang saling tos.
Begitulah hari – hari perkuliahan Naura yang penuh dengan tantangan dan tatapan sinis dari kalanga mahasiswi yang merasa iri kenapa Naura bisa dengan mudahnya menjadi asisten dosen dari pak Rangga.
Karena adanya dukungan dari kedua sahabatnya dan perlindungan yang selalu ia panjatkan kepada Allah swt. Naura pun dengan semangat tidak memperdulikan gosip - gosip miring yang beredar di kampus. Di tambah dengan Pak Rangga yang tidak secara langsung juga mendukung dan melindungi Naura dengan diam – diam.
Naura menganggap untuk mencapai impian yang bisa di bilang impian yang mulia, pasti akan ada rintangan dan hambatannya. Jika Naura menyerah ia akan kalah. Karena semakin tinggi sebuah pohon akan semakin kencang angin yang bertiup.
Jika Naura terlalu mendengarkan dan memikirkan omongan – omongan orang, bisa di pastikan a Naura akan gugur sebelum mencapai garis finish.
“ Apa kau tidak kasihan melihat gadis cilik itu Rangga?” tanya Arya asisten sekaligus sahabatnya ketika mereka istirahat di ruang CEO milik Rangga.
“ Aku yakin dia pasti dapat mengatasinya. Aku sudah melihatnya. Ia bukanlah gadis sembarangan yang mudah di tindas. Ia memiliki pertahanan dan tekad yang kuat untuk menghadapi segala rintangan yang ingin menghambat jalannya." Ucap
Rangga begitu yakin.
“ Kau ini! Kenapa selalu semuanya mengikuti segala keinginanmu sih. Meskipun dia gadis seperti yang kau bilang tapi tetap saja dia seorang wanita yang butuh perlindungan dari seseorang” Dengus Arya.
“ Kalau itu permasalahannya aku siap melindunginya.” Ucap Rangga santai tetapi menjadi sebuah serangan jantung bagi Arya yang selama 15 tahun ia berteman dengan Rangga untuk pertama kalinya Arya mendengar kata – kata yang begitu menyentuh.
“ Haaahh.....aku tidak salah dengar? Kau seorang Rangga siap melindungi seorang wanita yang bahkan belum begitu kau kenal?” Ucap Arya tidak percaya.
“ Sudah lah, aku mau makan. Jika kau ikut sekarang, kau bisa makan sepuasmu.” Ajak Rangga sambil beranjak dari kursi kebesarannya menuju keluar ruangannya.
“ Ohoooo, kesempatan ini tidak akan aku lewatkan dong! Ini adalah kesempatan emas yang begitu berharga.” Kata Arya semangat langsung mengekori Rangga dari belakang. Arya pun tidak ingin membuang waktu sebelum Rangga berubah pikiran. Karena tidak ada yang bisa menebak isi hati Rangga.
“ Sering – sering aja begini bro biar aku semakin semangat bekerjanya.” Tutur Arya setelah berhasil mensejajarkan langkahnya di samping Rangga.
“ Ehm.... dasar tukang makan.” Gumam Rangga
Setiap langkah Rangga dan Arya yang melewati lobi dan para pegawainya. Tidak pernah ada rasa bosan bagi mereka terutama para pegawai wanita untuk memandang bos couple mereka saat lewat dihadapan mereka. Meskipun Aura dan kharisma bos couple mereka terlihat dingin dan datar tetapi tidak mengurangi ketampanan dan pesona mereka yang begitu kuat.
__ADS_1
Namun, tidak untuk kali ini. Mereka merasa ada yang berbeda dari bos besar mereka yang wajahnya sedikit terlihat santai. Berbeda dengan Arya, ia merupakan asisten Rangga yang memiliki wajah yang murah senyum dan tidak kaku. Tetapi tetap terlihat aura yang begitu tegas dan berwibawa.