
Naura terus melajukan langkahnya dengan cepat menuju ke Fakultas di lantai tiga untuk mempersiapkan perkuliahan Pak Rangga di kelas mahasiswa tingkat empat.
Dengan sedikit gugup dan perasaan yang takut Naura berusaha memasuki kelas mahasiswa tingkat empat yang sudah berada di depannya. Ia tidak tahu bagaimana sikap seniornya jika ia masuk ke kelas mereka.
Dengan menarik nafas yang dalam, dan membaca do’a perlahan Naura membuka pintu dan memasuki kelas secara perlahan.
“ Selamat pagi kakak – kakak senior!” sapa Naura ketika sudah berada di kelas. Ia pun langsung menuju meja dosen yang berada di depan.
“ Selamat Pagi adik junior!” ucap salah satu dari mahasiswa yang berjumlah 42 orang tersebut.
“ Perkenalkan Saya Naura dari jurusan Keguruan tingkat satu. Saya sebagai asisten dosen pak Rangga ingin mempersiapkan materi kelas beliau.” Ucap Naura ramah meskipun tubuhnya sedikit gemetar.
“ Oh....asisten dosen Pak Rangga. Hebat juga ya, mahasiswa tingkat satu di hari pertama perkuliahan sudah menjadi asisten dosen, apa lagi asistennya pak Rangga. Apa sih trik mu hah....” ucap Seorang mahasiswi perempuan dengan sinis menuduh Naura.
“ Maaf kak! Maksud kakak berkata seperti itu apa? Saya menjadi asisten pak Rangga karena saya mendapat hukuman dari beliau. Tidak ada maksud tertentu, karena kesalahan yang saya lakukan pada saat perkuliahan beliau berlangsung.” Jawab Naura tegas menutupi rasa takutnya agar ia tidak dinilai lemah oleh para seniornya di kampus ini. Ya itu ilmu ia dapat dari membaca novel – novel favoritnya.
“ Cih... berani sekali kau hah....kau masih bocah ingusan berani menatap ku begitu hah..” hardik gadis tersebut
“ Sudahlah Jes! Anak kecil seperti itu jangan kau lawan. Dilihat dari penampilannya dia bukan tandinganmu. Apa kau tidak malu hah.” Ucap Sahabatnya berusaha menenangkan Jessika agar tidak terbawa emosi.
“ Ah kau benar Ren. Tidak ada gunanya. Tapi tetap saja membuatku kesal.” Ucap Jessika
Melihat suasana mulai tidak kondusif, Naura bergegas menyiapkan perlengkapan materi Pak Rangga dengan cepat di mejanya agar ia bisa keluar dari ruangan kelas yang seperti neraka baginya.
Para mahasiswa yang lain tidak begitu merespon ulah Jessika yang berusaha ingin membuat kekacauan. Mereka lebih fokus memperhatikan Naura yang begitu sedap di pandang hingga dapat membuat jiwa menjadi adem dan tenteram.
Suasana kelas sudah berubah menjadi seperti pasar tradisional dimana para pedagang berteriak menawarkan barang dagangannya masing – masing.
Dengan cekatan Naura berusaha mempersiapkan modul dan catatan – catatan materi bahan ajar dan memasang proyektor di meja depan dengan sangat rapi dan teliti.
Pada saat Naura hendak pergi, tiba – tiba pintu kelas di buka oleh seseorang dari luar.
Dengan wajah yang begitu tegas dan datar hingga menimbulkan guratan – guratan yang jelas di wajahnya. Namun tidak menutupi ketampanan yang ia miliki.
Seketika suasana di dalam ruangan kelas menjadi senyap dan hening seperti berada di desa si diam – diam. Mulai lah terasa atmosfer ketegangan dan awan hitam yang menyelimuti seisi ruangan akibat aura yang di pancarkan oleh Rangga.
Naura memegang tengkuk belakang lehernya. Tiba – tiba suasana kelas yang seperti di pajak berubah langsung seperti di desa si diam – diam yang begitu sunyi senyap dan hening.
Ketika ia hendak berbalik, ia melihat Rangga membuka pintu dan berjalan menuju ke meja depan. Naura membungkukkan tubuhnya sedikit kala Rangga melewatinya.
__ADS_1
“ Saya sudah mempersiapkannya Pak! Saya pamit undur diri” pamit Naura perlahan – lahan berjalan mundur menuju pintu untuk segara keluar dari suasana yang begitu mencekam.
“ Ehm!”
Dengan nafas yang sulit di hembuskan, Naura segera membuka pintu dan segera menghirup udara di luar sebanyak – banyaknya.
“ Hufffttttt, syukurlah! Aku segara terbebas dari ruangan kelas yang begitu menakutkan” ucap Naura sangat lega setelah berada di luar kelas dan menarik nafas yang panjang.
Melihat Arloji yang berada di lengannya masih menunjukkan pukul 10.45 Naura bergegas menuju ke kelas berikutnya. Ia hanya membawa bekal roti dan susu.
“ Alhamdulillah akhirnya selesai juga hari pertama kuliah ini Bel!” ucap Naura setelah keluar kelas sambil meregangkan otot – otot tubuhnya ke samping kanan dan kiri.
“ Iya Ra! Untung dosen yang ini orangnya humoris jadi tidak tegang satu harian.” Timpal Abel
“ Ayok kita pergi ke kafe.” Ajak Naura
“ Baiklah! Kau ini benar – benar seorang pegawai yang disiplin.” Puji Abel
“ Tentu saja, ini sudah menjadi tanggung jawab kita Bel.” Kata Naura
“ Iya ya...kau cerewet sekali melebihi nenekku.” Ucap Abel
“ Biari, ueeekk kalau tidak disiplin bagaimana orang akan mempercayaimu.” Jelas Naura yang di anggukkan Abel.
“ Selamat malam semuanya! dadah sampai jumpa besok.” Pamit Nabila pulang duluan karena jemputannya sudah tiba.
“ Dah Bila! Hati – hati di jalan.” Ucap Naura dan Abel bersamaan.
“ Wah enak ya menjadi Nabila, setiap pulang kerja di jemput pacarnya. Aku kapan ya!” ucap Abel
“ kau ini Bel, kenapa iri sama Nabila sih, dia kan dari awal sudah punya pacar. Lalu bagaimana dengan cowok gebetanmu itu?” tanya Naura.
“ Ah kandas Ra! Jadi malas aku. Dia banyak modusnya.” Kata Abel
“ Ya sudah Bel, masih banyak cowok di muka bumi ini. Kau tinggal pilih saja yang sesuai dengan seleramu!” tawar Naura.
“ Yeaah... dasar kau Ra! Memangnya mereka barang yang dengan mudah dapat dipilih. Ini dunia nyata Ra! Bukan dunia novel yang setiap hari kau baca itu. Yang tiba – tiba si pemeran cowok utamanya langsung datang dengan sosok yang sempurna baik dari segi penampilan maupun kekayaannya dalam pertemuan yang penuh dengan berbagai drama. Dasar halu mu tinggi setinggi gunung.” Cebik Abel sambil menepuk – nepuk pipi Naura agar ia terbangun dari halunya.
“ Ish apaan sih Bel, sakit tau” ucap Naura sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“ Awas tuh bibir, entar jatuh lho, baru tahu ya kalau madam marah.
“ Ah apaan sih Bel! Dasar kau.” Ucap Naura yang berjalan mendahului Abel
“ Ra! Tunggui. Main tinggal aja.” Teriak Abel dan langsung lari menyusul Naura agar dapat menyeimbangkan langkahnya.
“ Yakin kau tidak mau diantar Ra!” tanya Abel saat mereka berada di halte bus.
“ Iya Bel, kan sudah seperti ini tiap harinya, lagian ini masih jam 09.30 kok masih ada bus terakhir.” Ucap Naura
“ Ya sudah, kau hati – hati ya! Assalamualaikum.” Pamit Abel langsung masuk ke dalam taksi.
“ Walaikumsalam.” Balas Naura sambil melambaikan tangannya
Sementara menunggu bus, Naura duduk di bangku yang sudah terisi oleh beberapa orang. Naura pun duduk di pinggir bangku halte.
Drrrttt....terdengar suara sebuah pesan dari handphone Naura yang berada di tasnya. Ia pun segera merogoh tas dan mengambil handphone.
Naura melihat beberapa pesan yang masuk salah satu pesan tertera berasal dari ‘ Dasar Jaelangkung’ dan dosen killer.
Naura membuka satu persatu pesan yang masuk. Ia membuka pesan dari dosen killer. ‘ Pasti jadwal untuk besok’ gumam Naura.
[ Besok di kelas tingkat enam pukul 08.00, jangan terlambat jika nilaimu ingin selamat]
‘Cih....main ancam saja.’ Umpatnya
[ Baik Pak!] balasa Naura
Setelah membalas ia pu membuka pesan dari ‘ Dasar Jaelangkung’
[ Kau masih di halte?]
[ Hati – hati! Selamat malam tidur yang nyenyak!]
‘ Dasar wibu, setelah seminggu gak ada kabar langsung bertanya aku masih menunggu bus. Bukannya bertanya kabar gitu kek. Ah ya, kenapa dia tahu aku masih di halte.’ Gumam Naura berbicara sendiri sambil kepalanya celingukan di sekitarnya. Ia menajamkan penglihatannya ingin mencari sosok yang memberi pesan kepadanya.
“ Tidak ada tanda – tandanya! Ah sudahlah.. bisa saja dia hanya menebak – nebak.” Celoteh Naura sambil melangkah menuju bus terakhir yang baru tiba.
[ Benar kak! Ini baru masuk ke dalam bus]
__ADS_1
[ Iya terima kasih kak! Selamat malam juga!] balas Naura
Di pemberhentian bus selanjutnya Naura bergegas turun, dan langsung mencari cemilan untuk dimakan setelah tiba di kos.