Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 123p Memilikimu Seutuhnya


__ADS_3

Terdengar suara deburan ombak yang cukup keras saling bersahut - sahutan jadi irama yang menyenangkan membuat kedua insan masih terlelap di balik satu selimut.


Selang beberapa menit terdengar suara alarm dari handphone Naura yang sengaja ia setel setiap hari pada pukul 04.30 dini hari.


Dengan menggeliatkan tubuhnya, Naura dengan malas membuka matanya. Menyisakan tubuhnya yang terasa remuk dan di bagian area sensitifnya masih terasa perih akibat aktivitas panas yang mereka lakukan kemarin malam sebagai pelaksanaan ritual malam pertama mereka yang sempat tertunda.


" Hoaaamm,,," Naura menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan di iringi mata yang sudah terjaga.


Dengan senyuman yang terkembang di bibirnya ia merasa malu jika mengingat kegiatan yang telah mereka lakukan. Ia memandang wajah tampan suaminya yang masih tertidur pulas, dengan mengamati dari jarak yang dekat membuat jari tangan Naura tergerak untuk menyusuri wajah suaminya.


" Hahh, akhirnya mas telah menjadi suami yang utuh buat Naura, bibir ini telah halal untuk di sentuh dan di rasakan. Hihihihi...!" Gumam Naura sambil menyentuh mata, hidung hingga bibir Arlan perlahan - lahan.


Greb,, tangan kekar Arlan menarik leher Naura hingga terjatuh ke atas tubuh Arlan dengan gerakan cepat Arlan mendekap Naura dengan kuat dan Cupp sebuah kecupan telah mendarat di bibir Naura.


" Ahh..." Pekik Naura terkejut dengan serangan Arlan yang tiba - tiba.


" Kau curang telah menyentuh wajahku saat sedang tertidur. Ini hukuman bagi seorang pencuri hatiku." Ucap Arlan dengan mata yang masih terpejam dan mengulangi aksinya yang tak memberi ampun untuk Naura.


" Mas....!"


Arlan tidak menghiraukan rengekan Naura, dengan semangat membuat Arlan semakin gencar menyerang Naura.


Melihat aksi suaminya yang tiada ampun ,Naura berusaha mengimbanginya agar tidak kewalahan. Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka untuk ronde yang kesekian kalinya.


Cup,, sekali lagi Arlan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Naura.


" Terima kasih sayang! sudah memberikan kesempatan untukku memilikimu seutuhnya!" ujar Arlan yang memeluk Naura.


" Sama - sama Mas! Naura juga sangat berterima kasih sudah memilih Naura sebagai pendamping hidup Mas Arlan!" balas Naura dengan mengeratkan pelukannya.


" Ah jadi gemas deh! gak mau lepas!" rengek Arlan dengan manja.


" Kita harus bangun mas! ayo mandi dan shalat." Ajak Naura.


" Mandi bareng!" pinta Arlan seperti anak kecil.


" Gak mau ah! nanti keburu habis waktu shalat shubuhnya." ucap Naura melepaskan pelukan Arlan dan bergegas turun dari ranjang.


" Auwww ..." pekik Naura kesakitan sambil memegangi bagian area sensitifnya.


" Kenapa sayang!" tanya Arlan terlonjak dari pembaringannya.


" Perih mas!" rengek Naura.

__ADS_1


" Maaf!"


" kenapa Mas meminta maaf?"


" Ya inikan karena perbuatanku."


" Perbuatan kita.. mas jangan merasa bersalah gitu dong! ini hal yang wajar bagi wanita yang baru pertama kali melakukannya. Nanti juga akan terbiasa dan tidak terlalu sakit." Jelas Naura.


" Benarkah seperti itu? kalau begitu ayo kita lakukan sesering mungkin." ucap Arlan dengan mengedipkan sebelah matanya.


" Maass .." teriak Naura malu dan langsung kabur ke kamar mandi agar wajah meronanya tidak terlihat oleh Arlan.


" Hahahahhahah....." suara tawa Arlan yang cukup keras menggema dan mengiringi langkah Naura ke kamar mandi.


Pukul 07.00 pagi, sarapan mereka langsung di antar ke kamar oleh staf resort. Setelah 30 menit mereka berdebat mereka pun menyudahinya setelah sarapan mereka tiba.


Dengan semangat Naura menyantap sarapannya agar melakukan kegiatan yang telah di janjikan oleh Arlan untuk menjelajahi laut beserta keindahan di bawah laut.


" Ayo mas sesuai janji mas kita akan snorkelingkan?" tanya Naura menggebu tidak sabar.


" Ehm... baiklah sayang! tapi jangan sekarang masih terlalu pagi, sambil menunggu gimana kalau kita jalan - jalan ke kota. Sekalian membeli cenderamata." saran Arlan.


" Gitu ya mas! baiklah." ucap Naura mengambil sweater dan tas slempangnya.


" Damai sekali ya Mas! di tambah dengan suara deburan ombak yang dapat merilekskan jiwa dan pikiran."


" Kau benar! jika kau mau kita bisa sering - sering menjelajahi pantai seperti ini." ucap Arlan.


" Benarkah! mau banget mas, ke pantai - pantai lainnya yang tak kalah indahnya." ujar Naura kegirangan dengan berlari - lari kecil.


Dengan menjinjing sandalnya, kaki - kaki mereka dapat menyentuh secara langsung pasir putih dan deburan ombak yang menepi di pinggir pantai.


" Ckk..dasar seperti anak kecil saja..!" cebik Arlan


" Biari,,,ueekkk...anak kecil begini tapi bikin candu kan..." ejek Naura.


" Awas kau ya....!" kejar Arlan ingin menangkap Naura namun Naura terus berlari menjauh dari Arlan agar tidak tertangkap.


" Ayo kejar mas....!" teriak Naura.


" Awas saja kalau kau tertangkap ya." Balas Arlan terus mengejar Naura


Brukkk... tubuh Naura menabrak seorang wanita yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


" Auwww....." teriak Naura dan wanita yang tertabrak bersamaan.


" Kalau jalan lihat - lihat dong!"


" Ah maafkan saya nona!"


Saat mereka berdiri, sontak kedua bola mata mereka membulat sempurna..


" Kau..." teriak wanita tersebut yang tak lain adalah Tari.


" Kak Tari?" ucap Naura terkejut tidak menyangka bisa bertemu dengan Tari di pantai yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung.


" ckcckkk... dunia ini sangat sempit ya! selalu saja bertemu dengan mu di tempat yang aku kunjungi.. Atau jangan - jangan kau mengikuti ku ya." seru Tari dengan angkuhnya.


" Hahahaha, mengikuti kak Tari? yang benar saja. Memangnya kakak tu siapa? artis bukan, pejabat juga bukan. Sangat banget waktu ku terbuang untuk hal - hal yang gak guna." balas Naura dengan berani.


" Kau....!" tunjuk Tari yang langsung tersulut emosi.


" Aku senang kakak, terlihat baik - baik saja. bahkan bisa berkunjung di tempat ini. Kalau begitu selamat menikmati liburan kakak ya." ucap Naura dengan di iringi senyuman yang manis tetapi mengandung senyuman yang menyindir


" Cih ...sombong sekali kau. Sementang kau mendapatkan suami seorang CEO, kau sudah berlagak ya.."


" Hohoho...kenapa kakak membawa - bawa suami ku hah...dan darimana kakak tahu kalau aku sudah menikah? sementara kita sudah lama tidak bertemu atau pun berkomunikasi. Bukankah itu telah menunjukkan bahwa kakak lah yang menguntitku." Serang Naura tak mau kalah


" Kau....."


" Kenapa? benar begitu kan. Hiduplah dengan baik, gunakan sisa waktu kakak dengan hal - hal yang bermanfaat. Semoga kelak kakak mendapatkan hidayah dari Allah!" Ucap Naura mengingatkan..


" Jangan menceramahi hidupku. Aku tidak butuh belas kasihan darimu!" berang Tari meninggalkan Naura begitu saja.


" Ckck.. kasihan sekali hidupmu kak Tari. Mau sampai kapan kau akan menjalani hidup dengan jalan yang buntu." Ucal Naura memperhatikan punggung Tari yang terlihat semakin menjauh.


Grab....sepasang lengan telah melingkar di pinggang Naura dengan erat. Setelah melihat kepergian Tari, Arlan menghampiri isterinya dengan memeluk tubuhnya dari belakang.


" Kau baik - baik saja?" tanya Arlan di telinga Naura.


" Iya mas! Naura hanya merasa kasihan saja, mau sampai kapan ia hidup menjadi baby sugar para lelaki hidung belang." iba Naura.


" Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan, itu pilihannya biar kan saja dia yang menanggung jawabkan atas pilihannya itu." ucap Arlan.


" Ehmm. Mas benar dia bukan anak kecil lagi yang harus di awasi. Baiklah, untuk mengembalikan mood Naura, ayo makan es krim!" rengek Naura sambil bergelayut manja di lengan Arlan.


" Ck. kau ini!" Cebik Arlan gemas melihat tingkah manja Naura dengan senyuman yang manis.

__ADS_1


__ADS_2