Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
103 Kelulusan Sidang Naura


__ADS_3

“ Buahahhahahhahaha,,,,sekarang kau sudah benar – benar bucin!” ledek Galih yang tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Arlan yang di luar kebiasaannya.



“ Kyaaaaa,, kak Arlan setuju dengan ucapanku! Ternyata kakak tidak seseram itu.” Ceplos Nadia



“ Nad!” senggol Abel mengingatkan Nadia yang sudah tanpa filter kalau bicara.



“ Ups,,,,maaf!” ucap Nadia sungkan sambil menundukkan kepalanya.



“ Pffftttttttt hahhahahahahaha... ternyata rumormu masih melekat ya bro!” timpal Dennis yang juga tak dapat menahan tawanya.



Ini merupakan kesempatan yang langka untuk dapat meledek Arlan sampai sepuas mereka.



Melihat Galih dan Dennis menertawai dirinya membuat Arlan cuek tanpa memperdulikannya.



“ Kalau mau tertawa keluarkanlah, jangan di tahan. Kapan lagi bisa melakukannya.” Ujar Galih kepada Naya yang terlihat menutup mulutnya agar tidak terdengar suara tawanya.



“ Apa....siapa yang ingin tertawa!” elak Naya.



“ Tapi melihat kerukunan di sini, Naya benar – benar merasa nyaman dengan kehangata dari persahabatan ini. Kalau niat kita tulus untuk menuntut ilmu mudah – mudahan Allah akan memberikan kita kemudahan dan mempertemukan orang – orang yang baik. Ah! Semoga hasil sidang kak Naura berjalan lancar dan mendapatkan nilai yang memuaskan.” Sambungnya.



“ Ammiinn....” ucap mereka serentak.


Naya tersenyum senang melihat dukungan yang sangat besar dari para sahabat kakaknya.



“ Naura pasti bisa!” ujar Abel dan Nadia bersamaan.



“ Iya benar kak!”



“ Hahahahahahaha.......” mereka pun tertawa bersamaan memenuhi ruangan yang terdengar gaduh.



“ Baiklah! Jika sidang Naura berhasil dengan lancar, malam ini mari kita makan malam bersama untuk merayakannya!” seru Andreal.



“ Setuju! Dan yang mentraktir kita semua adalah pasangan baru yang sedang bucin.” Imbuh Galih.



“ Bayar pajak hari tunangan kalian.” sambung Dennis yang tidak mau kalah.



“ Setujuuuu......” teriak Abel, Nadia dan Naya bersamaan.



“ Ah terserah kalian saja lah!” jawab Arlan sambil mengeluarkan handphonenya dan menekan nomor untuk memanggil seseorang.



“ Ohya, kalian sendiri kapan sidang skripsinya?” tanya Andreal kepada Abel dan Nadia.



“ Minggu depan.” Jawab Abel dan Nadia serentak.



“ Bersamaan?” tanya Andreal.



“ Gak, aku hari rabunya sedangkan Nadia hari kamisnya.” Jawab Abel.



“ Ehm baiklah! Kalian mau aku bawakan apa hah....?” ucap Andreal.



“ Terserah kau saja lah! Apapun yang kau bawa akan kami terima.” Ucap Nadia yang di anggukan Abel.



“ Lah, kau sendiri kapan sidang skripsi mu hah...?” tanya Abel.



“ Bulan depan.”



“ Semoga sidang skripsi kakak – kakak berjalan dengan lancar!” do’a Naya.


__ADS_1


“ Ammiinn.”



Setelah hampir dua jam mereka menunggu di ruang tunggu dengan banyaknya bungkus makanan yang sudah kosong, membuat mereka tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.



“ Ah, kenapa lama sekali sih?” ucap Arlan sambil melihat Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka 15.50.



Melihat Arlan yang mondar – mandir dengan wajah yang tegang membuat yang lain hanya bisa menahan tawa mereka.



“ Mau sampai kapan kau mondar – mandir begitu hah...! bikin orang pusing saja melihatmu. Dan kenapa kau yang gugup begitu?” oceh Galih.



“ Diamlah!” ketus Arlan.



“ Ckckckckckkck....gimana nanti saat Naura melahirkan...” ceplos Galih.



“ Ahhhh....kau ini...”



Blushhhhh..... mendengar ucapan Galih, membuat Abel, Nadia dan Naya merasa malu. Kenapa mereka membahas sampai sejauh itu.



Selang beberapa menit, pintu ruangan terbuka. Dan keluarlah dua sejoli dengan di iringi canda tawa.



Melihat pemandangan yang kurang menyenangkan membuat warna wajah Arlan berubah dan langsung menghampiri mereka.



“ Bagaimana sidangmu?” tanya Arlan datar



“ Alhamdulillah berjalan lancar kak!” jawab Naura tanpa memperhatikan wajah Arlan.



“ Kyaaaaa.....selamat ya Naura....” serang Abel dan Nadia langsung memeluk Naura.



“ Ah,,,ku pikir kalian tidak datang.” Ucap Naura.




“ Nah, ini dariku!” ucap Nadia yang tidak mau ketinggalan juga menyerahkan sebuah buket yang berisi beberapa buku novel.



“ Kyaaaaaa,,,,coklat dan novel....ah kalian sangat mengerti banget sih!” ujar Naura memeluk kedua sahabatnya.



“ Ya itung – itung tuk pengobat stres mu saat menyelesaikan skripsi ini.” Ucap Abel.



Mereka pun bergabung dengan yang lain. Suasana pun menjadi semakin riuh yang saling memberi ucapan selamat.



Sementara Arlan, masih menatap tajam ke seseorang yang keluar bersamaan dengan tunangannya.



“ Ah! Kenapa kau menatapku seperti itu hah?” tanya pria tersebut.



“ Kenapa kakak bisa ada di sini? Bukankah kakak masih di Swiss?” tanya Arlan kepada Rangg pria yang terlihat akrab dengan Naura.



“ Ah! Kenapa? Ya jelas dong aku meluangkan waktu ku karena Naura adalah mahasiswa bimbinganku. Kau lupa?” ucap Rangga santai.



“ Jadi, kakak sengaja menahan Naura di dalam.”



“ Apa yang kau pikirkan hah....” ujar Rangga yang menyentil dahi Arlan.



“ Ah! Kakak bikin malu saja.” Ucap Arlan mengusap dahinya.



Melihat perseteruan mereka berdua membuat yang lain hanya tersenyum dari posisi mereka.



“ Hai kak! Kapan kakak sampai?” tanya Andreal


__ADS_1


“ Kemarin malam? Kau kapan sidangmu hah?” ucap Rangga.



“Bulan depan kak! Karena kakak sudah di sini ayo bergabung dengan kami untuk merayakan kelulusan Naura.” ajak Andreal.



“ Ehm.....”


“ Baiklah kalau kau memaksa!” ucap Rangga.



“ Cih dasar!” cebik Arlan mengabaikan mereka dan menghampiri Naura.



“ Kau sudah selesai?” tanya Arlan kepada Naura.



“ Sudah kak! Sekarang Naura mau menelepon emak untuk memberi kabar kelulusan Naura.” ucap Naura.



“ Ehm.......”



Naura pun menelepon emak dengan video call agar dapat memperlihatkan hasilnya.



Naya pun tak ingin ketinggalan ia pun berada di samping kakaknya agar dapat ikut berbicara juga.



“ Assalamualaikum kak! Bagaimana sidang kakak?” tanya Nanda setelah panggilan video call tersambung.



“ Walaikumsalam! Alhamdulillah selesai dengan lancar! Mana emak Nda?” ucap Naura.



“ Gimana Ra? Sudah selesai sidangmu nduk?” tanya emak



“ Alhamdulillah sudah mak? Skripsi Naura 80 % sudah bagus, hanya ada sedikit yang perlu di perbaiki.” Jelas Naura.



“ Syukur Alhamdulillah! Emak senang dengarnya.”



“ Bapak mana mak?” tanya Naya yang tidak melihat bapak.



“ Oh bapak mu tadi pergi ke pasar untuk mengantar pisang dan singkong ke kedai mang Harun.” Jawab emak.



“ Uda panen mak?”



“ Ya Alhamdulillah sedikit – sedikit Nay! Kalau mang Harun minta selalu ada stok.”



“ Syukurlah mak! Semoga hasil panennya selalu bagus.”



“ Iya nduk! Sekarang emak sudah lega mendengar hasil sidang kakakmu. Emak mau lanjutkan menggoreng keripik pisang pesanan bu RT.” Jelas emak.



“ Ok mak! Terima kasih do’anya ya mak! Sidang Naura berjalan dengan mudah dan lancar.” Ucap Naura senang.



“ Emak dan bapak tetap selalu mendo’akan kalian. ohya kok kayaknya rame ya Ra!” tanya emak yang terdengar suara riuh dari seberang.



“ Iya mak! Di sini ada kak Arlan dan teman – teman Naura semua mak. Mereka menemani sidang Naura hingga selesai.” Terang Naura.



“ Syukurlah! Kau masih berada di tengah – tengah orang baik yang selalu membantu mu.” Ujar emak



“ Iya mak. Alhamdulillah. Naura sangat bersyukur.” Balas Naura.



“ Sudah dulu ya Ra! Titip salam sama teman – teman mu dan juga dengan calon mu.


Assalamualaikum.” Tutup emak.


“ Iya mak, nanti Naura sampaikan. Walaikumsalam.” Balas Naura.



“ Nah! Kalau sudah selesai semua, ayo kita makan – makan untuk merayakan kelulusan Naura.” ajak Galih bersemangat mengomandoi yang lain.


__ADS_1


“ Let’s go.......ooooo!” balas yang lain bersamaan.


__ADS_2