Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 49 Sosok Yang sangat Familiar


__ADS_3

Sinar sang surya yang bersinar telah menghangatkan seluruh penghuni alam semesta tidak terkecuali tubuh Naura yang sedang menikmati hari minggunya di taman kota.


Selesai subuh, Naura menuju taman kota untuk berolahraga lari pagi bersama dengan beberapa orang teman sekosnya.


“ satu ...dua...tiga....”ucap Naura menggerakkan tubuhnya sembari melakukan senam ala ala kadarnya. Yang penting baginya badannya bergerak untuk merilekskan otot – otot yang kaku selama enam hari kuliah dan bekerja.


Puas berkeliling taman sambil berlari – lari kecil Naura beristirahat sejenak di bawah pohon yang cukup rindang di sebelah Barat taman yang menghadap jalan raya.


Setiap hari taman kota ini selalu ramai di kunjungi oleh masyarakat sekitar terlebih di hari libur.


“ Naura! kakak pulang duluan ya, soalnya kakak ada janjian dengan pacar kakak!” ucap Maya ketika ia melihat arloji yang sudah berada di angka 08.00 di lengan kirinya.


“ Ah, baiklah kak! Kakak pulang duluan saja, Naura masih ingin menghasbiskan waktu lebih lama di sini.” Kata Naura.


“ Kau tidak ada janji?” tanya Chika wanita berkacamata yang rambutnya dikucir kuda berusia tiga tahun lebih tua dari Naura.


“ Tidak ada kak! Kalau kak Chika ada janji juga gak papa kok pulang bersama kak Maya.” Ucap Naura mengerti keadaan Maya dan Chika.


“ Benar kau tidak apa – apa di tinggal sendirian?” jawab Maya merasa tidak enak hati.


“ Benar kak! Naura ingin menikmati hari libur ini dengan santai lagipula Naura memang tidak ada janji apa pun.” Ucap Naura meyakinkan agar kedua temannya tidak sungkan.


“ Baiklah, kami pulang duluan ya Ra!” ucap Maya


“ Iya kak! Kalian hati – hati. Dan selamat berkencan ya!” ucap Naura memberi selamat kepada kedua temannya.


Setelah kepergian Maya dan Chika, Naura bergegas mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sudah menuntut dari tadi. Ia pun berjalan menyusuri taman mencari makanan yang sesuai seleranya.


Selain para pengunjung, terdapat juga para pedagang yang menjajakan dagangannya di luar Taman. Terdapat beraneka ragam jajanan tradisional yang dijajakan para pedagang.


“ Wah, kelihatannya enak – enak semua sampai bingung mau beli yang mana.” Gumam Naura terus berjalan menyurui trotoar taman sambil mencari – cari makanan.


Sangking asyiknya Naura melihat – lihat makanan, ia tidak fokus melihat jalan yang ada di depannya. Dan tiba – tiba...

__ADS_1


Bruuuukkkk..... seorang anak kecil perempuan yang berusia sekitar lima tahun berlari dari arah depan dan menabrak tubuh Naura. Seketika gadis kecil tersebut jatuh terduduk dan meringis kesakitan memegangi pinggang dan bokongnya.


“ Astaghfirullahalazim..” Naura berucap kaget melihat seorang gadis kecil yang tidak dikenalnya menabrak tubuhnya.


“ Kau tidak apa – apa dik!” tanya Naura sambil mengulurkan tangannya untuk membantu gadis kecil tersebut untuk berdiri.


“ Aduh.. sakit tau!” Ringis anak kecil tersebut dan menyambut uluran tangan Naura.


Naura memapah gadis kecil tersebut menuju bangku yang berada di pinggir taman.


“ Duduk lah, kakak akan membeli minuman dulu ya! Kau jangan kemana – mana sampai kakak kembali.” Pesan Naura.


“ Iya kak!” jawabnya polos.


Naura pun bergegas pergi membeli minuman agar ia tidak terlalu lama khawatir jika orang tuanya akan panik mencari anaknya yang terpisah dari mereka.


10 menit kemudian, Naura kembali dengan membawa dua bungkusan yang berisi makanan dan minuman.


“ Maaf ya dik, kau sudah menunggu lama.” Ucap Naura sambil menyodorkan sebotol minuman mineral kepada gadis kecil tersebut.


“ Kau dengan siapa datang kemari?” tanya Naura.


“ Dengan Mama kak! Tadi Hanni lari – lari. Hanni tidak sadar sudah berlari terlalu jauh dari mama. Dan akhirnya Hanni tidak sengaja menabrak kakak.” Ucap gadis kecil tersebut yang bernama Hanni dengan wajah yang berani tidak ada rasa panik apalagi menangis.


“ Wah, kakak salut deh dengan Hanni meskipun sedang terpisah dengan mama, Hanni masih berusaha bersikap tenang dan tidak cengeng.” Puji Naura sambil memberikan acungan jempol kanan nya di depan Hanni.


“ Tentu kak, ini semua karena mama. Mama selalu mengajarkan Hanni kita tidak boleh cengeng apalagi takut jika sedang menghadapi kesulitan, kita harus tetap tenang agar kita dapat berpikir dengan jernih.” Ucap Hanni seperti gadis yang sudah dewasa.


“ Wah, mama Hanni hebat sudah mengajarkan Hanni di usia yang masih belia begini. Kakak jadi pingin deh, ketemu dengan mama Hanni.” Ucap Naura merasa kagum dengan didikan sang mama.


“ Tentu dong, namanya juga mama Hanni.” Ucap Hanni bangga.


Mereka pun, sudah begitu akrab karena Naura selalu membahas topik – topik yang membuat Hanni begitu antusias dan percakapan mereka sudah seperti teman yang seumuran. Merasa Naura tidak mencurigakan, Hanni pun menerima Naura sebagai teman mengobrolnya sambil ia akan dijemput oleh orangtuanya.

__ADS_1


Benar saja, tidak berapa lama seorang wanita muda berjalan cepat menghampiri keduanya di bangku yang mereka duduki. Tanpa aba – aba, wanita tersebut langsung memeluk Hanni dengan rasa lega dan kekhawatiran.


“ Hanni sayang! Kemana saja kau nak, mama sangat khawatir saat Hanni terlepas dari pandangan mama.” Ucap wanita tersebut yang merupakan mama dari Hanni.


Naura terus memperhatikan wanita tersebut dengan pandangan yang penuh selidik, seakan – akan suara dan penampilan wanita yang sedang memeluk Hanni tidak terasa asing bagi Naura.


Sambil mengernyitkan kedua alisnya, Naura masih terus berpikir ia yakin bahwa ia begitu sangat familiar dengan sosok yang ada di depannya. Tetapi ia masih belum mendapatkan gambaran siapa wanita tersebut.


‘ Ehm,,, siapa ya? Kok tidak asing dengan wanita ini. Aku yakin pernah kenal dengannya tapi siapa ya!’ Gumam Naura sambil memutar memorinya dengan kecepatan yang full.


“ Hanni baik – baik saja Ma! Hanni minta maaf sudah membuat mama khawatir.” Balas Hanni masih di dalam dekapan sang mama.


“ Benar Hanni tidak apa – apa?” belai Wanita tersebut sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi putrinya sambil membalik ke kanan dan ke kiri seraya memeriksa setiap detail bagian tubuh Hanni.


“ Ma! Benaran Hanni tidak apa – apa? untung saja Hanni bertemu dengan kakak ini, selama Hanni terpisah kakak yang menemani Hanni mengobrol. Ternyata kakak ini sangat seru Ma!” celoteh Hanni panjang lebar.


“ Ah syukurlah! Hanni baik – baik saja. Baiklah sekarang mama tidak khawatir lagi. Mama percaya bahwa anak mama yang paling cantik dan comel ini bisa mengatasi masalah.” Ucap mama Hanni.


“ Tentu saja Ma! Ini kan berkat mama juga.” Ucap Hanni


“ Ah sayang! Mama bangga deh!” seru mama Hanni kembali memeluk Hanni gemas.


“ Ma, sudah! Malu tuh di lihat oleh kakak.” Potong Hanni sambil melirik ke arah Naura yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi antara ibu dan anak.


“ Ah maaf sayang, mama terbawa suasana.” Kata mama Hanni segera melepas pelukannya dari Hanni. Dan ia pun melihat ke arah Naura untuk mengucapkan terima kasih sudah menolong putrinya. Dan itu hampir saja terlupakan olehnya.


Setelah mereka berhadapan saling memandang, mama Hanni langsung terkejut dan membelalakkan kedua bola matanya dan dengan spontan menunjuk wajah Naura dengan jari telunjuknya.


“ Naura! benar kau Naura?” ucapnya terkejut dan ingin memastikan gadis yang ada di hadapannya.


“ Iya benar, saya Naura! kenapa anda bisa mengenal saya?” tanya Naura penasaran.


“ Tentu saja aku mengenalmu, kau termasuk kembang desa di kampung kita. Kau sudah tidak mengenaliku hah?” ucap mama Hanni berusaha mengingatkan Naura.

__ADS_1


Wuussssshhhhhh, sekelebatan ingatan Naura muncul dan dengan tergambar dengan jelas, Naura segera mengenal siapa wanita yang berada di depannya. Dengan terkejut dan menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Spontan Naura menjerit, ia tidak menyangka dengan wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang berasal dari kampung yang sama dengan Naura yang dua tahun lalu pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di kota metropolitan.....


__ADS_2