
“ Beruntung sekali ya kang Ahmad dan mbak Tanti mendapat menantu sekaligus dua dari keluarga yang kaya pula tu.” Ucap bik Hasna mulai mengghibah.
“ Iya benar! malah hari ini adalah hari seserahan sekaligus lamarannya si Naya. Ternyata mbak Tanti masih mengingat kita ya yang sudah mengundang kita di acaranya ini.” Timpal Welas masih merasa tidak enak dengan keluarga Naura yang dulu pernah menuduh Naura yang tidak – tidak.
“ Itu semua sudah berlalu, itu balasan bagi orang – orang yang sholeh seperti keluarga kang Ahmad ini. Allah telah memberikan mereka menantu yang benar – benar menerima keluarga kang Ahmad apa adanya tanpa memandang harta dan status sosial.” Jelas bu Siti.
“ Bu Siti benar! mereka memang pantas menerimanya. Meskipun kedua besannya orang kaya, mbak Tanti tetap mengadakan acaranya secara sederhana di tambah mereka tidak lupa untuk bersedekah kepada keluarga yang kurang mampu.” Timpal bik Hasna.
“ Benar! mereka tetap menunjukkan sikap yang sederhana. Coba kalau dapat Mpok Yati, gak kebayang deh meriahnya seperti apa.” oceh Welas.
“ Kenapa kau bawa – bawa mpok Yati?” tanya Hasna.
“ Ya perbandingan aja, karena sifat mereka yang tinggi hati jelas dong mereka akan memamerkan status mereka yang sok tinggi itu.” Ucap Welas.
“ Sudahlah, kalau beliau dengar kau bisa – bisa di labrak habis – habisan tahu.” Ingat bik Hasna.
“ Dia sudah kalah malu dan tidak akan berani menampakkan wajahnya di sini.” Jelas Welas berani.
“ Kau benar, sejak kejadian itu terungkap mpok Yati jarang terlihat. Dan tentunya dia tidak akan datang ya!” sambung bik Hasna.
“ Iya benar, apalagi masalah si Tari. Aku dengar dia sekarang kena karmanya. Kalian tahu dia di sana sering sakit – sakitan akibat pernah menggugurkan kandungannya.” Jelas Welas terus mengghibah.
“ Aku juga dengar! Makanya dia tetap bertahan tinggal di kota agar orang – orang kampung tidak mengetahuinya.” Timpal bik Hasna.
“ Hussst, kalian ini jangan ngomong sembarangan bisa jadi fitnah lho.” Ucap bu Siti.
“ Ini benar lho bu Siti! Pastinya mpok Yati akan menutup – nutupi keadaan anaknya. Sekarang dia sudah gak bisa angkuh lagi tuh! selama ini dia sibuk menyebar – nyebarkan aib orang lain, eh malah aibnya sendiri kan yang terbuka.” Geram Welas jika mengingat ia juga pernah jadi korban karena sudah percaya pada ucapannya.
“ Iya Las! Aku kalau ingat kejadian itu jadi geram sendiri. Sekarang terbuktikan Allah sudah menunjukkan kebenarannya.” Sambung bik Hasna
__ADS_1
“ Sudah! mau sampai kapan kalian akan mengghibah begitu? ayo kita siapkan masakan ini sebelum para tamu tiba.” Ujar bu Siti.
“ Baik bu Siti.” Ucap bik Hasna dan Welas bersamaan.
Bu Siti, bik Hasna dan Welas salah satu emak – emak yang membantu untuk memasak makanan pada acara hajatan mak Tanti. Rasa kebersamaan dan gotong royong masih dijunjung tinggi di kampung tempat tinggal mereka.
Dengan sigap dan cekatan mereka memasak menu – menu sederhana yang menunjukkan ciri khas makanan kampung. Mereka hanya mengolah masakan seperti rendang daging sapi, gulai ayam kampung, soto babat, sambal terasi dan beberapa macam sayur rebusan seperti daun singkong, kacang panjang, serta lalapan mentimun, petai dan jengkol.
“ Assalamualaikum! Maaf teh saya terlambat.” Ucap bik Aini masuk dari pintu dapur.
“ Walaikumsalam! Kenapa kau baru datang Ni?” tanya bik Hasna.
“ Maaf Teh! Tadi masih ngurusi si Adam. Dia demam makanya saya lama selesai beres – beres di rumah!” Aini menjelaskan alasannya terlambat.
“ Oh! Sudah berapa hari si Adam sakit?” tanya Welas.
“ Ya sudah! Semoga si Adam cepat sembuh.” Ucap bu Siti.
“ Amin. Terima kasih bu Siti.” Ucap Aini yang langsung ikut andil untuk membantu para emak memasak makanan dan beberapa kue.
Sementara kaum bapak – bapak membantu pak Ahmad membersihkan lingkungan di sekitar rumah dan menyiapkan tempat untuk acara seserahan sekaligus lamaran.
Setelah persiapan sudah selesai dari tempat yang sudah di dekorasi, cemilan – cemilan yang sudah di sajikan terlebih dahulu. Sementara sajian menu makanan sudah di susun di prasmanan.
“ Kyaaa....apa kabar Ra! Senang banget ketemu dengan mu dalam situasi yang seperti ini. Beruntung sekali kau bisa mendapat calon suami yang tajir.” Ucap Nining sahabat Naura saat duduk di bangku SMA. Semenjak lulus mereka tidak pernah bertemu karena sibuk dengan urusan masing – masing dan terhalang oleh jarak yang cukup jauh.
Nining melanjutkan kursus make up setelah lulus SMA. Karena bakat dan pendidikan yang ia dapat, sekarang Nining telah menjadi seorang MUA yang cukup di kenal luas oleh masayrakat di kampung maupun di kabupaten.
“Ya namanya juga sudah jodoh Ning. Senang banget Ning! Kau bisa hadir dan memakai jasamu untuk merias aku dan Naya.” Seru Naura yang telah melepas rindu mereka.
__ADS_1
“ Kau beruntung memakai jasa seorang MUA yang andal seperti ku ini!” ucap Nining bangga.
“ Ish, sombong sekali! Tapi kau memang hebat. Kemampuanmu tidak diragukan lagi. Aku selalu mengikuti Ekstagrammu lho.” Puji Naura.
“ Ah terima kasih nyonya Arlan! Kau sangat berlebihan dalam memujiku ya meskipun aku tidak dapat menolaknya. Hahahhaha.” Seru Nining.
“ Iya iya....kau sudah makan? Bagaimana kabar keluargamu?” tanya Naura.
“ Sudah, mereka Alhamdulillah sehat – sehat semua.” Jawab Nining.
“ Syukurlah! Ayo masuk ke dalam.” Ajak Naura ke dalam kamarnya.
Suasana rumah pak Ahmad sudah terlihat mulai ramai dan terlihat sanak saudara pak Ahmad dan bu Tanti sudah berdatangan baik dari yang sekampung maupun di luar kampung. Juga tak ketinggalan para tetangga yang dengan antusias datang membantu dalam terlaksananya acara hajatan ahli bait.
“ Ayo ibu – ibu kita makan bersama.” Ajak bu Tanti kepada orang – orang yang masih berada di dapur.
“ Iya mbak Tanti, kami akan segera makan masih tanggung sedikit lagi neh!” ucap bu Siti yang masih menggoreng perkedel kentang.
“ Iya mbak, mbak siap – siap saja di depan. Masalah di dapur jangan khawatir.” Sambung bik Hasna.
“ Baiklah! Terima kasih atas keringanan langkah kalian yang sudah bersedia membantuku hingga persiapannya menjadi kelar.” Ucap bu Tanti.
“ Sudahlah mbak, jangan sungkan inikan sudah menjadi tradisi di kampung kita ini.” Ujar Welas yang di anggukkan oleh ibu – ibu lainnya.
“ Baiklah! Kalian enakkan saja ya! Aku permisi ke depan dulu.” Pamit bu Tanti.
“ Iya mbak.” Balas mereka serentak.
Suasana yang penuh dengan kehangatan keakraban keluarga menambah kesan meriah dan ramai karena sanak saudara sudah berkumpul dan mereka saling melepas kangen karena sudah lama tidak bertemu dan berkumpul meskipun ada juga yang tidak terlihat ikut berkumpul.
__ADS_1
Mereka begitu antusias menghadiri acara hajatan tuan Ahmad sekaligus merasa penasaran akan besan mereka yang berasal dari keluarga kaya.