Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 84 Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

"Astaghfirullahalazim....kenapa bisa sampai seperti ini?” ucap Naya sangat terkejut. Ia tidak menyangka ternyata selama ini Tari lah yang menyebarkan fitnah kepada Naura.


Naya pun melihat tanpa melewatkan sedetikpun video kiriman Nanda yang sudah membuat warga kampung gempar karena foto Naura dan datangnya dua pemuda dari kota yang langsung menunjukkan sebuah rekaman cctv hotel sebagai penjelasan atas foto – foto Naura yang memperlihatkan kejadian yang sebenarnya.


“ Alhamdulillah akhirnya kebenarannya terungkap juga. Terima kasih ya Allah Engkau telah menunjukkan kebenarannya.” Ucap Syukur Naya.


Naya pun memutar video berikutnya yang telah di kirim oleh Nanda. Naya pun membulatkan matanya dengan sempurna melihat video tersebut dimana saat Arlan meminta secara langsung restu dari kedua orangtuanya untuk mendekati Naura.


“ Ya Allah, kak Arlan memang seorang imam yang sholeh. Ah Engkau maha kuasa ya Allah, mudah – mudahan kalian berjodoh sampai halal. Amin.” Doa Naya begitu terharu dan senang melihat kesungguhan Arlan yang benar – benar menjaga Naura.


Setelah melihat semua video – video dari kampung, Naya langsung mengirim pesan kepada Nanda.


[ Alhamdulillah, masalah kak Naura akhirnya selesai. Kakak juga berharap dan mendoakan kak Naura berjodoh dengan Kak Arlan. Kakak harap kedatanga kak Arlan jangan kau beri tahu pada kak Naura ya Nanda. Biarkan saja kak Arlan yang memberitahukannya secara langsung. Bapak dan emak juga harus dikompaki ya Nanda. Ok]


[ Iya kak]


“ Heeeh, singkat sekali jawabannya. Dasar” gumam Naya


Setelah selesai berkirim pesan, Naya pun bergegas bersiap – siap untuk bekerja ke kafe cabang dari kafe Naura tempat ia bekerja.


“ Bagaimana keadaanmu Ay?” tanya Axel tatkala keadaan kelas sudah sepi yang menyisakan Ayla yang masih berada di bangkunya.


“ Alhamdulillah sudah lumayan. Terima kasih Vixel sudah membantuku. Akan aku lunasi biaya selama aku di rumah sakit.” Jawab Ayla.


“ Tidak perlu, kau bawakan saja aku bekal makan siang selama seminggu tapi makanan itu harus kau yang memasaknya.” Ucap Vixel


“ Baiklah. Tapi aku tidak selera makananmu.” Tanya Ayla.


“ Apapun yang kau buatkan pasti aku makan asal jangan asin.” Seru Vixel.


“ Baiklah kalau itu bisa membayar hutangku.” Jawab Ayla yang di angguki Vixel.


“ Bagaimana keadaan ibumu?”


“ Alhamdulillah sudah ada perkembangan mekipun harus tetap rawat jalan.” Jelas Ayla.


“ Syukurlah, kau kurangi lah jadwal kerja mu di malam hari, kau gunakan saja untuk istirahatmu. Aku tidak mau melihatmu sakit lagi.” Jelas Vixel menatap wajah pucat yang ada di depannya.


“ Baiklah, terima kasih.”

__ADS_1


“ Ohya, ngomong – ngomong bu Naura kenapa tidak kembali lagi ke kelas setelah ia menerima panggilan. Apakah ada sesuatu yang terjadi.” Tebak Vixel yang memang tidak melihat Naura hingga kelas sudah selesai.


“ Ayo kita pulang! Kau harus banyak istirahat agar kau benar – benar pulih. Hari sudah mulai senja.” Ajak Vixel.


“ Iya. Apa bu Naura sudah pulang ya!” ucap Ayla yang juga tidak melihat Naura.


“ Ya mungkin saja.” Jawab Vixel segera beranjak dari bangkunya untuk pergi keluar kelas.


Ayla pun mengekori Vixel dari belakang. Hari sudah mulai senja, jam di lobi lantai dua sudah berada di angka 17.32.


Naura langsung tersentak dari mimpi panjangnya.


“ Astagfirullahalazim, sudah sore rupanya. Bisa – bisanya aku ketiduran di sini dengan begitu nyenyaknya.” Ucap Naura terkejut ketika melihat langit sudah berwarna orange seperti warna jeruk.


Saat ia beranjak berdiri, seseuatu terjatuh dari pangkuannya. Ia pun mengutip dan mengambil benda yang tanpa ia ketahui sudah jatuh ke lantai.


“ Jas? Milik siapa?” tanya Naura setelah mengambil benda yang terjatuh adalah jas seorang pria.


“ Kenapa ada disini? Apa pemilik jas ini kemari saat aku ketiduran? Ah yang benar saja kau Naura kau tidur apa pingsan sih sampai tidak tahu apa yang terjadi.” Oceh Naura merutuki dirinya.


Sambil berpikir keras Naura terus berjalan keluar dari rooftop, saat sampai di parkiran Naura dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi.


“ Kau sudah bangun?” tanya seorang pria yang berada di samping mobil sedan berwarna silver yang masih terparkir di halaman sekolah.


“ Ayo naiklah, kau pasti belum makan.” Ajak Rangga sambil membuka kan pintu bagian depan.


“ Saya bisa pulang send....” belum selesai Naura berbicara ia sudah mendapat tatapan yang sangat tajam dari Rangga. “ Baiklah pak!” sambung Naura pasrah.


Dengan senyuman kemenangan yang terukir di wajah Rangga, ia pun menutup kembali pintu setelah Naura sudah duduk di depan. Ia pun segera menyusul masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.


Rangga melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah menuju tempat di mana bisa menyelesaikan masalah perut.


“ Wah! Ini benar – benar sangat lezat pak! Baru kali ini saya melihat makanan sebanyak ini?” ucap Naura kagum melihat beberapa macam menu yang sudah terhidang di atas meja.


“ Kau menyukainya?” tanya Rangga


“ Sangat suka pak! Sampai saya bingung mau mulai makannya darimana.” Seru Naura polos.


“ Nah ambillah ini.” Ucap Rangga menaruh sepotong udang yang berukuran besar di atas piring Naura.

__ADS_1


“ Ah terima kasih pak! Saya bisa mengambilnya sendiri.” Ucap Naura merasa sungkan.


“ Makanlah!” titah Rangga.


“ Baik pak!” Naura pun langsung menyantap makanan yang sudah berpindah ke piringnya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya Naura pun tidak lupa berdoa agar selalu mensyukuri atas nikmat dan rezeki yang masih ia dapatkan. Saat Naura menjelaskan alasan saat ia bekerja di hotel menjadi staf pengganti, dari arah belakang terdengar suara yang berusaha ingin menjatuhkannya.


“ Kau benar – benar hebat sekarang ya! Kau sudah beralih ke pelukan pria lain yang terlihat sudah mapan di banding pria yang selama ini bersamamu hah.” Ucapnya dengan lantang.


Mendengar ucapan yang di tujukan kepadanya, Naura menoleh ingin melihat wajah dari pemilik suara tersebut.


“ Ah ternyata kau....” ucap Naura seakan sudah terbiasa akan situasi seperti ini.


“ Oho, sepertinya kau sekarang semakin lihai ya! Sudah sampai keluar masuk hotel.” Cibir wanita tersebut.


“ Ah, ternyata dugaan ku benar dalang di balik fitnah yang tersebar di kampung dan di sekolah tempatku magang adalah perbuatan kak Tari.” Ucap Naura tanpa sungkan lagi.


“ Aku hanya ingin memberi tahukan kebusukan mu saja kepada semua orang bahwa dibalik sikap polosmu itu tersimpan kemunafikan. Nah, kau sudah ketangkap basah lagi olehku jalan berdua dengan pria yang berbeda. Ini korbanmu yang keberapa hah!” cerca Tari secara terus menerus.


Mendengar tuduhan dari wanita yang tidak dikenalnya sama sekali, Rangga dengan refleks langsung berdiri dari duduknya. Melihat Rangga dengan rahang yang sudah mengeras, Naura berusaha menenangkan Rangga dan memberi kode agar ia duduk kembali. Biar Naura yang menghadapinya sendiri.


“ Oh, jadi sekarang kakak merasa sudah benar gitu? Seharusnya aku yang berkata demikian tapi itu tidak ada untungnya buatku. Apa kakak merasa kalah dari ku hah. Seharusnya kakak bercermin siapa kakak yang sebenarnya? Dasar tidak tahu malu! Maling teriak maling.” Seru Naura dengan berani dan menatap tajam ke arah Tari.


“ Apa kau bilang, berani sekali kau hah.” Teriak Tari.


“ Cukup! Aku bisa melaporkan mu karena sudah mengganggu kenyamanan makan malamku nona.” Ujar Rangga yang sudah merasa terganggu.


Mendengar suara Rangga yang cukup keras membuat Tari dan Naura terdiam seketika, dengan wajah yang sangat kesal dan tidak terima dengan ucapan pria yang ada di depannya, Tari pun langsung menelpon seseorang agar segera menghampirinya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, tiba lah seorang pria paruh baya dengan memakai setelan jas berwarna abu tua mendekati Tari.


“ Ada apa lagi sayang!” ujar pria tersebut.


“ Mereka sudah mengganggu ku sayang!” adu Tari dengan suara yang dimanjakan.


“ Siapa yang berani sudah mengusik mu hah...” ujarnya dengan suara yang meninggi.


Setelah memperhatikan dengan seksama dua orang yang berada di depannya, sontak kedua mata pria paruh baya tersebut langsung membulat setelah mengetahui siapa pria muda yang bersama wanita yang sudah ia kenal.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang terlihat terkejut dan tergambar rasa takut, ia pun dengan suara terbata menyapa pria muda tersebut yang sudah tidak asing lagi di dalam dunia perbisnisan.


“ Tuuuannn Rangga......?” sapanya dengan suara terbata – terbata.


__ADS_2