Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 101 Interogasi


__ADS_3

“ Kyaaaaaa...... Kau serius Ra!” teriak Abel syok setelah mendengar penjelasan Naura setelah ia di interogasi oleh Abel dan Nadia selama satu jam di sebuah kafe.



“ Serius lah tapi kalian harus janji ya! Jangan sampai tersebar luas. Hanya kalian berdua yang ku beri tahu.” Ancam Naura.



“ Nih, kalau tidak percaya!” sambungnya sambil memamerkan jari tangannya yang sudah tersemat sebuah cincin dengan bermatakan blue sapphire.



“ Iya deh kami janji, tapi kau jahat juga lho kenapa baru ini kau memberi tahu kami sih!” rajuk Abel.



“ Apa kau tidak menganggap kami sebagai sahabatmu sampai – sampai peristiwa besar tersebut kau rahasiakan.” Serang Nadia.



“ Tenang lah! Aku tidak bermaksud seperti itu hanya saja aku malu..” jelas Naura.



“ Malu? Kenapa? Apa yang di malukan dari diri seorang Tuan Arlan putra Kusuma?” tanya Abel



“ Benar! kalau jadi aku malah ku sebar – sebar kan tuh berita agar di seluruh pelosok negeri ini tahu bahwa Tuan Arlan Putra Kusuma adalah milikku.” Imbuh Nadia.



“ Ah kalian ini rempong banget sih! Aku malu tuh bukan karena kak Arlan tapi malu pada diriku sendiri yang terkadang masih merasa tidak selevel dengan keluarga mereka.” ucap Naura sedih.



Plak........sebuah tangan mendarat di bahu Naura.



“ Ah, sakit tahu Bel! Kok tiba – tiba mukul sih!” teriak Naura sambil mengusap – usap bahunya.



“ Dasar kau ini ya! Kenapa masih saja memandang dirimu rendah sih! Memangnya kau masih melihat keluarga Tuan Kusuma hanya dari status seseorang hah... Kau itu benar – benar istimewa tahu!” seru Abel dengan suara yang meninggi.



“ Benar yang dikatakan Abel Ra! Kau seharusnya harus percaya diri, karena itu akan menjadi kelemahanmu bagi orang – orang yang mengincar Tuan Arlan. Apa kau mau posisi mu di geser dengan wanita lain hah....” timpal Nadia.



“ Benarkah!”



“ Ehm...mulai sekarang kau harus berani dan percaya diri agar kau pantas berada di sisi tuan Arlan.” Ujar Abel.



“ Benar. tetap jadilah dirimu sendiri.”



“ Huaaaa......aku terharu sekali. Kalian benar – benar sahabat ku yang paling mengerti. Maaf karena sudah merahasiakannya dari kalian.” isak Naura dengan air mata yang tidak dapat dibendung lagi.

__ADS_1



“ Ah sudahlah! Kau jangan merasa terbebani begitu, agar kau nyaman hari ini kau yang mentraktir kami sampai ronde kedua. Setelah ini kita akan ke tempat karaoke ya! Untuk merayakan kebahagiaan Naura!” ucap Abel bersemangat.



“ Ah kalian ini ujung – ujungnya gak sedap. Bisa – bisanya memanfaatkan kesempatan yang ada.” Omel Naura.



“ Hahahahahha, ayo kita tos.....” ajak Nadia.



“ Ayo toooossss....” teriak ketiga sahabat tersebut sambil mengangkat gelas jus mereka dan meminumnya sampai habis.



Hahahahhahahaha........mereka bertiga saling bertukar cerita setelah beberapa bulan tidak bertemu karena kesibukan masing – masing.



Waktu terus berjalan hari berganti hari bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, setiap waktu yang sudah berlalu tidak dapat di ulang barang sedetik pun. Agar tidak ada penyesalan alangkah bijaknya memanfaatkan waktu dengan hal – hal yang berguna dan terus memperbaiki diri menjadi lebih baik.



Begitu juga dengan kehidupan Naura si gadis kampung yang bertekad tinggi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi agar dapat membuktikan kepada pandangan masyarakat kampung bahwa anak perempuan harus tetap berada di rumah mengurus rumah tangga, anak dan suami yang tidak membutuhkan pendidikan sama sekali.



Dengan seiring berjalannya waktu, Naura berhasil membuktikannya dan menjadi inspirasi bagi anak – anak perempuan lainnya yang ada di kampung agar tidak ragu dan takut lagi untuk mewujudkan impian dan cita – citanya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.



Selain menyamakan hak pendidikan, mereka yang memiliki keinginan yang kuat untuk meraih impian mereka juga dapat mencegah pernikahan dini yang banyak terjadi dalam masyarakat di pedesaan.




“ Aku sangat tegang kak! Aku dengar dosen pengujinya benar – benar membahas materinya sampai ke akar – akarnya.” Jawab Naura.



“ Jika kau benar – benar yang mengerjakannya apa yang kau khawatirkan. Santailah agar kau dapat menjawab semua pertanyaan yang di berika oleh dosen pengujinya.” Ujar Arlan menenangkan Naura.



“ Kakak benar! aku harus percaya diri dalam sidang ini.” Tegas Naura meyakinkan dirinya.



“ Semangatlah!” ucap Arlan sambil mengelus kepala Naura yang tertutup hijab hitam.



Hari ini adalah sidang skripsi Naura yang merupakan akhir dari perjuangannya selama empat tahun ia mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi agar dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil akhir yang memuaskan.



Naura mendapat nomor antrian 16, ia harus menunggu mahasiswa yang masih di sidang di dalam ruangan. Sembari menunggu Arlan menemani dan menyemangati Naura di dalam ruang tunggu. Ia menyempatkan datang ke acara sidang Naura yang sangat berarti bagi calon isterinya.



“ Terima kasih ya kak! Sudah rela menyempatkan waktu kakak menemani sidang ku hari ini! Padahal jadwal kakak kan sangat padat.” Ucap Naura.

__ADS_1



“ Ehm....sepadat apapun jadwalku kalau sudah menyangkut masa depanku itu tidak bisa di abaikan. Aku harus meluangkan waktu ku untuk meraihnya.” Ujar Arlan.



“ Ish mulai deh menggombalnya..” oceh Naura.



“ Kau suka kan?” goda Arlan meraih dan menggenggam tangan Naura yang terasa mungil.



Blusshhhhh.....seketika wajah Naura memerah dengan perlakuan Arlan yang begitu tiba – tiba.


“ Ah tanganmu begitu dingin, kau jangan terlalu tegang dan gugup!” ujar Arlan tersenyum.


“ Ah iya kak....”


‘ yang membuatku tegang dan gugup bukan karena sidangnya kak! Tapi Kenapa kakak secara tiba – tiba memegang tanganku seperti ini.’ Sambung Naura dalam hati.


“ Eheeemmmmm....tu tangan kenapa?” tegur seorang pria yang tiba – tiba masuk ke ruangan begitu saja.


“ Ah, mulai tanda – tanda bahaya nih.” Timpal yang lain.


“ Kakak!” seru seorang wanita yang hadir dengan kedua pria tersebut.


Melihat kedatangan pembuat onar sontak membuat Arlan melepaskan genggaman tangannya karena merasa sudah terciduk.


“ Ah kenapa kalian tidak mengetuk pintu dahulu sih!” ucapnya kesal.


“ habis kami pikir tidak ada orang tuh!” jawab Galih santai.


Ya mereka adalah Galih, Dennis dan Naya yang datang untuk memberi semangat kepada Naura dalam sidang skripsinya.


“ Apa kau gugup?” tanya Galih.


“ Sedikit kak! Tapi sudah bisa ku atasi berkat kak Arlan yang setia menemaniku.


“ Ah syukurlah kami belum terlambat.” Timpal Dennis.


“ Makanlah sedikit kak! Agar kakak merasa lebih baik.” Ucap Naya menyodorkan roti isi.


“ Terima kasih Nay. Ngomong – ngomong bagaimana kau bisa bareng dengan mereka?” tanya Naura dengan mulut yang terisi penuh roti.


“ Ah itu....tadi tidak sengaja ketemu di depan kak!” kata Naya.


“ Lebih tepatnya kami sudah janjian di depan.” Potong Galih.


“ Ehm....kalian?” selidik Naura kepada adik dan kakak seniornya dengan tatapan yang menginterogasi.


“ Kami tidak seperti yang kakak pikirkan.” Elak Naya.


“ lebih tepatnya belum.” Timpal Galih


“ Ish apaan sih kak!” cebik Naya dengan wajah yang merona.


“ Kau semakin imut kalau cemberut begitu bikin tidak sabar aja.” Goda Galih.


“ Sudahlah kak! Jangan membuat tangan ini mendarat di pundak kakak ya!” omel Naya.


“ Jangankan tangan, hatimu pun aku rela mendarat di sini.” Ucap Galih sambil menunjuk dadanya.


“ Ah kakak semakin ngawur!”

__ADS_1


Melihat perdebatan antara Naya dan Galih membuat mereka bertiga saling pandang dan melempar senyum. Mereka hanya diam seperti nyamuk menyaksikan perseteruan mereka.


“ Dasar kalian! kalian anggap apa kami di sini hah....” seru Dennis membuka suaranya dengan lantang yang menggema dalam ruangan.


__ADS_2