
" Terima kasih banyak Mas! sudah menjemput Naya di kampung!" Ucap Naya setelah tiba di kosnya.
" Ehm, tidak masalah. boleh aku masuk?" tanya Galih
" Eh,kita belum muhrim tahu." ucap Naya tegas.
" Hahaahhahha, wajahmu gemesi tahu. jadi ingin bersamamu setiap saat dan rela setiap hari menjadi supirmu kemana pun kau pergi." goda Galih.
" Gombal! ya iya lah rela karena belum sah jadi isteri kan, coba kalau sudah sah pasti nanti banyak alasan yang sibuk dengan pekerjaan lah yang meeting lah.." ucap Naya.
" Ah, jadi hanya sebatas itu saja rasa percayamu padaku?" tanya Galih tidak terima.
" Ehm, ngambek neh... bukannya tidak percaya hanya saja harus waspada dong!"
" Baiklah! akan aku buktikan ucapanku ini! kau tahu berapa besar dan beratnya rasa sayang serta rinduku ini padamu sayang!" gombal Galih dengan mengeluarkan jurus ala playboy nya...
" Ck ck ck,, dasar bucin akut!"
" Biari, siapa suruh kamu itu begitu imut dan cantik.." Gombal Galih dengan mengerlingkan matanya.
" Cih... basi tahu mas! jangan besar dan berat gitu sayangnya nanti gak kuat lho memikulnya apalagi kalau sudah rindu... Duh.....!" Ejek Naya.
" Ah jadi begini caramu berterima kasih dengan pria yang dengan ikhlas memberikan seluruh hatinya kepadamu hah..." cebik Galih.
" Uluh ..uluh...ngambek lagi neh! jangan keseringan ngambek nanti di caplok orang lho.."
" Ah,dasar kau ya! selalu saja menjawab. Untung sayang!" ketus Galih ngambek.
" Buahaaaaahahahaha....ternyata seperti ini ya seorang bucin akut yang sedang ngambek." ucap Naya dengan gelak tawa yang tak dapat ia tahan.
" Kau.... kau harus membayar upahku yang sudah menjemputmu jauh - jauh sampai ke kampung." Serang Galih.
" Cih,,,,sudah ku duga perbuatan mas pasti dengan pamrih dan ada maunya." cebik Naya.
" Ya zaman sekarang tidak ada yang gratis sayang! besok akan ku jemput! temani aku menghabiskan waktu weekandku agar menjadi sebuah goresan yang indah dalam hidupku." ucap Galih.
" Ok deh... hamba siap menerima titah anda yang mulia.." Ucap Naya berlagak seperti seorang dayang yang mengabdi kepada sang raja.
" Cih narsis banget sih! masuk lah! Jangan larut malam tidurnya!" ucap Galih mengingatkan.
"Asiiap pak bos!" seru Naya dengan memberikan hormat kepada Galih.
Ctaakk, Galih menyentil dahi Naya yang terlihat lebar hingga sedikit memerah.
" Auuwww....sakit tahu mas! kenapa menyentil dahi gitu sih!" keluh Naya dengan mengusal dahinya.
__ADS_1
" Dari pada ku serang karena tidak tahan dengan keimutanmu itu."
" Ah, jangan macam - macam ya mas! meskipun kita sudah tunangan tapi belum sah tahu!" ucap Naya ketus.
" Hahahahaahaaa...kau takut?'" Ejek Galih merasa lucu dengan ekspresi wajah Naya yang tegang
" Maaaas! sudah ya, Naya masuk dulu." pamit Naya menghentikan gombalan Galih.
" Ehm,masuklah. Assalamualaikum.." pamit Galih meninggalkan arean kos - kosan dan segera maauk ke mobilnya.
" Walaikumsalam, hati - hati di jalan mas!" ucap Naya melambaikan tangannya yang terangkat tinggi dan di balas dengan suara klakson mobil dari Galih.
" Ah, kembali lagi ke rurinitas sebelumnya selama tinggal di sini.Ternyata tanpa kak Naura terasa hampa juga neh kamar." gumam Naya.
Drrrttt.....drrrttt...saat hendak melangkah ke kamar handphone Naya berdering. Melihat sebuah nama yang sudah tidak asing lagi baginya Naya segera menggeser tombol hijau ke samping .
" Assalamualaikum mbak Aran!" sapa Naya.
"......."
" Iya mbak, Naya baru saja tiba di kos, memangnya ada apa ya mbak?"
"....…......"
" Besok ya mbak ! ehmm baiklah."
" Iya sampai jumpa besok ."
"….…"
" Walaikumsalam."
Tut...tut. panggilan pun teputus Naya bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket akan keringat sebelum ia menuju ke alam mimpi.
" Haaaaah, kau akan membawa dia juga?" tanya Galih tidak percaya saat bertemu dengan Naya di tempat yang sudah di tentukan, kencannya yang pertama dengan Naya akan di lakukan bertiga dengan seorang anak kecil yang berada di tengah - tengah mereka.
" Iya mas! mau gimana lagi, mbak Aran memohon pada Naya untuk menjaga Vienna untuk satu hari ini saja karena mbak Aran akan bertemu dengan klien nya. Sementara pengasuh Vienna sedang sakit." jelas Naya panjang lebar dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah Vienna berada dalam gendongan Naya.
" Huft....ya sudahlah....dasar mbak Aran. Jahil banget sih, malah gak tanggung - tanggung pula tuh!" cebik Galih kesal.
" Sudahlah mas! jangan mengeluh seperti itu yang penting kita kan masih bisa jalan. Ayo!" Bujuk Naya agar Galih tidak cemberut.
Dengan sedikit malas, Galih pun membuka kan pintu depan mobil untuk Naya.
Galih melajukan mobilnya ke tempat yang sudah mereka sepakati yaitu pergi ke taman bermain.
__ADS_1
Kencan yang di nantikan oleh Galih kini ambyar sudah karena adanya seorang anak kecil di antara mereka, alih - alih untuk kencan berdua malah di suruh menjaga anak.
Ya Aran bukan tanpa alasan meminta bantuan kepada Naya untuk menjaga anaknya Vienna, karena suatu hal yang mendesak membuatnya mau tidak mau merepotkan Naya di akhir pekan begini.
" Maaf mas! Naya menyanggupi permintaan dari mbak Aran." ucap Naya sambil mengelus - elus rambut Vienna yang telah tertidur pulas di pangkuan Naya.
" Huft.. sudahlah jangan meminta maaf begitu, ya itung - itung kita belajar bagaimana cara menjaga anak kecil sebelum kita memilikinya." jelas Galih yang sukses membuat wajah Naya merona.
" Ah iya mas!" ucap Naya gugup.
" Ah dasar sial! di lihat dari dekat wajah polosnya membuat orang telah tersihir akan ke imutan wajahnya yang sedang tertidur begini.
" Benar kan mas! Vienna benar - benar imut. Dia senang kok saat bersama Naya. Jadi gak sabar memiliki keponakan dari kak Naura. Hahahaha" ucap Naya.
" ck ck kau ini! kenapa memikirkan anak orang lain sih kenapa gak memikirkan anak sendiri. Pasti sangat menggemaskan." ucap Galih.
" Ah, masih lama mas!" senyum Naya setelah berucap.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun telah tiba di tempat wahana permainan.
Meskipun rencana kencan mereka tidak sesuai, namun mereka masih bisa jalan bertiga tidak berdua.
" Kyaaaaaaaaa......tempat mainnya banyak kali bibi, Enna mau, mau main mau main..." Teriak Vienna kegirangan meronta - ronta untuk turun dari gendongan Naya saat mereka telah tiba di depan wahana permainan.
" Eh..jangan gerak - gerak dong sayang nanti jatuh." Teriak Naya cemas yang nyaris saja Vienna terjatuh dari gendongannya.
Grab,,,Galih tidak tahan melihat kegaduhan antara mereka, dengan cepat Galih mengambil alih Vienna ke dalam gendongannya.
" Mas..."
" Tidak apa - apa."
" Main , main..Enna mau main." teriak Vienna tidak sabar melihat berbagai macam permainan yang ada di depannya.
" Eits,,,Enna mau main?" tanya Galih lembut.
" mau.." jawab Vienna
" Kalau Enna mau main, dengarkan ucapan bibi dan paman. Kita bayar tiket nya dulu baru kita main sepuasnya. Mengerti?"
" Iya paman."
" Bagus. Ayo kita masuk."
" Yeaayyy.." teriak Vienna kegirangan.
__ADS_1
Melihat kebahagiaan dan keceriaan di wajah Vienna membuat mereka hanya bisa tersenyum, mungkin beginilah gambaran nantinya jika mereka akan memiliki anak. Melihat tawanya anak - anak yang begitu lepas membuat mereka sangat bahagia.
Vienna sudah tenang berada dalam gendongan Galih, mereka pun berjalan beriringan memasuki wahana permainan Kids Fun Game.