
“ Astaghfirullahalazim...” ucap Naura tidak percaya dengan foto yang dikirim dari Naya.
Dengan suara yang spontan keluar dari mulut Naura, dengan segera ia pun menutu mulutnya agar tidak mencurigakan.
“ Bagaimana kak Tari bisa mendapat foto yang sama persis dengan yang ada di forum sekolah ini. Ah lalu apakah foto ini sampai ke kampung ya?” gumam Naura.
“ Ah ya, tanya Naya saja.” Imbuhnya.
Saat Naura ingin menekan nomor Naya, tiba – tiba sebuah tangan menyambar dan mengambil handphone dari tangan Naura. sontak membuat Naura terkejut dengan apa yang ia lihat.
“ Kak Arlan?” teriak Naura terkejut.
Tanpa menghiraukan teriakan Naura Arlan melihat foto yang berada di macebooknya Tari.
“ Sudah ku duga.” Gumam Arlan.
Melihat Naura yang menundukkan kepalanya membuat Arlan merasa sedikit bersalah karena sudah salah paham dengannya.
Tidak ingin di lihat orang lain, Arlan menarik lengan Naura berjalan menuju rooftop. Dengan sedikit terkejut Naura mengangkat kepalanya dan melihat punggung Arlan yang menariknya berjalan ke depan.
Flashback On
“ Permisi Tuan, ada yang ingin saya tunjukkan pada Tuan.” Seru Axel menghampiri Arlan yang duduk memandang layar handphone nya di kursi kebesarannya sambil menyerahkan sebuah Notepad.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Arlan tidak menghiraukan Axel karena suasana hatinya masih kalut setelah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan hatinya.
Dengan rasa malas Arlan pun, melihat Notepad pemberian Axel dan melihat beberapa sebuah artikel yang baru terunggah di suatu forum serta beberapa video hasil rekaman cctv yang menunjukkan keberadaan Naura pada saat di hotel.
Dengan memperhatikan dengan seksama, Arlan sudah mulai paham akan peristiwa yang di hadapinya saat ini. Video cctv dari hotel menunjukkan bahwa Naura sedang bekerja paruh waktu di hotel tersebut sebagai staf tambahan dalam penerima tamu pada acara pertunangan anak seorang dari pengusaha.
Dan tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Arlan termasuk salah satu tamu undangan pada acara tersebut. Dan sialnya Naura tidak sengaja melihat Arlan sedang mengobrol dengan seorang wanita dengan jarak yang terlihat begitu sangat dekat.
Hingga dimana Arlan melihat seseorang yang terekam sedang memata – matai Naura saat bersama dengan Rangga. Dengan tangan yang terkepal kuat dan rahang yang keras, Arlan segera beranjak dari kursinya meninggalkan ruangannya.
“ Kau bereskan masalah ini tanpa tersisa!” Titah Arlan kepada Axel saat ia pergi melewati Axel.
“ Baik Tuan.” Jawab Axel hormat menundukkan tubuhnya sedikit meskipun Arlan sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
Flashback Off.
“ Kau baik – baik saja?” tanya Arlan kepada Naura ketika mereka sudah berada di rooftop.
“ Sedikit.” Jawab Naura seadanya. Ia masih merasa kesal dengan dirinya sendiri karena sudah melewati batas.
" Kakak sudah mengetahui masalah yang aku hadapi?" Tanya Naura.
" Ehm..."
“ Kau tenang saja, semuanya akan beres.” Ucap Arlan memandang wajah syahdu yang berada di sampingnya.
“ Benar kak! Aku yakin semuanya akan baik – baik saja. Dan aku akan membuktikan kalau aku tidak bersalah.” Ucap Naura masih memandang lurus ke depan.
“ Maaf.” Ucap Arlan lirih dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
“ Hahh, maaf untuk apa kak?” tanya Naura yang mendengar kata maaf dari mulut Arlan.
“ Ah sudahlah, yang penting sekarang aku senang kau baik – baik saja dan terlihat tegar.” Seru Arlan.
“ Tentu kak, karena masih ada orang – orang disekitarku yang percaya padaku itu sudah cukup bagiku untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.” Jelas Naura percaya diri.
“ Terima kasih kak sudah mengkhawatirkan aku. Aku janji aku akan selalu baik – baik saja.” Ujar Naura.
“ Ehm....”
Hening...Naura hanya terdiam tidak banyak bicara seperti biasanya. Sekarang ia merasa canggung karena masih terbayang akan kedekatan Arlan dengan seorang wanita yang mungkin saja itu adalah kekasihnya.
Drrrtt.....drrtt.......drtt.......di tengah keheningan antara Naura dan Arlan, suara handphone Naura yang cukup keras memecah kesunyian diantara mereka.
" Angkatlah!" titah Arlan karena melihat Naura mengabaikan panggilan handphonenya yang berdering panjang.
Naura segera melihat nama si penelepon di layar handphonenya.
“ Naya.” Gumam Naura.
“ Assalamualaikum, ya Nay!” ucap Naura setelah mengangkat panggilan dari Naya.
__ADS_1
“ Kak! Bagaimana menurut kakak! Naya sudah menelepon bapak dan emak untuk meyakinkan mereka bahwa foto – foto yang di unggah oleh kak Tari itu hanyalah fitnah belaka. Jadi Naya sarankan emak dan bapak jangan mendengarkan ocehan – ocehan para tetangga yang juga tidak tahu kebenaran dari foto – foto tersebut.” Jelas Naya.
“ Ah syukurlah, itu sudah cukup bagi kakak. Baiklah Nay, apa perlu kakak pulang ke kampung untuk memberi penjelasan kepada masyarakat desa mengenai unggahan foto – foto kakak?” tanya Naura untuk mendapatkan saran dari adiknya.
“ Mana yang terbaiknya saja kak! Tapi Naya yakin yang mengambil foto – foto kakak pasti kak Tari kan?” ucap Naya.
“ Kita jangan menuduh kak Tari kalau tidak ada bukti. Bisa – bisa kita juga akan menyebarkan fitnah yang gak jelas kebenarannya.” Saran Naura.
“ Ehm benar juga ya kak! Baiklah mudah – mudahan ada cara untuk membuktikan bahwa kak Tari adalah dalang di balik fitnah ini.” Ucap Naya.
“ Iya Nay! Terima kasih juga kau sudah mempercayai kakak.” Seru Naura.
“ Tentu dong kak! Naya sangat mempercayai kakak kalau kakak pasti dapat menjaga harga diri kakak.” Puji Naya.
“ Ah iya Nay, kita juga harus sama – sama menjaga diri agar tidak terseret ke jalan yang tidak benar. dengan begitu kita dapat membuktikan kepada masyarakat kampung bahwasannya kita sebagai gadis kampung berhak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dan berusaha memajukan pendidikan di kampung.” Jelas Naura bersemangat.
“ Iya kak, benar itu. Mari kita sama – sama membuktikannya.” Ucap Naya.
“ Iya, kalau begitu sudah ya. Assalamualaikum.”
“ Iya kak! Walaikumsalam.
Setelah panggilan terputus, Arlan pun mengangkat suara bahwa ia akan pergi untuk mengurus permasalahan Naura di sekolah ini sekaligus memberi pelajaran bagi yang sudah berani mengusik hidupnya.
“ Baiklah aku harus pergi ada masalah yang akan aku bereskan hari ni juga.” Pamit Arlan.
“Baik kak! Hati – hati kak! Seru Naura.
Naura hanya dapat melihat Arlan dari belakang dan memperlihatkan Punggung Arlan yang terlihat semakin melebar dan berotot.
“ Hati – hati kak!”seru Naura mengingatkan Arlan.
“ Ehm....”
Setelah kepergian Arlan, Naura masih menikmati hembusan angin yang berada di Rooftop tersebut.
Dengan helaan yang lumayan panjang. Naura berusaha menetralkan dan menenangkan dirinya. Ia tidak menyangka niat baiknya untuk menolong siswanya malah berakibat buruk yang ia hadapi.
__ADS_1
Naura semakin terhanyut dengan udara yang membelai lembut kulitnya yang membuatnya tanpa sadar ketiduran di bangku panjang yang telah tersedia di rooftop.
Naura benar – benar menghadapi hari yang begitu sulit dengan permasalahn yang datang silih berganti.