
“ Mau pesan apa?” tanya Arlan saat mereka sudah berada di sebuah restoran yang menjadi tempat favorit mereka.
“ Menu seperti biasanya saja kak! Aku sudah jatuh cinta dengannya. Sulit move on kalau sudah di sini?” ucap Naura.
“ Benarkah! Kau sudah begitu dalam jatuh cintanya?” goda Arlan
“ Apaan sih kak! Ya iyalah jatuh cinta dengan menunya lho...” ucap Naura mengeles.
“ Yakin dengan menunya?” goda Arlan mendekatkan wajahnya ke wajah Naura.
Blushhh,,,,jarak wajah mereka sangat dekat membuat Naura salah tingkah dan merona.
“ Apaan sih..kakak selalu membuat jantungku sakit tahu. Selalu saja mendadak.” Dengus Naura memalingkan wajahnya karena menahan rasa malu dengan suara degub jantungnya yang sangat kencang.
Melihat ekspresi wajah Naura yang merona membuat Arlan terhibur dan tidak bisa menahan tawanya.
“ Puftttt hahahahhahaha,, kau masih saja lucu..jadi gemas tidak sabar ingin menerkamnya.” Ucap Arlan.
“ Siapa juga yang bisa tahan melihat pesona kak Arlan yang seperti itu.” Ucap Naura keceplosan.
“ Pesona? Kau benar – benar tidak dapat menghindar kan?” ucap Arlan membanggakan diri.
“ Cih,,,sombong amat.. amat aja gak sombong tuh!” dengus Naura menahan malu.
“ Sudah berapa banyak wanita yang sudah terpikat oleh pesona kakak yang kakak bangga – bangga kan tuh?” tanya Naura kesal.
“ Berapa ya? Ehmmmm! Sayang sekali tidak terhitung?” goda Arlan sambil mengernyitkan dahinya seperti berpikir keras.
“ Wah...dasar ya! Enak dong di kelilingi oleh wanita – wanita cantik.” Ketus Naura kesal.
“ Kau cemburu?” tanya Arlan.
“ Apa? cem...bu..ru? tidakkk tuh” ujar Naura gagap.
“ Hahahahhahahaha.......aku senang kalau kau cemburu.” Ledek Arlan.
“ Apaan sih kak! Orang lagi kesal malah di ketawai terus.” Omel Naura.
“ Yah senang aja..ada yang cemburu apalagi di cemburui oleh wanita cantik seperti bidadariku ini.” Ucap Arlan sambil mencubit hidung mungil Naura.
“ Auw..sakit tahu...kebiasaan cubit – cubit hidung.” Ujar Naura mengusap – usap hidungnya.
“ Habisnya kau menggemaskan. Membuatku kangen terus...” goda Arlan.
“ Sudahlah kak! Kakak mengajakku untuk makan atau menggombal terus sih, sudah pada berontak neh penghuni perut..” ucap Naura mengelus perutnya yang sudah keroncongan.
__ADS_1
“ Ups! Maaf aku jadi lupa kalau sudah berhadapan denganmu.” Cengir Arlan yang langsung memanggil waitres seorang wanita muda.
Arlan pun memesankan menu favorit Naura jika berkunjung ke restoran miliknya.
“ Kau sudah kenyang?” tanya Arlan
“ Iya kak. Rasanya tidak berubah sama sekali padahal sudah hampir tiga tahun ya.” Ucap Naura.
“ Ehm,,,,aku tetap memprioritaskan rasa dan kualitas dari restoran ini agar terus bertahan dan bersaing dalam dunia bisnis agar mereka tidak terancam kelangsungan hidupnya.” Jelas Arlan menerawang jauh mengingat saat ia pertama kali merintis rumah makan ini dari awal hingga saat ini.
“ Ah iya kak! Semoga terus bertahan kalau di pimpin oleh seseorang yang bertalenta dan pekerja keras seperti kakak.” Puji Naura.
“ Ehm, kau menyukainya?” tanya Arlan.
“ tentu sangat suka.” Ceplos Naura semangat.
“ ehmmmm....terima kasih!” ucap Arlan menatap wajah Naura yang memasukkan suapan terakhir desert penutup makan siang mereka.
Merasa di perhatikan membuat Naura menjadi salah tingkah dan menelan paksa makanan yang sudah masuk ke mulutnya.
“ Ehm, maksudku suka dengan menu dan suasana di rumah makan ini kak!” elak Naura.
“ Yakin,,??? Boleh juga kok menyukai pemiliknya. Itu bonus....” goda Arlan.
“ Ah, aku jadi tersanjung mendengarnya....baiklah kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi.” Ucap Naura dengan percaya diri.
“ Terima kasih tuan yang baik hati....sudah mengijinkan hambamu ini masuk dan mengisi ke ruang hati anda...!” ucap Naura mengatupkan tangannya di atas dada.
“ Kau bisa saja...”
“ hehehehheehe...”
“ Bagaimana judul skripsimu? Sudah kau persiapkan?” tanya Arlan
“ Sudah kak! Tapi selama bimbingan nanti Pak Rangga tidak bisa di temui secara langsung. Jika tidak melalui asistennya dengan cara mengirim e-mail saja.” Jelas Naura.
“ Baguslah kalau begitu.”
“ Hah, apanya yang bagus. Tidak seru lho kak kalau tidak bertemu langsung saat di bimbing.”
“ Kau ingin sekali bertemu secara langsung?” ucap Arlan menatap tajam mata Naura.
“ Ah, ehh bukaa..n begitu kak! Aduh...” ujar Naura sambil menggaruk – garuk kepalanya.
“ Huft,,,maaf!” sambungnya merasa tidak enak membuat Arlan marah kepadanya.
__ADS_1
Melihat penyesalan dari wajah Naura membuat Arlan tidak bisa berlama – lama memasang wajah juteknya.
“ Ayo!” Ajak Arlan.
“ Kemana kak?” tanya Naura
“ Ke toko buku pusat kota. Aku akan membimbingmu mencari bahan materi tentang judul skripsimu.” Tawar Arlan.
“ Ah iya...apa kakak mempunyai waktu istirsahat yang panjang begini ya?” tanya Naura tidak mengerti akan sikap Arlan yang terlihat santai.
“ Kebetulan setengah hari ini pekerjaanku tidak banyak. Sudah ku serahkan pada asistenku.” Jelas Arlan.
“ Ah,, enaknya ya menjadi seorang CEO bisa mengatur waktu sesukanya.” Sindir Naura.
“ Ehm....bagaimana bisa aku menyia – nyia kan waktu ku saat bersama mu setelah beberapa bulan tidak bertemu denganmu hah...?” ujar Arlan yang berjalan mendahului Naura.
“ Ah iya maaf kak!” sesal Naura yang mengikuti langkah Arlan dari belakang.
“ Ehm, iya juga sih setelah pertunangan itu, sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya hingga masa magang ku telah selesai. Ah tidak terasa waktu terus berputar.” Gumam Naura sambil menatap punggung kekar nan lebar yang ada di hadapannya.
Ingin rasanya ia memeluk punggung tersebut, dan meraba otot – otot yang kekar. Ah pasti sangat menyenangkan....
“ Aduh! Kenapa pikiranku jadi gak beres gini sih.. sadarlah Naura apa yang sedang kau pikirkan sih....dasar mesum..” gumam Naura memukul kepalanya agar pikiran – pikiran yang dapat merusak akal sehatnya segera keluar.
Brugghhhh.... “ Auwhhh...sakit tahu kak! Kenapa tiba – tiba berhenti sih?” tanya Naura kesal sambil memegang wajahnya yang menatap punggung Arlan.
“ Kau sedang memikirkan apa hah...?” ucap Arlan menundukkan wajahnya sedikit agar dapat melihat wajah Naura dengan jarak yang dekat.
“ Ti....daaakkkk ada!” jawab Naura gugup.
“ Kau sudah merasakan punggungku kan?” goda Arlan.
“ Ah....kak Arlan apaan sih!” teriak Naura menahan malu terus berjalan mendahului Arlan.
Melihat wajah Naura yang merona Arlan hanya menggeleng – gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat wajah imut mesum Naura.
“ Apa – apaan sih! Bikin malu aja. Kenapa dia bisa menebak isi kepala ku ya! Ah dasar kau Naura.....” omel Naura terus berjalan tanpa menoleh ke belakang menuju area parkiran rumah makan.
“ Sudah ngomelnya?” tanya Arlan sambil membuka kan pintu depan bagian mobil.
“ Sudah, udah capek!” jawab Naura singkat terus masuk ke dalam mobil dan menghempaskan bokongnya dengan kuat di kursi samping kemudi.
“ Jangan lupa pasang sabuknya!” ucap Arlan mengingatkan.
“ Iya kak.” Jawab Naura singkat masih menahan rasa malu.
__ADS_1