Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 102 Sidang Skripsi


__ADS_3

Melihat keseriusan di wajah Dennis membuat mereka berdua menghentikan perdebatan mereka. suasana dalam ruangan seketika menghening.


“ Ah kakak sudah salah paham.” Ujar Naya


“ Sudahlah! Jangan main tarik ulur lagi.” Kesal Dennis melihat tingkah Galih yang kekanak – kanakan.


“ kenapa kau yang sensi begitu sih!” ujar Galih.


“ Dasar kau! Apa kau juga ingin seperti temanmu ini hah...” ucap Dennis ketus.


“ Ya enggaklah aku tu beda dengan dia.” Bela Galih.


“ Hei! Kenapa kalian melibatkan aku juga hah!”


ucap Arlan tidak terima.


Melihat perdebatan ketiga sahabat tersebut membuat Naura semakin pusing.


“ Kalau kalian kemari hanya ingin membuat keributan lebih baik keluar saja dari sini.” Tegur Naura tegas menengahi perdebatan ketiga sahabat tersebut.


Mendengar perkataan Naura membuat mereka terdiam dan saling pandang.


“ Maaf!” ucap mereka serentak.


“ Puftt......hahhahahahahah.” seketika tawa Naya meledak melihat mereka bertiga terdiam seperti seorang anak yang dimarahi oleh ibunya.


“ Nay!” panggil Naura dengan suara yang ditekankan mengisyaratkan Naya berhenti tertawa.


Melihat Naya juga langsung terdiam, membuat ketiga sahabat tersebut saling pandang dan tertawa bersamaan.


“ Hahahahahhahaahhahahaha.”


Naya semakin kesal melihat mereka mentertawainya gantian dengan memasang wajah yang cemberut Naya menyibukkan dirinya dengan membuka buku yang selalu ia bawa.


“ Mahasiswa dengan nomor antrian 16, Naura Eka Febriana silahkan masuk!”


Terdengar suara panggilan dari sebuah soundsistem yang memberitahukan giliran Naura telah tiba.


“ Semangat kak!” ucap Naya memberi semangat.


“ Terima kasih Nay! Bismillahirahmanirahim.” Ucap Naura membaca do’a sebelum memasuki ruang sidang.


“ Kami akan menunggu di sini. Jangan gugup sayang, kau pasti bisa! Semangat..” teriak Arlan yang tak mau kalah juga.


Blush......wajah Naura memerah mendengar kata sayang dari mulut Arlan Naura menoleh sejenak dan melempar senyuman termanis yang ia miliki dengan di iringi sebuah tangan dengan bentuk menyilangkan ibu jari dan telunjuk.


Dengan cepat Naura segera masuk agar wajahnya tidak terlihat jelas oleh mereka.


“ Cih! Yang uda bucin tingkat dewa! Sudah terang – terangan ya!” cibir Galih.


“ Bilang aja iri! Makanya cepat cari calon isteri biar tahu rasanya!” ujar Arlan


“ Sayangnya gak iri tuh! Kalau calon isteri sih sudah ada di depan mata tapi belum ada sinyal aja.” Ucap Galih melirik ke arah Naya.


“ Sinyalnya masih nyangkut tuh di pohon!” sambung Dennis.


“ Buahaaaahahahahah.....kasihan banget tuh hari gini masih tersangkut. Awas aja keduluan di panjat oleh orang lain tuh sinyal.” Ejek Arlan.


“ Hahahhahaaha, kau benar!” imbuh Dennis.

__ADS_1


“ Ah, sekarang kau sudah banyak omong ya! Ternyata besar sekali pengaruh Naura dalam hidupmu!” ledek Galih.


“ Tentu saja!” ucap Arlan senang sambil membayangkan wajah Naura yang sudah mengganggu pikirannya selama beberapa tahun ini.


Melihat kehangatan yang terjalin dalam persahabatan Arlan, Galih dan Dennis membuat Naya terharu. Ia bersyukur selama ini kakaknya di kelilingi oleh orang – orang yang baik.


Menyadari wajah Naya dengan mata yang berkaca – kaca, Galih menghentikan obrolannya.


“ Kau baik – baik saja?” tanya Galih khawatir.


“ Ah, iya kak! Memangnya kenapa kakak bertanya seperti itu?” ucap Naya


“ Wajahmu seperti orang yang ingin menangis.”


“ Ah, maaf! Aku tidak apa – apa kak!”


“ Kau yakin?”


“ Iya kak! Aku hanya terharu melihat orang – orang di sekeliling kak Naura selama ini begitu baik dan selalu menjaganya. Padahal awal – awal kak Naura yang bertekad ingin melanjutkan pendidikannya mengalami sedikit hambatan tetapi karena kak Naura percaya kepada Allah, urusannya selalu di mudahkan hingga ia tinggal di kota sebesar ini hanya seorang diri tanpa adanya teman atau pun keluarga. Berkat dukungan dan bantuan dari wali kelasnya waktu itu, kak Naura dengan tekad yang kuat pergi ke kota sendiri dengan alamat yang di berikan oleh wali kelasnya.” Jelas Naya mengingat perjuangan kakaknya yang begitu keras demi mewujudkan impiannya.


Mendengar penjelasan Naya membuat mereka bertiga mengerti akan perasaan yang telah di rasakan oleh kakak beradik yang sama – sama ingin mewujudkan impian mereka.


Suasana menjadi hening dengan pemikiran mereka masing – masing. Tidak ada lagi terdengar suara candaan.


Selang beberapa menit suasana menjadi gaduh dengan kedatangan beberapa orang yang masuk ke ruangan sambil bersenda gurau.


Melihat suasana ruangan yang terasa dingin, membuat mereka terdiam.


“ Apa ada yang terlewatkan?” tanya seorang pria yang mengenakan kaos ketat yang di lapisi kemeja.


“ Ah! Ternyata kau!” ucap mereka bertiga serentak saat mengetahui siapa yang datang.




“ Baru saja masuk!” jawab Arlan singkat.


Melihat tiga pria yang sangat familiar bagi mereka membuat sahabatnya Naura yaitu Abel dan Nadia diam mematung melihat mereka tanpa kedip.



“ Kyaaa, kak Arlan dan teman –temannya! Tidak disangka dapat bertemu langsung di sini!” gumam Abel berbisik di telinga Nadia yang hanya di balas dengan anggukkan.



“ Apa kau adiknya Naura?” tanya Nadia saat melihat seorang wanita yang lebih muda darinya dengan mengenakan hijab berwarna hijau army yang senada dengan pakaiannya.



“ Benar kak! Saya Naya adiknya kak Naura mahasiswa tingkat empat jurusan desainer.” Jelas Naya memperkenalkan diri.



“ Sudah ku duga, karena wajahmu mirip dengan Naura.” timpal Abel.



“ Halo kak! Apa kabar?” tanya Nadia memberanikan diri untuk menyapa Arlan , Galih dan Dennis.

__ADS_1



“ Halo juga! Kabar baik! Terima kasih.” jawab Galih.



“ Baik.” Jawab Dennis singkat.



“ Ehm.....” balas Arlan dengan hanya sebuah deheman.



Melihat respon dari masing – masing ketiga pria yang ada di depan mereka membuat Abel dan Nadia menjadi canggung.



“ Ah! Kalian ini kenapa masih tetap dingin gitu sih pada wanita.” ucap Andreal memecah kesunyian saat melihat kecanggungan dari Abel dan Nadia.



“ Aku tidak termasuk tahu! Tadi kan aku sudah menjawabnya dengan lengkap.” Sanggah Galih tidak terima.



“ Ah! Sudahlah! Syukur kita belum terlambat menghadiri sidang skripsinya Naura. meskipun kita tidak menyemangatinya saat masuk ke ruangan.” Ucap Andreal.



“ Iya benar!” jawab Abel dan Nadia serentak langsung menduduki kursi yang berada di dekat Naya.



Melihat sahabat kakaknya yang lain, membuat Naya semakin bersyukur karena Naura mendapatkan teman yang benar – benar tulus tanpa memandang status sosial dan latar belakang keluarganya.



“ Hei kok bengong?” tanya Abel yang melihat wajah Naya terlihat sendu.



“ Ah tidak apa – apa kak! Naya hanya merasa sangat bersyukur kak Naura memiliki teman yang benar – benar tulus.” Ucap Naya.



“ Ah kau ini berlebihan deh! Seharusnya kami yang harus bersyukur mendapat teman seperti Naura.” jelas Abel.



“ Benar tuh! Naura benar – benar tulus dalam berteman tanpa memandang harta dan latar belakang keluarga.” Timpal Nadia.



“ Setuju! Itulah Nauraku?” ucap Arlan spontan.



“ Haaaaaaaaaa......” ucap mereka berenam

__ADS_1


serentak dengan ekspresi wajah yang terkejut.


__ADS_2