
Langit sudah mengubah warna cerahnya menjadi warna senja. Rombongan keluarga Kusuma, para sahabat Naura serta keluarga tuan Maulana dan keluarga Wijaya mengundurkan diri untuk kembali ke kota.
“ Sekali lagi selamat ya Arlan ternyata kau sold out duluan! Semoga Dennis juga akan segera menyusul.” Ucap tuan Wijaya.
“ Terima kasih Om! Om tenang saja, Dennis pasti akan menyusul.” Balas Arlan.
“ Baiklah! Om pamit pulang duluan ya!” pamit tuan Wijaya disertai dengan sebuah pelukan.
“ Hati – hati om!” balas Arlan.
“ Kau juga! Pelan – pelan saja unboxing nya ya!” goda Galih dengan mengerlingkan matanya.
“ Kau tenang saja! Itu sudah pasti.” Ucap Arlan yang membuat wajah Naura merona.
“ Bunda duluan ya sayang! Semoga kalian segera memberi cucu buat bunda.” Ucap bunda Nissa memeluk erat tubuh Naura.
“ I..ya bun! hati – hati di jalan ya bun!” gugup Naura dalam pelukan bunda Nissa.
Setelah selesai saling berpamitan, keluarga pak Ahmad dan kerabat mengantarkan kepulangan para tamu mereka yang berasal dari kota.
Satu persatu mobil meninggalkan tempat parkir dan melaju beriringan seperti pawai mobil mewah.
“ Ah! Benar – benar hebat besannya pak Ahmad, mereka mengendarai mobil yang sangat mewah, mobil pejabat saja kalah. Seperti melihat pameran mobil – mobil mewah yang di tivi – tivi itu kan!” ucap Pak Karman kagum sambil tak mengalihkan pandangannya ke barisan mobil - mobil yang melaju menjauh.
“ Benar! beruntung sekali kang Ahmad ini, mendapat besan orang kaya dua sekaligus.” Sambung pak Hasan.
__ADS_1
Kaum bapak pun tak lepas saling mengghibah tentang besannya pak Ahmad beserta kenalan – kenalan Naura yang berasal dari kota. Melihat kedatangan mereka yang begitu antusias, warga kampung menilai bahwa Naura juga memiliki akhlak yang mulia dan dapat beradaptasi dengan baik.
Satu persatu para tamu mulai berpamitan pulang. Hanya kerabat pak Ahmad dan bu Tanti yang berasal dari luar kampung yang masih terlihat. Mereka pun akan bergadang sampai pagi karena tidak ingin melewatkan waktu kebersamaan mereka.
Sementara Arlan juga akan membawa Naura langsung kembali ke kota.
“ Sekarang Naura sudah menjadi tanggung jawab nak Arlan! Apapun keputusan nak Arlan, baik Naura maupun kami sebagai orangtua hanya bisa menurut saja.” Ucap bapak setelah mendengar rencana Arlan.
“ Terima kasih Pak! Saya janji akan sering – sering mengunjungi bapak dan emak di sini.” Ucap Arlan merasa senang akan sifat bijaksana mertuanya.
“ Ra! Kau bersiap – siaplah, mulai sekarang apapun perkataan suamimu harus kau dengarkan dan laksanakan selagi itu tidak menyimpang dari kaidah agama.” Ucap emak sembari menasehati Naura.
“ Iya mak!” turut Naura yang mengajak Arlan ke kamarnya.
Brugh.. Arlan langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang Naura yang sudah di hiasi layaknya dengan dekorasi kamar pengantin.
“ Mas mandi sana! Naura mau mempacking barang – barang yang perlu di bawa.” Ucap Naura yang sudah menghapus make upnya.
“ Ehm....mandi bareng yok yang! Mager neh!” ajak Arlan.
“ Ma..as... di luar masih rame lho!”
“ Jadi kalau tak ada orang lain, mau kan!” goda Arlan.
“ Ehmm,,,lihat saja nanti. Ish sudah sana katanya kita mau kembali ke kota.” Ucap Naura mengingatkan.
Membayangkan mereka sudah berada di tempat yang hanya ada mereka berdua membuat Arlan langsung bersemangat.
“ Baiklah yang! Mas akan segera mandi.” Ucap Arlan semangat.
“ Dasar!” cebik Naura dengan wajah yang merona karena otaknya sudah traveling jauh.
Dengan menggelengkan kepalanya, Naura pun tersenyum malu. Membayangkan satu ranjang dengan seorang pria yang berstatuskan suaminya.
“ Ah, apa yang kau bayangkan sih Naura!” gumam Naura dengan wajah yang merona.
Untuk membuang pikiran yang macam – macam Naura menyibukkan dirinya untuk menyiapkan pakaian suaminya termasuk pakaian dalam. Dengan tangan yang gemetar, Naura harus memegang benda sensitif tersebut. Ini kali pertamanya ia menyiapkan dan memegang pakaian dalam pria selain milik bapak dan adiknya.
__ADS_1
Selesai menyiapkan pakaian Arlan yang sudah di letakkan di ranjang, Naura melanjutkan mempacking barang – barangnya beserta membereskan koper milik Arlan.
Krieet...pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah Arlan yang sudah terlihat segar dengan wajah dan tubuh yang masih basah. Tubuh kekar yang memperlihatkan otot – otot perutnya yang kotak – kotak terlihat sangat jelas. Dengan handuk yang dililit sebatas pinggulnya.
Melihat makhluk ciptaan Allah yang begitu sempurna membuat Naura tak bergeming di tempatnya. Dengan mata yang melotot Naura begitu menikmati pemandangan yang ada di depannya. Sambil menelan air liurnya otak Naura pun kembali travelling.
Melihat ekspresi isterinya yang tak berkedip, membuat jiwa jahil Arlan meronta. Dengan perlahan – lahan tangannya memegang handuk seolah – olah melepaskan handuk dari pinggulnya spontan membuat Naura terkejut.
“ Maasss...! jangan di buka di sini!” teriak Naura tersadar yang langsung menutup matanya dengan telapak tangannya.
“ Kenapa kau menutup matamu! Nanti juga kau akan terbiasa melihat dan merasakannya.” Goda Arlan yang berjalan mendekati Naura.
“ Masss! Naura masih malu.” Ucap Naura dengan tubuh yang sedikit gemetar.
“ Hahahahhaha....yakin tidak ingin melihatnya?”
“ Jangan di buka Mas! cepat pakai baju sana.”
“ Pufttt......hahhahaa..kau sangat lucu sayang!”
“ Sudah meledeknya?” cebik Naura
“ Iya ya! Maaf. Mas akan pakai baju di kamar mandi.” Ucap Arlan yang menyambar pakaiannya di ranjang.
Mendengar suara pintu tertutup, Naura pun mengelus dadanya lega dan membuka matanya.
“ Huhh dasar, bikin sakit jantung saja! Ah kau harus mempersiapkan mentalmu lahir dan batin Naura. kau akan menghadapinya setiap hari.” Gumam Naura.
Arlan keluar dari kamar mandi dengan sebuah kaos putih yang ketat di tubuhnya dengan paduan celana jeans hitam membuat Arlan terlihat tampan dan perfek.
“ Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Arlan dengan memicingkan matanya.
“ Ahh..ti..dak mas! Sekarang Naura juga mau mandi.” Ujar Naura terbata karena malu sudah kepergok lagi saat matanya yang jelas terlihat seperti tatapan mesum.
“ Tunggu...kau melupakan sesuatu.” Teriak Arlan yang menghentikan langkah Naura dan berbalik badan.
Cup...sebuah kecupan mendarat di dahi Naura yang membuat Naura terkejut.
“ Masuklah! Satu jam lagi kita harus berangkat.” Ucap Arlan yang membuyarkan lamunan Naura.
“ Iy..a Mas!”
Melihat sikap Naura yang sangat kaku membuat Arlan terhibur dan gemas. Sembari menunggu, ia pun berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Ia pun menghubungi sekretarisnya meminta cuti selama seminggu untuk menghabiskan waktu berdua dengan Naura dalam berbulan madu ke suatu tempat yang sudah ia siapkan.
Selama 30 menit menunggu, dengan wajah yang tegang dan malu membuat Naura berjalan perlahan keluar dari kamar mandi menuju meja rias. Dengan rambut hitam lurus yang terurai sampai punggung Naura membuat Arlan tak mengedipkan matanya. Ia sangat mengagumi kecantikan Naura tanpa memakai hijab yang memperlihatkan lehernya yang putih dan panjang.
Kini Ia sudah halal bagi Arlan. Ia dapat melihat aurat Naura tanpa menimbulkan dosa. Melihat Arlan menatapnya seperti ingin menerkamnya membuat Naura salah tingkah.
__ADS_1