Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 121 First Kiss


__ADS_3

“ Kyaaaaa....Lauuuttt....” teriak Naura kegirangan setelah kakinya menginjak pasir putih yang terdapat di pantai dalam negeri.


Tempat wisata yang mereka kunjungi adalah sebuah pantai yang terdapat di salah satu pulau yang terdapat di dalam negeri. Meskipun Aran memilih di dalam negeri tetapi keindahan panorama alam yang tercipta dari pulau ini tidak lah kalah dengan pantai – pantai di luar negeri.


Meskipun pulau ini belum banyak diketahui, akan membuat perjalanan bulan madu Naura dan Arlan akan berkesan dan tak terlupakan. Tempat yang nyaman jauh dari keramaian orang – orang, membuat suasana romantis akan menciptakan kemesaraan bagi mereka.


Tempat menginap yang berada di sebuah Eco Resort yang terletak di tengah laut akan menampilkan pemandangan hamparan air laut yang jernih hingga dasar lautpun akan terlihat jelas.


“ Ayo ke kamar!” Ajak Arlan membuyarkan kekaguman Naura akan panorama laut yang ada di depannya.


“ Mau keliling.” Rengek Naura dengan memasang wajah puppy eyes..


“ waktu kita masih banyak, sekarang kita istirahat dulu.” Ucap Arlan berusaha menguatkan diri dari wajah Naura yang sendu.


“ Baiklah!” pasrah Naura mengikuti langkah Arlan yang menggandeng tangannya.


Dengan di pandu oleh seorang pekerja GRO hotel, mereka pun tiba di kamar selama mereka menginap di pulau ini.


“ Silahkan Tuan dan Nyonya, ini kunci anda. Jika anda membutuhkan sesuatu segera hubungi saya. Semoga hari anda menyenangkan tuan.” Ucap GRO hotel dengan ramah.


“ Terima kasih.” balas Arlan.


Dengan wajah yang terkejut, Naura menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“ Masya Allah mas! Cantik banget, udah seperti cerita di drama yang Naura tonton.” Pekik Naura dengan dekor kamar yang sedemikian indah dan romantis.


Kamar yang sengaja di dekor khusus untuk mereka sudah di atur oleh Aran.


Terdapat kelopak bunga mawar merah yang membentuk sebuah petunjuk jalan menuju ranjang. Di atas ranjang juga terdapat kelopak bunga mawar merah yang dirangkai berbentuk hati serta nama mereka. Selain kelopak bunga mawar merah juga terdapat sepasang angsa yang terbuat dari handuk putih.


Di sekitar ranjang, sengaja di letakkan banyak lilin aromaterapi untuk menunjang kesan romantis pada malam hari.


“ Kau menyukainya?” tanya Arlan.


“ Sangat, sangat menyukainya Mas! Ini benar – benar seperti dalam cerita di drama tetapi kali ini Naura lah yang menjadi pemeran utamanya.” Ucap Naura terus mengagumi dekorasi kamar yang begitu romantis.


“ Sadarlah! Ini bukan cerita di drama yang kau tonton. Mari kita nikmati waktu bulan madu ini.” Ujar Arlan.


“ Hehehehhee,,,Naura pikirkan kejadian seperti ini hanya terjadi di drama – drama gitu mas. Jadi begini ya rasanya mendapat seorang suami sultan. Hahahhahaa.” Seru Naura tanpa sadar menertawai dirinya.

__ADS_1


“ Dasar...norak!” cebik Arlan.


“ Ih biari...”


“ Kau mau mandi dulu?” tanya Arlan.


“ Ehm, mas aja lah dulu! Naura ingin melihat – lihat kamar ini.” Ucap Naura mulai mengitari isi kamar.


“ Ckk kau ini. Ya sudah! Puas – puaskan lah!”


“ Hehehehhehe...” balas Naura dengan cengiran kudanya.


Tanpa membuang waktu, Naura yang terlihat cuek kali ini dia bertingkah narsis. Dengan segera ia mengeluarkan handphone nya dan ia pun mulai berselfi ria dengan background kamar dari segala sudut.


“ Ah, benar – benar sangat cantik! Ranjang yang penuh hiasan bunga ini akan sayang sekali jika di buat tidur.” Gumam Naura.


“ Sebelum rusak, aku foto ah...” sambung Naura dengan mengambil foto ranjang dengan hiasan yang begitu indah.


Greb...tanpa di sadarinya sebuah lengan kekar telah melingkar di pinggang rampingnya.


“ Auw....” pekik Naura terkejut.


“ Mas sudah selesai? Naura hanya mengambil foto sebelum hiasan bunganya rusak.” Ucap Naura polos.


“ Ehm...kau tidak sabar untuk menggunakannya?”


“ Tentu akan di pakai dong....”


“ Kau yakin sudah siap?” potong Arlan yang tidak dapat menahan karena ucapan Naura yang sedikit menggoda.


“ Ah,, maksud Naura...”


Cup...tanpa melanjutkan ucapannya tiba – tiba Arlan menyerang bibir Naura hingga terbungkam.


Arlan telah tersihir akan keranuman bibir Naura yang selama beberapa tahun ini hanya bisa ia pandangi tanpa dapat menyentuhnya sebelum halal baginya.


“ Hosssh....hosh... Mas!” ucap Naura terbata – bata setelah Arlan memberi ruang bagi Naura.


Dengan nafas yang tersengal – sengal, membuat Naura menghirup udara sebanyak – banyaknya. Karena ini merupakan ciuman pertamanya tentu membuatnya tidak dapat bernafas.

__ADS_1


“ Aku akan mengajarimu hingga kau mahir melakukannya.” Tawar Arlan dengan wajah yang menggoda.


Blush....wajah Naura seketika merona. Pikirannya sudah traveling terlebih dahulu.


“ Naura mau mandi dulu mas!” pekik Naura berlari dari pelukan Arlan menuju kamar mandi.


“ Jangan lama – lama.” Teriak Arlan setelah Naura menutup pintu kamar mandi.


“ Ah, ciuman pertama ku! Terjadi juga...kyaaaaa.....romantis banget” pekik Naura senang di depan cermin kamar mandi dengan tangan yang menyentuh bibirnya.


Melihat wajahnya yang senyum – senyum sendiri, ia merasa peristiwa yang baru ia alami seperti mimpi.


“ Ah, setelah ini akan terjadi suatu peristiwa yang lebih besar lagi dalam hidupku. Yah, Bismillah! Aku harus siap melayani suamiku secara lahir dan batin.” Gumam Naura menyemangati dirinya agar ia tidak gugup saat melayani suaminya.


Di bawah guyuran air shower, membuat Naura semakin merasa gugup meskipun ia berusaha menutupinya. Dengan segera ia menyelesaikan ritual mandinya.


Kriettt...dengan perlahan Naura membuka pintu kamar mandi dengan kepala yang menyembul keluar untuk melihat keadaan kamar. Ia tidak melihat sosok suaminya di kamar, dengan perlahan ia berjalan keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi dan handuk yang melilit di atas kepalanya.


“ Mas Arlan kemana? Kok gak ada?” gumam Naura mengitari kamar dan menuju jendela.


“ Masya Allah, sungguh indah ciptaan Mu. Dengan membuka jendela saja sudah langsung di sambut dengan pemandangan laut yang sangat indah. Mbak Aran benar – benar sangat pandai memilih tempat.” Gumam Naura mengagumi panorama laut yang begitu memanjakan mata.


“ Kau sudah selesai mandi?” suara bariton Arlan menyadarkan Naura dari lamunannya.


“ Suudah mas! Mas darimana?” tanya Naura memicingkan matanya melihat ke arah tangan Arlan yang membawa sebuah nampan berisikan makanan.


“ Keluar sebentar, mengambil makan siang kita. Lebih baik kita makan di kamar saja agar tidak terlalu capek.” Ujar Arlan menuju sebuah meja dengan sepasang kursi.


“ Ah iya mas! Sebentar Naura memakai baju dulu dan mengeringkan rambut.” Ucap Naura bergegas menuju kamar mandi.


“ Ck..dasar.kenapa masih malu sih!” cebik Arlan dengan sebuah senyuman.


Melihat Naura selesai berpakaian, Arlan pun segera mengambil hairdryer yang ada di laci meja rias.


“ Kemarilah! Aku akan membantu mengeringkan rambutmu.” Tawar Arlan sambil menepuk – nepuk kursi.


“ Baiklah!” ucap Naura menuruti perkataan suaminya.


Dengan telaten, Arlan mengeringkan rambut isterinya yang terurai panjang hingga ke pinggang. Dengan mengeluarkan mode jahilnya, Arlan membelai rambut hitam Naura hingga ke bawah.

__ADS_1


Dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Naura, Arlan pun membisikkan sesuatu yang sontak membuat bulu kuduk Naura berdiri. Dengan disertai degub jantung yang berpacu cepat.


__ADS_2