
"Temani Melani pulang, Jend," perintah Jenar tidak peduli dengan ucapan suami yang mengkhawatirkan kesehatannya.
"Saya bisa pulang sendiri, Bu." Melani tidak ingin ada perdebatan karena ia sudah setuju untuk pulang sendirian tanpa Jendra.
"Mama dengar sendiri, kan? Melani bisa pulang sendiri. Ini bukan kali pertama dia datang ke kota ini, Ma."
"Jendra!" ucap Surendra geram dengan rahang mengeras.
"Tidak, Mel. Dia yang membawa kamu ke sini, maka dia harus bertanggung jawab."
Melani baru ingin bicara, tapi pak Surendra sudah bicara lebih dulu.
"Istri saya benar, Mel," ucap Surendra. "Sejak dulu, dia tidak bisa bersikap dewasa. Pacaran, tinggal. Pacaran, tinggal."
"Mau berapa banyak gadis yang kamu sakiti, Jend?" Surendra membuat Jendra menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Tapi, Melani bukan pacarku, Pa. Dia bahkan menolakku!"
Padahal apa yang Surendra katakan tidak ada hubungannya dengan ia yang membiarkan Melani yang akan pulang sendirian.
Surendra dan Jenar seketika langsung menatap putranya.
Jantung Melani berdebar hebat sekaligus menahan geram. Bisa-bisanya pria itu berkata jujur.
"Kapan?" tanya Jenar yang tak percaya dengan apa yang putranya katakan.
"Tadi malam. Tanya saja padanya!" Jendra menunjuk Melani dengan dagunya.
Astaga! Singa gil* ini sebenarnya mau apa? Mengapa malah menyudutkanku di situasi sulit begini.
Jendra tersenyum tipis. Siapa suruh menolakku. Mengatakan aku sedang banyak fikiran, pula. Lihat apa yang bisa ku lakukan!
"Dasar pembohong!" Jendra terkejut saat papanya malah menuduh dirinya telah berbohong.
"Aku tidak bohong, Pa. Tanyakan padanya." Jendra menunjuk Melani dengan telapak tangan yang terbuka.
"Aku memintanya untuk menjadi kekasihku, tapi dia tidak menjawab sama sekali," ucapnya lagi.
Jendra sama sekali tidak peduli dengan wajah Melani yang mulai memerah. Bukan karena tersipu tapi karena menahan marah.
"Mel," Jenar menatap Melani. "Benar yang Jendra katakan?"
Melani melihat ke arah sepasang orang tua itu secara bergantian. Keduanya tengah menatap dirinya, menunggu ia menjawab pertanyaan itu.
Melani melirik Jendra sekilas. Pria itu malah mengedipkan sebelah matanya lalu menyeringai.
Baj*ingan! Dia sengaja melakukan ini? geram Melani dalam hatinya.
"Mel,"
Melani mengangguk. Tunggu saja pembalasan dariku.
"Benar, Bu. Pak Jendra memang mengajak saya untuk memulai suatu hubungan istimewa."
Melani menghela nafas. "Tapi, saya tidak menolak."
Keduanya seketika langsung menatap Jendra yang sedang merentangkan tangan di sandaran sofa sambil menonton kegugupan Melani.
"Tapi, saya hanya meminta pak Jendra berfikir ulang, Bu."
Keduanya kembali menatap Melani.
"Saya rasa, Pak Jendra terlalu banyak fikiran."
"Beliau mendengar percakapan kita kemarin, Bu."
"Dan dengan alasan, kalau pilihan anda tidak salah, maka beliau berinisiatif untuk membangun hubungan dengan saya." Melani tertawa remeh.
__ADS_1
"Umur saya, sudah 30 tahun, Bu."
"Bisa ibu banyangkan saat seorang pria mengajak pacaran tanpa melibatkan perasaan."
"Lalu, bagaimana jika sampai menikah?"
"Lalu, bagaimana jika pernikahan coba-coba itu gagal? Saya terlanjur hamil atau punya anak, lalu bercerai."
Melani menggeleng. "Terlalu pahit bagi perempuan miskin seperti saya, Bu."
"Saya sudah katakan, selama ini hanya kamu satu-satunya gadis yang ada di dekat saya, Mel." Jendra mengulang ucapannya tadi malam.
"Ingat, Pak. Kita dekat karena pekerjaan, bukan perasaan!" Melani menatap tajam ke arah Jendra.
"Tapi, Mel. Saya tidak main-main."
"Saya sudah terbiasa dengan keberadaan kamu di dekat saya. Makanya, saya meminta untuk memulai hubungan yang serius."
"Saya tidak mau!"
Suasana seketika berubah. Yang awalnya terdengar perdebatan sengit, kini terasa sepi.
"Mel, saya tidak akan memaksa kamu untuk menerima Jendra." Jenar mengalah. Sebagai orang tua, ia harus bisa menjadi penengah antara Jendra dan Melani.
"Kamu faham betul bagaimana tingkah lakunya selama ini."
"Tante sadar, mungkin hal itu yang membuat kamu tidak bisa melihat Jendra sebagai seorang pria."
"Kamu benar-benar hanya menganggapnya sebagai atasan kamu."
Saya juga menganggapnya sebagai singa gil*
"Sudah!" Surendra berdiri dari kursinya. "Kalian keluarlah!" Pria itu menunjuka arah pintu.
"Mama harus istirahat, Jend!"
"Mel, maaf. Tapi ini demi kesehatan istri saya."
"Saya permisi dulu, Bu. Semoga anda segera pulih dan bisa segera kembali ke rumah."
Melani keluar dari ruangan itu.
"Susul dia!" gumam Surendra sambil memberi kode pada Jendra.
Dengan malas, Jendra melangkah keluar dari ruangan itu. "Aku tidak akan kembali ke rumah sakit. Aku akan pulang sore ini," ucap Jendra sebelum menutup pintu.
Jendra berubah fikiran. Papanya benar, ia memang peng*cut. Dan mau sampai kapan ia begitu terus.
Jendra berlari dan menyeimbangkan langkah dengan Melani setelah berada di samping gadis itu.
"Kita perlu bicara, Mel."
"Memang. Kita memang harus bicara."
"Dimana?" tanya Jendra.
"Di rumah saja!"
***
"Menikahlah denganku, Mel." Jendra menggenggam tangan Melani.
Melani buru-buru melepaskan tangan Jendra. Ia menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja.
Keduanya sudah tiba di rumah, dan mereka tengah duduk berhadapan di meja makan setelah Jendra memberinya air minum.
"Saya tidak bisa, Pak!"
__ADS_1
"Saya tidak ingin memulai hubungan hanya karena coba-coba."
"Ajari saya untuk mencintai kamu, Mel."
"Cinta itu tumbuh dengan sendirinya, Pak. Bukan dengan cara dipelajari!" jawab Melani yang tidak pernah jatuh cinta pada pria manapun.
Selama ini ia hanya sebatas tertarik dan mengagumi saja. Sekedar suka juga pernah, tapi tidak ingin membuat komitmen untuk bersama.
"Bagaimana caranya untuk meyakinkan kamu, Mel?"
"Pacaran tidak ingin, menikah tidak mau, lalu harus bagaimana agar kamu yakin kalau saya serius."
"Bapak mencintai saya?" tanya Melani.
"Belum, tapi akan." Jawaban Jendra membuat Melani tersenyum remeh.
Melani berdiri. "Yakinkan diri anda dulu, baru yakinkan saya setelahnya!"
***
"Saya antar kamu sampai apartemen, Mel!" ucap Jendra masih dengan nada kesal saat Melani bersikeras ingin naik taksi.
"Tapi, Pak."
"Kali ini jangan membantah!"
"Memangnya kapan aku pernah membantah perintahnya?" gumam Melani kesal.
Hampir satu jam, mereka akhirnya tiba di area gedung apartemen Melani.
"Saya turun disini saja, Pak!" Melani meminta supir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Saya antar sampai ke dalam."
"Tidak perlu, saya berani kok," ucap Melani yang menolak tawaran Jendra.
Melani hendak membuka pintu mobil, tapi ia urungkan karena melihat dua pria yang merupakan tetangganya sedang berjalan sedikit sempoyongan ke arah mobil mereka.
Gawat! Ada mereka pula!"
Melani harus waspada. Tetangganya itu sedikit aneh dan mencurigakan. Beberapa kali pulang dalam keadaan mabuk dan beberapa kali pula mengetuk pintu apartemennya dengan alasan salah kamar.
Ya, keduanya memang tinggal dengan satu pria lagi yang merupakan adik dari salah satu dari mereka.
"Kenapa belum turun?" tanya Jendra yang menyadari perubahan ekspresi wajah Melani. Gadis itu tampak ragu.
"Ingin ku antar?"
Melani menggeleng. Ia segera turun dan berjalan sambil menarik kopernya.
"Hai mbak Melaniiiii!"
"Oh, my God!" gumam Melani memutar bola matanya saat kedua pria itu malah menyapa dirinya.
"Menjauhlah, sebelum saya memukul kepala kalian dengan heels!" ancam Melani tak membuat keduanya takut.
Kedua pria itu malah tertawa dan menghalangi jalannya. "Jutek sekali, sih? Dari mana, mbak? Liburan ya? Dengan siapa? Om-om tua?" salah satu pria itu bertanya tanpa jeda dengan memanjangkan leher melihat mobil yang Melani tumpangi tadi.
Bau alkohol membuat Melani menahan nafas. Keduanya belum mabuk parah. Terlihat dari bicara mereka yang tidak ngelantur.
"Bukan urusan kalian! Minggir!" pinta Melani tegas.
"Tidak mau. Jawab dulu, dong!"
"Sudah saya bilang, bukan urusan kalian!" Kesabaran Melani hampir habis.
"Pelit sekali, kami tidak suka om-om. Tenang saja, tidak akan kami rebut!" Meraka tertawa lebar.
__ADS_1
"Saya calon suaminya. Kalian mau apa?"
Melani menoleh kebelakang. Tampak Jendra yang tengah melipat tangannya di dada.