Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 85 S2 Bersenang Senang


__ADS_3

Mereka duduk di sebuah kursi di bawah pohon. "Mau berganti pakaian, Mel? Saya masih bisa menunggu."


Melani menggeleng. "Kalau Bapak ingin kesana, pergilah! Saya ingin disini saja." Tepat ini memang tidak terlalu ramai. Berbeda dengan area pinggir pantai yang sangat ramai itu.


Jendra diam saja. Jangankan pergi dari tempat itu, ia bahkan tak bicara satu kata pun.


Melani menatap pria yang berstatus sebagai atasannya itu. "Bapak tidak ingin kesana?"


Jendra menggeleng. "Sudah pernah."


Melani mengangguk. Jelas pria ini pernah kesana karena pulau ini adalah rumah ke dua bagi Jendra.


Orang tua Jendra, pendiri Dewandaru Group, tinggal di sini.


Lagi pula, mana mungkin Jendra akan pergi ke sana sendirian. Pasti biasanya pria itu pergi bersama keluarga atau pacarnya.


"Merindukan mantan, ya?" tanya Melani iseng.


Jendra menatap wajah Melani. "Mengapa menanyakan hal itu?"


"Ya, mungkin anda teringat mantan yang pernah anda ajak ke tempat ini."


Jendra tertawa. "Saya tidak pernah membawa wanita manapun ke tempat ini, Mel."


Melani cukup terkejut dengan pengakuan Jendra. Ia tak percaya apa yang pria itu katakan.


Sejak ia menjadi sekretaris Jendra 3 tahun lalu, pria itu sering sekali pergi ke kota ini. Tapi, siapa sangka ternyata pria itu tidak pernah membawa pacarnya.


"Kamu tidak percaya?" tanya Jendra saat melihat kening Melani berkerut tanda wanita itu meragukan pengakuan Jendra.


Melani mencebikkan bibir. "Saya tidak tahu harus percaya atau tidak."


Melani berdiri. "Saya akan kembali ke cottage, Pak!"


Jendra ikut berjalan dibelakang Melani. "Bapak mau kembali juga?" Melani berbalik menatap Jendra.


"Ya, ada masalah?"


Melani menggeleng. "Tidak."


"Ya sudah! Kalau begitu untuk apa kamu bertanya?" Jendra berjalan mendahului Melani.


***


Pagi harinya, Melani bersiap mandi karena sarapannya sudah diantar oleh pelayan cottage.


Tok... tok... tok...


Melani keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe saat pintu cottagenya diketuk beberapa kali oleh seseorang.


Melani membuka pintu cottage dan menghela nafas saat melihat pria tampan yang berdiri di luar.


"Ingin ikut atau tidak?" tanya Jendra.


Melani merapatkan bathrobe yang membungkus tubuh polosnya. "Kemana Pak?" tanyanya.


"Melihat area persawahan."


Melani berfikir sejenak. "Jam berapa akan berangkat kesana, Pak?"


"15 menit lagi."

__ADS_1


Melani mendelik. "Saya belum sarapan, Pak."


"Saya juga belum. Kamu bersiap, saya tunggu!" Jendra berbalik sebelum Melani memutuskan untuk ikut atau tidak.


Bukan karena lapar, tapi ia merasa pusing saat pikirannya tiba-tiba membayangkan kulit putih dan aset berharga dibalik bathrobe yang dipakai sekretarisnya itu.


"Ah, ya Mel! Bawa pakaian ganti!" ucap Jendra lagi tanpa berbalik.


Melani mengerutkan kening saat menyadari ada yang berbeda dari bosnya itu.


Ia segera menikmati sarapannya setelah memakai pakaian lengkap. Ia memakai jogger pants dan kaos putih polos.


Melani keluar dari cottage setelah selesai. Ia membawa ransel berukuran kecil untuk menyimpan pakaian ganti yang ia bawa.


Melani masih menebak-nebak mengapa Jendra memintanya membawa pakaian ganti. Ia menduga, Jendra akan mengajaknya ke area persawahan yang kotor sehingga ia perlu membawa pakaian ganti.


"Saya sudah siap, Pak!" ucap Melani saat melihat Jendra tengah duduk di teras cottage. Pria itu juga tampak memakai ransel berukuran kecil. Pria dengan setelan celana jeans selutut, kaos putih dan denim jaket itu tampak mempesona.


Sayangnya, Melani tak mungkin jatuh cinta karena ia tahu sepak terjang pria yang selalu menghabiskan malam di ranjang bersama pacar-pacarku itu.


Melani masuk ke dalam mobil, tepatnya di samping Jendra yang tengah mengemudi.


"Anda menyewa mobil, Pak?" tanya Melani karena mereka tidak menggunakan jasa supir.


Jendra mengangguk. "Ya, saya menyewa mobil ini."


"Kalau seandainya saya tidak ikut, apa anda akan pergi sendirian?"


Jendra tertawa. "Tentu, Mel. Lalu dengan siapa lagi?"


"Ya, siapa tahu dengan keluarga anda," gumam Melani.


Melani mengangguk lemah. Entah sebagai perintah atau ancaman, Melani mengiyakan saja. Ia juga tidak lagi diberi tugas untuk mengawasi Jendra. Bu Jenahara Dewandaru sudah tidak lagi meminta Melani melakukannya sebab Jendra sudah kembali menceritakan kesehariannya pada ibunya itu.


"Saya tidak akan mengatakan apapun," ucap Melani kemudian.


"Bagus! Bukankah tugas untuk mengawasi saya sudah di-stop oleh mama?" tanya Jendra sambil tertawa.


Melani membulatkan mata. "Ba-bagaimana bapak bisa tahu hal itu?"


Jendra tertawa lagi. "Saya bisa melihat gerak gerik kamu, Mel."


Jadi, selama ini pak Jendra tahu kalau aku melaporkan setiap kegiatannya pada Bu Jenahara?


Melani dan Jendra tak banyak bicara. Tapi, perjalanan 1 setengah jam itu terasa tidak membosankan bagi Melani karena matanya terus melihat keluar jendela mobil. Pemandangan indah dengan banyak bangunan seperti tempat ibadah membuat Melani terpikat dengan kota ini.


Mereka tiba di suatu tempat. "Ayo, Mel!" Jendra mengajak Melani keluar dari mobil.


"Kita akan naik itu!" Tunjuk Jendra setelah mereka tiba di sebuah tempat penyewaan mobil ATV.


Melani membulatkan mata. "Saya tidak bisa mengendarai kendaraan itu, Pak!"


"Jangan menyerah sebelum perang! Kamu kan wanita ajaib, pasti bisalah bawa kendaraan seperti itu."


"Saya menunggu bapak saja. Di... sana!" Tunjuk Melani saat matanya menemukan sebuah kursi.


Jendra tertawa. Ia mendorong bahu Melani menuntun wanita itu untuk maju semakin mendekat. "Saya sudah pesan untuk dua orang. Kamu tidak akan mat*i meski kamu masuk ke dalam sawah sekali pun."


Melani semakin membulatkan matanya. "Ada resiko akan masuk ke dalam sawah, Pak?" tanya Melani.


"Tentu, kamu fikir kita akan naik ATV di lapangan terbuka!" Jendra membawa Melani semakin mendekat.

__ADS_1


"Ada sawah, hutan, sungai kecil, goa dan banyak lagi rute yang akan kita lewati bersama rombongan. Satu setengah jam cukup membuat liburan kamu kali ini berbeda, Mel."


Melani tidak tahu entah apa yang Jendra bicarakan dengan tim pengelola wisata tersebut. Yang ia tahu, kepalanya tengah berdenyut-denyut saat membayangkan apabila ia tak bisa mengendalikan kendaraan itu.


Selama ini, hidupnya lurus-lurus saja. Ia tidak pernah melakukan hal yang menurutnya berbahaya seperti ini.


Tapi, sekarang Jendra malah membuatnya banting stir dari zona nyamannya. Liburan berjemur manja di pinggir pantai sepertinya tinggal angan. Apalagi jika sampai ia berguling dengan kendaraan itu dan kakinya patah.


Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan sampai Singa gil* itu membuat kaki dan tanganku patah.


"Ayo!" Jendra mengejutkannya. "Kita pakai perlengkapan dulu."


Melani dibantu memakai pelindung lutut dan siku. "Pakai ini agar lututmu tidak bergeser ke siku!" Jendra terkekeh. Lalu pria itu membantunya memakai helm.


Melani menepuk bahu Jendra sambil tertawa karena menyadari ternyata Jendra hanya menakut-nakutinya saja.


Mereka mendengarkan pengarahan dari pemandu. Ada beberapa orang yang sudah bersiap bersama mereka.


"Naik, Mel!" Jendra memerintahkan Melani naik dibelakang pria itu.


"Saya dibonceng, Pak?" tanya Melani terkejut.


"Tentu. Memangnya kamu mau bawa sendirian?"


Melani menggeleng lalu bergegas naik sebelum Jendra berubah fikiran. "Saya fikir, saya akan bawa sendiri."


Jendra tertawa. "Kamu percaya saya membiarkan kamu naik kendaraan ini sendiri?"


Melani kembali menepuk bahu Jendra. Mereka bersiap akan menelusuri rute yang akan ditempuh selama satu setengah sampai dua jam itu.


"Pengantin baru juga, ya Mas?"


Jendra mengulum senyum, tak mampu menjawab pertanyaan dari seorang pria yang juga membonceng seorang wanita yang Jendra duga adalah istrinya.


Melani menggeleng. "Bu-bukan, Mas."


"Tapi tampak serasi. Semoga berjodoh ya, Mbak!" sambung wanita di belakang pria itu.


Melani semakin membulatkan mata. Tapi tak ada yang peduli karena Jendra sudah membawa kendaraan itu melesat menyusul rombongan mereka yang sudah berada jauh di depan.


"Jangan kesal. Mereka kan tidak tahu!" Jendra tetap mengajak Melani bicara. Sebagai penakhluk wanita, ia hanya takut mood Melani berubah drastis dan membuat liburannya menjadi tidak seru.


"Tapi kenapa bapak tidak menjawab. Malah diam saja seolah yang mereka katakan itu benar."


Jendra tertawa. "Benar atau tidak kan tidak berpengaruh bagi mereka."


"Jangan terlalu serius, Mel. Kita kesini untuk liburan. Untuk bersenang-senang."


Melani mengangguk. Ia tak boleh melewati keseruan liburan ini meski hanya semenit. "Pak, jangan ngebut bisa kan?" tanya Melani.


"Kenapa?" tanya Jendra yang mengira Melani takut saat ia melaju cepat.


"Disana viewnya keren sekali. Saya betah melihatnya terus."


Jendra tertawa. "Masih banyak yang lebih keren lagi, Mel."


"Kamu sepertinya terlalu banyak menghabiskan liburan di apartemen petakmu itu!"


"Namanya juga liburan low budget, Pak. Cuma butuh kuota sama cemilan."


Melani mengakui itu karena liburannya selalu dihabiskan dengan nonton film di apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2