Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 125 S3 Setelah Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan tidak selamanya indah. Cepat atau lambat sudah pasti akan ada kerikil kecil, tikungan tajam, atau mungkin tebing yang curam. Tapi, yang terpenting adalah bagaimana sepasang manusia bisa tetap saling mendukung untuk bisa melewati semua itu.


Seperti halnya kehidupan pernikahan Kalandra dan Kayla, Jendra dan Melani serta Reyga dan Gia. Mereka memang telah menemukan kebahagiaan dalam pernikahan masing-masing tapi kebahagian itu tetap diwarnai dengan masalah-masalah kecil.


Di pagi yang terik ini, sebuah mobil mewah memasuki sebuah halaman depan rumah berlantai dua yang tampak mentereng.


Seorang pria berpenampilam rapi meski hanya dengan memakai jeans pendek membukakan pintu mobil.


Pria bernama Kalandra itu tersenyum lebar menyambut kepulangan bayi perempuannya yang tengah digendong Riana.


Ia perlahan juga menuntun istrinya untuk masuk ke dalam rumah. "Pelan-pelan, sayang!"


Ia menggenggam tangan Kayla yang berjalan dengan sangat hati-hati karena tiga hari lalu, ia baru saja melahirkan secara normal di sebuah rumah sakit Ibu dan Anak.


"Selamat datang di rumah kita, Kayra Rajaswa," ucap Kalandra saat Riana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Nama Kayra sengaja mereka pilih karena merupakan gabungan antara Kayla dan Kalandra. Dan sebutan baby Ara merupakan panggilan kesayangan untuk putri mereka itu.


Kayla tidak tahu harus mengucap syukur sebanyak apa karena proses kelahiran baby Ara sungguh begitu mudah dan lancar. Di rumah sakit, hanya perlu waktu sekitar 2 jam untuk menunggu pembukaan lengkap.


Kalandra yang menyarankan untuk operasi cesar sejak awal sengaja Kayla tolak. Selain proses penyembuhannya yang tidak cepat, ia juga tidak ingin kesulitan saat menggendong putrinya, nanti.


"Eh, kamu bangun sayang?" tanya Riana saat bayi cantik dalam gendongannya itu membuka mata.


"Ingin melihat rumah kamu, ya?" tanya Riana pada bayi cantik itu.


Mereka masuk ke kamar yang berada di lantai dua. Karena tidak sabar menunggu Kayla yang berjalan dengan sangat lambat, Kalandra memutuskan untuk menggendong istrinya itu.


Kayla sempat berontak dan minta diturunkan, tapi Kalandra tidak menggubrisnya.


"Mas, aku malu dilihat mama."


"Mama tidak melihatnya, Kayla. Tanyakan saja pada mama."


Kayla memukul lengan suaminya. Bagaimana mungkin mama mertuanya yang sedang berjalan di depan mereka itu tidak melihat?


Setibanya di kamar, Kayla diminta untuk istirahat. Ia berbaring di atas ranjang sementara bayi mungil itu diletakkan di sampingnya.


Riana menyusun barang-barang dari dalam tas ke tempatnya masing-masing seperti diapers dan beberapa pasang pakaian bayi.


"Yang ini, disimpan dimana, Kay?" tanaya Riana saat ia akan menyimpan beberapa kado pemberian orang-orang yang menjenguknya.


"Di sana saja, Ma." Tunjuknya pada sebuah lemari yang masih baru dan masih ada ruang yang belum terisi.


"Mama, istirahatlah!" ucap Kalandra. "Mama pasti kelelahan, Ma. Pakaian kami, biar aku yang membereskannya."


Riana mengangguk. "Setelah ini, mama akan istirahat."

__ADS_1


Sore hari, Kayla kedatangan tamu tak diundang. Yang pertama kali datang adalah Gia dan putri pertama mereka yang baru berusia 3 bulan. Mereka tampaknya datang tanpa Reyga.


"Hai, kak!" Sapa Gia saat masuk ke dalam kamar Kayla. Ini bukan kali pertama ia melihat Kayla dan bayinya. Saat di rumah sakit, Gia sudah pernah menjenguknya.


"Hai, Gi. Berdua saja sama Raisa?" tanya Kayla saat ia hanya melihat Gia masuk dengan menggendong putrinya.


"Mas Reyga akan langsung ke sini, nanti. Dia masih di restoran. Mungkin agak sore baru sampai."


"Hai, Sasa kesayangan tante. Sini sayang!" Kayla meminta agar Gia meletakkan putri kecilnya ke pangkuannya.


Kayla mencium pipi yang mulai tampak berisi itu. "Semakin gemoy saja nih cantiknya tante," ucap Kayla mencium gemas bayi yang tertawa itu.


Semenjak Raisa lahir, Kayla memang sering datang ke rumah Gia bersama Riana. Gia ternyata sangat mandiri, ia tidak menggunakan jasa baby sitter untuk putrinya itu. Ia hanya membutuhkan beberapa asisten rumah tangga untuk mengurus pekerjaan rumah.


"Hai, Kak Ara?" sapa Kayla pada putrinya dengan suara seperti anak kecil.


"Aku Sasa. Besar nanti, kita berteman ya. Kita jadi sepupu sekaligus jadi bestie."


Gia tertawa. "Ada-ada saja, Kak. Mereka berdua belum mengerti kak, apa itu bestie."


Kayla ikut tertawa. "Mama tidak tahu apa itu bestie, sayang."


"Sasa tahu kan?" tanya Kayla dan bayi itu tertawa.


"Lihat, Gi. Anak kamu saja mengerti."


Gia tertawa. "Memang Sasa tahunya hanya ketawa, nangis, cemberut dan sesekali mengoceh, Kak."


"Iya, kak. Baru saja."


"Reyga tidak ikut?" tanyanya lagi. Kini ia mengambil alih Raisa dan membawa bayi cantik itu untuk duduk di sofa dekat jendela.


"Nanti dia menyusul, Kak."


Tetap ada kecanggungan antara Gia dan Kalanadra. Gia tidak mungkin lupa saat ia sengaja ingin menjebak Kalandra beberapa tahun lalu.


Saat itu, saat pesta ulang tahun Bagas. Gia dan orang tuanya diundang dan ia memanfaatkan hal itu untuk bisa menikah dengan Kalandra. Dia yang sering bersikap manis pada Riana, ternyata malah mendapat dukungan dari wanita itu.


Gia sempat merasa kalau Riana adalah ibu yang sedikit gil* karena membiarkan anaknya dijebak. Bahkan wanita itu malah memberi dukungan penuh.


Gia sengaja memakai pakaian yang terbuka saat pesta itu. Ia sengaja membiarkan Kalandra melihatnya berjalan mengendap-endap ke dalam kamar agar pria itu mengikutinya karena merasa curiga.


Tapi, Kalandra tidak peduli, terlebih yang saat itu Gia masuki hanyalah kamar tamu.


Gia tersenyum senang, saat melihat seorang pria masuk ke dalam kamar yang sengaja ia matikan lampunya itu. Ia menarik pria itu sehingga mereka jatuh diatas ranjang.


Bertepatan dengan seseorang yang membuka pintu kamar itu.

__ADS_1


Semua sudah diatur dan Riana turut membantunya. Saat lampu dinyalakan, barulah mereka semua sadar bahwa pria itu adalah Reyga.


"Ma, i-ini tidak seperti yang kalian lihat." Gia berusaha menyakinkan orang tuanya bahwa semua itu hanya salah faham. Ia tidak berani mengatakan kalau semua ini adalah rencananya karena takut orang tuanya malu melihat kelakuannya yang sudah sangat kelewatan.


"Tidak bisa. Kalau kami tidak mencari kamu dan Bu Riana tidak memberi tahunya, mungkin sudah entah apa yang pria ini lakukan padamu."


"Pak Bagas, saya ingin putra anda bertanggung jawab atas hal ini!"


Gia berontak. "Dia tidak perlu bertanggung jawab, Pa. Kami tidak melakukan apapun dan semua ini hanya salah faham."


"Mas Reyga! Bantu aku untuk bicara. Katakan pada mereka kalau semua ini hanya salah faham."


Reyga hanya diam. Dia tidak peduli ini jebakan atau bukan. Dia juga tidak peduli harus menikahi Gia atau tidak, karena ia tidak pernah percaya tentang kebahagiaan dalam pernikahan. Hal yang tidak pernah ia lihat dalam pernikahan orang tuanya sendiri.


"Gia ...."


"Gia ...."


Gia terkesiap saat Kayla memanggilnya berulang kali. Ternyata ia sedari tadi melamun, mengingat peristiwa malam itu yang akhirnya harus menikah dengan Reyga 2 minggu kemudian.


Riana tidak bisa membela Gia karena Bagas tenyata setuju untuk menikahkan mereka. Peristiwa malam itu membuat dua keluarga mereka menjadi sorotan. Kejadian itu menjadi bahan perbincangan orang-orang sehingga membuat malu keluarga mereka.


"Eh, Kak. Ada apa?" tanya Gia kemudian.


Kayla tertawa. "Benar, kamu sedang melamun tadi karena kamu hanya memandang sprei."


Gia tersenyum pelan. "Aku hanya ingat sesuatu hal, Kak."


Perhatian mereka tertuju pada pintu kamar yang kembali terbuka. Kali ini Jendra masuk bersama Melani.


"Sorry baru bisa datang, Kay!" ucap Jendra saat melihat semua orang menatap ke arahnya.


"Ibu negara mabok parah!" Jendra tertawa karena Melani memang benar-benar mengalami morning sickness yang lumayan parah.


Wanita itu bahkan tidak bisa makan apapun. Air putih saja bisa kembali ia muntahkan.


"Lalu bagiamana kondisi mbak Mel sekarang?" tanya Kayla. Ia sudah tahu hal itu karena kemarin Jendra menghubungi suaminya dan mengatakan bahwa mereka belum bisa menjenguk karena keadaan Melani yang belum memungkinkan.


"Sudah agak lumayan, Kay!"


Jendra tertawa. "Dia hanya bisa makan buah apel, Kay."


"Selebihnya ....." Jendra menggeleng.


"Sabar-sabar, Pak. Karena setelah 4 bulan, biasanya morning sicknessnya akan berkurang dengan sendirinya."


"Dan aku sudah tidak sabar menunggu saat itu, Kay!" Jawaban Melani membuat Gia dan Kayla tertawa.

__ADS_1


Begitu memang rasanya jadi ibu hamil. Memang tidak semua wanita mengalaminya. Maka, beruntunglah wanita yang tidak mengalami hal itu.


Tapi, bagi yang mengalaminya, anggap saja itu merupakan pengalaman mengesankan dengan imbalan hadiah dari Tuhan yang begitu berharga.


__ADS_2