
Jendra menebak-nebak apa yang mamanya lakukan di kantornya hari ini. Wanita yang melahirkannya itu tidak memberi kabar akan datang ke Jakarta hari ini.
Ia mendapat kabar dari resepsionis di lobi kantor dan langsung memberi kabar pada Melani.
Melani mengantarkan mamanya masuk ke dalam ruang kerjanya setelah beberaa menit. Jendra berdiri dari kursinya dan memeluk Jenahara dengan sangat erat.
"Miss you, ma," sapanya manja meskipun ia tahu ada hal yang tidak beres yang membuat wanita cantik itu datang secara mendadak.
"Mama mau duduk, Jend!" Jenahara melepaskan pelukan Jendra dan duduk di sofa. Wanita itu bersikap dingin pada putranya.
Jendra juga menyusul duduk di sofa dengan perasaan tak menentu. Ia semakin yakin ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Mama datang dan tidak mengabariku?" tanya Jendra.
"Kemana papa? Apa papa tidak ikut, Ma?" Jendra melihat kearah pintu.
Jendra perlahan menunduk saat melihat tatapan tak bersahabat yang mamanya berikan.
"Ada yang ingin kamu ceritakan pada mama, Jen?" Bukannya menjawab pertanyaan Jendra, wanita itu malah balik memberikan pertanyaan.
Jendra menggeleng setelah ia merasa tidak ada yang perlu ia ceritakan.
"Yakin?"
Jendra mengangguk meski ia tidak yakin. Ia masih berfikir, informasi apa yang ingin mamanya cari darinya.
Jendra hanya bisa menunggu mamanya kembali bicara. Ia melihat mamanya tengah melihat ponsel yang baru saja diambil dari dalam tas.
"Bisa kamu jelaskan ini?"
Mata Jendra membulat sempurna saat mamanya menunjukkan sebuah foto sekelompok orang yang menggunakan mobil ATV. Foto itu merupakan hasil screenshoot dari unggahan seseorang di akun media sosialnya.
Dan yang menjadi masalahnya adalah dirinya dan Melani tampak jelas dalam foto itu.
Entah karena sengaja mencari tahu atau memang unggahan itu memang lewat begitu saja di beranda mamanya, yang pasti wanita itu mencurigai dirinya.
"Itu-"
"Tiga bulan yang lalu, kan?"
"Ke Bali bersama Melani. Naik pesawat pribadi, lalu berlibur berduaan."
Jenahara mulai mencari tahu semua informasinya saat ia melihat unggahan foto salah satu putra dari teman arisannya.
Jenahara geleng-geleng kepala. "Nikmat sekali liburan kamu, sampai lupa dengan orang tua yang tinggal disana!"
"Semua itu hadiah dari Kalandra, Ma. Dia yang membiayai sebagai ucapan terima kasih karena kembali memberi izin pada istrinya."
Jendra semakin tegang saat Jenahara menelisik wajahnya.
"Panggil Kalandra ke sini!"
Benar saja, dalam tempo kurang dari setengah jam. Kalandra tiba di kantornya. Ia tahu, sesibuk apapun Kalandra, jika mamanya yang turun tangan, pria itu pasti akan tetap meluangkan waktu.
"Apa kabar, tante?" Kalandra mencium punggung tangan Jenahara.
Jendra menghubungi Kalandra dan mengatakan alasan pria itu diminta datang.
Kalandra tahu, pasti ada masalah serius yang membuat Jendra memintanya datang. Terlebih Jendra mengatakan ada hubungannya dengan liburan mereka tiga bulan lalu.
Kalandra duduk di sofa satu seater (dudukan). Begitu juga Jenahara yang duduk berhadapan dengannya. Sementara Jendra duduk di sofa tiga seater.
__ADS_1
"Kal, benar kan kalau liburanku dan Melani beberapa bulan lalu merupakan hadiah dari kamu?" tanya Jendra sesat setelah Kalandra duduk.
Kalandra mengangguk. "Ya."
"Tolong jelaskan pada mamaku!" Perintah Jendra. "Mama sepertinya salah faham."
Kalandra tertawa. "Bagian mana yang harus dijelaskan, Jend?"
"Semuanya!" Jawab Jendra.
Kalandra menatap Jenahara. Sebenarnya ia malas ikut campur masalah Jendra dan mamanya.
"Benar, tante. Semua itu saya yang berikan."
"Walau atas permintaannya," gumam Kalandra pelan membuat Jendra mendelik kesal.
Kalandra tertawa. "Tapi Saya ikhlas tante."
"Kamu tahu dia pergi dengan siapa, Kal?"
Kalandra menggeleng. "Awalnya saya tidak tahu. Jendra hanya berpesan untuk menyediakan semuanya untuk dua 2 orang, termasuk cottage, dua voucher Bar ternama disana."
Jenahara melirik Jendra yang sudah menepuk keningnya. Tampak jelas kalau jawaban Jendra tak membuat putranya itu merasa puas.
"Tapi, istri saya mencocokkan unggahan Melani dan Jendra yang berfoto di pesawat pribadi itu. Dan akhirnya kami tahu kalau Jendra pergi bersama Melani."
"Lalu apa masalahnya, tante?" tanya Kalandra
"Panggil Melani sekarang!" perintah Jenahara pada putranya.
Jendra segera menghubungi Melani melalui intercom. Ia kembali duduk bertepatan dengan Melani yang masuk ke ruangannya.
Melani masuk dengan perasaan was-was. Ia akhirnya duduk di samping Jendra karena tak ada tempat duduk yang kosong lagi.
"Benar kamu pergi ke Bali tiga bulan lalu bersama Jendra, Mel?"
Astaga! Jadi ini tentang peristiwa tiga bulan lalu? Mengapa baru dibahas sekarang? Batin Melani.
Melani mengangguk. "Benar, Bu!"
"Berapa lama kalian disana, Mel."
"Dua,-"
"Mama tanya Melani, Jend!"
Jendra terkejut saat mamanya memotong ucapannya. Ia berusaha menjelaskan supaya tidak terjadi salah faham.
"Dua malam, dan dua hari, Bu!"
"Apa yang terjadi disana?"
Melani menggaruk pelipisnya. Pertanyaan yang terdengar ambigu menurutnya.
"Banyak, Bu!"
Jendra sudah pasrah jika Melani membuat kacau suasana. Bahu pria itu merosot dan Jendra duduk bersandar.
"Pak Jendra mengajak saya ke sebuah daerah pedesaan yang masih sangat sejuk. Kami ikut dalam rombongan mobil ATV selama hampir dua jam, Bu."
"Lalu malam harinya?"
__ADS_1
Melani mencoba mengingat. "Kami pergi ke sebuah beach club. Itupun karena voucher yang pak Kalandra berikan."
Kalandra mengangguk saat Jenahara menatapnya meminta kejelasan.
"Siangnya kami pergi membeli oleh-oleh dan menjelang petang, kami berada di beach club lain untuk melihat matahari tenggelam."
Jenahara melirik Jendra yang sudah semakin pasrah.
"Dia tidak meminta kamu untuk menemui kami? Orang tuanya."
Melani menggeleng. "Tidak Bu. Tidak pernah sama sekali."
"Dasar anak durhaka!" Liriknya sinis pada Jendra.
"Ma, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin memanfaatkan waktu singkat itu, ma."
"Aku kan juga baru saja mengunjungi mama dan Papa beberapa minggu sebelum liburan itu!"
"Dan kamu, mengapa tidak memberi tahu saya?" tanya Jenahara pada Melani.
Melani menunduk. "Bukankah Ibu yang meminta saya berhenti memberi laporan mengenai kegiatan pak Jendra?"
"Jadi, saya merasa tidak ada kewajiban untuk memberi tahu kepada ibu," lanjut Melani.
"Saya curiga kalau kalian punya hubungan spesial."
Jendra dan Melani membulatkan mata. Bagaimana bisa wanita di depan mereka ini menyimpulkan demikian?
"Ti-tidak ada, Bu."
"Mama bicara apa?" tanya Jendra ketus.
Kalandra mengulum senyum. "Saya juga melihatnya seperti itu, tante."
Jenahara menatap Kalandra senang. "Kamu juga punya pemikiran yang sama dengan tante?"
Kalandra mengangguk. "Dia lebih suka membawa pacar-pacar mainannya ke hotel, tan."
"Dan sepertinya Melani gadis pertama yang ia ajak liburan."
"Bukankah itu artinya Melani adalah gadis yang istimewa baginya?"
Jendra memijat keningnya, sedangkan Melani hanya bisa diam terpaku tanpa berani bicara meski untuk menyangkal hal itu.
"Kalau kalian tidak mau mengaku, tidak masalah." Wanita itu tersenyum menatap Jendra.
"Mama sudah dapat jawabannya, Jend!"
Jendra menatap mamanya. "Jawaban apa, Ma?" tanyanya terkejut. Ia merasa tidak mengatakan apapun.
"Terima kasih, Kal. Maaf kalau tante sudah menyita waktu kamu."
"Tidak masalah, tante." Kalandra tersenyum ramah.
"Dan kalian berdua." Jenahara menujuk Melani dan Jendra. "Mama tunggu kabar baik selanjutnya."
"Ma..." Jendra ingin protes.
"Sudah, Jend! Sudah cukup pembahasan kali ini!"
"Mama maafkan kamu yang telah sengaja tidak ingin menemui mama dan Papa karena ingin menghabiskan waktu bersama Melani."
__ADS_1
"Tapi, mama minta tolong. Ini gadis terakhir yang masuk dalam daftar mainan kamu!"
Melani keluar dengan perasaan kesal. Ia ingin berontak, tapi tidak mungkin. Jendra saja yang berstatus sebagai anaknya tidak diberi kesempatan sama sekali untuk menjelaskan semuanya. Apa lagi dirinya yang hanya berstatus sebagai pegawai.