Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 102 S2 Lebih dari sekedar Alasan


__ADS_3

Setelah panggilan diakhiri secara sepihak oleh Melani, ia meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu, beralih pada i-pad untuk melihat grafik saham.


Ia juga memeriksa beberapa perkembangan proyek-proyeknya. Tapi, mendadak terlintas hal burukdalam fikirannya.


Bagaimana kalau Melani pingsan? Bagaimana kalau dia terpeleset di kamar mandi dan tidak sadarkan diri? Dia belum turun dari ranjang, itu artinya dia belum sarapan?


Jendra menatap jam di dinding. "Jam 9? Dia belum sarapan?"


Jendra bergegas keluar dari ruang kerjanya. Ia tidak bisa bekerja dengan tenang saat fikirannya sedang kacau begini.


"Kayla, saya keluar sebentar!" Jendra berjalan tanpa menunggu jawaban dari Kayla.


Kayla mengerutkan keningnya. "Tadi tidak ingin diganggu, dan sekarang malah pergi begitu saja."


Jendra melajukan mobilnya menuju apartemen Melani. Ia sempatkan untuk membeli sesuatu.


"Dia sakit apa, ya?" gumam Jendra. "Kenapa tidak ku tanya tadi," keluhnya.


"Tapi, orang sakit paling pas sarapan dengan bubur ayam."


Jendra menepikan mobilnya di sebuah tempat makan yang menjual bubur ayam.


"Pesan 2, Bu. Dibungkus saja."


Dia kan makannya banyak, satu porsi pasti kurang untuknya! Batin Jendra.


Setibanya di gedung apartemen Melani, ia menghampiri security agar bisa masuk ke dalam apartemen Melani tanpa access card.


Pihak keamanan mencoba menghubungi Melani untuk memastikan apa benar Jendra adalah tamunya, tapi tidak dijawab.


"Saya calon suaminya, Pak! Bapak pernah melihat saya masuk ke dalam bersamanya, kan?"


Untung saja Jendra ingat bahwa kepada pria yang bekerja sebagai security inilah Melani melapor bahwa ia adalah tamu diapartemen gadis itu beberapa bulan lalu, saat untuk pertama kalinya Jendra masuk ke dalam tempat tinggal sekretarisnya itu.


"Oh, yang malam hari itu, ya Pak?"


Jendra mengangguk. Akhirnya pria berseragam itu mengingatnya.


"Bukannya mbak Melani biasanya bekerja, Pak. Dia sepertinya tidak ada di dalam saat jam kerja seperti ini."


"Dia ada di dalam, Pak. Dan dia sedang sakit."


"Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk, Pak. Apa lagi kalau kondisinya semakin memburuk, Pak."


Jendra berfikir sejenak, dan akhirnya ia tahu harus melakukan apa.


"Lihat, dia mengirimkan pesan pada saya." Jendra menunjukkan pesan Melani di ponselnya pada security.


Security menelisik penampilan Jendra dari atas ke bawah. "Anda atasannya atau calon suaminya?" Setelah membaca pesan yang Melani kirim, security menebak Jendra lebih cocok jadi atasan Melani ketimbang calon suami.


"Keduanya. Dia sekretaris saya sekaligus calon istri saya, Pak!" ucap playboy tobat itu tanpa gugup sedikitpun. Huuh! Dasar pemain!


Jendra akhirnya diantar oleh security ke lantai 7, dimana unit apartemen Melani terletak.


Jendra tersenyum lebar saat Melani membuka pintu apartemennya. Ia segera masuk ke dalam. "Aku sangat mengkhawatirkan kamu, sayang!" Jendra memegang bahu Melani dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Kamu sudah sarapan?"


"Aku membawakan kamu bubur ayam," ucapnya sambil menunjukkan sebuah kantong plastik yang ia pegang di tangan kirinya.


Melani masih menatapnya dengan ekspresi kebingungan. Jendra segera berbalik. "Terima kasih, Pak!"


"Lain kali, saya akan membawa access card apartemen ini."


Security itu menatap Melani cukup lama karena merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Sadar kalau Jendra terlihat mencurigakan di mata security, Melani maju beberapa langkah.


"Terima kasih sudah mengantarnya sampai ke sini, Pak!"


"Kebetulan saya juga sedang sakit dan sangat tidak memungkinkan untuk turun."


Pria berseragam itu mengangguk. Penampilan Melani memang cukup meyakinkan.


Piyama tidur berlengan panjang, rambut yang ia ikat asal dan tanpa make up sedikitpun. Bahkan bibir tanpa lipstik itu tampak sedikit pucat.


Akhirnya Melani bisa bernafas lega karena security tersebut sudah pergi. Ia segera menutup pintu dan menatap tajam ke arah pria yang sedang berdiri menenteng kantong plastik.


"Mau makan bubur?" tanya Jendra dengan senyum lebar tanpa rasa bersalah.


Melani berjalan dengan menghentakkan kakinya. Wajahnya juga tampak kesal.


"Yah, saya malah diacuhkan!" Jendra tertawa saat tubuh Melani telah mendarat sempurna di sofa.


"Makan saja sendiri!"


Jendra mengangkat bahu. Ia berjalan menuju dapur dan meletakkan kantong plastik itu di atas meja makan yang letaknya tak jauh dari posisi Melani duduk.


Jendra mengambil gelas dan mengisinya di kran dispenser. "Terserah jika tidak ingin. Saya saja yang makan!"


Jendra duduk dan membuka satu box berisi bubur ayam yang ia beli. Ia makan dengan lahap. Kebetulan ia memang hanya sarapan roti pagi ini.


Melani menghela nafas saat melihat Bosnya itu malah asyik makan tanpa memperdulikannya.


"Sebenarnya tujuan anda datang ke sini untuk apa, Pak?" tanya Melani saat ia melihat Jendra sudah membuang box styrofoam itu ke tampat sampah.


"Bukannya anda harusnya berada di kantor? Mengapa malah meninggalkan pekerjaan anda?"


"Dan apa yang anda katakan pada pihak keamanan sehingga anda bisa diantar ke sini?"


Jendra tak menanggapi pertanyaan Melani. Ia justru sibuk membuka isi kulkas gadis itu seolah tak mendengar apa yang Melani katakan.


"Pak, saya sedang bicara dengan anda!" ucap Melani agar keras dan tegas.


"Jangan membuat saya marah!" Kepalanya semakin terasa pusing karena ia mengatakannya dengan nada marah.


Jendra menatap Melani. "Saya hanya mengabaikan ucapan kamu, dan kamu ingin marah?"


Jendra maju mendekati Melani. "Lalu bagaimana dengan saya yang berulang kali mengajak kamu menikah. Bukan hanya mengabaikan, kamu malah menolak mentah-mentah!"


"Lalu, bagaimana dengan perasaan ibu saya yang terang-terangan memohon pada kamu, Mel?"

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak memberikan kesempatan itu?"


"Tidak bisakah kamu menilai kalau diri kamu sangat beruntung, Mel?"


"Disaat wanita lain bersusah payah melakukan banyak hal untuk merebut hati ibu mertuanya, kamu malah sudah mendapatkannya, Mel. Meski kamu menolak untuk mencintai putranya."


Jendra duduk di samping Melani. Keduanya memandang satu sama lain.


Hati Jendra sebenarnya tidak tega untuk mengatakan hal itu. Dan tujuannya datang karena memang ia merasa khawatir pada gadis yang ternyata sedang baik -baik saja ini.


Melani menatap dalam wajah Jendra. Wajah tampan yang selalu ia lihat sepanjang hari selama lebih dari tiga tahun terakhir.


Melani tahu, pria ini sangat tampan dan mapan. Tapi, apakah keduanya sudah cukup menjadi syarat untuk seorang wanita menerimanya sebagai seorang suami?


Bu Jenar, wanita yang menjadi idolanya. Wanita yang sangat ia kagumi itu, telah memintanya menjadi menantu.


Tutur katanya sopan, keibuan dan yang pasti wanita itu menaruh harapan padanya untuk bisa menemani Jendra.


"Maaf jika ucapan saya membuat perasaan kamu terluka," ucapnya lirih.


"Awal kedatangan saya, sebenarnya murni karena saya benar-benar merasa khawatir pada kamu. Saya takut kamu pingsan atau sakit kamu semakin parah."


"Tapi, saat melihat kondisi kamu, saya jadi ingin mengatakan hal tadi."


"Jika saja, kamu mau bersama saya. Kamu tidak akan sendirian di rumah Mel. Setidaknya ada asisten rumah tangga yang akan menemani kamu."


Melani menghembuskan nafas panjang. "Saya tidak mencintai anda, Pak!"


"Itu satu-satunya alasan mengapa saya tidak ingin menikah dengan anda."


Jendra tersenyum simpul. "Mengapa kamu seyakin itu, Mel?"


"Cinta itu unik, Mel. Bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bahkan tanpa disadari."


"Cinta itu bisa tumbuh karena sering menghabiskan waktu bersama."


"Bisa juga karena kecocokan saat saling bercerita."


"Saya tahu, berat untuk kamu mencintai dan menerima saya." Jendra mengulurkan sebelah tangannya untuk menangkup pipi Melani.


Melani cukup terkejut, tapi ia ingin lihat seberani apa Jendra kepadanya.


"Saya bukan pria baik seperti yang kamu harapkan."


"Tapi, saya akan meyakinkan


kamu kalau saya tidak main-main."


"Mungkin memang tidak ada alasan dalam diri saya yang bisa membuat kamu mencintai saya, Mel."


"Tapi, perlu kamu ketahui, tidak butuh alasan untuk mencinta, Mel." Jendra mengusap pelan pipi Melani.


Melani meraih tangan Jendra dan melepaskannya dari pipinya.


"Tapi butuh lebih dari sekedar alasan untuk memulai suatu hubungan, Pak!" Balas Melani. Dan satu kalimat itu berhasil membungkam mulut Jendra.

__ADS_1


__ADS_2