Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 51 Memikirkan Alasan


__ADS_3

"Hai gadis bar-bar..." Sapa Kalandra yang saat ini wajahnya sedang memenuhi layar ponsel Kayla.


Kayla memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya yang kebetulan kuncinya selalu ia bawa di dalam tas. Ia juga segera menghubungi Kalandra dengan panggilan video.


"Maaf, aku baru membaca pesan kamu. Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apa kata dokter?" tanya Kalandra.


Pesan yang dimaksud adalah pesan yang Kayla kirim untuk memberi tahunya bahwa gadis itu akan ke rumah sakit bersama Riana dan Oma.


Kayla cemberut. "Aku belum diperiksa, Mas. Dan kalau sampai aku diperiksa maka hancur semua masa depanku!" ucap Kayla dengan nada kesal.


Kalandra mengerutkan keningnya. "Kenapa begitu? Apa penyakit kamu sangat parah Kay?"


Kayla menggeleng. "Kamu tau? Oma dan mama membawaku ke dokter kandungan!" seru Kayla. Seketika ponsel ditangan Kalandra terjatuh sangking terkejutnya.


"Mas!" Panggil Kayla saat tidak ada lagi wajah Kalandra di layar ponselnya.


"Mas! Kamu masih disana?" tanya Kayla panik. Ia takut pria itu malah pingsan.


"Ya, aku tidak apa-apa Kay!"


Kayla menghela nafas saat wajah Kalandra kembali terlihat. "Ku fikir kamu pingsan, Mas!"


"Coba jelaskan mengapa sampai mama dan Oma membawa kamu ke dokter kandungan." Pinta Kalandra yang terlihat duduk menyandarkan tubuh di sofa.


"Mungkin karena aku muntah-muntah tadi pagi. Mereka mengira aku sedang morning sickness karena hamil."


"Hahahah.." Kalandra malah tertawa.


"Kamu malah tertawa, Mas!" kesal Kayla.


"Habisnya lucu sekali Kayla. Mereka berfikir terlalu jauh!"


"Wajar Mas, untuk seorang nenek dan eyang yang menunggu hadirnya seorang cucu," jawab Kayla membela mertua dan Oma.


"Lalu, bagaimana kamu bisa menghindari pemeriksaan?"


Kayla menjelaskan semuanya tanpa terkecuali. Kalandra menyimak dengan seksama dengan sesekali tertawa pelan.


"Jika saja alat itu masuk...." Kayla menggeleng berkali-kali. "Segel ku akan terlepas dengan sia-sia!"


Kalandra diam mematung. Obrolan ini sangat sensitif tapi Kayla dengan santainya mengucapkan kalimat yang menjelaskan bahwa dirinya masih peraw*an.


"Lalu kamu sedang berada dimana sekarang?" tanya Kalandra mengalihkan pembicaraan.


"Aku ada di rumah orang tuaku. Dan aku sudah mengirim pesan pada mereka. Aku akan pulang bersama kamu."


"Kamu akan pulang malam ini, kan Mas?" tanya Kayla.


Kalandra mengangguk. "Aku akan sampai di sana sekitar jam 7 malam. Kamu tunggu saja disana."


Kayla mengangguk senang. "Aku tunggu."


***


Kalandra melempar asal ponselnya setelah panggilan itu diakhiri. Ia mengacak rambutnya asal.

__ADS_1


"Aarrghhh!" teriaknya kesal.


"Setelah ini, mama dan Oma pasti akan bertanya-tanya mengapa Kayla kabur begitu saja."


"Oma pasti akan terus memaksa Kayla untuk periksa ke dokter."


"Bisa ku bayangkan sepanik apa Kayla tadi."


Kalandra tertawa geli. "Untung saja dia cepat memahami situasi, jika tidak maka ia akan kehilangan selaput darah sekaligus akan ketahuan oleh semuanya bahwa dia masih virg*in!"


Kalandra melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 3 sore. Ia memutuskan untuk segera bersiap.


"Aku percepat saja kepulanganku." gumamnya. "Aku juga tidak tega membiarkan Kayla terus menghindar dari Oma dan Mama."


Kalandra segera bersiap. Ia membereskan pakaiannya sendiri yang ia pakai selama tiga hari ini.


Ya, sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan Kayla. Tapi, saat dia akan pulang, malah terjadi hal yang sangat tidak pernah ia bayangkan.


Kalandra mengirim pesan pada Dea-sekretarisnya dan beberapa timnya agar segera bersiap pulang. Mereka memang pergi menggunakan satu unit mobil tanpa supir. Mereka memutuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian.


Dea membalas pesannya. Pak, saya dan tim memutuskan untuk menginap satu malam lagi karena besok adalah hari libur. Kami masih ingin liburan di kota ini. Apa tidak apa-apa jika bapak pulang sendiri?


Kalandra tidak keberatan sama sekali. Ia hanya harus tetap fit untuk bisa mengemudikan mobil selama 2 sampai 3 jam.


Kalandra keluar dari gedung hotel dan Dea memberikan semua berkas kepada Kalandra karena takut akan tercecer atau hilang saat mereka liburan.


Setelah hampir 3 jam, Kalandra sampai disebuah rumah petak yang tampak rapi. Ia turun dari mobil dan mengunci mobilnya.


Ia mengetuk pintu rumah itu. "Hai!" Sapanya dengan wajah ceria saat seorang gadis membuka pintu untuknya.


"Perjalanannya lancar dan tidak macet." jawab Kalandra.


Mereka masuk ke dalam rumah. Kalandra mengikuti Kayla yang berjalan menuju dapur.


"Kamu tunggu di ruang tamu saja, Mas!"


"Tidak, aku ingin ikut denganmu. Kamu sedang apa? Mengapa memakai apron?" tanya Kalandra terus mengekor di belakang Kayla.


"Aku sedang memasak," jawab Kayla.


"Untukku?" tanya Kalandra.


Kayla mengangguk. "Tentu. Spaghetti Carbonara. Suka kan?" tanya Kayla.


Kalandra mengangguk. Spaghetti Carbonara adalah salah satu menu yang sering Kalandra pesan di restoran. Dan hal itu diperhatikan betul oleh Kayla hingga ia mulai hafal makanan favorit pria itu.


"Karena ku fikir kamu akan sampai jam 7 nanti. Aku menunda-nunda untuk memasaknya."


"Tapi tenang saja, menu makan malam kita akan selesai dalam 20 menit." Kayla mulai menyalakan kompor untuk memanaskan air.


"Bisa ku bantu, Kay?" tanya Kalandra.


"Duduk saja disana dan bantu aku memikirkan jawaban yang akan ku berikan pada mama dan Oma kamu jika mereka menanyakan mengapa aku kabur begitu saja!" ucap Kayla tanpa jeda sambil menunjuk kursi makan dengan pisau ditangannya.


Kalandra tertawa. "Aku sedang tidak ingin berfikir. Aku lapar."

__ADS_1


Kayla menatap tajam pria yang sudah duduk itu. "Pikirkan atau semuanya akan terbongkar."


"Kalau semuanya terbongkar bagaimana?" tanya Kalandra.


Kayla yang dengan cekatan merebus mi dan membuat sausnya tetap menjawab pertanyaan Kalandra.


"Apanya yang bagaimana? Tentu kamu yang akan menghadapi semuanya."


"Lalu aku mendapat cacian dan dipandang sebelah mata." jawabnya meski ia tengah mengaduk saus di wajan.


"Karena aku telah menukar akad dengan rupiah," lanjutnya.


"Dan jika media tahu..." Kayla menatap Kalandra sekilas.


"You know what will happen after!" Kayla mengangkat bahu.


*Kamu tahu yang akan terjadi setelahnya.


Kalandra mengangguk. "Jika mama dan Oma terus gencar seperti ini bukan tidak mungkin semuanya akan terbongkar."


"Selama aku, kamu dan Pak Jendra tidak keceplosan bicara, maka semua akan aman!" Ya, karena hanya mereka bertiga yang mengetahu perjanjian itu.


"Dan satu lagi, surat perjanjian itu. Simpanlah baik-baik. Karena aku masih butuh uang."


Jika perjanjian itu terbongkar dan ia tidak mendapat uang lagi dari Kalandra maka usaha yang sedang ia rintis akan berhenti ditengah jalan.


"Dasar mata duitan!" kesal Kalandra.


"Aku tidak mata duitan, Mas!" jawab Kayla. "Aku sedang membuatkan tempat usaha untuk Bu Susi dan Alif."


"Bukannya sudah?" tanya Kalandra. "Sebuah kios yang terbilang besar."


Kayla mengangguk. "Bu Susi pandai membuat bakso kuah, Mas. Aku sedang membangunkan sebuah kedai kecil untuknya."


"Lalu kios siapa yang jaga?" tanya Kalandra.


"Akan ada yang membantu bu Susi, Mas."


"Letaknya juga bersebelahan, jadi tidak akan terlalu merepotkan."


Kalandra mengangguk. "Jiwa sosial kamu oke juga!"


Kayla tertawa. Ia membawa dua piring spaghetti dan duduk bersama Kalandra.


"Karena aku tahu bagaimana rasanya tidak punya apapun, Mas!"


"Dan itu sangat tidak enak!"


Kalandra tersenyum kagum pada Kayla yang ternyata sangat baik meski terlihat bar-bar dan acuh.


"Jadi, kamu masih ingin menjadi istriku?" tanya Kalandra.


"He'em!" Kayla mengangguk.


Kalandra tersenyum mendengar respon singkat yang menurutnya penuh arti itu.

__ADS_1


__ADS_2