
Kalandra baru saja pulang bekerja, tapi Riana sudah meminta sedikit waktu untuk bicara berdua.
"Andra, bisakah kita bicara berdua?" tanya Riana saat Kalandra baru saja masuk ke teras rumah.
Kalandra mengangguk. "Kamu duluan saja, Kay!" perintah Kayla. "Aku mau bicara dengan mama dulu."
"Tidak-," potong Riana. "Tidak perlu sekarang, Andra."
"Kamu istirahat saja dulu."
"Tidak apa-apa, Ma. Andra juga lebih santai kerjanya hari ini."
"Kalau begitu aku masuk dulu, Mas. Kayla masuk, Ma." Pamitnya pada dua orang ibu dan anak itu.
Kalandra duduk di kursi teras. "Ada apa, Ma?" tanya Kalandra.
"Andra, siang tadi, mama dan pengacara kita pergi ke kantor polisi untuk mencari tahu perkembangan kasus Leo yang sepertinya sangat lambat ditangani."
Kalandra mengangguk mengerti. "Lalu mama bertemu dengan pengacara Leo bersama seorang wanita yang menyebut Leo dengan panggilan Daddy."
"Lalu, apa yang salah Ma?" tanya Kalandra.
Riana diam saja lalu menghela nafas berat. "Pengacara kita mengatakan bahwa wanita itu adalah anak biologis Leo. Dan saat ini tengah bekerja sama dengan perusahaan kamu dan Jendra."
Mata Kalandra membulat sempurna. "Si-siapa, Ma?" tanyanya gugup. Satu nama yang melintas dalam benaknya.
"Clara," ucap Riana.
Tepat sekali dengan apa yang ada difikiran Kalandra. Berarti selama ini, Clara benar-benar tinggal bersama Leo? Dulu Aku melihat mereka bersama saat akan pergi ke luar negeri. Dan sekarang mereka muncul di waktu yang bersamaan juga? Mengapa aku tidak berfikir sejauh ini?
"Tapi, dari hasil pemeriksaan, Clara tidak terlibat dalam kejahatan Leo," ungkap Riana lagi.
"Tapi mama minta kamu tetap berhati-hati, Andra. Mama khawatir wanita bernama Clara itu menjadi kaki tangan Leo selama di penjara."
Kalandra mengangguk. "Iya Ma. Andra akan lebih berhati-hati lagi. Karena mungkin saja Clara punya maksud tidak baik."
"Ya sudah, mama hanya ingin sampaikan hal itu. Kamu istirahat saja."
Kalandra pergi ke kamarnya dan ia melihat Kayla malah tiduran di sofa. Gadis itu menggunakan bantal sofa untuk merebahkan kepalanya sementara kakinya menjuntai ke bawah karena panjang sofa hanya sekitar satu meter saja.
"Kenapa? Kelelahan?" tanya Kalandra yang sedang membuka dasinya. Ia juga meletakkan jasnya di keranjang pakaian kotor.
"Tidak," jawab Kayla sambil menggeleng. Ia tengah mencari makanan yang bisa dibeli secara online lalu memesannya segera.
"Sedang mencari makanan," lanjutnya. "Aku ingin makan sesuatu." Ia rindu memesan makanan di luar, karena selama tinggal di rumah ini Ia selalu makan masakan rumahan.
__ADS_1
Kalandra duduk bahu sofa. "Sekalian saja pesankan untuk semua. Aku yang akan membayarnya."
Kayla melihat keatas dan tampak wajah Kalandra yang sedang mencari siaran televisi kesukaannya.
"Pesan saja dari restoran Reyga," usul Kayla karena malas direpotkan oleh Kalandra.
"Karena aku memesan makanan di street food."
"Tidak. Aku sudah bosan makanan yang ada di restoran Reyga." balas Kalandra.
"Carikan juga makanan yang di jual di street food, aku ingin mencobanya."
Dia memang belum pernah mencoba makanan yang dijual di street food. Itu karena ia tidak punya teman, selain Jendra yang selalu mengajaknya ke Club.
Ia tidak pernah pergi dengan seorang gadis, dan ia lebih sering makan di cafe atau restoran saat meeting di luar kantor.
"Cih, bilang saja pelit!" gumam Kayla. Karena makanan di restoran Reyga pasti punya harga yang lebih mahal.
"Hei, bukan begitu!" Sanggah Kalandra.
"Anggap saja begitu!" debat Kayla.
Ia menunjukkan beberapa menu yang bisa Kalandra pesan. Kayla mengubah posisinya menjadi duduk dan jarak mereka sangat dekat.
"Kamu pilih yang mana."
Kayla menyeringai. "Sungguh?" tanyanya melirik jahil.
"Iya..." jawab Kalandra.
"Baiklah. Akan ku pesan semua yang menurutku enak." Ucap Kayla sambil menggerak-gerakan ibu jarinya di layar ponsel.
"Kalau begitu, mandi dulu saja, Mas!" perintah Kayla.
Kalandra mengerutkan kening. "Kenapa malah menyuruhku mandi? Aku masih ingin menonton tv. Kamu saja sana yang mandi!"
Kayla mendengus kesal. "Aku harus berkonsentrasi untuk memesan banyak makanan."
"Harus begitu? Bukannya kamu hanya perlu satu kali klik untuk membeli setiap makanan itu?" tanya Kalandra dengan mata fokus ke arah tv. Padahal ia tengah duduk di bahu sofa yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Ya, harus begitu memang. Aku harus mencari makanan yang enak, mengenyangkan, dan cocok di lidah orang kaya seperti kalian!" jawab Kayla enteng.
"Geser sedikit, Kay!" Kalandra mendorong pelan bahu Kayla dengan sikutnya karena posisi Kayla memang lebih pendek.
"Sebentar, Mas."
__ADS_1
"Kayla!"
"Geser kesana saja!" Kayla menunjuk ruang kosong di sampingnya menggunakan bibirnya.
"Ck!" Kalandra berdecak kesal. Tapi, ia tetap berpindah tempat.
"Pesan apa?" tanyanya melirik ponsel Kayla.
"Ini!" Kayla menunjukkan menu roti bakar di layar ponselnya pada Kalandra.
"Roti bakar?" Kalandra mengerutkan keningnya. "Kita pesan untuk makan malam Kayla, bukan untuk sarapan!"
"Sudah, menurut saja!" Kayla kembali menjauhkan ponselnya dari wajah Kalandra. "Kamu tidak tahu rasanya makan roti bakar dengan teh hangat saat malam hari!"
"Memangnya kamu pernah?" tanya Kalandra tak percaya. Apa enaknya makan roti bakar tengah malam karena ia tak terbiasa makan makanan berat saat lewat tengah malam.
"Pernah!" jawab Kayla cepat.
"Aku sering memakannya jika ayah pulang dari lembur bekerja!" jawabnya ceria namun tak lama ekspresinya berubah murung. Ia kembali teringat ayahnya.
"Sudah! Jangan sedih lagi!" Kalandra merangkul bahunya. "Pesan semua makanan agar kamu tidak sedih lagi!"
"Aku tidak sedih!" Kayla cemberut.
"Kalau tidak sedih mengapa matamu berkaca-kaca?"
Kayla seketika menatap Kalandra. Jarak mereka tak terlalu jauh karena lengan Kalandra masih merangkulnya.
Tuhan, mengapa jantungku kembali berdebar. Aku tidak kuat kalau harus begini terus. Aku bisa semakin jatuh cinta padanya. Batin Kayla. Ia memejamkan mata menahan debaran hebat di dadanya.
Jantungku? Mengapa kembali berdebar. Apa aku punya gejala penyakit jantung? Ah, pasti penyakitku ini adalah keturunan dari papa. Batin Kalandra.
Kalandra melihat mata berkaca itu tiba-tiba tertutup. Dia malah menutup mata! Aku kan jadi ingin melakukan yang ingin ku lakukan!
Astaga! Kalandra tersadar dengan apa yang ada di otaknya. Hal yang salah dan jelas-jelas melanggar perjanjian mereka.
Otakku sudah traveling kemana-mana. Aku pria normal yang lama kelamaan tidak akan sanggup melawan nafs*.
Kalandra segera berdiri dan berlari masuk ke kamar mandi. Ia meninggalkan Kayla tanpa sepatah kata pun.
Ia mencuci wajahnya dengan air di wastafel. Lalu menatap ke cermin. "Aku sudah gil*! Mengapa aku malah sempat berfikir untuk menciu*mnya!" gumam Kalandra kembali membasuh wajahnya.
"Sepertinya otakku sudah tertular oleh Jendra!"
Kalandra menyadari sesuatu yang lain di bagian bawah tubuhnya. Sesuatu yang biasa ia hadapi, tapi tidak karena situasi seperti ini.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan pernah menggunakan sabun!" gumam Kalandra melirik senjatanya yang bereaksi karena fikiran kotornya.