
"Say Hallo pada calon keponakan!"
Jendra membaca pesan yang Kalandra kirim dan disertai dengan sebuah foto hasil USG yang sama sekali tidak ia tahu maksudnya.
Jendra tertawa senang. "Astaga! Akhirnya dia berhasil juga!"
"Ku kira pernikahan ini hanya akan bertahan setahun sesuai perjanjian. Ternyata tidak!"
"Cinta memang selalu tumbuh tanpa direncanakan."
Jendra segera keluar dari ruang kerjanya. Jendra berdiri di samping Kayla. "Selamat, atas kehamilannya, Kay!" Ia mengulurkan tangan.
Kayla menoleh kearah suara. Ia menatap wajah Jendra lalu menunduk karena merasa tidak sopan telah menatap Bosnya seperti itu.
"Terima kasih, Pak!" jawab Kayla menjabat uluran tangan Jendra. Ia yakin, Jendra mengetahui kabar kehamilannya dari suaminya sendiri.
Kemarin, ia dan Kalandra menemui dokter kandungan untuk melakukan USG tepat dua minggu setelah ia keluar dari rumah sakit. Selama itu juga, mereka belum mengumumkan kehamilan Kayla.
USG dilakukan untuk lebih memastikan apakan kehamilannya sehat atau tidak. Mengingat kantung janin baru bisa dilihat saat usia 4 sampai 6 minggu.
Dan saat pemeriksaan dilakukan. Sudah terlihat kantung janin, bahkan janin sebesar biji kacang hijau itu sudah terlihat.
Kalandra tak henti berucap syukur kala mendengar detak jantung bayinya yang memang masih belum terdengar jelas. Dokter menjelaskan, detak jantung bayi akan semakin jelas seiring bertambahnya usia kehamilan.
Melani yang mendengar perkataan Jendra, detik itu juga mendekat ke meja kerja Kayla.
"Kamu hamil, Kay?" tanya Melani masih tak percaya. Ia mengira, sakitnya Kayla selama dua minggu terakhir bukan karena sedang hamil.
Kayla mengangguk. "I-iya mbak!"
"Ya Tuhan!" Melani tersenyum senang. Ia bahkan semakin mendekat dan memeluk Kayla yang mematung di kursi kerjanya. "Selamat Kayla!"
"Astaga!" gumam Jendra geram karena saat hendak memeluk Kayla, Melani mendorong tubuhnya hingga bergeser menjauh dari posisi Kayla duduk. Entah sengaja atau tidak, Jendra sendiri tidak tahu.
"Akhirnya, aku akan punya keponakan," ujar Melani melepas pelukannya.
"Sehat-sehat sayang!" Kayla tertawa saat Melani mengusap perutnya yang masih rata.
"Keponakan kamu? Hei, itu keponakanku, Mel!" bantah Jendra tak suka.
Melani menegakkan tubuhnya dan menatap Jendra. "Itu keponakan saya, Pak!"
"Ck!" Decak Jendra. Ia mengambil ponsel di sakunya dan menunjukkan pesan yang ia terima dari Kalandra.
"Lihat!" Perintah Jendra. "Kalandra sendiri yang mengatakan padaku bahwa itu adalah keponakanku!"
__ADS_1
"Itu keponakan saya juga, Pak!" Melani menunjuk perut Kayla tanpa mengalihkan pandangan dari Jendra.
"Kayla kan sudah saya anggap seperti adik sendiri!" sambung Melani.
"Tapi, Kayla tidak mengakui bahwa anak nya adalah keponakan kamu!"
"Sementara Kalandra, mengakui kalau itu adalah keponakanku," balas Jendra merasa menang.
"Terserah! Pokoknya bayi itu adalah keponakanku!" Melani yang kesal menghentakkan kaki dan kembali ke meja kerjanya.
Jendra juga langsung masuk ke ruang kerjanya. Entah mengapa ia tak ingin kalah dari Melani. Ia yang kesal langsung menghubungi Kalandra.
"Ada apa, Jend? Sudah mengucapkan hallo pada keponakanmu?" tanya Kalandra yang wajahnya muncul di layar ponsel membuat Jendra tersenyum lebar.
"Dia keponakanku, Kan Kal?" tanya Jendra agar ia semakin yakin dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tentu. Janin itu adalah hasil kerja kerasku! Dan itu adalah keponakanmu!"
"Ck! Dasar Melani!" gumamnya kesal.
"Kamu tahu Kal? Melani mengakui kalau janin di perut Kayla adalah keponakannya!" Adu Jendra pada ayah si jabang bayi.
"Sudah jelas-jelas itu keponakanku! Dia malah mengaku-ngaku!" Jendra meluapkan kekesalannya.
Kalandra diam saja, pria itu sedang terheran saat Jendra membawa nama Melani dalam obrolan mereka. Dan lebih mencengangkan lagi, keduanya malah memperebutkan pengakuan atas janin dalam perut istrinya.
Kalandra tertawa. "Kamu fikir aku tidak mampu membiayai pendidikan anakku, Jend?"
"Tidak, aku tidak akan menerimanya. Aku masih mampu!" Tolak Kalandra tegas.
"Cih, dasar sombong!" cibir Jendra yang jelas-jelas tahu sekaya apa sahabatnya itu.
"Hei, kamu yang sombong!" balas Kalandra. "Hanya karena tak ingin kalah dari Melani, kamu memberikan apa yang tidak bisa Melani berikan, uh!" tuduh Kalandra.
Jendra merasa tertohok. Tuduhan Kalandra benar. Ia merasa menang saat bisa memberi lebih banyak untuk keponakannya yang bahkan belum lahir itu dibanding Melani.
"Sudah! Jangan bersaing dengan cara seperti itu, Jend," ujar Kalandra mencoba mendinginkan suasana.
"Terima kasih untuk beasiswanya. Maaf kalau aku menolaknya. Jujur saja, aku sudah merasa senang karena banyak yang sayang pada calon anak kami!" jelas Kalandra.
"Cukup doakan semoga Kayla dan calon anak kami sehat selalu."
***
Jendra keluar dari ruangannya. Ia melihat Melani yang masih menatapnya sinis. "Aku sudah katakan pada Kalandra. Dan dia mengakui kalau aku adalah uncle bagi calon anaknya," ucap Jendra dengan mempertahankan harga dirinya.
__ADS_1
"Kalandra hanya ingin doa dan kasih sayang untuk calon anaknya."
"Jangan marah padaku lagi," ujar Jendra tulus.
Melani mengangguk. "Ya pak. Saya minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan tadi."
Melani meminta maaf, selagi Jendra menawarkan perdamaian. Ia juga tidak bisa bekerja dengan perasaan kesal seperti ini.
"Ikut saya, kita makan siang bersama dengan klien!" Jendra berjalan lebih dulu.
"Kayla!" Melani menatap Kayla yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
"Lihat! Dia minta maaf karena ingin aku menemaninya makan siang bersama klien!" Melani menggeleng pelan.
"Sudah ku duga! Pasti ada udang dibalik bakwan!"
Kayla tertawa. "Pergilah! Sebelum ia merusak lift karena terlalu lama menunggu mbak Mel."
"Lalu kamu?" tanya Melani.
"Aku akan makan siang disini bersama suamiku. Dia sedang dalam perjalanan."
***
Kalandra terbahak saat mendengar cerita Kayla tentang perdebatan Melani dan Jendra siang tadi.
Malam ini, keduanya sedang duduk di balkon kamar. Kalandra memeluk Kayla dari belakang. Kayla duduk dengan meluruskan kakinya di sofa dan bersandar di dada suaminya. Mereka saling menceritakan apa yang terjadi siang tadi.
"Aku bersyukur, Mas. Dia belum lahir, tapi sudah banyak yang sayang padanya."
"Ya, aku pun sama, sayang! Aku akan memberikan bonus pada karyawanku sebagai rasa syukur atas apa yang telah Tuhan titipkan pada kita," ucap Kalandra.
Kayla mengangguk. "Terserah kamu, Mas. Aku menurut saja semua keputusan kamu."
"Terima kasih sudah memberikan segalanya yang sangat lebih dari kata layak, Mas."
"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa ini."
"Aku tidak tahu, jika tidak menikah dengan kamu, mungkin saat ini aku masih termenung-menung di dalam kamar meratapi rasa rinduku pada ayah."
"Atau mungkin aku sedang jalan-jalan di pinggir jalan mencari makanan yang akan ku makan malam ini."
Kalandra tertawa. "Kamu sudah mengucapkan terlalu banyak terima kasih sayang!"
"Aku tidak butuh itu. Aku hanya perlu melihatmu selalu tersenyum dan bahagia."
__ADS_1
"Aku mensyukuri pernikahan kita. Aku mensyukuri atas hadirnya kamu dalam hidupku."
"Menualah bersamaku, Kayla." Kalandra mempererat pelukannya.