
"Aku sudah mendaftar ke KUA. Dan pernikahan kita akan berlangsung pada hari Jum'at," ujar Jendra yang Minggu pagi sudah naik ke apartemen Melani.
Pria itu memang kurang ajar. Diam-diam ia mengambil access card agar lebih mudah jika ia ingin bertamu. Dan yang paling mengesalkan adalah saat ini security bahkan tahu kalau keduanya akan menikah dalam waktu dekat. Ulah siapa? Siapa lagi kalau bukan singa tukang pamer?
"Baiklah. Setidaknya aku masih punya waktu hampir dua minggu untuk bersiap, Mas." Melani tau ini mendadak, tapi sepert
Jendra tertawa. "Bukan dua minggu, Mel. Tapi enam hari dari sekarang!"
"Brak!"
Melani yang sedang mencuci piring sampai menjatuhkan piringnya ke washtafel.
"Sayang!" pekik Jendra yang sedang duduk di meja makan karena ia merasa terkejut mendengar suara benturan piring dengan washtafel.
"Hahaha!" Jendra terbahak saat melihat Melani terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka saking syoknya.
Melani berdecak kesal saat ia sadar pria itu malah mentertawakannya. Melani membasahi tangannya dengan air dari kran, lalu berjalan mendekati pria yang masih terbahak itu.
Melani mengusapkan telapak tangannya yang masih basah ke wajah Jendra.
"Mel ... Mel ... wajahku jadi basah begini," ucap Jendra berusaha mengelak tapi Melani sudah terlanjur membuat wajahnya basah.
"Ini akibatnya kalau kamu mentertawakan aku, Mas!"
"Tolong, istriku sudah melakukan KDRT!" Jendra semakin menggoda Melani.
Melani mencubit pipinya. "Kamu membuatku gemas! Boleh ku gigit pipi yang semakin hari semakin berisi ini?"
Jendra tersenyum. Ia menatap Melani. "Bagaimana kalau bibir saja!"
Melani mengacak rambut Jendra. Ia memperlakukan pria dewasa itu seperti anak kecil. "Banyak maunya!"
Jendra tertawa. "Tidak banyak. Hanya kamu!" Ia menatap manik mata gadis yang berhasil membuatnya merasa bahagia akhir-akhir ini.
"Begini rasanya kalau punya pacar mantan playboy. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanyalah gombalan."
Jendra menggeleng. Ia yang duduk di kursi tanpa sandaran itu, melingkarkan tangannya di pinggang Melani.
"Jujur, hanya kamu."
"Terserah kalau kamu menganggap ini hanya rayuan atau apalah!"
"Tapi, jujur saja. Aku belum pernah sebahagia ini saat menjalin hubungan dengan wanita manapun."
"Aku tidak pernah memimpikan pernikahan sebelum bersama kamu."
"Lalu Cahaya? Bukankah kamu pernah berencana untuk menikahinya, Mas?" tanya Melani.
Jendra mengangguk. "Tapi aku tidak bahagia."
"Dan sekarang aku baru menyadari kalau aku ternyata dulu berjuang sendiri."
"Dan ternyata semua itu tidak mengenakkan."
Melani mengangguk. "Mengapa mendadak sekali, Mas?" Melani kembali membahas masalah pernikahan mereka.
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak mengajakku berdiskusi."
Jendra menangkup kedua pipi Melani dengan telapak tangannya yang lebar itu. "Maaf, bukan tidak ingin mengajak kamu berdiskusi, Sayang."
"Tapi, aku percaya, niat baik itu tidak boleh ditunda."
"Aku sudah meminta restu dari Ibu panti, dan beliau merestui kita."
"Siang ini, kita fitting gaun pengantin ya?"
Melani mengangguk. "Apakah akan ada resepsi yang mewah, Mas?"
Jendra mengerutkan keningnya. "Kamu ingin pesta pernikahan yang mewah, sayang?"
Melani menggeleng. "Justru aku tidak ingin ada pesta. Akad saja sudah cukup."
"Tapi, kamu dan orang tua kamu tidak mungkin tidak mengadakan pesta, mengingat kalian adalah ...." Melani menghela nafas.
"Semua akan sesuai dengan keinginan kamu, Mel."
"Kita akan mengundang sedikit tamu dan sepertinya resepsi akan kita adakan di Bali."
Melani tersenyum lebar. Pancaran kebahagian terlihat jelas apa lagi saat Jendra mengatakan hanya akan ada resepsi di Bali dengan jumlah tamu yang sedikit.
"Boleh ku minta sesuatu, Mas?"
Jendra mengangguk.
"Bisakah resepsinya diselenggarakan di tepi pantai?"
Melani mengangguk. "Sangat ingin."
Jendrs tersenyum. "Aku akan mengaturnya. Di sebuah pantai yang mana menjadi tempat yang bersejarah bagiku."
"Oh, ya?"
"Ya, tempat dimana untuk pertama kalinya aku menciummu!"
***
Sebuah butik yang menjual pakaian pernikahan menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi siang ini.
Melani mencoba satu kebaya berwarna putih yang telah mereka sepakati sebelumnya.
"Sepertinya aku harus diet," ucap Melani saat ia melihat bayangan dirinya di depan cermin.
Sedangkan Jendra tengah duduk menatap wanita yang selalu tersenyum itu.
"Lihat! Perutku terlihat buncit." Melani tertawa sambil mengusap perutnya.
"Untuk apa mengecilkan perut, Mel. Ukuran kebayanya saja yang diperbesar," ucap Jendra memberi saran.
"Diet hanya membuatmu tidak bisa menikmati hidup. Kamu akan makan lebih sedikit, dan itupun bukan makanan yang enak."
"Tidak ada garam dan tidak ada gula."
__ADS_1
"Aku tidak setuju dengan ide kamu." Jendra tampak menahan emosinya.
Melani menatap Jendra. "Mengapa serius sekali?"
"Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku diet sementara suami bekerja keras untuk memberiku nafkah!" Melani bahkan membuat karyawan butik tertawa.
Jendra tertawa. "Itu baru istriku."
"Aku tidak rela membiarkan kamu menahan lapar sementara aku mampu memberimu makan."
"Iya ... iya .... Jangan tunjukkan kebaikan kamu di depan gadis lain, Mas!"
"Kenapa? Kamu cemburu?"
Melani mendekat dan berbisik di telinga Jendra. "Karena aku takut ada yang mengambil kamu dariku!"
Melani kembali masuk ke ruang ganti. Kebaya yang ia pakai ini akan ia beli karena ukurannya sangat pas.
Mereka beralih ke toko perhiasan. Bukankah mereka memerlukan cincin pernikahan? Bahkan cincin lamaran saja Melani tidak punya.
Keduanya menatap etalase yang terbuat dari kaca tebal itu. Mereka melihat beberapa pasang cincin yang ternyata belum mengena di hati Melani.
"Saya ingin yang paling bagus dan mahal," pinta Jendra pada pegawai toko perhiasan itu.
"Kalau bisa yang terbaru dan juga limited edition."
"Mas, kamu berlebihan sekali," bisik Melani pada pria yang hanya memakai celana jeans dan sweater hoodie itu.
"Cincin yang biasa saja tidak masalah untukku. Jika tidak ada yang cocok disini, setidaknya kita bisa mencari di toko lain."
Jendra menggeleng pelan. "Mereka hanya sedang menyepelekan penampilanku, Sayang!" bisik Jendra.
"Kalau saja mereka tahu siapa aku, mungkin mereka akan memberikan perhiasan paling mahal yang mereka jual disini."
Pegawai toko kembali dengan membawa beberapa pasang cincin yang merupakan keluaran terbaru.
Melani mengelus dada saat tahu harganya. Cincin seharga dua unit mobil akan melingkar di jariku? Apa pantas?
"Coba, Mel!" Jendra meminta Melani menunjukkan jari manisnya. Ia segera memasangkan cincin itu.
Dan Melani menyukai cincin ke dua yang Jendra pasangkan di jari manisnya. Mereka pun sepakat untuk membeli yang itu.
Melani mengira, mereka sudah selesai. Ternyata Jendra membawanya berkeliling, masuk dari satu toko ke toko yang lain.
"Kakiku sudah pegal semua, Mas." Melani mengeluh saat ia duduk di sebuah kursi di pusat perbelanjaan.
"Atau kita makan dulu," tawar Jendra.
Melani mengangguk. "Boleh juga. Aku butuh asupan nutrisi dua kali lipat."
Jendra tertawa. "Mengeluh kaki pegal segala. Katakan saja kalau perut kamu lapar, Mel!"
Melani mengerutkan dagunya. Bibir bawahnya maju beberapa mili. "Jadi makan apa tidak?"
"Tentu. Karena aku ingin melihat perut istriku terlihat buncit saat pesta pernikahan nanti."
__ADS_1