Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 107 S2 Please, Bangun!


__ADS_3

Melani hanya bisa berdoa saat Jendra membentaknya dan meminta agar dirinya tidak panik. Tapi, bagaimana bisa dia tidak panik sementara nyawanya sedang dipertaruhkan sekarang?


Melani menahan nafasnya karena Jendra masih berusaha mengendalikan laju mobil. Ia hanya bisa pasrah menunggu Jendra mengendalikan mobil yang untungnya tidak melaju dengan cepat itu.


Jendra berusaha agar tidak panik. Ia menginjak pedal rem berulang kali dengan harapan rem mobilnya berfungsi kembali. Namun, tidak membuahkan hasil.


Jendra banting stir dan akhirnya mobil itu berhenti setelah menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.


"Brak!"


Melani merasakan tubuhnya terguncang lumayan keras tapi tidak sampai membentur dashboard.


Melani membuka perlahan matanya. Ia merasa sangat pusing.


Ia melihat ke depan dan tampak bagian depan mobil mengeluarkan asap. Melani mulai panik dan bertepatan dengan beberapa warga yang mendekat untuk membantu.


"Pak!" Melani panik saat melihat Jendra menunduk dan kepalanya tergeletak di setir mobil.


"Astaga, Pak!" Melani dengan cepat membuka sabuk pengaman dan mendekati tubuh Jendra.


Melani menegakkan tubuh Jendra, dan menangkup pipi yang sudah dialiri cairan merah yang berasal dari kening yang terluka.


"Pak, bangun, please!" Melani tak sanggup menahan tangis. Ia takut, panik, dan sedih sekaligus. Melani berusaha mengguncang tubuh Jendra.


"Pak, tolong Pak!" teriak Melani saat beberapa warga mengetuk pintu mobil mereka.


Melani membukakan pintu dan ia segera membantu warga mengevakuasi tubuh Jendra. Ia melepas sabuk pengaman yang masih terpasang di tubuh Jendra.


Melani meraih tasnya dan segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulans.


Melani memangku kepala Jendra saat warga meletakkan Jendra di rerumputan.


"Pak, air! Tolong carikan air!"


Dengan tangan bergetar, Melani mengusap luka di kening Jendra. Terlihat jelas ada luka sobek yang lumayan lebar.


Melani semakin menangis sesenggukan saat Jendra mulai menggeliat.


"Pak, bangun!" Melani menepuk-nepuk pipi Jendra. "Jangan membuat saya takut!"


Jendra membuka matanya perlahan. Ia bisa melihat sekretarisnya itu sedang menangis. Sementara ia juga merasakan sentuhan lembut di pipinya.


Jendra tampak tersenyum kecil. "I'm okay, Mel!"


Tak butuh waktu lama, ambulans datang dan langsung membawa mereka ke rumah sakit.


Jendra segera ditangani dokter. Melani hanya menghubungi Kayla karena mereka tidak mungkin kembali ke kantor lagi.


"Terima kasih sudah menyelamatkan saya," ucap Jendra saat Melani menemuinya di IGD.


"Bukan saya yang menyelamatkan bapak, tapi warga disana yang menyelamatkan kita, Pak. Ini adalah musibah dan tidak ada yang ingin semua ini terjadi."


"Terima kasih untuk setiap tetes air mata yang tumpah, saya anggap itu adalah bukti perasaan kamu terhadap saya."


Melani menunduk


"Kenapa? Bukankah tangismu tadi karena takut terjadi sesuatu padaku?"


Melani mengangguk.


Jendra tersenyum kecil. "Terima kasih!" Jendra meraih tangan Melani lalu mengenggamnya.


"Ah, ternyata ruangan ini isinya bukan orang sakit, tapi orang pacaran!"


Jendra dan Melani melihat ke asal suara. Tampak Kalandra dan Kayla datang.


"Kamu yang menghubungi mereka, Mel?" tanya Jendra.

__ADS_1


Melani mengangguk. "Saya hanya memberi tahu Kayla, Pak."


Jendra menghela nafas berat. "Untuk apa datang, Kal?"


"Untuk menjenguk teman yang sedang sakit. Tapi, ternyata malah sedang pacaran!" Kalandra masih terus menggoda.


"Pulang saja kalau tidak ikhlas menjenguk!" balas Jendra.


Jendra mengibaskan tangannya mengusir Kalandra. "Hus! Hus! Hus!"


Kalandra tertawa. Pria itu berdiri dekat kaki Jendra dengan melipat tangannya di dada. "Aku bukan ayam, Jend!"


Jendra tertawa. "Aku tidak mengatakan kalau kamu seperti ayam, Kal."


"Tapi, caramu mengusir seperti sedang mengusir ayam!"


"Mas, sudah berdebatnya. Pak Jendra sedang sakit. Kamu harus ingat tujuan kita kesini untuk menjenguk, bukan bertengkar."


"Yang sakit keningnya, Sayang. Bukan mulutnya."


"Maaas!" Kayla mendelik kesal karena Kalandra masih saja tidak mau mengalah.


Kalandra langsung diam dan tidak mengatakan apapun lagi.


"Bagaimana keadaanya, Mbak Mel. Dokter tidak mengatakan apapun, kan?"


Melani menggeleng. "Semua baik-baik saja kok, Kay! Pak Jendra juga sudah bisa pulang sebentar lagi."


"Syukurlah kalau begitu. Mbak Mel juga tidak terluka, kan?"


Melani menggeleng.


Menjelang sore, Jendra sudah diizinkan pulang. Melani ikut dalam mobil yang menjemput Jendra.


Mereka berhenti di rumah megah milik Jendra. Salah, tapi milik orang tua Jendra.


Melani tersipu saat asisten rumah tangga melihat ke arahnya. "Ba-baik, Pak!"


Melani menggandeng lengan Jendra yang sebenarnya bisa berjalan sendiri. Pria itu bahkan masih sanggup lari dua kali keliling lapangan bola.


"Terima kasih, Mel!"


Melani mengangguk dan berbalik. Ia tidak mungkin berlama-lama berada di kamar Jendra.


Jendra yang sudah duduk meluruskan kaki diatas ranjang,menarik tangan Melani, dan membuat gadis itu jatuh terduduk diatas pangkuannya.


"Pak!" Pekik Melani yang merasa terkejut.


"Jangan jauh-jauh, Mel." Jendra menahan tubuh Melani yang menggeliat berusaha melepaskan diri.


"Jangan bergerak terus, Mel. Kamu bisa membangunkan sesuatu di balik ... ehm, you know what i mean!"


Melani menegang. Ia seketika diam mematung dan mendelik menatap Jendra yang tengah tersenyum.


"Ok. Good girl!"


Jendra menyelipkan rambut Melani ke belakang telinga. Ia tersenyum kecil. "Saya tahu, kamu menyayangi saya, Mel!"


"Saya tahu, kamu punya perasaan terhadap saya."


"Tiga tahun lebih, bohong kalau kamu tidak sayang."


"Kamu benar, butuh dari sekedar alasan untuk memulai suatu hubungan."


Jendra menunduk dan kembali menatap Melani. "Kalau yang kamu takutkan adalah kebiasaan lama saya, maka kamu tidak perlu khawatir lagi karena saya sudah benar-benar berhenti."


"Kalau kamu takut saya hanya main-main, percayalah! Saya sangat serius, Mel."

__ADS_1


"Kalau kamu merasa saya ingin bersama kamu karena mama saya, kamu salah. Saya juga ingin. Dan restu mama lah yang menyadarkan saya bahwa selama ini orang yang saya cari berada sangat dekat."


"Jika kamu merasa kita jauh berbeda karena harta, bukankah semua manusia sama di hadapan Tuhan?"


"Jika Dia ingin, semua yang saya miliki ini bisa saja diambil kembali, karena semua ini hanya titipan."


"Mel, percayalah!"


"Saya berjanji, akan selalu membahagiakan kamu."


"Jadilah istriku!"


Melani tertegun melihat kesungguhan Jendra. Ia tersenyum kecil lalu mengangguk.


Jendra membulatkan matanya. "Kamu bersedia, Mel?" tanyanya senang.


Melani mengangguk lagi. "Katakan ya, Mel!"


"Iyaaaa!" Melani tertawa pelan.


"Ini bukan mimpi? Coba cium aku!"


Melani mencubit pipi Jendra.


"Sakit ...!"


Jendra tertawa dan memeluk Melani. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.


"Pak, menjauhlah!" pinta Melani yang belum terbiasa di peluk seerat itu.


"Tidak mau." Jendra semakin mengeratkan pelukannya membuat Melani merasa sesak.


"Pak ..."


"Panggil sayang!"


Melani tertawa. "Banyak maunya!"


"Aku tidak peduli!"


"Terserah! Aku akan teriak!" ancam Melani.


"Teriaklah! Atau aku akan menghamilimu detik ini juga!" Jendra tertawa, tanda tidak serius dengan ucapannya.


"Aku akan menendang milik anda!"


"Aku akan membuatmu tidak berdaya sebelum kamu bisa melakukannya!"


Tok ... tok ... tok ....


"Ada yang datang!" ucap Melani lega.


Jendra menjauh dari dari wajah Melani.


"Bi, letakkan saja dulu di meja. Nanti calon istri saya yang mengambilnya!" teriak Jendra memekakan telinga.


Melani menatap tajam ke arah Jendra yang tengah tertawa.


Jendra bergerak dan mengubah posisi. Pria itu menggendong Melani dan mendudukkan gadis itu di sofa.


"Duduklah! Aku yang mengambil makanan di luar."


Melani melihat Jendra berjalan tanpa sempoyongan. Pria itu masuk membawa nampan berisi dua piring makanan.


"Makan, Mel! Sejak siang, kamu belum makan, kan?"


Melani mengangguk. Entahlah, perlakuan sederhana begini saja sudah membuat dirinya merasa spesial.

__ADS_1


__ADS_2