Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 105 S2 Berpengalaman


__ADS_3

Kayla melipat tangannya di atas meja. Ia menatap wajah Melani. Wanita di depannya itu tampak sedang melamun. Mungkin tengah mengakui kalau apa yang Kayla ucapkan tadi adalah benar.


"Benar, bukan?" tanyanya membuat Melani seketika menatap dirinya.


"Kalian itu saling mencintai. Percaya padaku! Aku melihatnya setiap hari!"


"Bagaimana kalian saling mengganggu. Bagaimana pak Jendra membuat mbak Mel kesal. Bagaimana kalian saling akur kalau urusan pekerjaan."


"Mbak Mel bisa mengesampingkan rasa kesal saat sedang serius dalam bekerja. Begitu juga pak Jendra yang berhenti mengganggu."


Melani mencebikkan bibir. Ia tak percaya dengan perkataan Kayla. "Tapi, yang ku rasakan berbeda, Kay."


"Berbeda atau tidak faham?"


"Mbak Melani hanya tidak memahami apa yang Mbak Mel rasakan."


"Selama ini, yang Mbak Mel tahu hanya perasaan kesal ataupun benci. Padahal benci dan cinta itu beda tipis."


"Bukankah benci juga bisa berubah jadi cinta?" tanya Kayla.


Melani menghela nafas berat. "Aku tidak tahu, Kay!"


Kayla menopang dagu. Ia berfikir sebentar lalu tersenyum senang.


"Coba kita buktikan! Dengan membandingkan antara aku dan mbak Mel."


Melani menatap Kayla. "Apa yang harus dibandingkan?"


"Pertama, Biasanya orang saling mencintai tidak bisa berhenti membicarakan pasangannya jika bersama orang lain. Bukankah aku melakukannya? Selalu membicarakan suamiku saat kita bersama. Bukankah Mbak Mel juga melakukan hal yang sama?"


"Mbak Mel selalu membicarakan pak Jendra. Bahkan hampir setiap saat."


Melani mengangguk mengiyakan.


"Kedua, Aku tidak pernah berusaha untuk menghindari Mas Kalandra. Begitu juga Mbak Mel. Mbak tidak pernah menghindari pak Jendra meski dia begitu mengesalkan, bukan?"


Melani mengangguk. Ia akui itu. Sesebal dan sekesal apapun dia terhadap pria bernama Jendra itu, ia tak pernah menghindarinya. Mulai dari makan siang bersama, bahkan hingga berlibur ke Bali waktu itu, tidak ia tolak.


"Aku lebih sering memikirkan mas Kalandra dibanding orang lain."


"Mbak Mel pasti lebih sering memikirkan pak Jendra dari pada orang lain, kan?"


Melani mengangguk. "Tidak ada orang yang menyita fikiranku selain dia, Kay! Aku menghabiskan lebih dari 8 jam untuk berhubungan dengannya. Di kantor maupun di luar kantor."


Bahkan anak panti saja tidak hadir dalam fikirannya setiap saat.


"Kan? Sudah mulai terasa atmosfer cinta-cintanya."


Melani tertawa. "Bahasa kamu, aku tidak mengerti Kay!"


"Nanti, mbak Melani juga akan mengerti. Karena ada dua hal lagi yang pasti juga mbak Mel rasakan.


"Apa?"

__ADS_1


"Sebal tanpa alasan dan deg-degan saat memikirkannya."


Dalam hatinya, Melani mengaku bahwa apa yang Kayla katakan kali ini tepat sekali. Ia sering kesal tanpa alasan, dan ia sering deg-degan saat memikirkan Jendra. Apalagi saat pria itu berada di dekatnya dengan semerbak aroma parfum maskulin yang membuatnya semakin berdebar.


"Kamu sering kesal juga pada suamimu, Kay?" tanyanya karena untuk apa merasa kesal pada suami sendiri.


"Tentu. Kadang hanya karena hal sepele. Misalnya, saat tengah malam aku terbangun dan Mas Kalandra ku lihat sedang memeluk guling, aku langsung marah dan kadang menangis."


Melani membulatkan mata. "Separah itu?"


"Bukankah wajar kalau seseorang tidur dengan memeluk guling?"


"Dia hanya boleh memelukku."


Melani tertawa. "Ada-ada saja! Kamu cemburu pada sebuah guling, Kay!"


"Bahkan pada nyamuk yang mencium pipinya!"


Melani tertawa. "Astaga, mungkin itu efek kehamilan Kay. Emosimu jadi tidak terkendali."


Sementara di tempat lain, Kalandra sedang duduk berhadapan dengan pria yang sedang lesu itu. Jika bukan karena permintaan istrinya yang ingin Jendra dan Melani berdamai, ia tidak mau duduk berdua dengan pria di depannya itu.


Lebih baik ia makan siang di kantor saja. Tapi, demi kenyamanan Kayla saat bekerja, ia rela melakukan semua ini.


"Daging kambing dipercaya bisa menambah stamina pria!" ucap Kalandra saat seporsi sate kambing sudah ia lahap menyisakan satu piring kotor.


"Sok tau!" Balas Jendra.


"Tidak percaya, buktikan saja! Kamu akan memba-bi buta di atas ranja-. Ooopss sorry!" Kalandra menutup mulutnya.


"Sekarang kamu kan sudah tomat, tobat maksiat!" Tawa Kalandra membuatnya kesal.


"Sayang sekali. Tapi tidak masalah, akan ku beri tahu besok. Atau Bagaimana kalau malam ini aku live?"


Ia menendang kaki sahabatnya itu. Fikirannya sedang carut marut, tapi Kalandra malah menggodanya terus.


"Hahaha ... Kenapa marah?"


Jendra tersenyum tipis. "Fikiranmu terlalu kotor, Kal."


"Aku kan bicara apa adanya. Jika ingin sepertiku, ya menikah saja. Halal, tidak takut tertular penyakit, bebas tanpa pengaman, dan yang pasti graaaatisss!"


"Ya, walaupun uang belanja lebih besar dibanding pakai jasa wanita panggilan!" ucap Kalandra sok tahu.


Jendra tertawa pelan. Ia merasa Kalandra terlalu polos. "Aku bisa mendapatkannya gratis tanpa bayar, Kal!"


Kalandra tertawa. "Dasar m*skin!"


Jendra dan Kalandra saling diam dalam waktu yang cukup lama.


"Ehm, bagaimana dengan keputusan Melani? Apa dia sudah mengubah keputusannya?" tanya Kalandra.


Jendra menghela nafas berat. "Kami tidak pernah membahas itu lagi."

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kamu harus meyakinkannya?"


"Eh, tunggu dulu. Kamu juga ingin menikah dengannya kan? Bukan hanya karena keinginan tante Jenar?"


Jendra mengangguk. "Aku ingin, tapi Melani beralasan tidak mencintaiku."


"Lalu, perasaanmu sendiri bagaimana?"


Jendra mengangkat bahu. "Entahlah! Tapi intinya aku ingin."


Kalandra tertawa pelan. "Buaya sepertimu, pasti tidak akan menolak gadis baik seperti Melani."


Jendra tersenyum sinis. "Sebusuk-busuknya pria, pasti dia ingin wanita baik-baik yang menjadi ibu dari anak-anaknya, Kal."


Kalandra mengangguk setuju dengan ucapan Jendra. "Kalau begitu, yakinkan dia, Jend!"


Jendra menggeleng. "Terakhir kali aku meyakinkannya, aku malah melihatnya menangis."


"Aku tidak bisa melakukannya lagi, karena itu menyakiti perasaannya."


"Aku tidak ingin dia menangis lagi karena desakanku, Kal."


"Tapi, dengan saling diam seperti ini, pasti juga membuatnya sedih, Jend!"


"Setidaknya kata- kata dari mulutku tidak menyakitinya."


"Tapi, sikapmu membuatnya tersakiti, Jend. Percayalah! Mendiamkan seorang perempuan setelah perdebatan, itu akan membuatnya semakin menjauh darimu."


"Seorang wanita kadang hanya butuh pelukan agar ia merasa nyaman."


"Itu berlaku untuk istrimu, Kal. Dan tidak untuk Melani."


Kalandra berdecak. "Ayolah, Jend. Setidaknya hidupkan kembali jiwa playboymu!"


"Cuma peluk, Jend! Masa kamu berubah secepat ini sih?"


"Kalau aku ditampar bagaimana?"


"Peluk dia dengan sebuah alasan dan di situasi yang tepat."


"Jangan kamu memeluknya di kantor, di depan karyawan lain. Jika kamu melakukannya dengan cara seperti itu, aku yakin Melani bahkan tidak hanya menamparmu, tapi juga melemparmu dari jendela lantai 20."


Jendr tertawa. "Sebar-bar itu, Kal?"


Kalandra nyengir menunjukkan gigi putihnya. "Hanya menebak, Jend!"


Jendra berdecak.


"Tapi, soal peluk, aku serius."


"Percaya padaku!"


"Apa yang harus membuatku percaya?"

__ADS_1


"Karena aku sudah berpengalaman. Hahaha..." Kalandra tertawa.


Jendra diam saja. Bukankah aku jauh lebih berpengalaman? Ah, aku lupa. Aku lebih berpengalaman menaklukan wanita di atas ranjang.


__ADS_2