
Jendra membuka pintu belakang mobilnya dan segera menurunkan banyak paperbag berisi barang-barang yang akan ia bagikan kepada anak-anak di panti asuhan.
Beberapa petugas panti, membawanya masuk ke dalam. Sementara Jendra, masih asik melihat sekeliling. Sebuah rumah sederhana yang menjadi rumah masa kecil bagi Melani, dengan pagar tembok setinggi dua meter mengelilingi halaman rumah yang lumayan luas ini.
Bagunan ini tampak lebih mirip taman kanak-kanak karena di halaman terdapat banyak sarana bermain, sebut saja ayunan, papan jungkat-jungkit dan seluncuran.
Terlihat beberapa orang anak juga tengah bermain, berlari dan tertawa. Tapi, seketika mereka berhenti melakukan aktivitas itu dan menatap kearahnya.
Tapi, kemunculan Melani yang berdiri di sampingnya membuat semua anak-anak yang berjumlah tujuh orang itu berhambur memeluk gadis di sampingnya.
"Kaaaaaak Meeell!" Teriak mereka kegirangan.
"Sisi kangeeen!"
"Kila juga..."
"Mimi juga kangen kak Mel!"
Mereka menyebut nama mereka disertai ungkapan rasa rindu. Jendra menunduk kearah samping, karena Melani tengah berjongkok dengan anak-anak yang bergelayut manja di tubuhnya.
"Anak-anak, biarkan kak Mel masuk dulu, sayang!" Seorang wanita membuat anak-anak itu menjauh dari tubuh Melani. Bukan untuk pergi, tapi untuk menggandeng tangan Melani dan menuntunnya masuk.
Jendra mengikuti langkah kaki mereka saat Melani memberi kode untuk ikut.
Jendra masuk ke dalam rumah sederhana dengan ratusan foto yang terpajang di setiap sudut ruangan. Mulai dari foto yang tampak masih baru hingga yang sudah usang.
Jendra menghela nafas, betapa ia kurang bersyukur selama ini. Di rumah yang tidak lebih luas dari ruang tamu di rumahnya ini, ia menyadari hidupnya lebih dari kata cukup.
Mereka berdua bertemu dengan pengurus panti. Wanita berusia sekitar 60 tahun menyambut Melani dengan pelukan hangat.
Air matanya tak henti menetes meski Melani menunjukkan senyum lebarnya. Wanita yang sedang duduk di kursi roda itu mengusap rambut Melani.
"Semoga Allah selalu menjagamu, putri kecilku!"
Melani tersenyum tapi air matanya tetap menetes. "Ibu tidak perlu takut. Doa ibu sangat luar biasa hingga aku masih kuat hingga saat ini."
Melani sudah lumayan lama tidak datang karena kesibukannya. Melani memijat pelan kaki wanita yang sudah membesarkannya itu.
"Sehat selalu, Bu."
Melani melihat kearah Jendra dan meminta pria itu untuk berlutut di sampingnya.
Wanita yang ia panggil ibu itu menatap Melani penuh tanya, tapi tak urung tersenyum juga. Karena jika tebakannya benar, Melani tengah mengenalkannya pada calon suami gadis itu.
Melani menggenggam tangan yang tampak keriput itu. "Bu, Melani datang untuk mengenalkan pria di hadapan ibu ini."
"Dia adalah calon suami Melani, Bu."
__ADS_1
"Dia adalah pria yang Melani percaya untuk menjaga Melani."
Wanita itu mengangguk. "Titip Melani, Nak ...."
"Namanya Jendra, Bu."
"Nak Jendra, titip putri kecil Ibu. Dia wanita yang sangat luar biasa." Wanita tua itu mengusap rambut Melani dengan penuh kasih sayang.
"Dia tidak pernah melupakan kami meski ia sudah sangat lama tidak tinggal di sini lagi."
"Dia tidak lupa pada ibu, ayah dan ibu lainnya."
"Dia bahkan tidak lupa pada adik-adiknya meski mereka datang silih berganti."
Jendra mengangguk. "Saya meminta restu untuk menjadikannya sebagai istri saya, Bu."
"Terima kasih, sudah menjaga jodoh saya dengan sangat baik."
"Terima kasih, sudah menjadikan dia wanita kuat dan hebat. Wanita yang mandiri dan bisa menjaga dirinya."
Obrolan itu berlangsung tidak lama karena anak-anak mendesak ingin bermain bersama Melani.
Jendra menyerahkan cek dengan nominal yang lumayan besar. Awalnya ditolak oleh wanita tua itu. Tapi Melani meminta agar ia menerima pemberian Jendra.
"Terimalah Bu, untuk kebutuhan anak-anak."
Melani membacakan cerita pada anak-anak yang berusia lima sampai tujuh tahun sebelum mereka tidur siang.
Setelah itu, Melani juga mengajak Jendra untuk bermain bersama bayi yang masih dibawah dua tahun. Bayi yang jumlahnya ada beberapa orang itu merengek dan menangis bersahutan karena memang saatnya untuk minum susu.
Lagi-lagi Jendra dibuat takjub. Bagaimana bisa ibu-ibu panti mengurus anak sebanyak ini?
Jendra menghela nafas panjang. *Kemana orang tua kalian, adik-adik kecil? Mengapa mereka tega meninggalkan kalian?
Apakah Melaniku seperti ini saat bayi dulu. Menangis dan tidak pernah mendapat pelukan ibu kandungnya*?
Setetes air mata lolos di sudut mata Jendra. Melani mengusap bahu pria itu. "Dermawan seperti kamu sudah cukup untuk membuat senyum mereka terbit, Mas."
"Setidaknya sedikit pemberian kamu bisa membuat botol susu mereka terus terisi."
Jendra mengangguk. Ia tidak tahu kalau rasanya semenakjubkan ini. Perasaannya naik turun. Sedih, senang, terhibur, iba, simpatik, dan terharu menjadi satu.
"Apa kita bisa mengadopsi beberapa dari mereka, Mel?" tanya Jendra saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Melani mengangguk. "Bisa, asal memenuhi syarat, Mas."
"Kenapa? Kamu ingin mengadopsi mereka?" tanya Melani.
__ADS_1
"Sempat terlintas dalam fikiranku, Mel."
Melani tersenyum. "Fikirkan baik-baik, Mas."
"Mengurus anak itu tidak mudah. Jika kamu mengadopsi lalu kamu serahkan urusan anak-anak pada pengasuh mereka, lebih baik tidak usah."
"Yang mereka butuhkan bukan hanya makan minum, tapi juga kasih sayang."
"Kamu mengadopsi satu orang, lalu kamu beri ia pengasuh dan kamu beri mereka tempat tinggal bak sangkar emas."
Melani tertawa. "Ku rasa tinggal di panti jauh lebih baik dari pada di rumah kamu, Mas."
"Jika waktu, dan kasih sayang kamu belum bisa kamu berikan, lebih baik jangan."
"Bukan aku melarang, tapi anak-anak juga tidak akan bahagia jika cara kamu seperti itu."
Jendra mengangguk. "Kamu benar, Mel. Belum lagi, jika kelak kita punya anak sendiri. Apa aku bisa bersikap adil?"
"Nah, hal itu juga akan menjadi masalah di waktu mendatang, Mas."
"Pemberian kamu sudah sangat cukup untuk mereka."
"Biarkan mereka diadopsi oleh keluarga baru yang benar-benar menginginkan mereka, Mas. Bukan hanya karena rasa iba."
"Ku rasa sangat lucu kalau di rumah ada banyak anak-anak."
"Aku ingin punya lima anak, Mel."
Melani terkejut. Matanya membulat sempurna. "Li-lima?" tanyanya tergagap.
Jendra tersenyum dan mengangguk. Ia menatap Melani dengan menggerakkan alisnya naik turun. "Kamu setuju, kan sayang?"
Melani menepuk keningnya. "Kamu fikir aku seperti kucing, Mas? tanya Melani.
"Usiaku tidak muda lagi untuk melahirkan lima orang anak, Mas."
Jendra tertawa. "Aku hanya bercanda, sayang!"
"Mana mungkin aku menjadikanmu seperti pabrik anak. Bahkan saat Tuhan tidak memberi pun, tidak masalah!"
"Huush!" Melani memukul bahu Jendra. "Hati-hati kalau bicara, Mas."
"Berdoa saja, semoga Tuhan memberikan kita kesempatan untuk punya anak."
"Kapan kita akan ke rumah orang tua kamu, Mas?" tanya Melani.
"Belum saatnya, sayang!"
__ADS_1