
"Saya yang diserang, Pak! Dia memfitnah saya." Terang Leo didepan petugas kepolisian saat Kalandra menyerahkan pria itu beserta anak buahnya ke kantor polisi.
Pria itu meluapkan emosinya karena tak terima kalah dari Kalandra, orang yang ingin ia jebak.
"Tapi, keterangan yang anda berikan tidak sesuai dengan bukti yang kami dapatkan!" ucap petugas kepolisian.
"Anda akan ditahan dan proses hukum akan berjalan. Pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih lanjut," terang petugas kepolisian itu.
"Bukti apa, hah!" Bentak Leo. "Sudah terlihat dimata anda, kalau saya dan para bodyguard saya terkena tembakan. Dan anda masih bisa mengatakan kalau saya yang bersalah?" Leo mengamuk di kantor polisi. Padahal luka dipunggungnya masih basah. Bahkan masih ada rembesan darah di bajunya karena ia yang tidak berhati-hati saat bergerak.
Semua bukti sudah Kalandra serahkan. Mulai dari bangkai merpati yang baunya mulai menyengat beserta surat ancaman yang terdapat di dalam boxnya.
Ada rekaman pertengkaran hingga pengakuan Leo saat di gudang tua itu. Rekaman yang diambil dari kamera yang terpasang di mobilnya.
Leo juga akan diperiksa terkait kasusnya 13 tahun lalu, dimana ia menjadi buronan karena diduga melakukan penjualan organ tubuh secara illegal.
Kalandra bukan pria bodoh yang akan mudah dijebak. Oma juga bukan orang sembarangan yang akan melepaskan Kalandra menghadapi Leo sendirian.
Setelah penembakan itu terjadi, Kalandra tetap mengobati Leo dan anak buahnya dengan memanggil dokter. Ia hanya ingin melumpuhkan musuh, bukan menghabisi mereka.
Selama dirawat, mereka dijaga oleh anggota kepolisian agar tidak kabur. Dan segera diperiksa saat keadaan mereka mulai membaik.
"Setelah ini, Andra harap mama kooperatif jika pihak kepolisian meminta mama untuk datang."
"Pengacara kita akan selalu mendampingi mama," ucap Kalandra saat ia dan Riana bersiap masuk ke dalam mobil.
"Pasti Andra," jawab Riana yang lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.
"Pak, mohon bantuannya untuk terus mengawasi kasus ini," ucapnya pada pengacaranya.
"Jika ada perkembangan sekecil apapun, tolong segera hubungi saya," lanjutnya.
***
Beberapa hari kemudian, di perusahaan Dewandaru Group.
Kalandra menghadiri meeting dengan Dewandaru Group dan Clara selaku klien mereka. Ia masuk ke dalam gedung perkantoran itu bersama dua wanita cantik yang tempo hari pernah datang bersamanya. Dea dan Jeslyn.
Meeting di jam tanggung seperti ini sebenarnya membuat Kalandra malas untuk hadir. Tapi, Jendra memaksanya untuk tetap datang. Meeting jam 11 siang itu akan terpotong dengan waktu makan siang.
Kalandra mendekati meja Kayla saat tiba di lantai dimana juga terdapat ruangan Jendra dan ruang meeting.
Kalandra meletakkan satu paperbag berwarna coklat di meja Kayla. "Untuk makan siang kita. Tolong simpankan!"
Kayla melihat ke depan dan tampak Kalandra yang selalu tampil rapi dan terlihat fresh.
Kayla mengangguk. Ia mendengar dengan jelas bahwa isi dari paperbag itu adalah untuk makan siang mereka.
__ADS_1
"Baik, Pak!"
"Silahkan langsung menuju ruang meeting, karena pak Jendra dan staff sudah menunggu di dalam."
Kayla mengantar ketiga orang itu menuju ruang meeting. Jeslyn tersenyum geli pada Kayla karena kekakuan pasangan suami istri itu.
"Dia juga bersikap dingin padamu, Kay?" bisik Jeslyn saat melewati tubuh Kayla. Dan saat itu Kalandra sudah lebih dulu masuk ke ruang meeting.
Kalimat Jeslyn cukup untuk membuktikan bahwa Kalandra adalah pria yang tak banyak bicara terutama pada seorang wanita.
Kayla nyengir kuda. "Bukankah kulkas 2 pintu memang seperti itu?" bisik Kayla membalas godaan Jeslyn. Keduanya sama-sama tertawa tanpa suara.
Kayla kembali ke meja kerjanya, dan malah melihat Clara datang.
"Selamat siang, Bu. Anda sudah ditunggu di ruang meeting," sambut Kayla ramah dan sopan.
Clara melihat Kayla dari atas ke bawah. Lalu tersenyum remeh. "Antarkan saya."
"Tentu, Bu. Saya akan mengantar anda sampai ke ruangan meeting."
Kayla mengantar Clara. Ia berjalan di depan wanita yang berpakaian seksi itu dan membukakan pintu setelah ia mengetuknya.
"Silahkan, Bu!" ucap Kayla.
Clara ikut bergabung dengan yang lainnya. Wanita itu tampak biasa saja saat melihat Kalandra.
Sebelum meeting di mulai, Kalandra menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada pengacaranya agar pihak kepolisian menyelidiki apakah ada hubungan diantara Leo dan Clara.
Dalam meeting ini, Clara membahas mengenai ketidak puasan perusahaan Jendra dalam proses pembangunan rumahnya yang diperkirakan akan menghabiskan biaya lebih dari puluhan milyar itu.
"Saya minta maaf Bu Clara atas keluhan anda. Tapi, seharusnya hal ini cukup di sampaikan pada manager yang berada di proyek agar bisa diteruskan pada staff terkait di perusahaan ini."
"Tidak perlu mengadakan meeting seperti ini," ucap Jendra saat menyadari apa yang Clara lakukan sangat berlebihan.
"Atau, jika anda menganggap saya adalah sahabat anda, anda bisa langsung duduk di ruangan saya di jam senggang, dan kita bicarakan baik-baik. Keluhkan pada saya, maka saya yang akan mengurus semuanya," lanjut Jendra.
Kalandra tersenyum sinis. Merepotkan saja. Hal sepele seperti itu harus dibahas dalam meeting seperti ini. Dia tidak memikirkan aku dan Jendra yang merupakan seorang CEO yang sibuk.
Dan Jendra, kamu memang sahabatnya. Memberinya jalur VVIP untuk sekedar mengeluhkan pekerja kamu.
Kalandra menganggap hal itu juga sangat berlebihan. Jika saja orang itu bukan Clara, mungkin Jendra tidak akan memberikan pilihan kedua itu.
"Karena sudah memasuki jam makan siang, kita jeda dulu meeting kita ini."
"Meeting akan kita lanjutkan setelah makan siang!" ucap Jendra.
Semua orang keluar satu persatu dari ruangan itu.
__ADS_1
"Dea, Jeslyn kalian makan siang bersama?" tanya Kalandra pada sekretarisnya dan perwakilan tim desainnya.
"Ya, Pak!" jawab Dea sopan. "Kami akan ke cafe di seberang jalan."
Kalandra mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sebanyak beberapa lembar dan memberikannya pada Dea.
"Untuk kalian! Selamat istirahat."
"Terima kasih, Pak!"
Keduanya pergi sambil tertawa senang karena Kalandra mentraktir mereka secara tidak langsung.
Kalandra menolak makan siang bersama Jendra dan Melani karena ia akan makan siang bersama Kayla di kantor ini.
"Aku pinjam sofa," ucap Kalandra pada Jendra. Sofa yang ia maksud adalah soda yang berada dekat dengan meja kerja Kayla.
"Silahkan! Pakai sesuka kamu, Kal!" Jendra mengizinkan. "Aku senang melihat sahabatku bisa seromantis itu bersama istrinya."
Kalandra mengerutkan kening saat mendengar ucapan Jendra yang lebih terdengar seperti ejekan ketimbang pujian.
"Kamu masih bekerja?" tanya Kalandra yang duduk bersandar didepan meja Kayla.
"Ini sudah jam istirahat, Kay!"
Kayla masih menatap layar laptop. "Sebentar lagi, saya harus memindahkan data ke flashdisk, Pak!" jawab Kayla tanpa menatap Kalandra.
"Aku suami kamu, bukan rekan bisnis kamu..."
Kayla tertawa, ia lupa jika ini sudah jam istirahat. "Aku lupa. Hehehe!"
"Ayo!" Kayla segera berdiri dan mengambil paperbag berisi makan siang mereka. Ajaknya berjalan mendahului Kalandra menuju sofa.
"Ehmmm... aku ambil piring dan gelas sebentar, Mas." Kayla segera berjalan menuju pantry.
Ia mengambil perlengkapan makan agar lebih mudah untuk menyantap makan siang mereka.
Kayla yang suka makanan pedas jelas tidak akan menolak makanan yang Kalandra bawa. Sebuah menu dengan bahan utama ayam yang digoreng dan diberi sambal ekstra pedas diatasnya.
"Kamu beli dimana, Mas?" tanya Kayla sambil memindahkan nasinya keatas piring. Kayla juga dengan cekatan menyajikannya untuk Kalandra.
"Tadi, saat diperjalanan, aku mampirke salah satu tempat makan. Karena aku malas jika harus keluar dari kantor ini dan kembali lagi setelah makan siang."
"Kamu tahu sendiri, terlalu banyak karyawan yang melirikku tiap kali aku datang ke kantor ini." ucap Kalandra percaya diri.
Kayla tertawa. "Rasa percaya diri kamu terlalu tinggi."
"Tidak semua wanita di kantor ini melirik dan tertarik sama kamu, Mas."
__ADS_1
"Termasuk kamu?" tanya Kalandra cepat membuat Kayla terpaku dan menatapnya.