
Reyga segera berlari masuk ke dalam rumah besar milik Kalandra. Mobilnya bahkan ia parkirkan sembarangan. Dia harus menjelaskan pada istrinya kalau dirinya tidak ada hubungan apapun dengan Kirana.
Di ruang tamu, Reyga tidak melihat Gia. Ia terus masuk ke ruang keluarga, tidak ada juga. Ia menebak istrinya itu ada di dalam kamar mereka dulu.
Reyga memegang handle pintu. Tapi, sebelum pintu itu ia buka, sebuah tangan yang tampak keriput mencegah tangannya. Reyga menatap wanita yang mencegahnya itu.
"Mama perlu bicara, Rey!"
"Tapi Gia ...."
"Ikut mama sebentar saja!" Riana berjalan menuju meja makan. Ia duduk disana karena ia yakin kalau putranya akan mengikutinya.
Benar saja, Reyga duduk di depan mamanya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Mama harap, apa yang Gia lihat hanya salah faham, Rey."
Reyga mengangguk. "Semua itu memang hanya salah faham, ma."
Riana menghembuskan nafas lega. "Mama pernah melakukan kesalahan, Rey. Jadi, mama harap anak-anak mama tidak mengikuti kesalahan mama itu."
Penyesalan terbesar bagi Riana adalah ia pernah menodai pernikahannya sendiri. Meski tidak ada cinta di dalamnya, tapi seharusnya ia tidak harus membuat luka di hati suaminya.
Riana bahkan kehilangan kepercayaan Kalandra, diabaikan suaminya dan hidup dalam bayang-banyang Leo yang selalu mengancamnya.
"Aku tahu, ma. Aku tidak akan membuat Raisa bernasib sama seperti aku dan kak Andra."
Riana tertegun mendengar jawaban Reyga yang terkesan dingin itu. Tampak jelas bahwa putranya itu juga merasakan luka yang begitu dalam.
"Tapi, tidak mungkin wanita itu mengusap dada dan bahu kamu dengan begitu berani Rey. Kalau bukan kamu yang memberi harapan padanya."
Reyga membuang muka. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pada mamanya.
Ia mengusap wajahnya. "Aku juga tidak tahu mengapa dia begitu berani, Ma."
"Tapi, dia hanya ingin merapikan kemejaku karena selain sebagai pemilik EO, dia juga seorang desainer, ma."
Riana tersenyum sinis. "Tidak ada hubungannya dengan profesinya, Rey. Kecuali dia asisten pribadi kamu!"
"Jangan membukakan pintu sekecil apapun pada wanita lain jika kamu tidak ingin dia masuk dalam kehidupan pernikahan kalian."
"Wanita itu, tidak bisa diberi perhatian sedikit saja, tidak bisa dipuji, tidak bisa sering-sering dihubungi, Rey. Karena kebanyakan wanita akan merasa kalau pria itu tertarik padanya."
"Ma, jangan membesarkan masalah. Dia hanya klienku."
"Terserah padamu, Rey! Kamu menganggapnya klien, lalu bagaimana dengan wanita itu?"
"Temui Gia dan bicarakan baik-baik. Dia rela berubah demi bisa terus mempertahankan rumah tangga kalian, meskipun mama tahu hal itu bukan menjadi satu-satunya alasan."
__ADS_1
"Hargai semua usahanya, Rey."
Reyga tahu, Gia sudah lebih banyak berubah. Wanita itu rela belajar banyak hal. Bahkan saat hamil, semangatnya tidak pernah surut. Istrinya itu selalu membantunya mengurus restoran.
Gia belajar memasak, membuat kopi, bahkan terkadang ia ikut melayani pelanggan.
Reyga semakin yakin untuk tidak pernah mempermainkan pernikahan mereka saat Gia rela bertaruh nyawa demi melahirkan putrinya. Gia rela mengurus anak mereka sendirian.
Reyga juga sering menemani Gia mengurus putri mereka. Gia tidak pernah terlihat marah atau bermasam muka meski ia tahu wanita itu sering kelelahan.
Reyga membuka pintu kamar. Ia bisa melihat Gia sedang duduk diatas ranjang, memangku Raisa yang sedang menyusu.
Reyga tak kuasa menahan rasa bersalah saat Gia menatapnya dengan mata sembab.
"Sasa sudah tidur?" tanyanya. Sasa adalah panggilan kesayangannya untuk Raisa.
Gia mengangguk.
"Aku ingin bicara, Gi."
Gia meletakkan putrinya di atas ranjang. "Ada apa, Mas?"
Reyga duduk di depan Gia dengan menarik kursi dari depan cermin rias. Ia tertawa tanpa suara. "Masih bertanya ada apa?"
Reyga menggenggam tangan Gia. "Kamu melihat apa, tadi Gi?"
Gia menunduk dan menggeleng. Ia tidak berani menatap wajah suaminya.
Gia seketika menatap suaminya. Ia mengangguk kecil dan mendapat balasan senyuman dari suaminya.
"Kamu penasaran siapa wanita itu?"
Gia mengangguk lagi.
"Kenapa tidak menemui kami?"
Gia menggeleng. "Aku takut menerima kenyataan kalau yang ku takutkan benar-benar terjadi, Mas."
"Aku takut kalau kamu lebih memilihnya daripada aku."
Reyga semakin erat menggenggam tangan Gia. "Memangnya apa yang dia berikan untukku sehingga aku harus memilihnya, Gi?"
"Dibanding kamu, dia tidak ada apa-apanya, Gi."
"Dia hanya rekan kerja, dia hanya klien. Dan soal perlakuannya tadi, aku juga terkejut."
"Sedangkan kamu, kamu sudah memberiku kebahagian dengan hadirnya Sasa."
__ADS_1
"Kamu mengandungnya dengan susah payah. Kamu melahirkannya dengan bertaruh nyawa, kamu rela mengurusnya dengan baik dan kamu rela hanya di rumah dan tidak lagi bekerja."
"Seribu terima kasih, jutaan rupiah, dan bahkan sisa hidupku tidak akan bisa membayar semua pengorbanan kamu."
"Jadi, mungkin dengan selalu bersama kamu, memastikan kebahagiaan kamu dan anak-anak, serta melindungi kamu dari hal-hal buruk bisa menjadi salah satu cara mengapresiasi semua yang telah kamu lakukan."
Gia sama sekali tidak bisa menemukan kebohongan di mata suaminya. Ia meneteskan air mata dan seketika Reyga memeluknya.
"Maafkan aku, Mas. Aku sudah berburuk sangka pada kamu."
"Ssst! Wajar kalau kamu berfikir seperti itu, Gi. Siapapun pasti akan salah faham."
"Nanti malam, aku akan mengajak kamu untuk bertemu dengan wanita itu."
"Tidak perlu, Mas." Gia melepaskan pelukan mereka. "Aku percaya kok, Mas."
Reyga menggeleng. "Ikut saja. Lagi pula, aku ingin memberitahunya kalau aku sudah memiliki istri dan putri yang sangat cantik."
"Nanti dia patah hati, Mas."
"Aku tidak peduli, Gi. Bukan urusan ku juga kan?"
"Kamu jahat sekali, Mas." Gia tertawa pelan.
Aku memang jahat, Gi. Aku bahkan pernah tidak memperdulikan kamu selama setahun. Tidak mungkin pintu hatiku terbuka untuk wanita yang baru saja ku kenal.
Sementara itu, Kalandra masuk ke dalam rumah dan yang ia lihat hanya mamanya.
"Reyga dimana, Ma?"
"Sedang bicara dengan Gia, di kamar mereka."
Kalandra duduk bersama mamanya. Ia mengambil air minum di kulkas dan membuka tutup toples berisi kue nastar.
"Kamu juga harus berhati-hati dengan hatimu, Andra."
Kalandra tertawa. "Aku tidak punya hati lagi, Ma."
Riana mengerutkan kening.
Kalandra tertawa. "Seluruh hatiku sudah ku serahkan pada Kayla, Ma."
Riana tertawa tanpa suara. "Kamu ini, ah!" Riana mencubit lengan Kalandra.
"Maksud mama, kamu harus lebih berhati-hati. Kamu dikelilingi gadis cantik. Jangan sampai khilaf, Andra."
"Mama tenanglah! Aku tidak akan pernah khilaf, Ma. Mereka memang cantik. Tapi, aku tidak peduli, Ma."
__ADS_1
"Seluruh cintaku, hatiku dan semua perhatianku hanya untuk Kayla dan Ara, Ma."
Kalandra yakin, ia tidak akan sampai jatuh cinta pada salah satu karyawannya. Bertahun-tahun, ia bisa menahan dirinya agar tidak tertarik dengan mereka.