Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 88 S2 Harus Berani


__ADS_3

"I have stolen her first kiss," ucap Jendra dengan nada lemah pada Kalandra yang merupakan sahabatnya sendiri.


"Hoaaaa!" Teriak Kalandra karena terkejut mendengar jawabannya yang mengatakan bahwa dirinya telah mencuri ciuman pertama seorang gadis.


"Aduh!" keluh Kalandra karena pahanya terasa sakit akibat pukulan tangan prianiyu sendiri.


"Wah, itu sih kesalahan fatal. But it's a big win, right?" Kalandra malah menggodanya dengan senyuman paling menjijikan yang pernah Jendra lihat.


Sebenarnya, bukan first kiss yang menjadi fokusnya. Tapi kata stolen yang membuat seorang Kalandra berteriak senang. Seorang Jendra menjadi pencuri hanya untuk sebuah ciuman. Padahal selama ini, banyak gadis yang rela bekerja diatas ranjangnya.


Jendra menghela nafas. Ia datang ke kantor Kalandra untuk meminta solusi, bukan malah menjadi bahan tertawaan seperti ini.


Jendra sengaja tidak kembali ke kantor setelah makan siang dan malah bertandang ke kantor sahabatnya ini.


Jendra tak sanggup melihat wajah Melani. Ia merasa sebagai pria jahat yang mendapatkan keberuntungan dengan menyakiti perasaan orang lain.


"Melani, bukan?"


Jendra mengangguk lemah saat Kalandra berhasil menebak siapa gadis yang mereka bicarakan sedari tadi.


Gadis yang membuatnya kembali patah hati disaat hatinya belum sembuh benar.


Kalandra terbahak. "Sudah ku tebak. Dia memang berbakat menjadi pawang bagi singa gil*."


Kalandra keceplosan sementara Jendra yang tidak menyadarinya. Jendra malah memikirkan kalimat paling pas untuk meminta maaf pada Melani.


"Malah melamun," sindir Kalandra padanya saat dirinya malah diam saja.


"Aku sedang memikirkan kalimat paling pas untuk meminta maaf padanya." Jendra duduk bersandar dengan melipat kakinya.


"Katakan saja. I love you, and marry me, Melani!"


Jendra menatap sinis kearah pria yang tengah mentertawakan dirinya.


"Oke... oke...," ucap Kalandra yang masih memegangi perutnya.


"Baru kali ini seorang Jendra tidak bisa bekerja hanya karena sebuah cium*an."


"Katakan saja, maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."


"Lalu, jika dia tidak memaafkan aku?"


Kalandra tampak mengangkat bahu. "Itu terserah dia. Kalau dia tidak mau, itu haknya."


Jendra berdecak kesal. Ia berdiri. "Lebih baik aku pulang. Menceritakan padamu juga tidak mendapatkan solusi!"


Kalandra tertawa. "Minta maaf padanya, Jend."


"Jangan ajari aku! Aku bukan peng*cut!" Jendra keluar dari ruangan Kalandra.


Ia melajukan mobilnya menuju rumah. Ia tak lagi punya selera untuk ke kantor. Ia hanya menghadiri meeting pagi tadi dan setelahnya ia tidak mengerjakan apapun.


Jendra sampai di rumah, dan supir yang kemarin malam mengantar Melani tampak sedang duduk sambil minum kopi di pos satpam di rumahnya.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Jendra malah ikut bergabung dan duduk di depan tiga orang pria yang terkejut atas kedatangannya.


"Mas Jendra!"


"Sudah, jangan panik!" Jendra malas melihat ekspresi tegang di wajah mereka.


"Saya cuma sebentar. Lanjutkan saja ngopinya."


"Saya ada perlu dengan kamu." Tunjuk Jendra pada pria yang ada di depannya. Pria yang usianya lebih muda setahun darinya.


"Sa-saya Mas?"


Jendra mengangguk. "Kamu mengantarkan gadis itu sampai ke apartemennya, kan?"


Pria yang berprofesi sebagai supir itu mengangguk. "I-iya, Mas."


"Apa yang terjadi di sepanjang jalan?"


Pertanyaan Jendra membuat ketiga pria itu terkejut. Memangnya apa yang harusnya terjadi? Begitulah kira-kira isi fikiran mereka bertiga.


"Hem, maksud saya bukan begitu. Maksud saya, apakah gadis itu mengatakan sesuatu. Atau mungkin membeli sesuatu?"


Lawan bicara Jendra menggeleng. "Gadis itu tidak bicara apapun, Mas. Dia cuma bilang terima kasih saat sudah sampai di apartemennya."


"Apa dia menangis?"


"Sepertinya tidak."


"Ck!" decaknya. "Selama diperjalanan kamu terus menatap wajahnya?" geram Jendra.


Kurang ajar sekali dia! Mengambil kesempatan dalam kesempitan! Wajah polos Melani yang tanpa make up itu pasti semakin terlihat menggemaskan! Pria ini pasti akan membayangkan wajah Melani tiap kali... Ah! Aku malah memikirkan hal negatif itu! Batin Jendra. Saat tiba tiba ia malah memikirkan kalau supirnya itu akan menjadikan wajah Melani setiap kali bermain sabun di kamar mandi.


"Bu-bukan begitu, Mas!" Pria yang berprofesi sebagai supir Jendra selama hampir 5 tahun itu mulai panik saat melihat rahang Jendra mulai mengeras. Pria itu mana berani bertindak macam-macam dengan wanita ia duga sebagai pacar Bosnya sendiri.


Lagi pula, bagaimana ia bisa mengemudikan mobil jika matanya terus menatap wajah gadis yang ada di belakangnya. Aneh-aneh saja.


"Lalu, apa?"


"Lain kali, jangan pandang wajahnya lebih dari satu detik atau saya akan mengeluarkan bola mata kamu!"


"Ini juga berlaku untuk kalian!" Jendra menunjuk yang lain juga. Melani beberapa kali datang ke rumah, apa lagi saat ia tidak berkerja dan ada berkas yang harus ia tanda tangani.


Jendra masuk ke dalam rumah. Menanyakan hal itu malah membuat perasaannya bertambah kesal.


Ia membuka jasnya. Tapi, belum sempat mandi, ponselnya malah berdering.


"Apa mama selalu memantau CCTV?" tanya Jendra saat ia menjawab panggilan dari mamanya itu.


Ia heran, mengapa momennya sangat pas. Saat ia pulang lebih cepat dan langsung masuk ke dalam kamar.


Wanita yang menjadi lawan bicaranya di ponsel itu tertawa. "Yes, i do."


"Oh God!" Jendra memijat keningnya karena apa yang ia tanyakan ternyata benar. "Aku sudah besar, Ma."

__ADS_1


"Mama dan Papa hanya khawatir karena kamu tidak kembali ke kantor siang ini."


"Mama tahu dari mana?"


"Sekretaris kamu. Jadi, siapa lagi!"


Jendra diam saja. Ia malas jika membahas mengenai Melani.


"Apa yang terjadi, sayang? Kamu baik-baik saja kan?"


"Apa kamu masih jet lag?"


Jet lag adalah gangguan tidur berupa mengantuk pada siang hari dan sulit tidur pada malam hari, yang timbul setelah melakukan penerbangan dengan zona waktu berbeda.


Jendra tertawa. Ia mengaku pergi ke luar kota, untuk meninjau lokasi dimana ia akan melebarkan sayap Dewandaru Group.


"Tidak, ma. Aku hanya ingin istirahat. Malam tadi, aku pulang terlalu larut."


"Kapan kamu akan liburan ke rumah mama dan papa, sayang?"


"Bulan lalu, aku kan sudah ke sana, Ma. Nanti kalau aku punya waktu luang, aku akan ke sana lagi!"


"Bawa menantu papa sekalian!"


Jendra mengerutkan kening saat mendengar suara papanya yang bisa ia dengar dengan jelas.


"Papa ada di sana, ma?"


"Tentu. Memangnya di mana lagi? Papa kamu kan memang selalu ada di samping mama."


"Apa tidak bosan, Ma? Kalian hanya berdua di sana. Setiap hari hanya wajah papa yang mama lihat!"


Kedua orang tua Jendra tinggal di sebuah rumah kayu yang tidak terlalu luas dengan bangunan yang dikelilingi pagar tinggi itu.


Mereka hanya tinggal berdua disana. Tidak ada asisten rumah tangga karena mereka berdua bekerja sama membersihkan dan mengurus rumah. Bahkan papanya merasa senang saat merapihkan taman. Mereka hanya punya 2 security yang berjaga secara bergantian.


"Anak kurang ajar!"


Jendra malah mendengar mamanya tertawa saat papanya terdengar tengah mengumpatnya.


"Sayang, dulu kami tidak punya banyak waktu untuk bersama karena papa kamu sibuk membangun perusahaan. Papa kamu sibuk bekerja hingga kami tidak punya waktu untuk berpacaran."


"Anggap saja papa tengah menebus semua waktu kami yang sudah terbuang."


"Ya... ya... ya..." Jawab Jendra malas. Ia sudah puluhan kali mendengar jawaban itu. Dan jawaban itu ujung-ujungnya akan menjadi nasehat baginya untuk tetap mengutamakan keluarga karena perusahaan sudah sangat maju dan stabil.


"Jangan sampai pria tua itu menghamili mama! Aku tidak rela punya adik disaat seharusnya aku sudah punya anak."


"Anak kurang ajar! Mamamu tidak akan hamil!"


Jendra tertawa. "Sudah ya, Ma. Sepertinya harimau peliharaan mama mulai mengamuk!"


Jendra mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2