Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 115 S2 Sederhana


__ADS_3

Jendra tersenyum geli melihat bayangan dirinya di cermin. Ia tak menduga akan memakai beskap berwarna putih dengan peci berwarna senada yang sudah bertengger di atas kepalanya itu. Dia tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.


"Ternyata aku tampan juga!" Jendra tersenyum lagi.


"Dia pasti akan terpesona melihatku yang tampak bersahaja dengan tampilan seperti ini." Ia kembali tersenyum.


"Jendra! Berhentilah tersenyum pada bayanganmu sendiri! Kamu sudah hampir satu jam menghadap cermin itu!"


Jenar sudah masuk ke kamar Jendra untuk ke sekian kalinya. Sedari tadi, ia melihat Jendra sedang berada di depan cermin dan mengira putranya itu belum selesai bersiap. Padaha Jendra sudah selesai sejak tadi.


"Aku hanya sedang mengagumi ketampananku, Ma!"


Jenar memutar bola matanya. "Kamu tidak ingin segera ke masjid, Jend?"


"Masjid itu letaknya sangat dekat, Ma. Sebentar saja kita akan sampai. Dan acaranya juga masih tiga puluh menit lagi!"


"Tapi Melani sudah sampai!"


"Apa?" Jendra menatap mamanya. "Dia sudah sampai?"


Jenar mengangguk. "Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat, Jend!"


Jendra tersenyum lagi. "Dia hanya tidak sabar untuk menjadi istriku, Ma!"


"Dasar pria gil*!" ucap Jenar sinis.


"Dan pria gil* ini adalah putra kebanggaan mama!" balas Jendra.


"Pujilah terus dirimu, Jend! Awas saja kalau kamu mengulang beberapa kali saat akad nanti!" seru Jenar yang masih berdiri di depan pintu yang ia buka setengah itu.


"Tenanglah, Ma. Aku yang tampan ini tidak akan mempermalukan mama," ucapnya sambil kembali menatap ke cermin. Ia melihat seluruh wajahnya. Tidak boleh ada yang kurang sedikitpun.


"Bercerminlah terus! Mama dan papa akan lebih dulu ke sana!"


Jendra terkesiap saat mamanya menutup pintu dengan keras tanda sedang kesal padanya.


"Tunggu, Ma!" Jendra melangkahkan kakinya.


"Aduh!" Jendra berusaha untuk tetap berdiri tegak karena hampir saja ia terjungkal. Ia tak sadar sedang memakai kain batik yang membuat langkahnya terbatas.


"Hampir saja!" Ia mengelus dadanya yang berdebar. "Kalau aku jatuh dan wajahku menatap lantai, pasti akan sangat memalukan sekali!"


"Orang-orang bisa saja mengira kalau aku memakai blush on lebih tebal darinya!"

__ADS_1


Jendra tiba di sebuah masjid yang tak jauh dari rumahnya. Ia menyapa beberapa orang yang sengaja ia undang. Ada pemuka agama setempat, dan ketua RT dan RW.


Dan sesosok gadis dengan kebaya putih dan ujung sana membuat perasaannya menghangat.


Dia cantik sekali. Apakah aku sedang melihat bidadari atau istriku sendiri?


Semantara itu, Melani sedari tadi mulai gelisah saat Jendra dan keluarganya belum tiba bahkan ijab kabul akan dilaksanakan sekitar dua puluh menit lagi.


Melani bernafas lega saat Ibu panti memberi tahu bahwa rombongan Jendra sudah tiba di lokasi.


Ia di temani Kayla dan Mona. Dua orang yang dekat dengannya. Ia juga ditemenin ibu-ibu panti dan beberapa anak-anak panti. Jika biasanya para gadis yang menjadi bridesmaid, tapi berbeda dengan dirinya.


Melani dan Jendra duduk berdampingan, ia melirik pria yang tampak tampan itu. Aroma parfum Jendra juga mengalahkan aroma melati di sanggulnya.


Jendra menarik nafas panjang. Klien penting saja tidak membuatnya deg-degan begini. Tapi situasi sakral ini memang sudah ia tunggu sejak beberapa waktu terakhir. Ia terkadang sampai tidak ingin tidur karena terus membayangkan bagaimana rasanya saat menjadi pengantin.


Ia menjabat tangan wali hakim yang akan menikahkannya dengan Melani. Dan dalam satu tarikan nafas, tanpa gagal, tanpa mengulang, Jendra menjadikan Melani sebagai bagian dari hidupnya.


Ia menjadikan dirinya sebagai imam dan akan membimbing Melani sebagai istrinya. Sejuta cita dan angan seketika bermunculan satu persatu dalam fikirannya ketika doa sedang dibacakan.


Ia bertekad akan merubah kebiasaan buruknya. Ia juga bertekad bulat akan membahagiakan wanita yang tidak memiliki siapapun ini.


Bahkan sekelebat bayangan akan keinginannya untuk berusaha mencari tahu siapa orang tua Melani muncul detik itu juga. Ia tahu, meskipun sangat sulit pastinya. Bahkan harapan itu nyaris tidak ada.


"Kamu adalah putri mama. Seluruh kebahagiaanmu akan menjadi kebahagiaan bagi mama. Seluruh tangis dan tawamu juga akan menjadi bagian dari mama."


"Kamu adalah wanita kuat yang kelak akan melahirkan anak-anak yang kuat pula."


"Berbahagialah, Mel! Bahagialah hidup bersama putra mama."


Jendra mendengar setiap kalimat yang mamanya ucapkan. Entahlah, ia merasa keduanya benar-benar seperti anak dan ibu kandung.


"Bahumu sudah memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding dengan yang kemarin!"


"Kemarin, kamu hanya perlu bertanggung jawab sebagai anak dan pemimpin perusahaan."


"Dan mulai hari ini, kamu memikul tanggung jawab sebagai suami. Mungkin kelak, kamu akan memikul tanggung jawab sebagai ayah."


"Bahagiakan dia yang sudah menyerahkan hidupnya untuk mengabdi padamu!"


"Bimbing dia, dan sama-samalah bangun rumah tangga yang harmonis. Jadikan rasa saling percaya menjadi pondasi dalam rumah tangga kalian!"


Pernikahan sederhana itu dilanjutkan dengan acara makan bersama masjid. Dua meja prasmanan mendadak ramai dengan antrian orang-orang yang ingin menikmati hidangan. Dan sebagian penduduk sekitar juga berdatangan untuk mengambil nasi kotak yang memang sudah disediakan untuk dibagikan.

__ADS_1


"Kamu tidak akan kenyang hanya dengan menatap wajahku, Mas!" ucap Melani saat menyadari Jendra lebih banyak menatap wajahnya ketimbang menyuapkan nasi ke mulut pria itu sendiri.


Jendra menunduk dan tersenyum. Ia menggeleng menyadari dirinya memang terlalu lama menatap Melani.


"Apa aku sedang melihat singa jantan berubah menjadi anak kucing, Mas?" bisik Kayla pada Kalandra.


"Begitu memang kalau sudah bertemu pawangnya, sayang!" balas Kalandra.


"Aku terlalu terpesona pada kecantikam istriku!" Balas Jendra pada Melani. Ia masih tidak memperdulikan pasangan di sampingnya itu.


"Oh, God! Dia bersikap malu-malu, Mas!" bisik Kayla lagi. Ia sedari tadi selalu memperhatikan tingkah Jendra yang duduk tak jauh darinya.


"Huuust!" Kalandra menangkup pipi Kayla dan mengarahkan wajah istrinya ke arah lain agar tidak terus menatap Jendra.


"Kata orang, kalau sedang hamil tidak boleh memandang sesuatu yang buruk terlalu lama sayang!" bisik Kalandra.


"Kamu harus banyak-banyak mengatakan amit-amit sambil mengusap perut!"


Kayla mengerutkan kening. "Kata siapa, Mas? Dan peraturan dari mana itu, Mas?"


"Dea yang memberitahuku. Aku bahkan juga diminta melakukan hal itu. Dia juga melarangku marah-marah. Dia juga mengatakan moodku tidak boleh berantakan karena akan berpengaruh terhadap kamu juga."


Kayla tersenyum. Kalandra yang pintar saja masih bisa percaya mitos seperti itu. Tapi, tidak ada salahnya juga dilakukan karena tidak merugikan.


Soal mood, ia setuju. Kalandra pulang dengan wajah lelah saja bisa membuatnya sedih. Apalagi saat Kalandra lebih dulu terlelap daripada dirinya.


"Apa aku seburuk itu sampai kamu tidak ingin keponakanku itu mirip denganku?"


Jendra membuat mereka terkejut. Ternyata pengantin pria itu mendengar saat mereka sedang membahasnya.


"Kamu tidak buruk. Hanya saja aku tidak ingin anakku seperti dirimu!" balas Kalandra.


"Kenapa memangnya. Aku tampan, menarik, kaya dan bertanggung jawab!" Jendra sedang membanggakan dirinya.


"Kalau memang begitu, nikahi semua wanita yang sudah kamu ti-"


Kayla menutup mulut Kalandra karena melihat perubahan ekspresi Melani yang seketika memudarkan senyum.


"Hati-hati kalau bicara, Mas. Ada hati wanita di sampingnya yang harus kamu jaga!" bisik Kayla pelan.


Kalandra menghela nafas. "Maaf, Mel."


Kayla benar, karena biar bagaimanapun Jendra bukan jomblo bahagia yang bebas ia ejek sesukanya. Setidaknya sekarang ia harus menjaga perasaan Melani yang mungkin masih was-was akan sikap playboy itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, pak!" balas Melani tersenyum kecil.


__ADS_2