Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 124 S2 Bukan Akhir


__ADS_3

Jendra dan Melani turun dari mobil tanpa bicara sepatah kata pun. Jendra tetap bersikeras dengan keputusannya sementara Melani tidak menerima semua peraturan baru yang Jendra buat.


Melani berjalan lebih cepat hingga melewati tubuh Jendra. Jendra yang menyadari Melani tengah memakai sepatu hak tinggi mendadak panik. Ia mengejar Melani dan menangkap tubuh istrinya itu.


"Tidak bisakah kamu berjalan lebih lambat? Jangan sampai kecerobohan kamu membahayakan anakku!" ucap Jendra dengan nada marah. Ia seketika membalikkan tubuh Melani sehingga menghadap dirinya. Matanya menatap tajam pada wanita yang memasang wajah cemberut sejak beberapa menit lalu.


Deg!


Rasanya jantung Melani berhenti berdetak. Melani tak mampu menahan air matanya. Ia tidak menyangka Jendra akan tega membentaknya. Bukankah bisa menegurnya dengan cara baik-baik? Lagi pula, ia sudah terbiasa berjalan cepat menggunakan sepatu dengan hak 7 cm. Dan selama ini tidak pernah jatuh ataupun terpeleset.


Dan hal begitu menyakiti hati Melani adalah saat Jendra mengatakan dirinya telah membahayakan anaknya.


"Anak kamu?" bentak Melani. Ia juga berusaha melepaskan tangan Jendra yang mendekap tubuhnya.


Melani menatap tajam mata pria yang selama ini selalu bersikap baik padanya.


"Dia juga anakku, Mas!" bentak Melani. Ia benci mendengar pengakuan Jendra yang seolah ingin menguasai anak dalam kandungannya.


"Apa kamu fikir, aku tidak menyayanginya? Apa kamu fikir akan sebodoh itu sehingga membahayakannya?"


"Bu-bukan begitu, Mel." Jendra berusaha menenangkan Melani namun tangannya yang belum sempat menyentuh lengan istrinya seketika kembali terhempas.


"Mel, please! Jangan kekanakan begini!" Jendra memohon.


"Kekanakan? Kamu bilang aku kekanakan?"


Melani menggeleng pelan. "Kamu yang membuat aturan tidak masuk akal lalu menudingku yang kekanakan?"


Melani berdecak. Ia menyeringai menatap suaminya. "Bercerminlah, Mas!"


Melani berjalan menjauh dari Jendra. Ia segera masuk ke dalam kamar. Melani meletakkan tasnya di atas meja rias dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Melani duduk di atas closet dan menunduk. Perlahan, air matanya kembali menetes.


Isak tangisnya bahkan terdengar oleh Jendra yang setia menunggu Melani keluar dari kamar mandi.


"Kamu keterlaluan, Mas. Aku tidak mungkin sengaja membahayakan anak ini?"


Melani mengelus perutnya. Belum puas berucap syukur dan merasakan kebahagiaan, kini malah mereka berdebat hebat seperti ini.


Ini adalah kali pertama mereka bertengkar hebat. Selama ini, keduanya hanya terlibat dalam pertengkaran kecil.


"Maafkan mama ya sayang, mama terpaksa menjerit, tadi. Dan mungkin kamu merasa terusik. Semoga kamu tidak terganggu dengan suara mama ya, Nak."


Melani bicara pada janin yang bahkan belum terlihat karena usia kehamilan yang terlalu muda.


Sementara itu, di depan pintu kamar mandi, Jendra sedang terduduk lemas di lantai. Ia merasa bersalah karena telah membentak Melani.


Ponsel di saku celananya bergetar. Jendra segera mengambilnya dan menjawab panggilan itu.


"Hallo, Ma ...."


"Kalian bertengkar karena apa?"

__ADS_1


Jendra menghela nafas panjang. Bahkan belum 5 menit, orang tuanya sudah tahu kalau mereka bertengkar.


"Apa pekerjaan mama hanya melihat cctv, Ma?"


"Atau mama punya mata-mata di rumah ini?"


"Setelah bersikap tidak baik pada istrimu, sekarang kamu bersikap tidak sopan pada mama?"


"Ingat Jendra Dewandaru! Pilar di rumah itu adalah mata mama dan seluruh tembok adalah telinga mama."


"Jangan berharap kamu bisa luput dari perhatian mama!"


"Bahkan saat aku sudah menikah, mama tatap mengawasiku seperti bocah."


"Kamu memang masih bocah! Masih bisa melakukan kesalahan tanpa memikirkan akibatnya."


"Oke, Ma. Nanti ku hubungi lagi. Aku harus membujuk Melani dulu!" Jendra buru-buru mengakhiri panggilan itu.


"Tok ... tok ... tok." Jendra mengetuk pintu kamar mandi.


"Mel, mari kita bicarakan ini baik-baik, Mel." Jendra menempelkan kepalanya di pintu kamar mandi. Ia tak akan menyerah sampai wanita itu keluar.


"Ayolah, Mel. Aku tulus meminta maaf padamu."


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku hanya panik. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian."


"Mel, keluar yuk!"


"Mama pasti bahagia, begitu juga bunda."


"Siapa tahu, bunda bersedia tinggal bersama kita setelah ia tahu kalau kamu sedang hamil."


"Dia pasti ingin melewati waktu bersama kamu, sayang."


"Dia pasti ingin sekali merawat dan membantu kamu selama menjalani kehamilan."


Melani mendengar semua perkataan Jendra. Ia merasa senang karena akhirnya ia punya alasan agar Marshella bersedia tinggal bersamanya atau menempati apartemennya.


Melani menghapus air matanya. Ia melangkah perlahan.


"Mel, ayolah!"


Ia masih bisa mendengar suara Jendra yang tak henti membujuk dirinya.


Melani membuka pintu secara tiba-tiba dan hampir saja ia tertawa saat Jendra hampir terjatuh karena tubuh suaminya itu benar-benar menempel di pintu.


Jendra seketika jadi salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Melani melewati tubuhnya dengan bibir yang mengu-lum senyum.


Memalukan sekali. Otot besar tidak berguna. Batinnya kesal karena ternyata tubuh kekarnya tidak bisa menjamin ia tidak bertingkah konyol seperti tadi.


Ia memang tidak tahu kalau Melani akan membuka pintu, sehingga ia yang bersandar di pintu mendadak kehilangan keseimbangan. Untung saja ia tidak jatuh tersungkur di lantai kamar mandi.

__ADS_1


Melani seketika menghubungi mama mertuanya melalui panggilan video dan ia juga menghubungi Marshella.


"Hai sayang!" Sapa Marshella. "Ada apa ini? Bukankah kita sudah bicara pagi ini?" Wanita yang wajahnya muncul di layar ponsel Melani itu tampak terkejut.


"Ehm, tidak ada apa-apa, Bun."


Jenar yang mengetahui bahwa telah terjadi pertengkaran di rumah itu hanya bisa diam sampai Melani sendiri yang bercerita. Ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh, apa lagi Marshella sama sekali tidak mengetahui mengenai pertengkaran itu.


"Kami punya kabar bahagia untuk kalian."


Suara Jendra yang kini sudah berada di belakang Melani membuat wajah dua wanita di layar ponsel berubah drastis. Mereka tampak penasaran. Bahkan di Surendra tiba-tiba berada di samping Jenar dan Gayatri juga memaksa ingin ikut melihat layar ponsel.


Melani dan Jendra tertawa melihat kelakuan para orang tua itu.


"Apa? Jangan buat mama penasaran," tanya Jenar.


"Mengapa harus melalui panggilan video? Bukankah kalian akan datang besok? Beri tahu saja besok, Nak." Marshella juga bicara.


Jendra menggeleng. "Akan ku beri tahu. Sebentar ya ...."


Jendra merentangkan kertas hasil USG ke depan layar ponsel Melani.


"Tunggu kehadiran dede 8 bulan lagi, Oma, Opa!"


Seketika suasana menjadi ramai. Surendra dan Jenar bersorak-sorak sementara Marshella berteriak senang.


"Kalian tidak sedang bercanda, kan?"


"Kalian tidak berbohong?"


"Kalian benar-benar akan punya anak?"


Keduanya mengangguk. Jendra dan Melani juga menjelaskan mengenai hasil pemeriksaan tadi.


"Jaga kondisi kesehatan kamu, Mel." Jenar memberi banyak sekali nasehat agar Melani lebih memikirkan kesehatannya.


"Boleh beraktivitas asal tidak sampai kelelahan apa lagi sampai mengeluarkan flek."


Jendra mengusap kepala Melani setelah panggilan diakhiri. "Sekarang kamu mengerti kan, alasannya mengapa aku sangat panik tadi."


"Mama dan bunda begitu bahagia. Tapi, mereka juga overprotektiv terhadap kamu."


Melani mengangguk. Mendengar banyak nasehat, Melani menyadari apa yang ia anggap berlebihan itu adalah bentuk kasih sayang dan perhatian Jendra.


"Maafkan aku, Mas."


"Aku akan menjaganya sebaik mungkin. Aku tidak akan membuat kalian semua kecewa."


Jendra menariknya dalam pelukan. "Maafkan aku yang juga membentak kamu."


"Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak."


Jendra dan Melani saling memaafkan. Melani bersyukur memiliki suami seperti Jendra yang selalu mendukungnya. Begitu pula Jendra yang merasa beruntung telah menikahi wanita sebaik dan setegar Melani.

__ADS_1


Pertengkaran dan perbedaan pendapat memang hal yang lumrah terjadi selama pernikahan. Dan jangan jadikan itu sebagai alasan untuk berpisah, karena menyatukan dua hati, dua fikiran dan dua kebiasaan memang bukan perkara mudah. Bukankah pernikahan memang merupakan proses menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing?


__ADS_2