
Jam kerja sudah berakhir setengah jam lalu tapi, Melani, Kayla dan Jendra harus lembur karena banyak sekali pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Melani masih terus menatap layar komputernya. Begitu juga dengan Kayla. Dan Jendra, sedang berada di ruangannya sembari memeriksa laporan yang masih menumpuk.
"Singa gil* ada di dalam, Mel?"
Melani terbengong saking terkejutnya mendengar suara seorang pria yang menyebut kata keramat, singa gil*.
Dan Melani semakin terbengong kala mengetahui pria itu adalah sahabat pak Bos, yaitu Kalandra.
Bagaimana Pak Kalandra bisa tahu kalau aku menjuluki Pak Jendra sebagai singa gil*.
"A-ada di dalam, Pak!" jawabnya ragu.
Ia seketika melirik Kayla yang hanya bisa nyengir sebagai tanda bahwa dialah orang yang memberi tahu Kalandra tentang kata keramat itu.
Belum selesai sampai disitu, Melani harus menyaksikan Kalandra mencium kening Kayla membuatnya menghela nafas. Sebagai jomblo forever, ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya keningnya yang bebas jerawat itu diciu*m oleh seorang pria.
"Kalian semakin hari semakin romantis," ujar Melani membuat Kayla tersipu malu.
Melani mengerutkan kening. "Kenapa wajahmu memerah begitu, Kay?"
Kayla menggeleng. "Aku belum terbiasa, mbak!"
"Belum terbiasa bagaimana? Bukankah kalian sudah menikah lumayan lama. Apa selama berpacaran kalian tidak pernah saling mencium kening?" tanya Melani heran. Masa cium kening saja belum terbiasa?
Kayla tampak gugup. "Bu-bukan begitu, aku belum terbiasa kalau di depan orang lain."
Melani mencebikkan bibirnya. "Di depan orang lain belum terbiasa, tapi di dalam kamar bisa lebih dari yang biasa!" sindir Melani.
"Anggap saja aku tidak melihatnya, Kay!"
Kayla tertawa. "Aku hanya takut mbak Mel minta buru-buru dinikahi pak CEO."
Melani bergidik geli. "Amit-amit, Kay!"
Kayla tertawa. "Memangnya mbak Mel tidak ingin menikah dengan CEO?"
"Ya ingin, tapi kalau CEO-nya yang ada di dalam sana, lebih baik jangan Kay!"
"Aku kan tidak mengatakan kalau CEO-nya adalah orang yang ada di dalam, Mbak."
"Mbak Mel saja yang terlalu takut kalau pak Jendra adalah jodoh yang Tuhan kirim."
"Aku tidak siap menikah dengan singa, Kay!"
Kayla mengulum senyum. "Jangan seperti itu, Mbak! Benci bisa jadi cinta loh!"
Melani menggeleng. "Kalau bisa di cancel, cancel saja. Aku tidak berminat bersuamikan dirinya!"
Sementara itu, di dalam ruangannya. Jendra mulai jenuh melihat deretan angka yang membuat kepalanya seolah hampir berasap.
"Terlalu sibuk juga tidak baik untuk kesehatan, Jen!"
Ah, ada sang penghibur datang. Batin Jendra saat mendengar suara Kalandra seiring dengan pintu ruangannya yang terbuka.
__ADS_1
Ia tertawa sinis. "Bisa-bisanya seorang workaholic malah sok menasehati!" Sindirnya pada sahabat yang gil* kerja itu.
Kalandra duduk di depannya. "Aku sudah lebih tenang sekarang."
"Bagaimana tidak tenang jika bisnisnya semua berjalan lancar!" balas Jendra. Ia tahu, perusahaan Kalandra memang selalu stabil. Bahkan setiap bisnis baru yang berada di bawah naungan Rajaswa Group pasti akan sukses.
Kalandra tertawa. "Semua itu berkat doa orang tua dan istriku!"
Jendra menutup berkas, dan menatap Kalandra dalam. Ia tertarik dengan kata orang tua dan istriku yang Kalandra sebut.
Jendra jelas tahu serumit apa hubungan Kalandra dengan orang tuanya dan seunik apa hubungan pria itu dengan istrinya.
"Sejak kapan kamu mengakui orang tua dan istrimu?" tanyanya.
"Sejak..." Kalandra tampak berfikir saat menjeda ucapannya. "Sejak beberapa waktu terakhir."
"Ya, tapi Kayla hanya-" sela Jendra.
"Aku sudah membatalkan perjanjian kami!" potong Kalandra.
Ia membulatkan mata. Ia menegakkan duduknya, terkejut mendengar berita paling spektakuler sepanjang perjalan hidup Kalandra.
Seorang Kalandra mengubah keputusannya?
"Kapan?" tanyanya penasaran. Ia sebagai saksi saat keduanya menandatangani perjanjian. Dan harusnya ia juga menjadi saksi saat keduanya membatalkannya.
"Beberapa hari lalu."
"Mengapa bisa? mengapa tidak memberi tahuku? Jadi kamu akan menceraikan Kayla dalam waktu dekat?" Ia mendekatkan wajahnya menatap Kalandra.
Kalandra mendorong keningnya. "Aku tidak akan menceraikannya!" seru Kalandra.
"Jangan katakan kalau kamu sudah mencintainya?" tanyanya.
Dan Kalandra tampak mengangguk meng-iyakan.
Jendra duduk lemas. Bahunya merosot sudah. "Bagaimana mungkin, Kal?"
"Tidak ada yang tidak mungkin, Jend. Dia cantik, baik, hampir sempurna dan yang pasti dia juga mencintaiku!"
Jendra melirik sinis, "Kemarin, siapa yang memberi nilai lima koma lima?" sindirnya yang kembali teringat saat dulu ia meminta pria itu menilai Kayla.
Gelak tawa masih terus berlanjut, hingga Jendra menyadari ada hal yang perlu ia tanyakan.
Jendra menanyakan apa tujuan Kalandra datang ke kantornya, selain untuk menjemput Kayla.
"Selain ingin menjemput Kayla. Aku akan sampaikan bahwa ia akan izin selama kurang lebih satu minggu karena kami akan ke Amerika!"
Jendra membulatkan mata. Ia tak tahu lagu harus mengatakan apa pada sahabatnya yang lama kelamaan melebihi batas. Kalandra meminta cuti disaat pekerjaan mereka sedang banyak-banyaknya.
"Tidak bisa!" Tolaknya kasar. "Tidak ada cuti lagi! Cuti tahunannya sudah habis."
"Kalau begitu, potong saja gajinya!" saran Kalandra.
"Ini bukan masalah gaji, Kal. Tapi Kayla sudah terlalu banyak libur. Kamu tidak kasihan pada Melani? Dia mengerjakan semuanya sendirian."
__ADS_1
Jendra mengatakan kegelisahannya. Selama ini, Melani bahkan tidak pernah cuti sama sekali. Gadis itu selalu datang ke kantor meski dengan wajah lelahnya.
Tak jarang Jendra mendapati Melani membawa kopi, apa lagi kalau bukan karena mengantuk.
"Melani bukan pacarmu, kan Jend?" Tanya Kalandra curiga.
Ia terkesiap. "Jelas bukan!" jawabnya cepat. Dia saja masih sulit move on. Mana mungkin ia sudah bersama gadis lain. Apa lagi gadis itu Melani.
"Ya sudah! Jadi untuk apa kamu khawatir padanya!" balas Kalandra dengan senyuman jahil.
"Jangan tersenyum begitu!" Marahnya. "Melani hanya sekretarisku!"
Kalandra tertawa. "Aku tidak mau tahu soal itu. Intinya, beri Kayla cuti selama satu minggu untuk bulan depan."
"Apa kamu tidak ingin melihat aku menimang anak, Jend?" tanya Kalandra.
"Tentu ingin." jawabnya setelah berfikir sebentar. Ia pasti senang jika Kalandra telah menemukan kebahagiaannya. Selama ini, pria itu sudah cukup menderita karena keluarga yang tidak harmonis.
"Makanya, beri cuti supaya kami bisa mencetak baby di sana!"
"Mencetak baby tidak harus di luar negeri, Kal. Di dalam mobil pun bisa!" ujar Jendra kesal karena kalau hanya untuk membuat bayi, bisa dilakukan dimana saja. Apa perlu ia mengajari sahabatnya itu?
"Semua bukan tergantung tempat, tapi tergantung benih!" Kesal Jendra.
Membahas mengenai kehamilan, Jendra jadi kembali teringat kekasih yang hamil dengan selingkuhannya.
"Menginap di Cottage selama kamu mau, plus tiket pesawat aku yang tanggung!" penawaran dari Kalandra yang membuat Jendra mulai berfikir ulang.
Kembali mengingat mantan, membuat Jendra merasa dirinya perlu liburan. Tawaran Kalandra lumayan menggiurkan.
Kurang ajar sedikit sepertinya tidak apa-apa? Jendra tersenyum licik.
"Jet pribadi!" pinta Jendra kelewatan. "Take it or leave it!"
Kalandra menolak permintaannya dengan alasan Jet pribadi terlalu mubazir jika digunakan hanya sendiri.
"Siapa bilang aku akan kesana sendiri?"
"Kamu sudah bertemu dengan yang baru?" tanya Kalandra tak percaya yang mengira dirinya sudah menemukan pacar baru.
"Belum," jawabnya asal tapi jujur.
"Lalu?"
"Terserah padaku siapa yang akan ku ajak, Kal!"
Jendra tersenyum saat melihat Kalandra berfikir keras. Pakai kalkulator di kepalamu untuk menghitung berapa banyak biayanya, Kal!
"Kal?" Jendra menunggu jawaban Kalandra. "Take it or leave it?"
"Oke. Deal!"
Jendra tersenyum senang. Ia bukan tidak mampu untuk sekedar menyewa jet pribadi atau fasilitas mewah lainnya, tapi ia hanya ingin memberi pelajaran penting untuk Kalandra. Kalau dengan ketidak hadiran Kayla akan membuat Melani kerepotan.
Lagi pula, Kalandra tidak akan jatuh miskin hanya karena permintaannya. Saat penawaran itu Kalandra berikan, Jendra jadi punya rencana baru.
__ADS_1
Ia berniat mengajak Melani liburan. Bukan karena apa-apa, hanya sebagai apresiasi atas kerajinan gadis itu.
Lagi pula, ia tahu Melani pasti tidak pernah menikmati liburan mewah. Gadis itu terlalu sibuk bekerja dan mengumpulkan rupiah sebanyak-banyaknya.